Subandiyono Subandiyono
Departemen Akuakultur, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

MASKULINISASI IKAN CUPANG (Betta splendens) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK PURWOCENG (Pimpinella alpina) PADA MEDIA PEMIJAHAN Siti Qotijah; Sri Hastuti; Tristiana Yuniarti; Subandiyono Subandiyono; Fajar Basuki
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 20, No 1 (2021): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v20i1.1228

Abstract

ABSTRAK Ikan cupang (Betta splendens) merupakan salah satu jenis ikan hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan cupang yang berkelamin jantan mempunyai warna yang lebih menarik dan memiliki nilai komersial lebih tinggi daripada betina. Keistimewaan lain dari ikan cupang jantan adalah siripnya yang indah. Upaya untuk memperoleh persentase jantan dapat dilakukan dengan cara pengarahan kelamin dengan cara melakukan perendaman ikan pada media pemijahan yang mengandung ekstrak purwoceng. Tanaman purwoceng (Pimpinella alpina) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang memiliki senyawa aktif stigmasterol yang mampu menimbulkan efek androgenik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberhasilan maskulinisasi ikan cupang (B. splendens) dengan penambahan ekstrak purwoceng pada media pemijahan.Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli  hingga September 2018 di CV Galaxy Aquatic Indonesia, Pedurungan, Semarang.Induk jantan yang digunakan sebanyak 20 ekor dan induk betina sebanyak 20 ekor dengan jumlah total 40 ekor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 perlakuan dan 10 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penggunaan dosis purwoceng yang berbeda melalui perendaman pada media pemijahan. Perlakuan tersebut adalah A dosis 0 mg/L, perlakuan B dosis 20 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan ekstrak purwoceng dengan dosis yang berbeda pada perendaman induk memberikan pengaruh nyata terhadap persentase jantan, betina dan kelulushidupan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap derajat penetasan dan pertumbuhan. Persentase kelamin jantan pada perlakuan A yaitu 34,80%, perlakuan B 84,54%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya ikan cupang (B. splendens) yaitu suhu 26-280C; pH 6,5-7,0; dan DO 2,3-2,8 mg/L. Kata kunci:  dosis, Ikan cupang, ikan jantan, Purwoceng ABSTRACT Betta fish (Betta splendens) is one type the ornamental fish that has high economic value. Male betta fish has more attractive colors and higher commercial value than females. Another feature of male betta fish is its beautiful fin. Efforts to obtain percentage of male fish can be done by sex reversal through submersion spawning media with Purwoceng extract. Purwoceng (Pimpinella alpina) is one of the Indonesian endemic herbs which haves active compound stigmasterol which is able to make androgenic effect.  The purpose of this study is to determine the effect of the addition of purwoceng extract on spawning media to the male genital formation on Betta fish (B. splendens). This research was conducted from July to September 2018 at CV Galaxy Aquatic Indonesia, Pedurungan, Semarang. There were 20 male brooders and 20 female brooders with a total of 40 fishes. This research was conducted by using the experimental method and Completely Randomized Design (CRD) which are consisting of 2 treatments and 10 replications. The treatment in this study was the use of different purwoceng extract doses through submesrsion on spawning media. The treatments are A dose (0 mg / L) and B dose (20 mg / L). The result showed that immerstion using different doses of purwoceng extraxt gives a significant effect on percentage of male , female ang survival rate, but not significant on hatching rate and growth. Percentage value of male sex in treatment A was34,80% and treatment B was 84.54 ± 2.20%. Water quality in the breeding media that is suitable for Betta fish cultivation are temperature 26 – 28 0C, pH 6.5-7.0, and DO 2.3-2.8 mg / L.Keywords: Immersion, Betta fish, doses, Purwoceng, Male fish
PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer Bloch, 1790) YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG (KJA) Seto Windarto; Sri Hastuti; Subandiyono Subandiyono; Ristiawan Agung Nugroho; Sarjito Sarjito
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.798 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.4195

Abstract

Ikan kakap putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu komoditas budidaya laut unggulan di Indonesia, karena memiliki pertumbuhan yang relatif cepat, kelangsungan hidup dapat mencapai 86%, dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan budidaya. Kegiatan budidaya kakap putih di Indonesia saat ini masih belum banyak berkembang, salah satu faktor yang menghambat kegiatan pembesaran kakap putih di Indonesia adalah masih sulitnya pengadaan pakan rucah secara berkelanjutan dalam jumlah yang cukup. Salah satu upaya kegiatan pembesaran ikan kakap putih yang dapat dilakukan adalah dengan media keramba jaring apung (KJA) dan penggunaan pellet sebagai ganti pakan rucah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa pertumbuhan ikan kakap putih (Lates calcarifer) yang dibudidayakan dengan sistem keramba jaring apung (KJA). Hasil dari pengamatan performa pertumbuhan ikan kakap putih yang dibudidayakan dengan sistem KJA adalah nilai SGR 0,28%/hari, nilai pertumbuhan bobot mutlak 47 g, dan nilai kelulushidupan 82,5%. Hasil pengukuran parameter kualitas air meliputi salinitas berkisar 30–33‰, DO antara 4,89 hingga 5,89 mg/L, suhu antara 29 hingga 29,9ºC, pH antara 7 hingga7,8, kecerahan antara 9 hingga 9,5 m.
Efek pakan buatan yang mengandung tepung daun kangkung air (Ipomoea aquatica) yang telah difermentasi terhadap tingkat konsumsi pakan, efisiensi pakan dan pertumbuhan benih ikan nila merah (Oreochromis sp.) Widya Kirana; Subandiyono Subandiyono; Diana Chilmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 7, No 1 (2023): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v7i1.15592

Abstract

Ikan nila merah (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan. Dalam pengembangan budidaya ikan nila merah masih memiliki suatu kendala yaitu efisiensi pemanfaan pakan yang masih rendah. Hal tersebut dapat diatasi dengan cara penambahan fermentasi tepung daun kangkung air yang dapat beperan dalam sintesis protein yang mampu meningkatkan pertumbuhan pada ikan nila merah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan tepung daun kangkung air yang telah difermentasi dalam pakan buatan terhadap total konsumsi pakan, efisiensi pakan dan pertumbuhan benih ikan nila merah (Oreochromis sp.). Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila merah (Oreochromis sp.) dengan berat rata-rata yaitu 1,69±0,30 g/ekor. Ikan uji dipelihara selama 31 hari dengan padat tebar 15 ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan yaitu perlakuan penambahan fermentasi tepung kangkung air dengan dosis masing-masing sebesar A (0%), B (5%), C (10%), D (15%) dan E (20%). Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi tepung daun kangkung air memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER, RGR tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada SR. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dosis optimal fermentasi tepung daun kangkung air yang dapat ditambahkan dalam pakan buatan untuk benih ikan nila merah adalah sebesar 14,70–16,14%.Kata kunci: fermentasi, ikan nila merah, kangkung air, pakan, pertumbuhan
Pengaruh tepung bunga marigold (Tagetes erecta) pada pakan buatan terhadap kecerahan warna benih ikan guppy (Poecillia reticulata) Cut Qanita Hidayah; Sri Hastuti; Diana Rachmawati; Subandiyono Subandiyono; Dewi Nurhayati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.5644

Abstract

ABSTRAK Ikan guppy (P. reticulata) merupakan salah satu ikan hias air tawar yang banyak diminati karena variasi warna dan corak siripnya yang beragam. Warna ikan hias dipengaruhi oleh sel pigmen pada tubuh. Pigmen tersebut dihasilkan dari penambahan karotenoid pada pakan. Salah satu bahan penghasil karotenoid adalah tepung bunga marigold. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan mengetahui dosis terbaik tepung bunga marigold dalam pakan buatan terhadap peningkatan kecerahan warna ikan guppy. Variabel yang diamati antara lain bobot mutlak, rasio konversi pakan, laju pertumbuhan spesifik dan kelulushidupan. Ikan guppy dengan bobot 0,19 ± 0,03 g diperoleh dari pembudidaya ikan hias guppy Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan di Galaksi Akuatik Indonesia, Semarang pada bulan Desember 2018-Januari 2019. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penambahan tepung bunga marigold dalam pakan buatan dengan dosis A (0 mg/kg), B (25 mg/kg), C (50 mg/kg) dan D (75 mg/kg). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tepung bunga marigold berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kecerahan warna ikan guppy, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot mutlak, rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR). Perlakuan C (50 mg/kg) memberikan nilai tertinggi pada peningkatan kecerahan warna ikan guppy (P. reticulata) yaitu 4,05. Kesimpulan yang diperoleh adalah dosis tepung bunga marigold 50 mg/kg memberikan hasil tertinggi pada kecerahan warna ikan guppy (P. reticulata).                                                                                                                                                                                                Kata Kunci :  Guppy; Marigold; Pakan; Kecerahan Warna. ABSTRACT    Guppy (P. reticulata) is one of the freshwater fish that has various colour with many type of fin pattern. The colour of  ornamental fish is depend of the pigment cell. This pigment is produced by the carotenoid in diet fish. One of the carotenoid producing ingredients is marigold flour. This research is used to review and find out the best dose of marigold flour in artificial feed to increase he pigmentation of guppy fish. The parameters are the absolute weight, feed conversion rasio, specific growth rate and survival rate. Guppy fish with weight 0,19 ± 0,03 g were from ornamental guppy fish farmer Sleman, Yogyakarta. The experiment was conducted at Galaksi Akuatik Indonesia, Semarang in December 2018 till January 2019. This research used an experimental method with a complete randomized design (RAL) that consisting of 4 treatments and 3 replications respectively. The treatments are the addition of marigold flour in artificial feed with dose A (0 mg/kg), B (25 mg/kg), C (50 mg/kg) and D (75 mg/kg). The results of this research are indicate that marigold flour has a significant effect on the pigmentation of guppy fish, but does not has significant affect to absolute weight, feed conversion ratio, specific growth rate and survival rate. Treatments C (50 mg/kg) gave the highest value for increasing the pigmentation of guppy fish (P. reticulata) which is 4,05. The conclusion is the dosage of marigold flour 50 mg/kg gave the highest value for pigmentation of guppy. Keywords : Guppy, Marigold, Feed, Colour Intensity
Pengaruh Kadar Protein Pakan yang Berbeda Berbasis Rasio E/P 8,5 Kkal/G Protein Terhadap Tingkat Konsumsi Pakan dan Pertumbuhan Udang Jerbung (Fenneropenaeus merguiensis) Tyas Hertanti; Subandiyono Subandiyono; Sri Hastuti
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 4, No 1 (2020): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.35 KB) | DOI: 10.14710/sat.v4i1.5649

Abstract

Udang Jerbung (Fenneropenaeus merguiensis) membutuhkan protein sebesar 36-45%. Kebutuhan gross energy (GE) dan digestibility energy (DE) yaitu, 350-450 kkal 100g-1 dan 250-350 kkal 100g-1, sedangkan rasio E/P sebesar 7,98-9,56 kkal/g protein. Namun, informasi mengenai komposisi nutrisi pakan terutama keseimbangan antara protein, energi, dan E/P yang tepat untuk pertumbuhan udang jerbung masih sangat terbatas. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh kadar protein pakan yang berbeda berbasis rasio E/P 8,5 kkal/g protein terhadap tingkat konsumsi pakan dan pertumbuhan udang jerbung (F. merguiensis). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kadar protein pakan yang berbeda berbasis rasio E/P 8,5 kkal/g protein terhadap tingkat konsumsi pakan (TKP), efesiensi pemanfaatan pakan (EPP), kecernaan protein, rasio efesiensi protein (REP), laju pertumbuhan relatif (RGR), dan kelulushidupan (SR) udang jerbung (F. merguiensis). Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-April 2019 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah. Udang uji yang digunakan, memiliki bobot individu rata-rata 0,54±0,02 g/ekor. Udang uji dipelihara selama 40 hari dengan kepadatan 150 ekor/m2 dalam kontainer plastik dengan dimensi (p x l) sebesar (0,4 x 0,25) m2. Udang uji diberi pakan setiap hari sebanyak tiga kali secara fix feeding rate. Metode penelitian ini, yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan masing-masing 6 pengulangan. Tiga perlakuan tersebut meliputi A (30%), B (35%), dan C (40%). Masing-masing dengan rasio E/P 8,5 kkal/g protein. Data yang diamati meliputi TKP, EPP, kecernaan protein, REP, RGR, SR, biomassa udang jerbung dan data penunjang yaitu kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari TKP diperoleh pada perlakuan A, yaitu 82,31±0,56 g, sedangkan nilai tertinggi dari EPP, kecernaan protein, REP, RGR, SR, dan biomassa diperoleh pada perlakuan C, yaitu 17,09±0,82%, 98,02%, 0,55±0,03%, 3,91±0,29%, 88,89±5,44%, dan 20,93±0,61 g. Nilai kualitas air pada media pemeliharaan dalam kisaran yang optimal untuk kehidupan udang uji. Kesimpulannya, kadar protein pakan yang berbeda berbasis rasio E/P 8,5 kkal/g protein berpengaruh nyata (P0,05) terhadap SR. Pakan terbaik diperoleh pada perlakuan C, dimana menghasilkan performa petumbuhan yang tebaik.
PENGARUH EUGENOL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy, Lac.) SELAMA DAN SETELAH PERIODE TRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP Arika Midihatama; Subandiyono Subandiyono; Alfabetian Herjuno Condro Haditomo
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 2, No 2 (2018): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v2i2.2705

Abstract

Masalah yang sering dihadapi dalam transportasi ikan gurami adalah rendahnya tingkat kelulushidupan.  Penambahan eugenol diharapkan mampu menekan laju metabolisme, sehingga kematian dapat diminimalkan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kadar glukosa darah dan kelulushidupan gurami selama proses transportasi sistem tertutup.  Metode penelitian ini adalah metode eksperimental rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan pada media transportasi dengan eugenol 0.000, 0.002, 0.004, dan 0.006 ml/L, masing-masing untuk perlakuan A, B, C, dan D.  Data yang diambil ada 2, yaitu periode transportasi dan pemeliharaan, yang dilakukan selama 10 hari.  Variabel yang diukur saat transportasi adalah kadar glukosa darah, dan kelulushidupan (SR). Variabel yang diukur saat pemeliharaan adalah SR.  Parameter kualitas air yang diamati adalah suhu, oksigen terlarut (DO), tingkat keasaman (pH), dan amonia (NH3).  Hasil penelitian dianalisis dengan  ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan masing-masing dengan selang kepercayaan 95%.  Berdasarkan hasil penelitian tersebut, konsentrasi maksimal eugenol yang dapat digunakan untuk transportasi adalah 0,002 ml/L.
Pengaruh Protein dalam Pakan terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Juvenil Vaname (Litopenaeus vannamei) Ardi Muhti Fahrudin; Subandiyono Subandiyono; Diana Chilmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 7, No 1 (2023): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v7i1.17284

Abstract

Vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu spesies udang laut yang memiliki pasar besar. Budidaya vaname dilakukan dengan harapan dapat memacu pertumbuhannya secara maksimum, sehingga dapat menyesesuaikan permintaan pasar yang selalu meningkat. Pemberian pakan dengan protein yang tinggi dan sesuai dengan kebutuhannya diharapkan mampu meningkatkan laju pertumbuhan juvenile vaname.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pakan dengan berbagai kadar protein yang berbeda terhadap tingkat konsumsi pakan (TKP), tingkat efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan pertumbuhan juvenil vaname (L. vannamei)Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 4 ulangan. Ke 3 perlakuan tersebut adalah pakan dengan kadar protein 38%, 32% dan 28. Variabel yang diamati meliputi tingkat konsumsi pakan (TKP) efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), food conversion ratio (FCR), retensi protein, retensi lemak, relative growth rate (RGR) dan survival rate (SR). Parameter kualitas air seperti dissolved oxcygen (DO), suhu, pH, dan salinitas diukur setiap hari pada waktu pagi dan sore hari, parameter ammonia (NH3) diukur pada awal dan akhir penelitian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan dengan kadar protein yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai EPP, FCR, RP, RGR, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai TKP, RL dan SR. Nilai EPP, FCR, RP dan RGR terbaik diperoleh pada perlakuan A dengan hasil masing-masing adalah 4704,37±960,47%, 0,02±0,004, 96,33±20,76% dan 884,87±180,66%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa kadar protein pakan yang baik adalah pada perlakuan A, yaitu 38%.
Pola pertumbuhan Thalassiosira sp. pada media walne dengan rasio N/P berbeda Muhammad Kukuh Prihardianto; Subandiyono Subandiyono; Diana Chilmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 7, No 2 (2023): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v7i2.17283

Abstract

Thalassiosira sp. merupakan fitoplankton yang termasuk dalam sel diatom yang sering digunakan sebagai pakan alami larva udang. Pertumbuhan diatom dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya yaitu nutrien. Nitrogen dan fosfor merupakan makro nutrien yang membatasi pertumbuhan diatom dan produktivitas primer. Nitrogen merupakan nutrisi utama untuk pertumbuhan diatom dan fosfor berperan dalam metabolisme sel. Fosfor digunakan reaksi yang berkaitan dengan energi seperti peredaran dan transfer energi dalam metabolisme sel.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh rasio N/P terhadap pola pertumbuhan dan mengetahui rasio N/P terbaik terhadap pola pertumbuhan Thalasssiosira sp.. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium CV. Riz Samudra, Marine Science Techno Park Undip, Jepara, Jawa Tengah. Thalassiosira sp. yang digunakan sebagai uji berasal dari stok inokulan laboratorium algae BBPBAP Jepara, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaituperlakuan A (rasio N:P=1:1), perlakuan B (rasio N:P = 4:1), perlakuan C (rasio N:P=8:1), perlakuan D (rasio N:P=12:1), perlakuan E (rasio N:P=16:1). Thaalassiosira sp. dikultur dengan kepadatan inokulan 100.000 sel/ml. Kultur dilakukan selama 14 hari untuk mengetahui pola pertumbuhan sel diatom Thalassiosira sp.. Media yang digunakan untuk kultur yaitu media walne modifikasi dengan sumber N dan P berasal dari (NH2)2CO dan Na3PO4.Hasil penelitian didapatkan bahwa rasio N:P berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pola pertumbuhan Thalassiosira sp. Hasil laju pertumbuhan Thalassiosira sp. dari nilai tertinggi ke terendah berturut-turut yaitu perlakuan A (0,39±0,04) sel/hari, perlakuan E (0,38±0,03) sel/hari, perlakuan C (0,29±0,02) sel/hari, perlakuan D (0,28±0,01) sel/hari dan perlakuan B (0,27±0,02) sel/hari. Rasio N:P=1:1 yang merupakan rasio N:P terbaik yang menghasilkan waktu lag phase (2,31±0,17 hari), laju pertumbuhan (0,39±0,04 sel/hari), puncak populasi (6,35±0,11 log sel/ml), kepadatan sel akhir (5,84±0,03 log sel/ml).
Pengaruh ekstrak sereh (Cymbopogon citratus) pada sistem transportasi tertutup terhadap glukosa darah dan kelulushidupan benih bandeng (Chanos chanos) Amelia Rimadhani; Subandiyono Subandiyono; Slamet Budi Prayitno
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 7, No 2 (2023): SAT edisi September
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v7i2.17280

Abstract

Semakin meningkatnya permintaan pasar untuk ikan hidup terutama ikan bandeng (Chanos chanos), maka dibutuhkan penanganan untuk menjamin kelulushidupan dan menjaga tahapan produksi tidak terganggu aman sampai tujuan. Dalam memenuhi permintaan tersebut, pembudidaya ikan menggunakan transportasi dengan sistem tertutup untuk pengiriman yang memiliki jarak tempuh yang jauh. Anestesi ikan dengan ekstrak sereh dalam transportasi sistem tertutup belum pernah diujicobakan pada benih bandeng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dosis terbaik ekstrak sereh untuk pembiusan benih bandeng dengan transportasi sistem tertutup. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – Juli 2022 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau, Jepara. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan dengan dosis esktrak sereh yaitu A (kontrol), B (0,025 ml/L), C (0,05 ml/L) dan D (0,075 ml/L) di transportasikan dengan lama waktu 8 jam dengan simulasi buatan. Ikan uji yang digunakan adalah benih bandeng dengan panjang 7-15 cm. Bahan uji menggunakan ekstrak sereh dengan kepadatan ikan setiap kantong 10 ekor/liter. Parameter pengamatan adalah tingkah laku ikan selama pembiusan, lama waktu pemingsanan dan penyadaran, glukosa darah, kelulushidupan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak sereh berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lama waktu pemingsanan dan lama waktu penyadaran, namun tidak berpengaruh nyata terhadap frekuensi bukaan operkulum, glukosa darah dan kelulushidupan. Dosis ekstrak sereh yang menghasilkan kelulushidupan rata-rata 90,00% pada perlakuan C dengan dosis 0,05%.