Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Terapi Reminiscence: Memberdayakan Lansia untuk Mencapai Successful Aging Timotius Iwan Susanto; Christiana Hari Soetjiningsih; David Samiyono
Buletin Psikologi Vol 28, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.01 KB) | DOI: 10.22146/buletinpsikologi.49339

Abstract

Penuaan manusia merupakan proses yang kompleks, dimulai sejak lahir, dan dipengaruhi banyak faktor. Oleh karena itu penuaan yang berhasil (successful aging) perlu dipersiapkan sebaik mungkin sejak manusia dilahirkan. Komponen successful aging yaitu: (1) tidak rentan terjangkit penyakit dan efeknya; (2) kapasitas fungsional kognitif dan fisik yang baik; (3) keterlibatan aktif dalam kehidupan; dan (4) spiritualitas positif. Sebagian lansia termasuk dalam kategori successful aging rendah dan terdapat kesenjangan kultural antara lansia dan generasi di bawahnya berkaitan dengan kemajuan teknologi. Dari penelitian sebelumnya salah satu terapi yang terbukti efektif untuk meningkatkan successful aging adalah reminiscence, yaitu terapi dengan aktivitas mengenang masa lalu sehingga lansia bisa menerima pengalaman dengan positif. Saat ini metode terapi reminiscence dapat dirancang secara kreatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang sesuai dengan kondisi lansia. Kajian pustaka ini dapat menjadi acuan dalam merancang model reminiscence untuk meningkatkan successful aging lansia dengan teknologi (gerotechnology) agar dibuktikan melalui penelitian empiris.
Inclusion Community Model: Learning from Bali David Samiyono
Analisa: Journal of Social Science and Religion Vol 21, No 1 (2014): Analisa Journal of Social Science and Religion
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.788 KB) | DOI: 10.18784/analisa.v21i1.23

Abstract

AbstrakKonflik sering muncul ketika manusia bertindak secara ekslusif dengan hanya melihat diri sendiri dan kelompoknya. Beberapa tokoh pluralisme membuat konsep mengenai masyarakat inklusif dengan tujuan mengurangi terjadinya konflik. Nagara Indonesia memiliki potensi besar terjadinya konflik, hal ini disebabkan karena negara Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya dan agama. Apabila konflik tidak dikelola, maka potensi terjadinya dis-integrasi bangsa sangat besar. Meskipun hal ini dapat juga dilihat sebagai kekayaan bangsa, model masyarakat inklusif diperlukan bagi bangsa Indonesiasebagai alat pemersatu yang harus dipahami dan diajarkan dari generasi satu kepada generasi berikutnya.Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif-kualitatif yang sesuai dengan kondisi lokasi penelitian yaitu Bali dan Lampung. Analisis dilakukan melalui narasi dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari informan atau partisipan. Hasil penelitian menunjukkan adanya nilai-nilai inklusif dalam budaya masyarakat Bali yang tinggal di Pulau Bali. Masyarakat Bali yang sudah bergaul dengan berbagaibudaya, agama, politik dan ekonomi. Oleh karena itu model masyarakat inklusif dari kasus masyarakat Bali perlu dilakukan dalam usaha untuk bisa diuji-cobakan pada masyarakat yang berbeda, terutama pada wailayah negara Indonesia yang majemuk.Kata kunci: Bali, Inclussion community, menyama braya. AbstractConflict often occurs when people behave closed and exclusive by looking at himself and his group. Some authors propose the concept of inclusion community to reduce the conflict and towards a harmonious society. Indonesia has a huge potential for conflict to happendue to the number of tribe, religion, race and class, but on the other hand it has had a noble wealth in society, which needs to be exposed and arranged to become a teaching material  for future generations. That is why this research is done. This research uses descriptive qualitative method of setting Balinese case study in Bali andLampung. The analysis was conducted in the narrative and constructive way by involving various resource persons and participants. The Research shows that there is value in Balinese inclusion both in the province of Bali and Lampung province in various fields such as social, cultural, economic, and governance.For further research, the learning module of Balinese inclusion Community should be  made. A research on other wealth local communities besides Bali should also be made in Indonesia.Keywords: Bali, inclusion community, menyama braya.
TRADISI MITONI SEBAGAI PEREKAT SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT JAWA Boanergis, Yohanes; Engel, Jacob Daan; Samiyono, David
Jurnal Ilmu Budaya Vol. 16 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/jib.v16i1.3172

Abstract

The mitoni tradition is a Javanese cultural heritage that is still being held by Javanese people in the village of Tuntang, Tuntang District, Semarang District, Central Java until now. The mitoni ceremony is carried out in the seventh month of Javanese pregnancy. This study aims at examining the spiritual values of the mitoni tradition as socio-cultural “glue.” This research was motivated by dangerous facts, namely the threat of disharmony in the social community. The method applied in this study is qualitative with a descriptive approach. Data collection techniques were used in-depth interviews and observations. Interviews were conducted by giving open questions to community leaders in the village of Tuntang. In this study, the sources of information were traditional leaders as representatives of the Tuntang village community. This research was tested as a socio-cultural adhesive in Tuntang village through spiritual values, namely: 1). Ngruwat sukerta. 2). Cecawis. 3). Sembada. 4). Panampi. 5). Wilujeng. 6). Ngrumat bumi. 7). Pitutur. 8). Rukun. 9). Pitulungan. These spiritual values are symbolic of Javanese ideology which is eschatological. This value serves to maintain social harmony. The results of this study are recommended for religious leaders and traditional leaders to apply this cultural approach, by making mitoni as a socio-cultural “glue.”