Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

APLIKASI DOSIS FERMENTASI PROBIOTIK BERBEDA PADA BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) POLA INTENSIF Gunarto Gunarto; Abdul Mansyur; Muliani Muliani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.136 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.241-255

Abstract

Aplikasi dosis probiotik yang tepat menjadi satu di antara penentu utama dalam peningkatan produksi udang di tambak, karena berkaitan dengan kemampuannya mengurai limbah organik sisa pakan dan sisa metabolisme udang yang dibudidayakan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dosis fermentasi probiotik yang berbeda pada pertumbuhan, sintasan, produksi udang, nilai rasio konversi pakan, dan kualitas air tambak budidaya intensif udang vaname di tambak. Enam unit tambak masing-masing ukuran 4.000 m2 ditebari benur vaname PL-10 dengan padat tebar 50 ekor/m2. Pakan diberikan dengan dosis 2,5%-100% dari total biomassa udang dengan frekuensi 2–4 kali/hari selama pemeliharaan 105 hari. Tiga dosis berbeda dari aplikasi fermentasi probiotik komersial dijadikan perlakuan, yaitu A). 1 mg/L/minggu, B). 3 mg/L/minggu, dan C). 5 mg/L/minggu. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Aplikasi fermentasi probiotik di tambak dilakukan setiap minggu sekali dan dimulai seminggu sebelum tebar hingga mendekati waktu panen. Sampling pertumbuhan dan kualitas air (amoniak, nitrit, nitrat, fosfat, bahan organik total (BOT), klorofil-a, total bakteri Vibrio sp. dan total bakteri) dilakukan setiap dua minggu sekali. Pengamatan fluktuasi oksigen terlarut di air tambak selama 24 jam dilakukan pada hari ke-43, 60, dan 90. Sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan dihitung setelah udang dipanen. Untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan, maka data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian pola Rancangan Acak Lengkap, dan dilanjutkan dengan uji BNT apabila terjadi perbedaan yang nyata. Berdasarkan hasil penelitian nampak bahwa dosis 5 mg/L fermentasi probiotik, mampu menghasilkan sintasan yang lebih baik dan juga efisien dalam pemanfaatan pakan, yang ditunjukkan dengan nilai Rasio Konversi Pakan lebih rendah apabila dibandingkan dengan nilai Rasio Konversi Pakan yang diperoleh pada dosis fermentasi probiotik 3 dan 1 mg/L, meskipun demikian ketiganya menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05). Konsentrasi oksigen terlarut pada bulan ke tiga pada perlakuan B lebih rendah dan berbeda nyata (P<0,1) dengan konsentrasi oksigen terlarut di perlakuan A dan C. Hal tersebut kemungkinan yang menyebabkan sintasan dan produksi udang di perlakuan B lebih rendah dari pada di perlakuan A dan C.The right dosage of probiotic application is one of the main important aspects to increase production in shrimp pond culture. It relates to its capability to decompose  organic waste from excessive feed and metabolic products of shrimp. The objective of the research was to know the effect of various dosages of probiotic fermentation on the growth rate, survival rate, production, and feed convertion ratio of Litopenaeus vannamei and on pond water quality. Six units of pond compartment, each sized of 4,000 m2  were stocked with D-10 of vannamei post larvae at a density of 50 ind./m2. Commercial pellet was given from 2.5% to 100% of total body weight, 2 to 4 times a day during 105 days of culture. Three dosages of commercial probiotic fermentation were tested as treatments, they were A). 1 mg/L/week, B). 3 mg/L/week and C). 5 mg/L/week. Each treatment contained two replications and probiotic was applied weekly in shrimp pond started one week before shrimp stocking and continued up to harvest time. Shrimp growth, water quality (amonium, nitrite, nitrate, phosphate, total organic matter (TOM), chlorophyll-a, total Vibrio sp., and total bacteria,) were monitored once in two weeks. 24 hours of monitoring of dissolved oxygen fluctuation in the pond water was conducted at day 43, 60, and 90. Shrimp survival rate, production and feed convertion ratio were monitored  after shrimp were harvested. Varian analysis followed by LSD test were used to analyze the data obtained from this research to know the differences among those treatments. Result of the research showed that 5 mg/L of probiotic weekly application in pond was able to increase shrimp survival rate and feed consumpsion efficiency which was reflected by a lower Feed Corvertion Ratio values. However, it was not significantly different (P>0.05) with the other treatments, 1 and 3 mg/L/week. Dissolved oxygen in treatment B on the third month was significantly lower (P<0.1) than those of in treatment A and C. Presummably this factor was causing lower shrimp survival rate and production in treatment B compared to treatment A and C.
PENGARUH APLIKASI SUMBER C- KARBOHIDRAT (TEPUNG TAPIOKA) DAN FERMENTASI PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG WINDU, Penaeus monodon POLA INTENSIF DI TAMBAK Gunarto Gunarto; Muliani Muliani; Abdul Mansyur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.502 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.393-409

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membandingkan pengaruh penambahan sumber C- karbohidrat (tepung tapioka) dan fermentasi probiotik pada budidaya udang windu dengan pola intensif di tambak terutama melihat efeknya terhadap perbaikan kualitas air, pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang windu. Enam petak tambak masing-masing ukuran sekitar 4.000 m2, setelah selesai tahap persiapan tambak (pengeringan, pembalikan tanah dasar, pengapuran, pengisian air, dan pemupukan), kemudian tambak ditebari tokolan udang windu PL-25 dengan padat tebar 20 ekor/m2. Tiga perlakuan diuji yaitu A). Penambahan tepung tapioka  ke air tambak dengan dosis 62% dari total pakan yang diberikan per hari dan diberikan dalam selang waktu lima hari sekali selama masa pemeliharaan pada bulan pertama dan kemudian dengan selang waktu tiga hari sekali selama masa pemeliharaan bulan kedua hingga menjelang panen; B). Pemberian fermentasi probiotik ke air tambak sebanyak 5 mg/L/minggu; dan C). Pemberian fermentasi probiotik ke air tambak sebanyak 10 mg/L/minggu. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Sampling pertumbuhan, kualitas air, dan bakteri dilakukan setiap dua minggu sekali. Sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan dihitung setelah udang dipanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung tapioka menyebabkan konsentrasi amoniak relatif lebih rendah di perlakuan A daripada di perlakuan B dan C, namun menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) di antara ketiga perlakuan tersebut. Bahan Organik Total (BOT) pada hari ke-112 di perlakuan C paling rendah dan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) dengan BOT di perlakuan B dan A. Juga terdapat indikasi adanya peningkatan populasi bakteri heterotrof, bakteri Sulfur Oxidizing Bacteria (SOB) di sedimen tambak, terutama di perlakuan C yang terjadi setelah masuk bulan ke-IV. Konsentrasi oksigen terlarut di perlakuan C relatif lebih tinggi daripada di perlakuan B dan A. Hal tersebut kemungkinan yang menyebabkan pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang pada perlakuan C lebih tinggi daripada yang diperoleh pada perlakuan B dan A. Nilai konversi pakan yang terendah juga dijumpai pada perlakuan C, sedangkan yang tertinggi pada perlakuan A. Hasil analisis statistik baik pada pertumbuhan, sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) di antara ketiga perlakuan yang diuji.The objective of the research was to compare the effect of addition of carbohydrate source (starch flour) and probiotics fermentation to the water quality and the growth, survival, and production of tiger shrimp in intensive brackishwater pond system. Six pond compartments each sized approximately of 4,000 m2, went through preparation stages (pond drying, ploughing, liming, filling the pond with sea water and fertilyzing). Then the ponds were stocked with tiger shrimp post larvae day 25 at stocking density of 20 ind./m2. Three treatments were tested, A). the addition of starch flour in pond water column at a dosage of 62% of the total given feed per day, and applied every five days during the first month of shrimp culture, and then every three days from the second month to harvest time; B). the addition of probiotic fermentation to the pond water column and was given at 5 mg/L/week; and C). the addition of probiotic fermentation to the pond water column and was given at 10 mg/L/week. Result of the research showed that the addition of starch flour was able to decrease the ammonia concentration in treatment A, but there was no significant difference (P>0.05) with the ammonia concentration compared to the treatment B and C. Total Organic Matter (TOM) at day 112 in treatment C was the lowest and significantly different (P<0.05) with TOM in treatment B and A. There was also an indication of increasing heterothrophic bacterial population and Sulphur Oxidizing Bacterial (SOB) in the sediment pond of treatment C in the fourth month of culture period. Dissolved oxygen in treatment C relatively was higher than those of treatment A and B. These conditions presummably have caused the higher of shrimp growth, survival rate and production in treatment C compared to the treatment A and B. The lowest of feed conversion ratio was also obtained by treatment C and the highest was treatment A. Statistical analysis on shrimp growth, survival, production, and feed convertion ratio were not significantly different (P>0.05) among those treatments.
PENGGUNAAN BAKTERI PROBIOTIK DENGAN KOMPOSISI BERBEDA UNTUK PERBAIKAN KUALITAS AIR DAN SINTASAN PASCALARVA UDANG WINDU Muharijadi Atmomarsono; Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.019 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.73-83

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi jenis bakteri probiotik terhadap perbaikan kualitas air dan sintasan pascalarva udang windu pada skala laboratorium. Rancangan acak lengkap (RAL) dengan menggunakan 24 akuarium yang masing-masing diisi 10 L air bersalinitas 28 ppt dan 200 ekor benur windu PL-15 telah diaplikasikan pada percobaan di Laboratorium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros. Delapan perlakuan yang dicobakan adalah A) Bakteri probiotik asal laut (BL536+BL542+BL548); B) Bakteri asal mangrove (PK446+BR883+BR931+MY1112); C) Bakteri probiotik asal tambak (MR55+BT950+BT951+PR1080+BN2067); D) Bakteri laut+mangrove; E) Bakteri laut+tambak; F) Bakteri mangrove+tambak; G) Bakteri laut+mangrove+tambak; H) Kontrol (tanpa bakteri probiotik). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Setelah 96 jam aplikasi didapatkan bahwa kombinasi bakteri probiotik asal mangrove dan tambak mampu mengendalikan kandungan bahan organik secara signifikan (P<0,05). Bakteri asal laut dan mangrove secara tunggal maupun kombinasinya dapat menekan peningkatan amoniak dalam air (P>0,05). Walaupun konsentrasinya masih aman (0,0136—0,0184 mg/L), peningkatan kandungan nitrit kurang mampu dikendalikan oleh bakteri probiotik yang diaplikasikan (P>0,05). Sintasan pascalarva udang windu pada perlakuan bakteri probiotik asal laut (97,5%) nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada kontrol (82,0%). Secara keseluruhan, peningkatan populasi bakteri Vibrio spp. dalam air telah menyebabkan menurunnya sintasan pascalarva udang windu (r = -0,834; P<0,01).The objective of this study was to know the effect of different probiotic bacteria compositions on water quality improvement and survival rate of tiger shrimp postlarvae. This experiment was carried out in completely randomized design using 24 aquaria filled with 10 L of 28 ppt water and 200 pcs of tiger shrimp PL15 at the RICA laboratory. Eight treatments tested here were A) Sea bacteria (BL536+BL542+BL548); B) Mangrove bacteria (PK446+BR883+BR931+MY1112); C) Brackishwater pond bacteria (MR55+BT950+BT951+PR1080+BN2067); D) Bacteria of A+B; E) Bacteria of A+C; F) Bacteria of B+C; G) Bacteria of A+B+C; and H) Control (without probiotic bacteria). After 96-h of application, the results showed that the combination of probiotic bacteria from brackishwater pond and mangrove (treatment F) were able to decrease total organic matter in the water media significantly (P<0.05). Probiotic bacteria either from the sea (A), from mangrove (B), or combination of these two sources (D) are appropriate in controlling ammonia concentration (P<0.05). Although nitrite concentrations in the water media are quite low (0.0136--0.0184 mg/L), the increase of nitrite could not be controlled by any probiotic bacteria in this experiment. The survival rate of tiger shrimp postlarvae using sea source bacteria (97.5%) was significantly higher (P<0.05) than that of in control (82.0%). There were inversely correlated (r = - 0.834; P<0.01) between population of Vibrio spp. and the survival rate of tiger shrimp postlarvae.
PENGARUH PERBEDAAN WAKTU APLIKASI PROBIOTIK TERHADAP KUALITAS AIR DAN SINTASAN PASCA LARVA UDANG WINDU (Penaeus monodon) Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.691 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.1.2010.91-102

Abstract

Penelitian ditujukan untuk mengetahui pengaruh waktu pemberian probiotik yang berbeda terhadap perubahan kualitas air dan sintasan udang windu dalam skala laboratorium. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Basah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP), Maros menggunakan 21 buah akuarium berukuran 40 cm x 30 cm x 27 cm yang diisi tanah tambak setebal 10 cm dan air laut salinitas 28 ppt sebanyak 15 L serta 30 ekor pascalarva udang windu. Probiotik yang digunakan adalah kombinasi BL542+BT951+MY1112 dengan perlakuan; (A) aplikasi probiotik pada awal sampai akhir penelitian; (B) aplikasi probiotik pada minggu ke-II sampai akhir penelitian; (C) aplikasi probiotik pada minggu ke-IV sampai akhir penelitian; (D) aplikasi probiotik pada minggu ke-VI sampai akhir penelitian; (E) aplikasi probiotik pada minggu ke-VIII sampai akhir penelitian; (F) aplikasi probiotik pada minggu ke X sampai akhir penelitian; (G) kontrol (tanpa probiotik), masing-masing diulang 3 kali. Penelitian berlangsung selama 12 minggu. Pengamatan parameter kualitas air dilakukan setiap 2 minggu yang meliputi; total bakteri, total Vibrio spp., BOT, NH3-N, NO2-N, NO3-N, PO4-P. Sedangkan pengamatan sintasan udang windu dilakukan pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi probiotik pada minggu ke-IV dapat menekan konsentrasi BOT dan NH3-N, menurunkan total Vibrio sp. sehingga berdampak kepada peningkatan sintasan udang windu
PENGARUH RASIO BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS AIR DAN SINTASAN UDANG WINDU,Penaeus monodon DALAM AKUARIUM Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Bunga Rante Tampangallo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.113 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.33-42

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio bakteri probiotik terhadap perubahan kualitas air dan sintasan pascalarva udang windu. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium basah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros menggunakan akuarium dengan ukuran 40 cm x 30 cm x 27 cm yang diisi tanah tambak setebal 10 cm dan air tambak salinitas 28 ppt sebanyak 15 L serta pascalarva udang windu 30 ekor. Bakteri probiotik yang digunakan pada percobaan ini diisolasi dari air laut, daun mangrove, dan tambak. Pengamatan parameter kualitas air yang meliputi; BOT, NO2-N, PO4-P, NH4-N, total bakteri, dan total vibrio dilakukan pada awal penelitian dan selanjutnya 1 kali dalam setiap dua minggu, kecuali H2S yang diamati sekali dalam sebulan. Sedangkan sintasan udang windu diamati pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BOT, NO2-N, PO4-P, NH4-N, dan H2S mengalami fluktuasi dari awal hingga akhir penelitian pada semua perlakuan. Total bakteri terendah pada perlakuan L (bakteri laut 102 cfu/mL + bakteri mangrove 102 cfu/mL + bakteri tambak 102 cfu/mL), sedangkan total vibrio terendah pada perlakuan O (bakteri laut 104 cfu/mL + bakteri mangrove 104 cfu/mL + bakteri tambak 104 cfu/ mL). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa sintasan udang windu tidak berbeda nyata (P>0,05) pada semua perlakuan.The experiment aimed to determine the effect of ratio of probiotic bacteria on changes of water quality and survival rate of tiger shrimp Penaeus monodon in tanks. This experiment conducted in Research Institute for Coastal Aquaculture web laboratory used aquarium with 40 cm x 30 cm x 27 cm in size. Each aquarium filled with pond sediment (10 cm), pond water 15 L (28 ppt), and 30 pcs of tiger shrimp postlarvae. Probiotic bacteria used in this study were isolated from sea water, mangrove leaf, and ponds. Water qualities; TOM, PO4-P, NO2-N, and NH4-N were observed be weekly while H2S was observed once in a month. Survival rate of tiger shrimp were obseved at the end of the experiment. The result showed that TOM (Total Organic Matter) NO2-N, PO4-P, NH4-N, and H2S concentration during experiment were fluctuative on all of treatments. Total bacteria was lowest on treatment L (sea bacteria 102 cfu/mL + mangrove bacteria 102 cfu/mL + pond bakteria 102 cfu/mL), however total vibrio was lowest on treatment O (bakteri laut 104cfu/mL + bakteri mangrove 104 cfu/mL + bakteri tambak 104 cfu/mL. Statistical analysis showed that survival rate of tiger shrimp not significantly (P>0.05) different among all treatments.
PENYEBARAN DAN PREVALENSI WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) PADA BUDI DAYA UDANG WINDU (Penaeus monodon) Muliani Muliani; Bunga Rante Tampangallo; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.23 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.231-241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran dan tingkat prevalensi serangan WSSV pada budi daya udang windu. Pengumpulan sampel dan deteksi WSSV dengan teknik PCR dilakukan dari bulan April 2004 sampai November 2006. Sampel induk udang windu yang dikumpulkan berasal dari perairan Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Kalimantan Timur, dan Timika. Sedangkan benur, tokolan, dan udang yang dibudidayakan dikumpulkan dari beberapa lokasi di Sulawesi Selatan. Sampel udang diambil bagian kaki jalan, kaki renang, tangkai mata, karapaks, insang, dan ekor. Benur yang berjumlah ± 30 ekor diekstrak menggunakan buffer lisis untuk mendapatkan DNA total. DNA WSSV diamplifikasi dengan teknik First dan Nested. PCR menggunakan kit amplifikasi spesifik WSSV (IQ 2000TM WSSV Detection and Prevention System). Visualisasi DNA WSSV dilakukan dengan gell documentation. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa lebih dari 33% daerah sumber induk udang windu di Indonesia dan 90% daerah pertambakan yang ada di Sulawesi Selatan telah terinfeksi oleh WSSV. WSSV ditemukan pada induk, benur, tokolan, dan udang yang dibudidayakan di tambak. Dengan tingkat prevalensi serangan WSSV tertinggi pada udang windu yang dibudidayakan di tambak adalah 40,4% dan terendah pada benur 4,4%.The aims of this experiment was to know the distribution and prevalences of WSSV on tiger shrimp. Sample collection and WSSV detection conducted with PCR method was carried out during April 2004 to November 2006. Tiger shrimp broodstock samples were collected from Central Java, South Sulawesi, Gorontalo, Kalimantan, and Timika waters, and the other samples (tiger shrimp post larvae, juveniles, and cultured shrimp) were collected from several region in South Sulawesi. The pleopod, pereiopod, eye stalk, carapax, gill, tail, muscle of broodstock, juveniles, and cultured shrimp, and 30 pcs of postlarvae were extracted using lysis buffer to collect genomic DNA. WSSV DNA amplification was carried out using first and nested PCR technique by specific sequence amplification kit (IQ2000TM  Detection and Prevention system). The WSSV DNA was visualized by gell documentation system. The result showed that more than 33% of broodstock resources of Indonesia waters and 90% of shrimp culture area of South Sulawesi were contaminated by WSSV. WSSV was also infected tiger shrimp broodstock, postlarvae, juveniles, and tiger shrimp cultured with the highest prevalence (40.4%) was on tiger shrimp cultured and the lowest prevalence (5.4%) was on postlarvae.
Penapisan Bakteri yang Diisolasi dari Tambak Udang sebagai Kandidat Probiotik pada Budi daya Udang Windu, Penaeus monodon Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.989 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.73-85

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan bakteri probiotik untuk budi daya udang windu P. monodon. Penelitian meliputi beberapa tahapan yaitu (1) isolasi bakteri dari tambak udang; (2) uji daya hambat terhadap Vibrio  harveyi; (3) karakterisasi secara fisiologi dan biokimia; (4) pertumbuhan bakteri pada beberapa konsentrasi NaCl; (5) pertumbuhan bakteri pada beberapa tingkat salinitas; (6) uji patogenisitas bakteri terhadap pascalarva udang windu; (7) uji tantang dengan V. harveyi dalam wadah pemeliharaan pascalarva udang windu; dan (8) analisis gen 16S-rRNA bakteri yang diisolasi dari tambak. Sedikitnya 14 isolat dari 2.228 isolat bakteri yang diisolasi dari tambak, potensial dijadikan probiotik pada budi daya udang windu. Sintasan udang windu tertinggi pada perlakuan yang menggunakan isolat BN2067. Isolat BT950 dan BT95 paling potensial menghambat pertumbuhan V. harveyi baik secara In vitro maupun In vivo. Hasil analisis gen 16Sr-RNA menunjukkan bahwa BT950 dan BT951 termasuk dalam kelompok Brevibacillus sp., sedangkan BN2067 termasuk dalam kelompok Vibrio vulnificus CMCP6 chr.This experiment was aimed for finding-out probiotic bacteria on tiger shrimp P. monodon culture. The research included several steps i.e. 1) isolation of bacteria from tiger shrimp pond; 2) inhibition test of  bacteria against V. harveyi; 3) biochemical and physiological characterization; 4) growth of bacteria at different concentration of NaCl; (5) growth of bacteria at different salinities; (6) pathogenicity test of bacteria to tiger shrimp post larvae, (7) challenge test of bacteria against V. harveyi in tiger shrimp culture media; (8) 16S-rRNA gene analysis of  bacteria isolated from shrimp pond. Fourteen isolates of 2,228 isolates of bacteria isolated from tiger shrimp pond were potential for probiotic bacteria on tiger shrimp culture. The highest survival rate of tiger shrimp was obtained from those treated with BN2067 isolate. The potential isolates to inhibit V. harveyi both In vivo and In vitro assay were BT950 and BT951. Based on 16S-rRNA gene analysis, BT950 and BT951 isolates are considered to be Brevibacillus laterosporus, while BN2067 is considered to be Vibrio vulnificus CMCP6 chr.
ANALISIS KEJADIAN SERANGAN WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) DENGAN BEBERAPA PARAMETER KUALITAS AIR PADA BUDI DAYA UDANG WINDU MENGGUNAKAN SISTEM TANDON DAN PROBIOTIK Gunarto Gunarto; Muslimin Muslimin; Muliani Muliani; Sahabuddin Sahabuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1572.781 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.255-270

Abstract

Munculnya serangan White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang yang dibudidayakan kemungkinan sebagai akibat menurunnya kualitas lingkungan tambak.  Data diperoleh dari penelitian budi daya udang windu yang dilakukan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros menggunakan 8 unit tambak ukuran 500 m2. Tokolan udang windu PL-25 dengan padat tebar 10 dan 20 ekor/m2 ditebar dalam petak tambak tersebut serta penambahan probiotik setiap minggu sebanyak 1 mg/L  berlangsung selama pemeliharaan udang dan tanpa pemberian probiotik sebagai kontrol merupakan perlakuan yang diuji. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Setelah penebaran, beberapa petak terserang WSSV dan menyebabkan kematian total yaitu pada hari ke-27, 30, 41, dan 47. Serangan WSSV terus berlanjut selama pemeliharaan udang di tambak berlangsung. Pada petak menggunakan probiotik mempunyai  kecenderungan terserang WSSV lebih lambat daripada yang tidak menggunakan probiotik. Semakin tinggi padat tebar udang windu di tambak, maka semakin rentan terhadap serangan WSSV. Padat tebar 10 ekor/m2 menggunakan probiotik produksinya cenderung lebih baik daripada padat tebar 20 ekor/m2. Peningkatan populasi Vibrio sp., peningkatan konsentrasi nitrit dan tingginya populasi awal Vibrio sp. di air melebihi 103 cfu/mL dan di sedimen 104 cfu/g diduga erat kaitan dengan munculnya serangan WSSV pada udang yang dipelihara di tambak pada penelitian ini.The outbreak of WSSV infection on tiger shrimp culture was thought to be an impact of its pond environmental depletion. The data was obtained from the study of tiger shrimp culture conducted in ponds Research Station of RICA Maros using 8 unit of  brackishwater ponds compartment of 500 m2 each size. The PL-25 were stocked in the ponds at the density of 10 pieces and 20 pieces/m2 and on  the otherhand, ponds also were treated with 1 mg/L commercial probiotics applicated in every week during culture period and no probiotics application as control. Each treatment in two replications. WSSV was infected to the shrimp in the different ponds compartment beginning at 27, 30, 41, and 47 days after stocking and affected total mortality of the shrimp. The WSSV infection was continue distributed to the other ponds compartments consecutively. The shrimp in ponds were applied with probiotics tend to delay infected, in contrary more early infected to the shrimp in pond without probiotics application. The shrimp with higher stocking density likely was easier infected by WSSV. The shrimp production tends to be higher in the shrimp stocking density of 10 pieces/m2 with probiotics application as compared to 20 pieces/m2 without probiotics applications. Increase Vibrio sp. population, enhance nitrite concentration and commenced with high Vibrio sp. population in the water and sediment pond excessive of 103 cfu/mL and 104 cfu/g respectively were presumed as the stimulate of WSSV outbreak in tiger shrimp culture in this research.
TEKNIK APLIKASI BAKTERI PROBIOTIK PADA PEMELIHARAAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI LABORATORIUM Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Mun Imah Madeali
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.01 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.81-92

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui teknik pemberian bakteri probiotik pada pemeliharaan pascalarva udang windu dalam skala laboratorium. Penelitian ini dilakukan menggunakan 21 buah akuarium yang berukuran 40 cm x 30 cm x 27 cm yang diisi air tambak salinitas 28 ppt sebanyak 15 L dan tanah dasar tambak setebal 10 cm, dan ditebari benur windu PL 22 sebanyak 30 ekor/wadah. Penelitian diset dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas dua faktor yaitu I) jenis bakteri probiotik dan II) teknik pemberian probiotik. Perlakuan yang dicobakan adalah A1 (BL542 melalui media air); B1 (BT950 melalui media air); A2 (L542 melalui tanah dasar); B2 (BT950 melalui media tanah dasar); A3 (BL542 melalui pakan); B3 (BT950 melalui pakan); K (kontrol/tanpa probiotik), dan masing-masing dengan 3 ulangan dengan lama pemeliharaan 3 bulan. Pengamatan parameter kualitas air yang meliputi, BOT, NH3-N, NO2-N, NO3-N, PO4-P, dan total bakteri dalam air dan sedimen serta total Vibrio sp. dalam air dan sedimen diamati setiap 2 minggu. Sedangkan pengamatan sintasan udang windu dilakukan pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BOT pada perlakuan A1 selama penelitian relatif lebih rendah dibanding perlakuan lainnya. Sintasan udang windu tertinggi pada perlakuan A1 (BL542 melalui media air) yaitu 61,11% dan terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) dengan sintasan udang windu pada perlakuan B1, A2, dan kontrol. Penggunaan probiotik BL542 lebih baik jika melalui media air, sedangkan penggunaan probiotik BT950 dapat digunakan melalui media air, tanah dasar, maupun pakan
KARAKTERISASI,ANALISIS GEN 16S-rRNA BAKTERT BL542 DAN EVALUASI EFEK BAKTERISIDANYA TERHADAP Vibrio harveyi PENYEBAB PENYAKIT PADA UDANG WINDU (penaeus monodon) Muliani Muliani; Nurhidayah Nurhidayah; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4719.84 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.1.2005.59-71

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik, mengevaluasi efek bakterisida, dan menentukan posisi relatif isolat BL542 melalui analisis sekuen 16S-rRNA. Penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan kerja yaitu: (1) karakterisasi fisiologi dan biokimia, (2) uji sensitivitas terhadap antibiotik, (3) uji daya hambat isolat BL542 terhadap V. Harveyi, (4) uji patogenisitas isolat BL542 terhadap larva udang, (5) uji tantang secara in vitro maupun secara in vivo isolat BL542 dengan V. Haeveyi, (6) analisis gen 16S-rRNA isolat BLS42.