Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KONSELING BAGI ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II BANDUNG Ningrum, Sri Ratna
Pekerjaan Sosial Vol 18, No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.288 KB) | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.199

Abstract

Konseling merupakan proses di mana Anak dibantu secara pribadi agar dapat merasa dan berperilaku secara lebih memuaskan sehingga dapat mengembangkan perilaku yang lebih efektif dalam berhubungan dengan lingkungannnya. Konseling perlu diberikan kepada Anak yang sedang menjalani pembinaan di LPKA karena secara psikologis Anak berada pada situasi yang tidak mengenakkan, di mana ia harus berada jauh dari keluarga, harus menghadapi situasi di mana ia merasa dikucilkan oleh lingkungannya. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konseling bagi Anak dilaksanakan oleh LPKA Kelas II Bandung. Untuk dapat memperoleh gambaran dan pemahaman mengenai hal tersebut maka dipilih pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik dengan empat orang informan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas, peningkatan ketekunan, triangulasi, uji transferabilitas, uji dependabilitas, dan uji komfirmabilitas. Hasil penelitian Konseling Bagi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum di LKPA Kelas II Bandung menunjukkan bahwa konseling bagi Anak yang berkonflik dengan hukum di LPKA Kelas II Bandung merupakan bagian dari pemenuhan hak Anak sesuai dengan Pedoman Perlakuan Anak di LPKA. Harapan informan agar lebih banyak pihak yang peduli dan bekerjasama dalam memberikan pelayanan kepada Anak, termasuk pelayanan konseling, maka pekerja sosial dapat menjadi bagian yang penting dalam proses ini sehingga penanganan Anak yang berkonflik dengan hukum dapat dilakukan secara komprehensif
ELDERLY SELF ADJUSTMENT AT TRESNA WERDHA BLITAR SOCIAL SERVICES TULUNGAGUNG DORMITORY Almera Nestyan Faemy; Rini Hartini Rinda Andayani; Sri Ratna Ningrum
Indonesian Journal of Social Work Vol 5 No 1 (2021): IJSW
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is motivated by the living conditions of the elderly who must feel living in social service institutions or orphanages. Being separated from family, limited family care and neglect are some of the reasons why the elderly live in orphanages. The elderly who are in the orphanage are required to be able to adapt, both to various rules, to the physical and social environment. This study aims to describe the characteristics of the elderly, personal adjustment, social adjustment and the barriers of the elderly in adjustment. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. Data collection techniques through in-depth interviews, participatory observation and documentation studies. Purposive sampling technique to determine six informants, consisting of the elderly and nursing home staff. Examination of the validity of the data and data analysis techniques using qualitative tests. The results of the study indicate that there are still elderly informants who have problems in personal adjustment, namely there are elderly who have not been able to accept their physical conditions and illness conditions, so they experience emotional shocks such as complaining and feeling disappointed in themselves. While in social adjustment, there are elderly who experience problems in interacting, have disharmonious relationships, and obstacles in interacting with nursing home staff due to distrust of nursing home staff. The conclusion of the research is that the adjustment of the elderly requires social support from professional caregivers, especially because the elderly who are in the orphanage are rarely visited by their families. The main recommendation is the need for caregivers who understand the needs of the elderly, it is also necessary to develop individual and group therapies that will help the elderly to be able to enjoy their old age well in the orphanage.
KONSELING BAGI ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KELAS II BANDUNG Sri Ratna Ningrum
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 18 No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.199

Abstract

Konseling merupakan proses di mana Anak dibantu secara pribadi agar dapat merasa dan berperilaku secara lebih memuaskan sehingga dapat mengembangkan perilaku yang lebih efektif dalam berhubungan dengan lingkungannnya. Konseling perlu diberikan kepada Anak yang sedang menjalani pembinaan di LPKA karena secara psikologis Anak berada pada situasi yang tidak mengenakkan, di mana ia harus berada jauh dari keluarga, harus menghadapi situasi di mana ia merasa dikucilkan oleh lingkungannya. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konseling bagi Anak dilaksanakan oleh LPKA Kelas II Bandung. Untuk dapat memperoleh gambaran dan pemahaman mengenai hal tersebut maka dipilih pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik dengan empat orang informan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas, peningkatan ketekunan, triangulasi, uji transferabilitas, uji dependabilitas, dan uji komfirmabilitas. Hasil penelitian Konseling Bagi Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum di LKPA Kelas II Bandung menunjukkan bahwa konseling bagi Anak yang berkonflik dengan hukum di LPKA Kelas II Bandung merupakan bagian dari pemenuhan hak Anak sesuai dengan Pedoman Perlakuan Anak di LPKA. Harapan informan agar lebih banyak pihak yang peduli dan bekerjasama dalam memberikan pelayanan kepada Anak, termasuk pelayanan konseling, maka pekerja sosial dapat menjadi bagian yang penting dalam proses ini sehingga penanganan Anak yang berkonflik dengan hukum dapat dilakukan secara komprehensif
Konsep Diri Anak Korban Kekerasan Seksual di Pusar Pelayanan Terpadu Jayandu Widuri Kabupaten Pemalang Berliannanda, Anugrah Fitria; Maryami, Ami; Ningrum, Sri Ratna
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 23 No 2 (2024): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v23i2.1359

Abstract

Sexual violence against children is a critical issue in Indonesia, with significant impacts on victims' physical and psychological development, especially their self-concept. This study explores the self-concept of child victims of sexual violence at the Jayandu Widuri Integrated Service Center, Pemalang Regency, focusing on the social dimension. Utilizing the Tennessee Self-Concept Scale (TSCS), this research analyzes how trauma disrupts victims' ability to build trust and interact socially. Findings reveal that victims often experience isolation, social stigma, and difficulties in establishing interpersonal relationships. These challenges underscore the need for effective interventions to rebuild their self-concept and reduce social stigma. The study employs a combination of quantitative and qualitative methods, including structured interviews and thematic analysis, to evaluate the effectiveness of Social Group Work interventions. Results indicate that group-based activities, such as peer support and social simulations, significantly improve victims' social skills and confidence. Additionally, family involvement plays a critical role in reinforcing emotional support and facilitating recovery. However, deep-seated trauma and societal stigma remain barriers to effective rehabilitation, highlighting the importance of creating a supportive and inclusive environment.This research emphasizes the necessity of a holistic approach in addressing the multifaceted impacts of sexual violence on children. By integrating psychological, social, and community-based interventions, the findings advocate for the expansion of community rehabilitation programs like those at Jayandu Widuri. These insights provide a foundation for developing more inclusive policies and practices to ensure the optimal recovery of child victims, allowing them to reintegrate into society with a renewed sense of self-worth and confidence.
Refleksi Kinerja Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Garut untuk Mendukung Program Pengentasan Kemiskinan Sri Ratna Ningrum; Babang Robandi; Uyu Wahyudin; Mustofa Kamil; Enkeu Agiati
Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Vol. 14 No. 2 (2025): Sosio Konsepsia: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial
Publisher : Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Profesi Kesejahteraan Sosial (Pusdiklatbangprof Kesos), Kementerian Sosial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33007/ska.v14i2.3567

Abstract

Upaya penanganan kemiskinan secara berkelanjutan dilakukan baik dari pemerintah, lembaga internasional, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat. Salah satu upaya pemerintah dalam penanganan kemiskinan ini adalah pemberian bantuan sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Dalam pelaksanaannya, PKH didampingi oleh Pendamping PKH yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan, dukungan, dan pengajaran kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM agar dapat meningkatkan efektivitas program, dan dapat memberikan pendampingan yang berkualitas kepada KPM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pemahaman pendamping PKH terhadap kinerjanya dalam memberikan pendampingan di Kabupaten Garut. Aspek kinerja yang diteliti adalah: kualitas, produktifitas, ketepatan waktu, efektivitas, kemandirian, komitmen kerja, dan tanggung jawab pendamping PKH terhadap organisasi yang menaungi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interpretif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui fokus group discussion dan studi dokumen. Informan dalam penelitian ini adalah pendamping PKH di Kabupaten Garut yang telah bekerja minimal 5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendamping PKH di Kabupaten Garut menunjukkan tingkat kinerja yang baik, walaupun mereka menghadapi tantangan dalam memenuhi tuntutan tugas mereka. Keberhasilan pendamping PKH ditunjukkan dengan banyaknya KPM yang graduasi karena telah dapat hidup mandiri secara ekonomi. Penelitian ini menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas pendamping PKH untuk meningkatkan efektivitas program PKH dalam mengurangi kemiskinan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kualitas pendampingan PKH.