Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : V-MAC (Virtual of Mechanical Engineering Article)

Kinematika Sendi Lengan Penari Bapang Malangan Achmad Maulana Risky; Dadang Hermawan; Nurida Finahari
Virtual of Mechanical Engineering Article Vol 6 No 1 (2021): V-MAC
Publisher : Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/v-mac.v6i1.1292

Abstract

Dancers experience various injuries, because dancing requires high intensity movements. Frequent injuries to dancers involve overuse of joints and muscles. The highest potential for injury is in the knee. However, in the Bapang Malangan Dance, the arms are the limbs that are often used in extreme movements. Thus the potential for injury can be high. This study focuses on the kinematics of arm movement of the Bapang Malangan Dance in relation to the possibility of injury. The research was carried out through analyzing image data resulting from the rendering of dance video footage, following a kinematics-based biomechanical framework and engineering dynamics. The results showed that the kinematic analysis of the Bapang dancer's arm was depicted only on the change in position because velocity and velocity could not be measured directly. Changes in the position of the Bapang dancer's arms can be depicted in graphic form through frame analysis of the transformed video files into image files. The arm joints that get a lot of weight are the shoulder and elbow joints, which in Bapang Malangan dancers have the potential to experience injury due to tugging and twisting. The complexities of movements and changes in dancer movements turn out to make it difficult to determine the speed and acceleration by analyzing the rendered images. A measuring instrument is needed that can directly measure arm movements when dancing. This tool must not use cables so as not to obstruct the dance movement. Keywords: biomechanic, kinematic, arm joint, dancer, Bapang Malangan
Karakteristik Nyala Api Dan Air Fuel Ratio Minyak Nabati Terhadap Pembakaran Premixed Bagus Wahyu Pratama; Gatot Soebaktiyo; Dadang Hermawan
Virtual of Mechanical Engineering Article Vol 8 No 1 (2023): V-MAC
Publisher : Prodi Teknik Mesin Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/v-mac.v8i1.2739

Abstract

Perkembangan otomotif sebagai sarana transportasi sangat memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan, dalam era modern seperti sekarang ini kendaraan sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok, hal ini dibuktikan dengan melonjaknya penjualan kendaraan bermotor setiap tahunnya. Diketahui bahwa bahan bakar Nabati merupakan sumber energi yang dihasilkan dari tumbuhan dan memiliki potensi yang sangat besar untuk menggantikan bahan bakar fosil, dua jenis bahan bakar yang paling sering digunakan adalah etanol dan biodiesel, biodiesel dari minyak kelapa sawit mencatatkan penurunan emisi sebesar 50% dibanding minyak solar, yang artinya selain sebagai bahan bakar alternative bahan bakar nabati juga lebih ramah lingkungan. Untuk itu dalam penelitian ini dicari karakteristik minyak nabati yaitu minyak kayu putih, minyak kemiri, minyak kedelai dan minyak kacang tanah terhadap pembakaran secara premixed, yang sesuai dengan karakteristik pembakaran pada mobil. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental nyata (true experiment reseach). objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah karakteristik nyala api dan air fuel ratio minyak nabati terhadap pembakaran premixed. Data yang diperoleh akan diplot pada grafik yaitu air fuel rasio terhadap masing-masing minyak nabati dan udara. Grafik ini akan dijadikan acuan untuk menganalisis bagaimana karakteristik bahan bakar minyak nabati terhadap pembakaran premixed. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak kacang tanah memiliki profil nyala api yang paling baik dengan RGB sebesar 155.164 dan jari-jari kontur 2,87, diikuti minyak kedelai dengan RGB sebesar 62.956 dan jari-jari kontur 2,6275, minyak kayu putih memiliki profil nyala api yang paling rendah dengan RGB 12.639 dan jari-jari kontur 1,47, sementara minyak kemiri tidak dapat menyala pada saat perlakuan uji pengambilan data. Sedangkan AFR terbaik pembakaran premixed minyak nabati adalah 20:40. Boilimg point tidak berpengaruh terhadap temperatur, kacang tanah memiliiki boiling point yang tertinggi yaitu 363 derajat celcius, sementara kedelai memiliki temperatur pembakaran yang paling baik yaitu 42,4 derajat celcius Kata kunci: pembakaran premixed, air fuel ratio, minyak kayu putih, minyak kemiri, minyak kedelai.