Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KANDUNGAN ASAM AMINO LISIN OPTIMAL DALAM PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus I Nyoman Adiasmara Giri; Alifiah Sarah Sentika; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.541 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.357-366

Abstract

Kerapu sunu merupakan salah satu kerapu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ketersediaan pakan buatan merupakan salah satu kendala pada pengembangan budidaya kerapu di samping ketersediaan benih. Informasi kebutuhan protein dan lemak optimum, energi, asam lemak, dan vitamin telah dimanfaatkan sebagai dasar untuk pengembangan pakan buatan untuk kerapu. Namun demikian, informasi kebutuhan asam amino untuk kerapu masih terbatas sekali. Untuk itu, telah dilakukan riset untuk mengetahui kandungan asam amino lisin optimal dalam pakan untuk pertumbuhan kerapu sunu. Percobaan dilakukan dalam 18 buah bak polikarbonat volume 30 L yang dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setiap bak diisi 12 ekor benih kerapu sunu yang berasal dari hatcheri dengan bobot awal 17,6 ± 3,1g. Ikan diberi pakan percobaan dua kali sehari pada level satiasi selama 84 hari. Enam pakan percobaan dibuat berupa pelet kering dengan kandungan protein 45% dan mempunyai kandungan lisin berbeda, yaitu 1,71%; 2,21%; 2,71%; 3,21%; 3,71% dan 4,21%. Pakan percobaan mempunyai komposisi asam amino yang sama kecuali kandungan lisinnya. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan beda level lisin dan tiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbedaan level lisin dalam pakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan sintasan kerapu sunu. Berdasarkan data pertambahan bobot ikan diperoleh bahwa kandungan lisin optimal dalam pakan untuk pertumbuhan kerapu sunu adalah 2,84%.Coral trout grouper is one among the most expensive species of grouper. The availability of a practical diet for grouper is still a major constraint to grow-out production besides of good quality of seed. Information regarding the optimum dietary protein and lipid levels, energy, essential fatty acids and vitamin requirements has been used to develop diet for grouper. However, very limited information is available on amino acid requirement for grouper. The objective of the study was to find out optimum lysine content in diet for growth of juvenile of coral trout grouper. A 84-day feeding experiment was conducted in 18 polycarbonate tanks of 30 L volume. Each tank was equipped with flow-through water system. Twelve hatchery_produced juveniles of coral trout grouper (17.6 ± 3.1 g BW) were stocked in each tank. Fish fed experimental diets twice everyday at satiation level. Six experimental diets with different lysine level of 1.71%, 2.21%, 2.71%, 3.21%, 3.71%, and 4.21% were prepared in form of dry pellet. All diets have the same protein level of 45% and the same amino acid composition to the amino acid composition of whole body protein of coral trout grouper, except for its lysine content. The experiment was designed based on completely random design with 6 treatments and 3 replications for each treatment. Result of the experiment showed that dietary lysine levels had significant effect on growth and survival of juvenile of coral trout grouper. Optimum dietary lysine requirement was calculated using orthogonal polynomial regression analysis. Based on weight gain data of indicates that the optimum lysine level in diet for growth of juvenile of coral trout is 2.84%.
TEKNOLOGI PEMELIHARAAN LARVA KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) SECARA MASSAL Titiek Aslianti; Ketut Suwirya; Asmanik Asmanik
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2340.434 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.1-11

Abstract

Teknologi produksi benih kerapu sunu (Plectropomus leopardus) melalui perbaikan pengelolaan pakan dan lingkungan terus dipacu guna meningkatkan sintasan dan diharapkan dapat menghasilkan benih secara kontinyu. Dalam pemeliharaan larva, jenis pakan awal yang sesuai merupakan faktor penentu keberhasilan. Pakan alami jenis rotifer, gonad tiram (trochophore), emulsi kuning telur, dan juga pakan buatan yang dilarutkan telah dicoba dalam penelitian ini sebagai pakan awal. Penelitian menggunakan wadah bak beton berkapasitas 6 m3 (12 bak) yang diisi telur kerapu sunu dengan kepadatan 100.000—150.000 butir/bak. Penebaran telur dilakukan secara bertahap pada masing-masing bak sesuai dengan jumlah telur yang tersedia. Nauplii artemia, pakan buatan, dan udang jembret (mysid) diberikan sesuai dengan perkembangan larva dimulai pada umur 20 hari (D20) hingga mencapai fase yuwana/ benih (D45). Pengamatan terhadap laju tumbuh dan sintasan larva dilakukan setelah penelitian berakhir. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis proksimat, asam lemak pakan, dan abnormalitas tulang belakang larva (deformity) serta kualitas air diamati sebagai data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pakan buatan yang dilarutkan dan emulsi kuning telur sebagai pakan awal, ternyata mampu memacu pertumbuhan dan meningkatkan sintasan larva. Kisaran panjang total, bobot tubuh, dan sintasan benih yang dicapai berturut-turut adalah 1,95 cm—2,85 cm; 0,64—0,73 g; dan 0,25%—3,97% dengan kisaran laju tumbuh harian sebesar 3,9%—4,22%. Hasil pengamatan terhadap tulang belakang larva tidak ditemukan abnormalitas dengan kisaran jumlah ruas 21—23 ruas dan jarak antar ruas 0,030—0,036 mm.Seed production technology of leopard coral trout, Plectropomus leopardus by improving hatchery management had been conducted in order to increase survival rate and to produce seed continuity. The initial feeding can successfully support in larval rearing. Feed organism as rotifer, trochophore gonad, egg yolk emulsion, and artificial feed emulsion, had been used as an initial feed. The twelve of concrete tanks with 6 m3 capacity were stocked with coral trout eggs at density 100,000—150,000 eggs/tank. Artemia nauplii, artificial feed, and mysid as feed, start on larvae D20 up to juvenile stage (D45). Growth rate and survival rate were observed and calculated when the experiment was terminated. The data was analyzed by descriptive. Nutrition value of food was analyzed by proximate and fatty acid composition. The others parameters such as deformity and water quality were observed. The result showed that artificial feed emulsion and egg yolk emulsion as an initial feeding can be improve the growth rate and increase survival rate of larvae. The range of total length, body weight and survival rate of the seed i.e. 1.95—2.85 cm; 0.64—0.73 g, and 0.25%— 3.97% with the daily growth rate 3,9%—4,22%, respectively. No back bone deformity in the seed, that is 21—23 segments with interspaces of segments 0.030—0.036 mm.
KEBUTUHAN ASAM AMINO LISIN UNTUK BENIH IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) Nyoman Adiasmara Giri; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.693 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.143-150

Abstract

Percobaan penentuan kebutuhan asam amino lisin untuk benih ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) telah dilakukan dengan metode pemeliharaan ikan menggunakan pakan yang mempunyai kandungan lisin berbeda. Ikan dengan bobot rata-rata 4,4 ± 0,3 gram dipelihara dalam bak polikarbonat volume 100 L dengan kepadatan 12 ekor ikan per bak. Setiap bak dilengkapi dengan sistem air mengalir dan aerasi. Pakan percobaan dibuat dalam bentuk pelet kering dengan kandungan protein 49% yang bersumber dari kasein dan tepung ikan serta campuran asam amino murni sehingga menyerupai komposisi asam amino tubuh ikan kerapu bebek, kecuali untuk lisin. Pakan percobaan mempunyai kandungan lisin berbeda, yaitu 1,77%; 2,27%; 2,77%; 3,27%; 3,77%; dan 4,27%. Ikan diberi pakan percobaan 2 kali sehari pada level satiasi selama 63 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bobot ikan akhir, persen pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi pakan, retensi protein, dan kandungan protein tubuh ikan dipengaruhi oleh kandungan lisin pakan. Kadar optimum lisin dalam pakan untuk benih ikan kerapu bebek dihitung dengan regresi broken line berdasarkan data persen pertambahan bobot. Dari perhitungan ini diperoleh bahwa kebutuhan lisin untuk benih ikan kerapu bebek mencapai 2,77% dalam pakan atau setara dengan 5,63% dari protein pakan.The experiment to find out an amino acid lysine requirement for growth of  humpback grouper  juvenile has been conducted in 18 polycarbonate tanks, 100 liters volume. Each tank is equipped with flow-through water system. Twelve juveniles of humpback grouper (4.4 ± 0.3 gram in body weight), which were produced in hatchery, were randomly selected, and stock in each tank. Fish fed with experimental diets twice everyday at satiation level for 63 days. Experimental diets were prepared as dry pellet with casein and fish meal as the intact protein sources, and the mixture of crystalline amino acids to reach protein level of 49% and the composition of amino acid similar to the amino acid composition of whole body protein of humpback grouper, except for lysine content. Basal diet (diet-1) contains 1.77% lysine that was supplied from casein and fish meal. Graded level (0.5%) of crystalline lysine was added to the basal diet to get the final lysine level in each diet of 1.77%, 2.27%, 2.77%, 3.27%, 3.77%, and 4.27%. The experiment was designed according to completely random design (CRD) with 6 treatments (lysine levels) and three replicates for each treatment. Result of the experiment showed that dietary lysine content influenced final weight, weight gain, specific growth rate, feed efficiency, protein retention, and body protein content of  humpback grouper juvenile. Optimum dietary lysine for  humpback grouper juvenile was calculated using broken line regression analysis. Optimum dietary lysine requirement for growth of juvenile humpback grouper is 2.77% or equal to 5.63% of dietary protein.
Kebutuhan Vitamin C Untuk Pertumbuhan dan Meningkatkan Ketahanan Benih Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Nyoman Adiasmara Giri; Fris Johnny; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.8 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.21-27

Abstract

Penelitian untuk mengetahui kebutuhan vitamin C untuk pertumbuhan dan ketahanan benih ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) telah dilakukan, menggunakan 18 buah bak polikarbonat volume 100 liter yang dilengkapi dengan sistem air mengalir dan aerasi. Benih kerapu macan dengan bobot rata-rata 23,0 ± 0,1 gram ditebar dalam bak penelitian dengan kepadatan 12 ekor per bak. Ikan diberi pakan penelitian 2 kali sehari pada level satiasi selama 13 minggu. Pakan penelitian diformulasi dengan kandungan nutrien yang sama kecuali kandungan vitamin C. Pada formula pakan ditambahkan vitamin C (L-ascorbyl-2-phosphate Magnesium, APM) dengan dosis berbeda, yaitu 0, 15, 30, 60, 120, dan 250 mg/kg pakan. Pakan dibuat dalam bentuk pelet dan dikeringkan menggunakan freeze dryer. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan beda kandungan vitamin C dalam pakan dan setiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan tanpa penambahan vitamin C pertumbuhannya, kadar hemoglobin dan hematokrit darah, aktivitas fagositik, dan indeks fagositiknya adalah paling rendah dibandingkan dengan kelompok ikan lainnya. Dari hasil ini disimpulkan bahwa diperlukan penambahan vitamin C sebanyak 30 mg/kg pakan untuk pertumbuhan ikan yang baik dan penambahan vitamin C sebanyak 60—120 mg/kg pakan untuk kesehatan ikan kerapu macan.The experiment to determine dietary vitamin C requirement for good growth of tiger grouper has been conducted in 18 polycarbonate tanks, 100 liters volume. Each tank is equipped with flow-through water system. Twelve juvenile of tiger grouper (23.0 ± 0.1 gram in body weight), which were produced in hatchery, were randomly selected and stocked in each tank. Fish fed by experimental diets twice everyday at satiation level for 13 weeks. Experimental diets were formulated to contain the same level of nutrients (protein, lipid, and energy), except for vitamin C. Graded level of vitamin C (L-ascorbyl-2-phosphate Magnesium, APM) were supplemented to experimental diet at the level of 0, 15, 30, 60, 120, and 250 mg/kg diet. Diets were prepared as pellet and dried using freeze dryer. The experiment was designed according to complete random design (CRD) with 6 treatments (vitamin C levels) and three replicates for each treatment. Result of the experiment showed that growth, blood hemoglobin and hematocrite, phagocytic activity, and phagocytic index of fish fed diet without supplemental vitamin C were the lowest. This result indicates that vitamin C is essential for tiger grouper. Tiger grouper juvenile requires supplemental 30 mg vitamin C (APM)/kg diet for good growth or 60—120 mg vitamin C for good health condition.
PEMATANGAN GONAD INDUK KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus, DENGAN HORMON LHRH-ANALOG Ketut Suwirya; Agus Priyono; Nyoman Adiasmara Giri; Tony Setiadharma
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.594 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.411-417

Abstract

Budi daya ikan kerapu sunu masih mengandalkan pasokan benih dari alam, padahal keberadaanya tergantung musim. meningkatnya kebutuhan benih untuk budidaya maka perlu dilakukan pembenihan secara buatan untuk mengantisipasi kebutuhan benih yang berkesinambungan
PENGARUH PERBEDAAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT YUWANA KAKAP MERAH, Lutjanus argentimaculatus Regina Melianawati; Ketut Suwirya
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.579 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.151-159

Abstract

Frekuensi pemberian pakan merupakan faktor yang penting karena berpengaruh terhadap pertumbuhan dan berperanan penting dalam efektivitas penggunaan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemberian pakan yang tepat pada pemeliharaan yuwana kakap merah. Hewan uji yang digunakan untuk penelitian adalah yuwana kakap merah, Lutjanus argentimaculatus umur 56 hari dengan bobot awal 0,18 ± 0,03 g sebanyak 180 ekor. Penelitian dilakukan menggunakan 12 tangki polyethylene volume 60 L. Rancangan penelitian adalah acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diujikan dalam penelitian ini adalah perbedaan frekuensi pemberian pakan, yaitu (A) 2 kali sehari (08:00, 14:00); (B) 4 kali sehari (08:00, 11:00, 14:00, 17:00); (C) 6 kali sehari (08:00, 10:00, 12:00, 14:00, 16:00, 18:00); dan (D) 8 kali sehari (08:00, 09:30, 11:00, 12:30, 14:00, 15:30, 17:00, 18:30). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan frekuensi pemberian pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan bobot dan laju pertumbuhan bobot harian yuwana kakap merah serta nisbah konversi pakan dan efisiensi pakan, namun tidak berbeda nyata terhadap sintasan (P>0,05). Frekuensi pemberian pakan delapan kali sehari dengan interval waktu setiap 1,5 jam menghasilkan pertumbuhan bobot dan laju pertumbuhan harian yuwana kakap merah yang paling besar serta nisbah konversi pakan yang terendah dan efisiensi pakan yang tertinggi.Feeding frequency was an important factor that gave the influence to growth and also for effectiveness using the feed. This research was aimed to get the information about effective feeding frequency on rearing of mangrove snapper Lutjanus argentimaculatus juvenile. This research was using12 polyethylene tank of 60 L in volume and 180 juvenile of 56 days old with 0.18 ± 0.03 grams of body weight. Complete random design with four treatments and three replicates was used in this research. The treatment was different feeding frequency, i.e.: (A) 2 times perday (08:00, 14:00); (B) 4 times perday (08:00, 11:00, 14:00, 17:00); 6 times perday (08:00, 10:00, 12:00, 14:00, 16:00, 18:00); dan 8 times perday (08:00, 09:30, 11:00, 12:30, 14:00, 15:30, 17:00, 18:30). The result indicated that different feeding frequency was significant to body weight, body weight gain and daily growth rate of mangrove snapper juvenile, also to feed conversion ratio and feeding efficiency, but not significant to survival rate. Feeding frequency 8 times perday with interval 1.5 hours gave the biggest of body weight, body weight gain and daily growth rate, the lowest of feed conversion ratio and the highest of feeding efficiency.
PENGARUH VITAMIN B6 DALAM PAKAN TERHADAP SISTEM KEKEBALAN BENIH IKAN KERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis Fris Johnny; Nyoman Adiasmara Giri; Ketut Suwirya; Des Roza
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2696.031 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.1.2005.73-79

Abstract

Percobaan pemberian vitamin B6 dalam pakan ikan telah dilakukan di laboratorium patologi Balai Besar Riset perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali. Tujuan Percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh vitamin B6 dengan dosis yang berbeda dalam pakan ikan terhadap sistem kekebalan benih ikan kerapu bebek.
PENGARUH JUMLAH PAKAN BIOMASSA ARTEMIA BEKU TERHADAP PERTUMBUHAN YUWANA IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altiveis) Bambang Susanto; Ketut Suwirya; Wardoyo Wardoyo
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2054.96 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.2.2002.15-19

Abstract

Yuwana ikan kerapu bebek membutrrhkan jenis pakan hidup dan segar, tetapi ketersediaannya sangal dipengaruhi oleh musim dan jumlahnya terbatas.
PENGARUH BEBERAPA JENIS PAKAN TERHADAP PERFORMANSI IKAN KERAPU BEBEK (Cromiteptes attivetis) DI KERAMBAJARING APUNG Tatam Sutarmat; Adi Hanafi; Ketut Suwirya; Suko Ismi; Wardoyo Wardoyo; Shogo Kawahara
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4506.687 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.4.2003.31-36

Abstract

Percobaan ini dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA) yang berlokasi di Teluk Pegametan.
PENGARUH N-3 HUFA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH KERAPU MACAN, Ephinepelus fuscoguttatus Ketut Suwirya; Nyoman Adiasmara Giri; Muhammad Marzuqi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3707.129 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.4.2003.19-24

Abstract

Asam lemak n-3 HUFA adalah esensial bagi ikan-ikan laut. Kebutuhan asam lemak n-3 HUFA pada ikan berbeda menurut jenis dan ukuran ikan