Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pengaruh Perbedaan Dosis Pakan Keong Mas Dan Ikan Rucah Pada Kepiting Bakau.(Scylla paramamosain) Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Dengan Sistem Battery di Tambak Tugu, Semarang Sadinar, Bintang; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.796 KB)

Abstract

Mud crab is one of the marine living resources of high economic value, occupants biota type has been commercially cultivated in many tropical countries. Mud crabs are well known in the domestic market and abroad as a tasty meat flavor and high nutritional value which contains many important Nutrients such as minerals and fatty acids. The material used is a mud crab (Syilla paramamosain) with an average weight of 100 grams were 36 tails. The method used was experimental methods carried out in the field, using a completely randomized design (CRD). The treatment is given in the form of feeding snails with a dose of 3%, 5%, 7%, and 5% trash fish. Respectively for treatments A, B, C, and D, with 3 replications. The results showethat the dose of different feed snails provide a significant influence on the growth of absolute and specific growth rate of mangrove crabs, but give no significant effect on survival growth of mud crab. Mud crab highest absolute weight gained from treatment C (116.60±0.06 g), and then treatment D (112.67±0.471 g), treatment B (112.08±0.273 g), and the treatment of A (108.63±0.27 g), while the value of survival was 85.19%, 96.30%, 100%, and 85.19% , each on treatment A, B, C, and, D. Water quality are still in a decent range for maintenance of mud crab.
Pemberian Kombinasi Pakan Keong Macan Dan Ikan Rucah Terhadap Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) Asyhariyati, Anis Idha; Samidjan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 4 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.914 KB)

Abstract

In the cultivation of mangrove crab feed is a great operational capital in cultivation beyond the provision of seedlings. For that feed used must be able to act as efficient as possible, so that it can push the cost minimal feed without reducing the level of maximum production. This research aims to know the combination effect of feed the babylon snail and trash fish to theg growth and survival mangrove crab (Scylla paramamosain). This research was carried out in April until Juni 2012 at the farming village of Tugurejo, Mangkang, Semarang District. Animal test used is the mangrove crab with average initial weight of 100 grams. Feed The babylon snail and trash fish. experimental method uses that take place in the field with a randomized Complete Design (RAL), namely 3 and 3 treatment of Deuteronomy. The treatment A (feed The babylon snail), B (trash fish), C (feed combination The babylon snail and trash fish). The variables measured growth (SGR), the utilization of the feed (EPP, PER) and SR, as well as water quality. The results showed a combination feed the babylon snail and fish test rucah fresh gives but has no effect the real influence (P<0,05) against SGR, PER, EPP and SR mangrove crab.
PENAMBAHAN TEPUNG BUNGA MARIGOLD ( Tagetes Erecta) PADA PAKAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN KECERAHAN WARNA IKAN RAINBOW (Melanotaenia pearcox) Merlin, Nadia Punky Uberthi; Samidjan, Istiyanto; Pinandoyo, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.508 KB)

Abstract

Ikan  rainbow (Melanotaenia pearcox)merupakan salah satu ikan hias endemik asal Papua. Warna, bentuk tubuh, serta gerak geriknya menjadi daya tarik masyarakat umum untuk memeliharanya, Ikan  rainbow (Melanotaenia pearcox) memiliki  nilai  ekonomis  tinggi  sebagai  ikan  hias  karena  penampilan  warna  dan  ukuran yang  menarik. Warna pada tubuh ikan hias dapat dihasilkan dari pakan yang mengandung zat warna. Analisis warna yang digunakan adalah Adobe Photoshop CC. Penelitian ini bertujuan unruk mengetahui pengaruh penambahan tepung bunga marigold terhadap performa warna tubuh dengan dosis yang sesuai. Dosis yang digunakan adalah perlakuan A tanpa penambahan tepung bunga marigold, perlakuan B dengan dosis 1,5%, perlakuan C 2%,  dan perlakuan D 2,5% Analisa data menggunakan ANNOVA dan apabila terdapat berpengaruh sangat nyata (P<0,01) maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung bunga marigold dalam pakan buatan pada perlakua A yaitu sebesar 24,92±4,87, perlakuan B yaitu sebesar 42,58±2,46, , perlakuan C yaitu sebesar 58,05±1,34, dan perlakuan D yaitu sebesar 36,80±3,88. Kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak untuk kehidupan ikan rainbow yaitu suhu 25 - 28ºC; pH 7,2 – 7,9; DO 4,7 - 4,9mg/L; amoniak 0,61 - 0,94mg/L. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh sangat nyata terhadap penambahan tepung bunga marigold dalam pakan buatan terhadap peningkatan performa warna tubuh ikan rainbow dengan dosis terbaik 2% . Rainbow fish (Melanotaenia pearcox) is one of the original ornamental fish endemic to New Guinea. Color, body shape, as well as the motion of the appeal of the people to keep it, the Rainbow Fish (Melanotaeniidae pearcox)has a high economical value as ornamental fish due to the appearance of color and size. The analysis of colors used is Adobe Photosop CC. The colors of the fish can be  produced from the feed that carotenoid. The purpose of the research to determine the influence of the addition of  marigold flower  flour to fish body  color performance   with the appropriate dose. The doses used on treatment A without the addition of marigold flower flour, treatment B 1.5%,treatment C 2%  and treatment D 2.5%. Data analysis used ANNOVA and when highly significant effect (P<0,01)  then continued with by Duncan test. The results showed that the addition marigold flower flour in artificial feed on treatmen A 24,92 ± 4, 87, treatment B 42,58 ± 2, 46,  treatment C 58,05 ± 1.34  and  treatment D  36,80 ± 3, 88. The water quality during the research was still in a decent range of rainbow fish. That temperature was  25-28 ° C; pH 7.2 – 7.9; DO 4.7-4, 9mg/L; ammonia 0.61-0, 94mg/L. The conclusion of this research was the significant influence of the addition of marigold flower flour in artificial feed to increased performance of body color rainbow fish with the best dose of 2% .
PENGARUH DOSIS FITASE DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN BENIH NILA LARASATI (Oreochromis niloticus) Restianti, Anggi; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.88 KB)

Abstract

Penggunaan bahan nabati sebagai sumber protein nabati dalam pakan memiliki kelemahan utama, seperti adanya asam fitat yang menyebabkan mineral-mineral penting dan protein dalam pakan tidak dapat diserap dengan baik oleh tubuh, sehingga efisiensi pemanfaatan pakan tidak maksimal. Penanggulangannya dilakukan dengan cara penambahan enzim eksogenus seperti enzim fitase ke dalam pakan buatan. Enzim fitase akan menghidrolisis asam fitat menjadi inositol dan asam fosfat, sehingga efisiensi pemanfaatan pakan, kecernaan dan penyerapan nutrisi menjadi maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perbedaan dosis enzim fitase pada pakan buatan terhadap pertumbuhan, efisiensi pemanfaatan pakan dan kelulushidupan benih nila larasati (O. niloticus). Ikan uji yang digunakan adalah benih nila larasati (O. niloticus) dengan bobot rata-rata 0,72±0,05 g/ekor dan padat tebar 25 ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian adalah penambahan enzim fitase A (0 mg/kg pakan), B (400 mg/kg pakan), C (800 mg/kg pakan) dan D (1.200 mg/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan D (1.200 mg/kg pakan) memberikan nilai RGR, EPP dan PER tertinggi yaitu 12,16±0,14% (RGR), 68,38±2,24% (EPP) dan 2,25±0,07 (PER). Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah pengaruh dosis fitase dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap RGR, EPP dan FCR dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PER, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR. Dosis optimal yang dapat meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pemanfaatan pakan dan rasio efisiensi protein adalah 1.200 mg/kg pakan yang mampu menghasilkan RGR sebesar 12,2%/hari, EPP sebesar 68,4% dan PER sebesar 2,25%. Kualitas air pada media pemeliharaan berada pada kisaran yang sesuai untuk budidaya ikan nila larasati. The use of plant material as a source of protein in artificial feed currently has major weakness, such as the presence of phytic acid that causesthe essential minerals and protein in the diet can not be absorbed by the body, so the efficiency of feed utilization was not optimal.Countermeasures is done by the addition of exogenous enzymes such as phytase enzyme into artificial feed. Phytase enzyme will hydrolyze phytic acid into inositol and phosphoric acid, so that the absorption of nutrients, feed utilization efficiency and a maximum digestibility. The purpose of this study was to determine the effect of different doses of phytase enzyme on artificial feed and determine the optimal dose of enzyme phytase on artificial feed to growth, efficiency of feed utilization and survival rate of larasati tilapia (O. niloticus). The fish sample which are used werewith an average weight of 0.72 ± 0.05 g/fish and stocking density 25 fish/m3. This research used experimental methodof completely randomized design with 4 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study is addition of phytase enzime A (0 mg/kg feed), B (400 mg/kg feed), C (800 mg/kg feed) and D (1,200 mg/kg feed). The results showed that treatment D (1,200 mg/kg feed) value highest of RGR, EPP dan PER is 12.16 ± 0.14% (RGR), 68 , 38 ± 2.24% (EPP) dan 2.25 ± 0.07 (PER). The conclusion of this study is the effect of phytase dose in artificial diet provides highly significant effect (P<0,01) to RGR and EPP and significantly (P <0.05) of the PER. The optimal dose that can promote the growth, efficiency of feed utilization and protein efficiency ratio was 1.200 mg / kg of feed are capable of producing RGR 12.2%/day, EPP amounted to 68.4% and a PER of 2.25%. Maintenance of water quality in the media is in the range that is suitable for the cultivation of tilapia larasati.
PENGARUH PERBEDAAN FREKUENSI PAKAN KOMERSIL MENGGUNAKAN SISTEM RESIRKULASI DENGAN FILTER ARANG AKTIF TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) Mufidah, Kamilia; Samidjan, Istiyanto; Pinandoyo, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.08 KB)

Abstract

Pakan salah satu faktor utama pertumbuhan ikan patin. Manajamen pemberian pakan adalah suatu usaha untuk memaksimalkan pemanfaatan pakan untuk pertumbuhan ikan. Salah satu metode pemberian pakan ikan yaitu dengan memberikan pakan dengan tepat waktu saat ikan membutuhkan nutrisi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pemberian frekuensi pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan patin (Pangasius hypopthalmus) pada sistem resirkulasi menggunakan filter arang dan mengetahui pemberian frekuensi pakan yang terbaik untuk ikan patin. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan patin (Pangasius hypopthalmus) dengan bobot rata-rata 8,67±0,46 g dan padat tebar 10 ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (pemberian pakan sekali sehari), B (pemberian pakan dua kali sehari), C (pemberian pakan tiga kali sehari) dan D (pemberian pakan empat kali sehari). Data yang diamati meliputi TKP, FCR, EPP, RGR, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,05) terhadap TKP, FCR, EPP, RGR. Pemberian frekuensi pakan yang optimal yaitu empat kali sehari dapat meningkatkan TKP dan RGR sebesar TKP 126.93 gram, RGR 4.13%. Pemberiakan frekuensi pakan tiga kali sehari dapat meningkatkan EPP sebesar EPP 97.05%. Nilai FCR Pemberiakan frekuensi pakan tiga kali sehari sebesar 1.03 %. Kualitas air pada media pemeliharaan berada pada kisaran yang sesuai untuk budidaya ikan patin. The Feed is one of main factors for fish growth and survival rate. The management if giving feed is an efort to optimize the advantages of feed for growing the fish. One of the feed giving methods is by giving feed on time when the fish needed nutrition. The purpose of this observation is to identify the effect of frequency in giving different feed to the growth and life of the fish on recirculation system by using active carbon filtration and understanding the best frequency of giving feed for the pangasiid catfish. The tested fish that is use the fish weighing average 8,67±0.46 g and density stocking 10 heads/m3. this observation uses ecperimental method by complete shuffel design in 4 actions and 3 repetitions. The actions of this observation are : Action A (giving feed one a day), B (giving feed two a day), C (giving feed three a day), and D (giving feed four a day). The analyzed data follows TKP, FCR, EPP, ]RGR, and water quality. The result of observation shows that the substitution of frequency in giving different feed real effect (P<0,05) to TKP, FCR, EPP, RGR. The optimal of feed given frequency is four a day that can increase TKP and RGR in the amount of TKP 126,93 g, RGR 4,13%. The frequency of giving feed three a day can increase EPP in the amount of EPP 97,05%. The value FCR of giving feed in three a day is 1,03%. The water quality to treatment media is on the appropriate range for pangasiid catfish (Pangasius hypopthalmus) cultivation.
Pengaruh kombinasi pakan alami artemia dan pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kualitas warna ikan hias cupang (Betta sp) Izzah, Dzulha Nuril; Samidjan, Istiyanto; Chilmawati, Diana
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 8, No 1 (2024): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v8i1.19869

Abstract

            Ikan Cupang (Betta sp.) adalah ikan hias yang banyak digemari karena memiliki warna yang menarik. Warna ikan cupang dapat dipengaruhi oleh pemberian jenis pakan. Salah satu pakan alami yang cocok untuk ikan cupang adalah artemia karena memiliki kemampuan berenang yang lambat dan mengandung protein 53,30%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan persentase kombinasi pakan alami artemia dan pakan buatan yang memberikan pertumbuhan dan kualitas warna ikan cupang (Betta sp.) terbaik, yang dilaksanakan pada 01 Oktober – 09 November 2022 di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan Chasanah Rembang, Jawa Tengah. Bahan yang digunakan adalah artemia dan ikan cupang dengan padat penebaran 1 ekor/liter. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan A (pemberian artemia 0% dan pakan buatan 100%), B (pemberian artemia 75% dan pakan buatan 25%), C (pemberian artemia 50% dan pakan buatan 50%), D (pemberian artemia 25% dan pakan buatan 75%) dan E (pemberian artemia 100% dan pakan buatan 0%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kombinasi pakan alami artemia dan pakan buatan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah sel kromatofor dan nilai hue ikan cupang namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap laju pertumbuhan harian dan kelulushidupan ikan cupang. Kombinasi pakan alami dan pakan buatan terbaik dalam penelitian ini adalah artemia 75% dan pakan buatan 25% (Perlakuan B) dengan laju pertumbuhan harian (0,30±0,20a), kelulushidupan (100,00±0,00a), jumlah sel kromatofor (369,50±12,01c), dan nilai hue (3,75±0,32a).
Pengaruh tepung wortel (Daucus carota) dalam pakan komersil terhadap performa warna koi (Cyprinus carpio) Dwiastuti, Siti Afia; Hastuti, Sri; Samidjan, Istiyanto
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 8, No 1 (2024): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v8i1.20891

Abstract

Koi (Cyprinus carpio) merupakan salah satu ikan hias paling diminati karena keindahan warna dan bentuk tubuhnya. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan performa warna koi adalah menambahkan sumber pigmen ke dalam pakan. Sumber pigmen tersebut dapat diperoleh dari tepung wortel yang memiliki kandungan karotenoid. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh tepung wortel dalam pakan komersil terhadap performa warna koi. Penelitian ini dilaksanakan pada 13 Oktober sampai 11 November 2022 di Balai Benih Ikan (BBI) Balekambang, Solo, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan, yakni tepung wortel untuk perlakuan A (0%), B (5%), C (10%) dan D (15%). Ikan uji yang digunakan adalah ikan koi yang memiliki panjang 6.5±1.29 cm dan dipelihara dalam wadah berukuran 15 liter dengan padat tebar 10 ekor/liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung wortel dalam pakan memberikan pengaruh nyata (P0,05) terhadap nilai kelulushidupan (SR) ikan koi. Berdasarkan hasil tersebut didapatkan dosis terbaik penambahan tepung wortel yaitu pada dosis 15% yang menghasilkan jumlah sel kromatofor sebesar 938 sel, selisih nilai hue sebesar (4.40±1.39c)°, total konsumsi pakan (TKP) sebesar (70.04±0.72c) g, dan pertumbuhan bobot mutlak sebesar (12.20±0.84c) g. Hasil kualitas air diperoleh suhu berkisar 25,8-30,5 °C, pH berkisar 6,76-8,50 dan DO berkisar 5,3-7,8 mg/L. Kata kunci: koi, pakan, pertumbuhan, warna, wortel
Performan Kecernaan Protein, Efisiensi Pemanfaatan Pakan, Pertumbuhan, Dan Kelulushidupan Benih Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) Melalui Penambahan Asam Amino Lisin Dalam Pakan Buatan Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto; Yuniarti, Tristiana
Pena Akuatika : Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 23 No. 1 (2024): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v23i1.3753

Abstract

Lisin merupakan asam amino pembatas dalam pakan dikarenakan sumber protein nabati  yang digunakan sebagai bahan  penyusun pakan defisiensi lisin.  Kekurangan asam amino menyebabkan penurunan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan. Tujuan penelitian  ini adalah mengkaji penambahan lisin pada pakan buatan terhadap kecernaan protein, efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, dan kelulushidupan benih lele Sangkuriang. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah lele Sangkuriang stadia pembesaran memiliki bobot rata-rata 6,48±0,22 g/ekor. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini berupa pakan buatan berbentuk pellet dengan kandungan protein 31% yang ditambahkan lisin yaitu perlakuan A (0 %/kg pakan), B (0,5 %/kg pakan), C (1,0/kg pakan) dan D (1,5 %/kg pakan). Parameter yang diamati meliputi kecernaan protein (ADCp), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin pada pakan dapat meningkatkan ADCp, EPP, FCR, PER, dan RGR. Parameter kualitas air selama penelitian menurut literatur masih layak untuk budidaya lele Sangkuriang. Dosis lisin 1,0 %/kg pakan merupakan dosis terbaik penambahan lisin pada pakan menghasilkan nilai ADCp, EPP, FCR, PER, dan RGR tertinggi sebesar 70,18±0,28, 71,02±0,15, 1,32±0,10,  3,06±0,13 dan 2,87±016%/hari.