Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Simulation Prototyping Network Bonding Multi-ISP Menggunakan OpenMPTCProuter Berbasis Multipath TCP Calvin Apriyanto; I Putu Hariyadi; Ondi Asroni
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10970

Abstract

Ketersediaan koneksi internet yang stabil dengan bandwidth yang memadai merupakan kebutuhan penting dalam mendukung berbagai aktivitas komunikasi data, terutama pada lingkungan yang bergantung pada akses jaringan secara berkelanjutan. Penggunaan satu Internet Service Provider (ISP) sering kali menimbulkan keterbatasan bandwidth serta risiko terjadinya gangguan layanan yang dapat mengurangi kualitas dan ketersediaan koneksi internet. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan network bonding multi-ISP menggunakan OpenMPTCProuter berbasis Multipath TCP (MPTCP) sebagai solusi untuk meningkatkan performa dan keandalan jaringan. Metode penelitian yang digunakan adalah Network Development Life Cycle (NDLC) yang meliputi tahapan analisis, perancangan, implementasi, simulasi, monitoring, dan pengujian sistem. Implementasi dilakukan pada lingkungan virtual menggunakan Proxmox Virtual Environment dengan dua skenario konfigurasi, yaitu 2 ISP dan 3 ISP. Evaluasi kinerja sistem dilakukan menggunakan parameter speedtest, distribusi trafik, failover, recovery, dan latency. Hasil pengujian menunjukkan bahwa konfigurasi 2 ISP menghasilkan rata-rata kecepatan download sebesar 24,24 Mbps, upload sebesar 82,98 Mbps, dan ping sebesar 48,33 ms. Sementara itu, konfigurasi 3 ISP menghasilkan rata-rata download sebesar 32,50 Mbps, upload sebesar 96,25 Mbps, dan ping sebesar 41 ms. Selain itu, mekanisme failover dan recovery mampu bekerja secara otomatis tanpa memutus koneksi pengguna, sedangkan distribusi trafik berhasil memanfaatkan seluruh jalur ISP yang aktif. Hasil penelitian membuktikan bahwa implementasi OpenMPTCProuter berbasis MPTCP efektif meningkatkan bandwidth, keandalan koneksi, serta ketersediaan layanan jaringan, dengan konfigurasi 3 ISP memberikan performa yang lebih baik dibandingkan konfigurasi 2 ISP dan layak diterapkan sebagai solusi jaringan multi-ISP.
Penetration Testing White-Box dan Black-Box pada Web Server Menggunakan Large Language Model Bayani Adam Sasaki; I Putu Hariyadi; Lilik Widyawati
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11841

Abstract

Audit keamanan dan pengujian penetrasi (penetration testing) secara manual pada web server membutuhkan sumber daya yang besar, waktu yang lama, dan sangat bergantung pada keahlian individu sehingga berisiko menimbulkan temuan yang tidak konsisten. Di sisi lain, penggunaan Large Language Models (LLM) berbasis cloud untuk otomatisasi triage keamanan membuka risiko kebocoran data sensitif berupa konfigurasi sistem dan log kerentanan ke jaringan publik. Penelitian ini mengusulkan dan mengevaluasi kerangka kerja triage keamanan otomatis yang berjalan secara luring (offline) dan dipetakan ke standar Penetration Testing Execution Standard (PTES) menggunakan model lokal Qwen2:1.5b melalui framework Ollama. Alat berbasis Python yang dikembangkan, NULL Security System, memiliki 29 modul untuk audit internal (white-box) dan analisis lalu lintas aktif (black-box). Dalam lingkungan jaringan terisolasi VirtualBox, Kali Linux bertindak sebagai penyerang (menjalankan Nmap, Nuclei, dan FFUF) dan Ubuntu Server 24.04.4 LTS sebagai target. Hasil pengujian selama lima iterasi menunjukkan triage berbantuan LLM lokal mencapai konsistensi 100% dalam penilaian risiko dan ekstraksi Source IP. Rata-rata waktu pemrosesan (Time-to-Insight) tercatat 56 detik untuk triage white-box dan 1 menit 57 detik untuk triage black-box, merepresentasikan peningkatan efisiensi 5 hingga 10 kali lipat dibanding baseline manual. Sistem berhasil mengidentifikasi lalu lintas Nuclei secara konsisten melalui pemetaan pola perilaku URL (behavioral URL pattern) ketika metode pencocokan User-Agent tradisional gagal. Integrasi pemantau proses aktif (psutil) mencegah kelelahan CPU target dengan memicu analisis cadangan (fallback) berbasis kata kunci saat batas load average terlampaui, sehingga menjamin kelayakan sistem lokal dan kedaulatan data.
Penerapan Web Application Firewall Berbasis Mod Security untuk Mengatasi Server Side Request Forgery (SSRF) Lalu Amirulloh Taufikurrahman; I Putu Hariyadi; Ondi Asroni
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12015

Abstract

Keamanan aplikasi web menjadi aspek krusial di tengah meningkatnya ancaman siber, khususnya terhadap kerentanan logika bisnis seperti Server-Side Request Forgery (SSRF) dan Open Redirect. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Web Application Firewall (WAF) Mod Security dengan aturan OWASP Core Rule Set (CRS) dalam memitigasi kerentanan tersebut pada sebuah aplikasi web target. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang diintegrasikan dengan kerangka kerja Network Development Life Cycle (NDLC). Metodologi NDLC adalah kerangka kerja yang digunakan untuk merancang, membangun, dan mengelola infrastruktur jaringan atau keamanan secara terstruktur. Hasil pengujian tahap awal menunjukkan bahwa mode blocking dengan aturan standar efektif menggagalkan serangan dengan merespon status HTTP 403 Forbidden. Namun, konfigurasi standar ini memicu insiden False Positive, di mana permintaan valid yang memuat alamat IP internal pada fitur Check Stock turut terblokir, sehingga mengganggu ketersediaan layanan (availability). Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penyesuaian aturan (Rule Tuning) melalui mekanisme whitelisting berbasis Regular Expression (Regex) yang divalidasi secara ketat. Hasil verifikasi akhir menunjukkan bahwa implementasi aturan custom berhasil memulihkan akses untuk permintaan yang sah (HTTP 200 OK) sekaligus tetap memblokir upaya eksploitasi dan manipulasi parameter. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Mod Security dengan kombinasi OWASP CRS dan Custom Rules mampu melindungi aplikasi pada server dari serangan SSRF secara efektif, menjaga fungsionalitas katalog tetap berjalan normal, serta memungkinkan administrator memantau lalu lintas data yang mencurigakan.
Desain dan Implementasi Wazuh Active Response untuk Mitigasi Serangan Konten Judi Online Gian Virgiawan; I Putu Hariyadi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12023

Abstract

Serangan bermotif judi online yang menyasar situs pemerintah dan akademik semakin meningkat, di mana pelaku mengeksploitasi celah unggah file untuk menyisipkan gambar promosi judi, webshell, kata kunci, maupun tautan tersembunyi (SEO Poisoning). Sistem Security Information and Event Management (SIEM) seperti Wazuh telah banyak digunakan untuk mendeteksi ancaman ini, namun sebagian besar penelitian terdahulu masih bersifat pasif, hanya memberikan peringatan tanpa tindakan pemulihan otomatis, serta mengandalkan verifikasi berbasis hash yang tidak mampu mengenali konten judi yang disamarkan di dalam gambar atau modifikasi file yang bersifat zero-day. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem keamanan berlapis (Multi-Layer Defense) berbasis Wazuh yang mengintegrasikan File Integrity Monitoring (FIM), OCR berbasis Tesseract dan OpenCV, domain blacklist berisi 98.730 domain, deteksi webshell berbasis Regex, dan pemantauan syscall menggunakan Linux Auditd, yang dilengkapi fitur Active Response untuk meremediasi ancaman secara otomatis serta notifikasi real-time melalui Telegram Bot API. Metode penelitian yang digunakan adalah Network Development Life Cycle (NDLC) dengan tiga tahapan, yaitu analysis, design, dan simulation prototyping. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black-Box Testing pada lima skenario serangan yang diulang lima kali pada tiga kondisi operasional berbeda. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem berhasil mendeteksi dan memitigasi seluruh skenario serangan dengan tingkat keberhasilan 100% serta rata-rata waktu remediasi di bawah 15 detik, jauh lebih cepat dibandingkan proses penanganan manual.