Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING DAN WASTING DENGAN PEMANFAATAN SUSU, KUNING TELUR DAN TEMULAWAK SEBAGAI NUTRACEUTIKAL PADA KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANGANDARAN Sutiswa, Shandra Isasi; Nunung Yulia; Asep Kuswandi
Edukasi Masyarakat Sehat Sejahtera (EMaSS) : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/emass.v7i1.576

Abstract

Stunting dan Wasting merupakan masalah kesehatan yang disebabkan karena kekurangan asupan nutrisi dalam waktu lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Puskesmas Pangandaran merupakan Puskesmas dengan kasus wasting sebanyak 23 kasus dan kasus stunting sebanyak 20 kasus. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang stanting dan wasting baik penyebab, cara pencegahan dan dampak dari kasus tersebut. Kegiatan edukasi bertema “Cegah Stunting dan Wasting Dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Nutraceutical Lokal” diberikan pada 5 orang perwakilan kader dari masing desa serta ibu hamil dan ibu balita. Metode yang akan dilakukan dalam kegiatan ini yaitu dengan kegiatan penyuluhan mengenai penyebab wasting dan stunting, cara pencegahan wasting dan stunting melalui asupan nutrisi yang tepat bersumber dari bahan local, serta dampak dari kasus stunting dan wasting. Kegiatan ini yaitu penyuluhan tentang dilakukan pada 20 orang kader. Evaluasi hasil kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dilakukan melalui pre test dan post test. Nilai pre test dan post test dianalisis secara statistik menggunakan analisis data t-Test: Paired Two Sample for Means dengan nilai signifikansinya 0,05. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa nilai signifikansinya < 0,05 artinya terdapat peningkatan pengetahuan peserta tentang penyebab wasting dan stunting, cara pencegahan wasting dan stunting melalui asupan nutrisi yang tepat bersumber dari bahan local, serta dampak dari kasus stunting dan wasting.
The Combination of Progressive Muscle Relaxation and Aromatherapy on Blood Sugar Levels in Type 2 Diabetes Mardiyah, Raiza Naimatul; Cahyati, Yanti; Aryanti, Dewi; Kuswandi, Asep
Journal of Pubnursing Sciences Vol 3 No 03 (2025): Journal of Pubnursing Sciences (JPS)
Publisher : PT. Pubsains Nur Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69606/jps.v3i03.270

Abstract

Background:  Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic disease with increasing prevalence in Indonesia, largely due to lifestyle changes. Blood glucose control in T2DM patients not only relies on pharmacological therapy but can also be supported by non-pharmacological interventions such as progressive muscle relaxation and lavender aromatherapy. These therapies are believed to lower blood glucose levels by reducing stress and promoting relaxation. Aims: To examine the effect of a combination of progressive muscle relaxation and lavender aromatherapy on blood glucose levels in T2DM patients. Method: A quasi-experimental design with a pretest-posttest control group approach was used. A total of 30 hospitalized T2DM patients at a hospital in Tasikmalaya were recruited through incidental sampling and divided equally into intervention and control groups. The intervention group received progressive muscle relaxation for 30 minutes and lavender aromatherapy for 5 minutes twice daily over three consecutive days. The control group received standard hospital care. Random blood glucose levels were measured before and after the intervention. Results: A significant reduction in the intervention group from 265.93 mg/dL with an SD of 41.24 to 220.40 mg/dL with an SD of 51.67 (p = 0.000), while the control group showed a non-significant decrease from 281.13 mg/dL with an SD of 45.55 to 268.87 mg/dL with an SD of 51.01 (p = 0.205). A significant difference was also observed between the two groups after the intervention (p = 0.015).  Conclusion:  the combination of progressive muscle relaxation and lavender aromatherapy was effective in lowering blood glucose levels in T2DM patients. It can be considered as a complementary non-pharmacological therapy in diabetes management.
Analysis of Cerebral Adherence to Heart Failure Cases in Melati 2B Ward at Dr. Soekardjo Regional General Hospital Tasikmalaya Cindy Putri Andriyani; Asep Kuswandi; Dewi Aryanti
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 14, No 1 (2026): EDITION MARCH 2026
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v14i1.8284

Abstract

Heart disease remains a leading cause of global mortality, closely linked to modifiable unhealthy lifestyles. The Indonesian Ministry of Health introduced the CERDIK program as a preventive strategy, encompassing routine health checks, smoking cessation, regular physical activity, balanced diet, adequate rest, and stress management. However, the incidence of heart failure remains high, suggesting inconsistent adherence. This study aims to analyze the risk factors for heart failure based on the CERDIK behavioral approach in Tasikmalaya. A non-experimental quantitative case–control study was conducted involving 60 respondents (30 cases and 30 controls) at RSUD Dr. Soekardjo. Data were analyzed using Chi-Square and Fisher’s Exact Test to determine Odds Ratios (OR). The results revealed that regular physical activity (p 0.001; OR 0.11) and a balanced diet (p = 0.03; OR 0.04) were significantly associated with a lower risk of heart failure. Routine health checks (p 0.001) and adequate rest (p 0.001) also showed strong protective associations. Conversely, stress management did not show a statistically significant association (p = 0.123), likely due to high adherence across both groups. It is concluded that consistent implementation of CERDIK behaviors, particularly physical activity and dietary management, is critical in preventing the progression of cardiovascular disease into heart failure. Healthcare providers must intensify education and monitoring of these specific behaviors in high-risk populations.
SOSIALISASI GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT BAGI PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS PURBARATU Asep Riyana; Ida Rosdiana; Syaukia Adin; Asep Kuswandi
Edukasi Masyarakat Sehat Sejahtera (EMaSS) : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/emass.v8i1.1156

Abstract

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan GERMAS harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian. GERMAS dapat dilakukan dengan cara: Melakukan aktifitas fisik, Mengonsumsi sayur dan buah, Tidak merokok, Tidak mengonsumsi alkohol, Memeriksa kesehatan secara rutin, Membersihkan lingkungan, dan Menggunakan jamban. Pada tahap awal, GERMAS secara nasional dimulai dengan berfokus pada tiga kegiatan, yaitu: 1) Melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari, 2) Mengonsumsi buah dan sayur; dan 3) Memeriksakan kesehatan secara rutin. Tiga kegiatan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga, dilakukan saat ini juga, dan tidak membutuhkan biaya yang besar, tutur Menkes. GERMAS merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat. Untuk menyukseskan GERMAS, tidak bisa hanya mengandalkan peran sektor kesehatan saja. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mensosialisasikan program yang telah dibuat oleh pemerintah sehingga tercapai kebiasaan baik di masyarakat dengan kebiasaan gerakan hidup masyarakat sehat. Berdasarkan studi pendahuluan ke puskesmas Jamanis, ternyata program ini belum tersosialisasikan baik kepada petugas puskesmas Jamanis maupun ke masyarakat. Sehingga kami merasa perlu untuk mensosialisasikan GERMAS untuk membantu program pemerintah agar tercapai peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal khususnya di Wilayah Puskesmas Purbaratu Tasikmalaya.
ASSOCIATION OF SIPPING ICE THERAPY WITH THIRST AND XEROSTOMIA AMONG ADULT HEMODIALYSIS PATIENTS: AN EXPLORATORY AND A QUASI-EXPERIMENTAL PRETEST–POSTTEST STUDY Faris K.L. Harahap, Moh; Kuswandi, Asep; Aryanti, Dewi; Cahyati, Yanti
International Archives of Medical Sciences and Public Health Vol. 7 No. 1 (2026): International Archives of Medical Sciences and Public Health
Publisher : Pena Cendekia Insani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53806/iamsph.v7i1.1481

Abstract

Thirst and xerostomia are distressing symptoms in hemodialysis (HD) patients. This study examined the association between sipping ice therapy and these symptoms among adult HD patients. A quasi-experimental pretest–posttest study with a non-equivalent control group was conducted at Banjar Hospital, Indonesia. Forty adults were allocated via purposive sampling to an intervention (n = 20) or control group (n = 20). The intervention group received sipping ice therapy (5 ?mL ice cubes, up to eight daily) for six consecutive days at home, while controls received routine care. Symptoms were measured using the Dialysis Thirst Inventory and Summate Xerostomia Inventory. The intervention group demonstrated significant reductions in median thirst and xerostomia categories from severe to mild (both p < 0.001), whereas no significant changes occurred in controls. Posttest between group comparisons strongly favored the intervention for reducing thirst (p < 0.001,r = 0.91) and xerostomia (p < 0.001,r = 0.88). Sipping ice therapy substantially reduces thirst and xerostomia in adult HD patients, serving as a feasible, non-pharmacological adjunct in nephrology nursing care. Future multi-center randomized trials are warranted.