Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

The Pengaruh Hiperrealitas Iklan terhadap Pola Konsumtif Remaja Suku Dayak Taman Sosat di Jopo, dalam terang Pemikiran Jean Baudrillard: budaya Lorensius; Riyanto, Armada; Adon, Mathias Jebaru
Hunatech Vol. XXX, No. XXX Vol 3 No 2 (2024): Hunatech: Oktober 2024
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59967/hunatech.v3i1.38

Abstract

The influence of advertising hyperreality on the consumptive lifestyle of Dayak Taman teenagers is an interesting phenomenon to research. In Jean Baudrillard's thinking, hyperreality refers to a condition where the representation of the real world becomes more important than the reality of authenticity itself. Advertising, as a form of representation, has a significant role in shaping consumptive lifestyles. In this study, the author analyzes how advertisements influence the consumptive behavior of Dayak Taman teenagers in Jopo Village. The author found that advertisements create images that exaggerate certain products and lifestyles. Taman Dayak teenagers who are exposed to advertisements tend to follow the consumption trends displayed in advertisements, even if it does not always match their needs. An understanding of hyperreality and Jean Baudrillard's thinking helps us understand why advertising has such a strong impact on consumptive lifestyles. This research provides insights into how advertising can influence teenagers and lead them to overconsumption. Therefore, there needs to be awareness and criticism of advertisements so that teenagers can make wiser consumption decisions.
Mengupayakan Hidup Relasi dan Damai sebagai Penyadaran Akan Persamaan Kodrat Manusia di Tengah Diskriminasi Keberagaman dalam Kehidupan Bersama Andriyanto, Natalius; Riyanto, Armada
JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) JSSH (Jurnal Sains Sosial dan Humaniora) Vol. 9 No.1 Maret 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jssh.v9i1.20179

Abstract

Semua manusia adalah sama dalam kodratnya sebagai manusia terlepas dari apapun keberagaman atau pluralitas yang ada dalam masing-masing diri manusia. Namun, pengakuan akan kesamaan kodrat manusia tersebut tidak mendapat tempat ketika diskriminasi masuk ke dalam kehidupan manusia. Penulis ingin menekankan akan pentingnya perlakuan yang sama terhadap antar sesama manusia dalam kesamaan kodratnya sebagai manusia. Metode yang dilakukan dalam penulisan ini adalah metode pendekatan kualitatif: studi literatur yang membahas fenomena-fenomena diskriminasi kemanusiaan baik yang terjadi di dunia maupun di Indonesia. Pendekatan ini dikembangkan dengan bantuan teori-teori atau pendapat para filsuf humanis tentang keluhuran nilai dan kodrat kemanusiaan yang ada pada manusia. Penulis menemukan bahwa upaya menghidupkan kembali relasi antar sesama manusia dan mengusahakan kedamaian di dalamnya seperti yang diserukan oleh Emmanuel Levinas adalah cara yang dapat dilakukan untuk meredam aksi-aksi diskriminatif yang kemudian melahirkan berbagai kekerasan kemanusiaan dalam kehidupan sosial manusia.
ELABORATING AN INDONESIAN SOCIAL MARIOLOGY BASED ON THE EXPERIENCE OF THE FAITHFUL Pasi, Gregorius; Riyanto, Armada; Martasudjita, Emanuel P.D.
Journal of Asian Orientation in Theology Vol 4, No 2 (2022): Journal of Asian Orientation in Theology
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jaot.v4i2.4119

Abstract

This article attempts to answer the following question: how to elaborate an Indonesian social mariology that is based on the experience of the faithful? In answering this question, this article uses the critical reading method on four main themes, namely: (1) social mariology according to Clodovis M. Boff; (2) Contextual theology according to the FABC (Federation of Asian Bishops' Conferences); (3) The methods of contextual theology according to Stephen B. Bevans; (4) Gadamer's philosophical hermeneutics. The results of this critical reading have been synthesized in the following 3 subjects: (1) social mariology, (2) social mariology within the context of the FABC’s contextual theology; (3) a plan of Indonesian social mariology based on the experience of the faithful. An authentic contribution of this article is found in number 3: it offers a way to be applied in heeding the context, namely by processing the experience of the faithful. This approach is based on the way of Asian contextual theologizing according to the FABC and Gadamer's philosophical hermeneutics. Besides to social mariology, this method can be applied to other themes of contextual theological studies.
Dimensi Violatif dalam Politik Indonesia Tahun 2024: Violent Dimensions in Indonesian Politics in 2024 Jama, Andreas; Riyanto, Armada
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v8i1.76805

Abstract

This research focuses on the theme of the relationship between violative dimensions and politics. The aim is to confirm one viewpoint stating that politics has violative dimensions. By that, it means that politics is susceptible to violence, manipulation, intrigues, dirty strategies, systematic injustice, confusion, or chaos. Politics never truly escapes from these violative dimensions involving the aforementioned aspects. Anomalies tend to occur in politics. The methodology used in this research is literature review. The author then correlates this viewpoint with the implementation of politics in Indonesia in 2024. The author uses various issues or violations that occur in the implementation of politics in Indonesia as a measure to determine the validity of this viewpoint. This research finds that this viewpoint is undoubtedly valid. Violative dimensions can be said to be a vital or integral part of politics. They are like two sides of the same coin, coexisting. In other words, this viewpoint is a commonly accepted opinion that can be justified by everyone.
REFLEKSI FILOSOFI TEOLOGIS TENTANG ALLAH SANG ADA DALAM METAFISIKA THOMAS AQUINAS Wendi Setiawan; Riyanto, Armada
Jurnal Humaniora Teknologi Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Humaniora Teknologi
Publisher : P3M Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jht.v9i2.143

Abstract

Fokus dari artikel ini adalah refleksi filosofis yang didasari dengan pemikiran Thomas Aquinas mengenai Allah Sang Ada dalam metafisika. Untuk tujuannya adalah melihat bagaimana Allah yang dianggap sebagai Sang Ada dalam metafisika. Selain itu ditujukan pada refleksi pribadi tentang bagaimana manusia menyadari Allah dalam dirinya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka yang menjelaskan pemikiran Thomas Aquinas tentang eksistensi Allah dan pemikiran para filsuf dengan keterkaitan serupa untuk pendasaran refleksi filosofi-teologis. Juga melihat dari apa yang didapatkan pribadi tentang metafisika. Dari kesemuanya itu diperolehlah suatu hasil dari penelitian ini adalah mampu menjelaskan bagaimana menjelaskan makna Allah itu Sang Ada dalam pemikiran Thomas Aquinas. Kemudian ditinjau juga dalam terang para filosof lain yang menjelaskan serupa. Akhirnya secara pribadi merefleksikan apa yang disampaikan oleh para pemikir tentang Allah itu sendiri.
Implementasi Pendidikan Katolik menurut dokumen Identitas Sekolah Katolik untuk Budaya Dialog Gili Gedo, Rivaldo Wilhelmus; Riyanto, Armada; Adon, Mathias Jebaru
Vocat : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. 3 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/vctjpk.v3i2.368

Abstract

Tujuan dari artikel ini adalah untuk memberikan preferensi baru dalam penerapan identitas Katolik di sekolah-sekolah Katolik, berdasarkan dokumen “Identitas Sekolah Katolik untuk Budaya Dialog”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mempelajari dan mengkaji literatur dari dokumen Gereja, artikel jurnal nasional dan internasional, serta dokumen negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan Katolik, berdasarkan dokumen “Identitas Sekolah Katolik untuk Budaya Dialog”, dapat dilaksanakan melalui partisipasi dan peran dari subjek-subjek pendidikan seperti orangtua, lembaga pendidikan, tenaga kependidikan, negara, serta pimpinan Gereja. Isi dari dokumen “Identitas Sekolah Katolik untuk Budaya Dialog” sangat cocok dan benar-benar berkembang di sekolah-sekolah Katolik pada saat ini. Orang Tua sebagai pendidik pertama perlu mengupayakan pemilihan pendidikan Katolik yang terbaik bagi anak-anaknya. Sekolah Katolik harus membaharui semangat dan sistem pendidikan terutama dalam situasi sekolah yang multikultural. Para guru di sekolah-sekolah Katolik harus dibina untuk mempertahankan nilai-nilai Injili dalam mendidik peserta didik seraya membaharui metode pengajaran dan ilmu-ilmu yang relevan. Negara perlu mendukung dan memfasilitasi jalannya pendidikan di sekolah-sekolah Katolik melalui regulasi, dan pengawasan. Para pemimpin Gereja perlu memperhatikan dan menjadi penentu bagi identitas Kekatolikan sebuah sekolah. Dengan demikian, Pelaksanaan pendidikan Katolik yang terdorong oleh nilai-nilai Injili serta pembentukan perserta didik yang integral dapat terlaksana dengan baik dan relevan terutama untuk menghadapi fenomena dunia yang multikultural.
KONSEP PERDAMAIAN ATAS KRISIS PERIKEMANUSIAAN DALAM PERSPEKSTIF FENOMENOLOGIS EKSISTENSIALISME MARTIN HEIDEGGER Pranoto, Damianus S.; Riyanto, Armada
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus penelitian ini menggali konsep perdamaian atas krisis perikemanusiaan yang berdasarkan fenomenologi eksistensialisme manusia itu sendiri perspektif Martin Heidegger. Perdamaian pada dasarnya adalah suatu ungkapan yang lahir dari kebebasan individu untuk berelasi antar diri sendiri dan sesama. Artinya, manusia harus keluar dari dirinya sendiri dan berdiri di antara segala yang ada. Hal ini merujuk pada makna dasein (keberadaan manusia) yang mengandung penghargaan terhadap kehadiran orang lain dalam kehidupan sebagai suatu sikap moralitas kemanusiaa. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif berdasrkan sumber-sumber pustaka yang menyoroti pemikiran fenomenologi eksistensialisme Martin Heidegger dan hubungannya dengan kehidupan manusia yakni konsep perdamaian atas krisis perikemanusiaan. Tujuannya adalah untuk menggali pemahaman yang mendalam tentang hubungan antara manusia, dunia, dan makna eksistensi mereka, serta bagaimana konsep ini dapat diterapkan dalam situasi krisis perikemanusiaan. Dengan demikian, konsep perdamaian dalam perspektif fenomenologi eksistensialisme Martin Heidegger memberikan wawasan filosofis yang mendalam tentang bagaimana manusia dapat menciptakan perdamaian yang berarti dan berkelanjutan dalam dunia yang penuh dengan tantangan.
THE UNION OF MIND AND BODY IN THE CARTESIAN DUALISM Riyanto, Armada
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 24 No. 1 (2008)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v24i1.958.39-55

Abstract

Dalam disiplin ilmu filsafat sejak Yunani Awali, manusiadimengerti sebagai terdiri dari badan dan jiwa. BagiSokrates manusia adalah jiwa-nya. Sebab, badan tidakmenampilkan kodrat kemanusiawian yang sesungguhnya.Plato melanjutkan Sokrates dengan “menyangkal”kepentingan keberadaan badan. Problem filosofis klasikitu berlanjut pada pemikiran René Descartes yangmenyatakan bahwa badan adalah res extensa (itu yangmemiliki keluasan), sementara jiwa res cogitans (itu yangberpikir). Karena itu, dalam Descartes istilah yang lebihtepat untuk jiwa adalah “mind” daripada “soul”. Tetapisoal paling krusial dari definisi ini ialah bagaimanamungkin yang material bersatu sedemikian rupa denganres cogitans sehingga menyusun sebuah kesatuan tunggaleksistensi manusia yang begitu memesona? Pertanyaaninilah yang menjadi status questionis dari artikel ini.
Konsep Manusia dalam Dayak Benuaq Ditinjau dalam Pemikiran Heidegger Sipriadi, Ambrosius; Riyanto, Armada
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 30 No. 1 (2024): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v30i1.586

Abstract

In this paper, the author tries to connect the concept of human in the context of Dayak Benuaq culture by referring to Martin Heidegger's philosophical thoughts about human existence. The literature method is used by the author in this paper. This paper explains Heidegger's concept that highlights human existence in the world and relates this concept to the Dayak Benuaq view of humans as an inseparable part of nature and their environment. In addition, this paper examines the relationship between the everyday human experience in Heidegger's thought with the practices and philosophical meanings that the Dayak Benuaq people may have. In the context of time, Heidegger emphasizes the importance of the dimension of time in human understanding. This paper tries to understand how time is viewed in the life of the Benuaq Dayak, especially in relation to the spiritual aspect and the continuous cycle of life. Although Heidegger does not directly discuss Dayak Benuaq culture or society, this paper relates his philosophical or spiritual principles to the concept of man in the context of Dayak Benuaq culture. This paper aims to present a new perspective in understanding the concept of human, especially for the Dayak Benuaq people. The author also finds similarities between the concept of man in Dayak Benuaq culture and Heidegger's concept of man, especially in Attachment to Nature and the Environment, Existence in Daily Life, and the Experience of Time