Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

KONSEP ILMU DALAM SHAHIH AL-BUKHARI Luqman Abdul Jabbar
AT-TURATS Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/at-turats.v3i1.268

Abstract

Bukhari selected the authenticity of hadith so thoroughly and carefully that he was nicknamed "tabib al-hadis". His intelligence and a strong concern with science was shown in the classification of a separate chapter on the science in his book. Nevertheless Sahih al-Bukhari, as are the books of other hadith collections, has no theoretical-conceptual content of a theory in a mature and clear way. Is still requires help from other disciplines. And the hadits basically requires interpretation, if one wishes to understand it. Keywords: Science, Hadith and Bukhari.
Critique of Religious Text Perspective Luqman Abdul Jabbar; Reviewed by: Syamsul Kurniawan
Al-Albab Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Graduate Program of Pontianak Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.338 KB) | DOI: 10.24260/alalbab.v3i1.99

Abstract

The phenomenon commonly found in the field of interpretation often portrays the claim of truth. As a result, the truth is hard to define. It is certainly something that is reasonable, given the task instead of a human is not to determine who is right and who is wrong. Only God Almighty who has the right to become the holder of the authority of the truth.
Menghormati Agama Lain Sebagai Warisan Kenabian Kajian Tafsir Al-Mishbah Dalam Konteks Pendidikan Islam Agung Wibisono; Luqman Abdul Jabbar
Journal of Golden Generation Education Vol. 2 No. 1 (2026): Februari 2026: Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v2i1.360

Abstract

Penghormatan terhadap agama lain merupakan nilai fundamental dalam ajaran Islam yang berakar pada misi kenabian dan prinsip rahmatan lil ‘alamin. Islam memandang bahwa Allah SWT telah mengutus nabi dan rasul kepada setiap umat, meskipun tidak seluruhnya disebutkan dalam Al-Qur’an. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep menghormati agama lain sebagai warisan kenabian berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an melalui pendekatan Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, serta menganalisis relevansinya dalam konteks pendidikan Islam, khususnya penguatan moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode kajian pustaka dan analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, seperti QS. An-Nahl: 36 dan QS. Ghafir: 78. Hasil kajian menunjukkan bahwa Tafsir Al-Mishbah menegaskan prinsip universalitas kenabian yang melahirkan sikap teologis moderat, terbuka, dan menghargai keberagaman agama tanpa mengaburkan prinsip tauhid. Dalam konteks pendidikan Islam, nilai ini merupakan bagian dari akhlak profetik yang penting untuk diinternalisasikan melalui pembelajaran, guna membentuk karakter peserta didik yang toleran, berkeadilan, dan mampu hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat plural. Dengan demikian, penghormatan terhadap agama lain tidak dimaknai sebagai relativisme akidah, melainkan sebagai manifestasi nilai-nilai kenabian yang berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan.
Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter Dalam Pembentukan Kepribadian Siswa Era Global (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pontianak) Astariza, Nova; Luqman Abdul Jabbar; Saifuddin Herlambang
CBJIS: Cross-Border Journal of Islamic Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAI Sultan Muhammad Syafiuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/cbjis.v7i2.4969

Abstract

Penelitian ini berargumen bahwa implementasi Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter di MAN 2 Pontianak adalah sebagai upaya strategis dalam membentuk kepribadian siswa di tengah tantangan disrupsi era global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data utama meliputi observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Untuk memperkaya data, peneliti juga menggunakan angket terbuka sebagai instrumen pendukung guna memetakan kecenderungan persepsi siswa terhadap implementasi pendidikan holistik berbasis karakter. Dalam konteks penelitian kualitatif, angket digunakan bukan sebagai instrumen utama, melainkan sebagai data triangulatif yang memperkuat temuan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Model pendidikan holistik diimplementasikan melalui integrasi kurikulum, pembiasaan religius (tadarus dan doa), serta pembelajaran kolaboratif yang menyasar keseimbangan antara kecerdasan rasional dan kesalehan spiritual (ummatan wasathan). (2) Keteladanan guru (uswah hasanah) menjadi instrumen paling efektif (70%) dalam internalisasi nilai-nilai karakter Qur’ani. (3) Meskipun 85% siswa mengalami peningkatan kedisiplinan, ditemukan tantangan berupa 15% siswa yang memandang kegiatan sebagai rutinitas mekanistik, yang kemudian diatasi melalui pendekatan dialog reflektif berbasis QS. Ali Imran (3): 110. Simpulan penelitian menegaskan bahwa sinergisitas antara kurikulum integratif, keteladanan pendidik, dan lingkungan madrasah yang mendukung mampu membentuk insan beradab (al-insan al-adabi) yang memiliki integritas moral dan daya saing global.
STUDI KOMPARASI: TAFSIR KLASIK TURJUMAN AL-MUSTAFID AS-SINGKILI DAN TAFSIR MODERN AL-AZHAR BUYA HAMKA (Kajian Mufasir Kawasan Asia Tenggara) Anisa; Mohammad Umar Said; Singgih Prayogo; Luqman Abdul Jabbar; Jimmy Malintang
Qolamuna : Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 02 (2026): Februari 2026
Publisher : STIS MIFTAHUL ULUM LUMAJANG PRESS (STISMU PRESS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55120/qolamuna.v11i02.2482

Abstract

This study conducts a comparative analysis of two influential Qur’anic commentaries in the Malay-Indonesian archipelago: Turjuman al-Mustafid by Abdur Rauf as-Singkili (17th century) and Tafsir al-Azhar by Buya Hamka (20th century). These works represent two distinct phases in the development of Qur’anic interpretation— the classical period characterized by reliance on transmitted knowledge (riwāyah), literalism, and pedagogical-sufi traditions, and the modern period marked by rationality, contextual reading, and a humanistic adabī-ijtima‘ī approach. Using a comparative textual analysis, this research examines the historical background of the exegetes, their epistemological sources, interpretative methods, exegetical styles, linguistic and contextual approaches, as well as their interpretations of the same Qur’anic verses. The findings indicate that Turjuman al-Mustafid functioned primarily as an instrument for religious education and doctrinal consolidation among early Malay Muslim communities, whereas Tafsir al-Azhar served as a reformist commentary addressing modern social, moral, and national issues in Indonesia. Both commentaries have significantly shaped Islamic religious practices, educational traditions, and intellectual discourses in the region. This study highlights the importance of understanding the interplay between text, interpreter, and socio-historical context in the evolution of Qur’anic exegesis in the Nusantara from classical to modern periods. Keywords: Turjuman al-Mustafid, Tafsir al-Azhar, Malay-Indonesian Qur’anic exegesis, comparativestudies, Qur’anic hermeneutics.
KEARIFAN LOKAL DAN PRAKTIK PEMBACAAN SURAH YASIN MALAM JUM’AT DI KALANGAN ETNIK MADURA SUNGAI BAKAU BESAR DARAT Abdullah; Saifuddin Herlambang; Luqman Abdul Jabbar
Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS) Vol. 2 No. 1 (2026): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijis.v2i1.2198

Abstract

Penelitian ini mengkaji kearifan lokal dan praktik pembacaan Surah Yasin malam Jumat di kalangan etnik Madura Sungai Bakau Besar Darat dalam perspektif Living Qur’an. Tujuan penelitian adalah menganalisis makna sosial-religius tradisi Yasinan, relasinya dengan nilai kearifan lokal, serta proses transformasi teks Al-Qur’an menjadi tradisi hidup dalam masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi agama melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama dan masyarakat, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yasinan berfungsi sebagai media penguatan iman, sarana integrasi sosial, peneguh identitas keislaman etnik Madura, dan ruang negosiasi antara teks suci dan budaya lokal. Tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, spiritualitas, penghormatan kepada leluhur dan orang tua, serta pendidikan keagamaan antar generasi. Dalam perspektif Living Qur’an, Surah Yasin tampil sebagai teks hidup yang tidak hanya dibaca, tetapi dihidupi melalui ritual, simbol, dan relasi sosial, sehingga menjadi sumber harapan, doa, dan keselamatan kolektif. Penelitian ini menegaskan bahwa kearifan lokal tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, melainkan menjadi medium kontekstualisasi nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sosial masyarakat. Implikasi penelitian ini bersifat teoretis dalam penguatan kajian Living Qur’an dan praktis bagi pengembangan pendidikan, dakwah kultural, serta pelestarian tradisi Islam lokal.
Studi Tematik Ayat-Ayat Waris (Al-Mawaris) Sebagai Materi Pendidikan Islam Di Madrasah Dan Pesantren Muhammad Irham Faqih; Hufri; Luqman Abdul Jabbar
Journal of Golden Generation Education Vol. 2 No. 1 (2026): Februari 2026: Journal of Golden Generation Education
Publisher : PT. LEMBAGA PENERBIT PENELITIAN NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jgge.v2i1.435

Abstract

Kajian mengenai ayat-ayat waris dalam Al-Qur’an merupakan bagian integral dari studi hukum Islam (fiqh al-mawārīṯ) yang memiliki posisi strategis dalam membentuk pemahaman keadilan sosial dalam pendidikan Islam. Artikel ini membahas secara tematik (mawḍhu’i”) ayat-ayat waris dalam Al-Qur’an dan relevansinya terhadap sistem pendidikan di madrasah dan pesantren. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik untuk menganalisis empat ayat utama waris: QS. an-Nisā’: 7,11,12, dan 176. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat tersebut mengandung nilai-nilai keadilan, tanggung jawab keluarga, dan penghargaan terhadap perempuan yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum madrasah dan pesantren. Pembelajaran faraidh tidak semata-mata berhenti pada aspek hukum dan perhitungan bagian, melainkan juga pada nilai-nilai spiritual dan sosial yang terkandung di dalamnya. Kebaruan (novelty) dari artikel ini terletak pada pengintegrasian tafsir tematik dengan pendekatan pedagogis kontekstual berbasis karakter Qur’ani yang dapat memperkuat literasi hukum Islam di lembaga pendidikan keagamaan.