Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Reflektika

BHESAH ALOS : ETIKA KOMUNIKASI REMAJA DALAM PERGAULAN SOSIAL DI KABUPATEN SAMPANG MADURA Ali, Ahmad Zulfikar; Suryanto, Totok Agus; Amin, Agus Saifuddin; Maliji, Moh.
Reflektika Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v16i1.896

Abstract

Etika merupakan salah satu unsur yang menentukan sukses atau tidaknya komunikasi yang dilakukan seseorang. Komunikasi yang dilakukan dengan etika yang kurang tepat akan mengakibatkan bias pada seseorang dalam menginterpretasikan pesan yang ingin disampaikan. salah satu bentuk etika yang paling diperhitungkan dalam proses komunikasi adalah etika berbahasa. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi dan bagaimana bahasa tersebut disampaikan merupakan salah satu kriteria etika komunikasi yang baik. Hal tersebut melingkupi bahasa secara universal, tidak terkecuali bahasa madura sebagai salah satu bahasa daerah dengan pengguna terbesar ketiga di Indonesia. Artikel ini akan membahas bagaimana karakter penggunaan bahasa halus oleh remaja di kabupaten sampang sebagai salah satu kabupaten di madura dan bagaimana peran bahasa Madura halus dalam meneguhkan etika komunikasi.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga karakter etika komunikasi sosial remaja madura Pertama, etika komunikasi yang baik dan utama dalam perspektif orang Madura adalah menggunakan bahasa halus, kedua, penggunaan titi nada dan sikap yang tepat, ketiga, penggunaan bahasa sesuai konteks berbicara. Adapun peran bahasa halus Madura dalam meneguhkan etika komunikasi  terumuskan dalam dua hal; Pertama, Bhesah Alos  mengedepankan pertimbangan lawan bicara, terutama kepada orang yang lebih tua dan dihormati. Kedua,  bahasa halus merupakan manifestasi dari pribadi yang beretika dan bertatakrama
DAKWAH K.H. MOH. FAIZ ABDUL RAZZAQ (Studi Dakwah Melalui Seni Kaligrafi) Ali, Ahmad Zulfikar
Reflektika Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v11i2.26

Abstract

Aktivitas dakwah merupakan salah satu jalan yang dianggap paling ideal untuk menyampaikan ajaran islam. Namun, selama ini usaha tersebut belum terasa maksimal. Banyak fator yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah Aktivitas dakwah selama ini hanya dipahami sebagai bentuk komunikasi yang hanya dapat disampaikan dengan bahasa verbal saja, padahal pada kenyataannya komunikasi non verbal memiliki pengaruh yang lebih besar, untuk itu setiap da’i perlu menyadari pentingnya hal ini, sehingga aktivitas dakwah tidak hanya berlangsung dari mimbar kemimbar saja, namun disampaikan dengan cara yang beragam sesuai dengan keadaan masyarakat.Dalam berdakwah banyak media yang dapat digunakan seorang da’i, mulai dari yang bersifat verbal maupum non verbal, seorang dai dituntut untuk lebih arif dalam memilih media sesuai dengan kemampuan dan sasaran dakwah. Hal tersebut juga dilakukan oleh KH. Moh. Faiz Abdul Razzaq dalam berdahwah, sebagai seorang kaligrafer beliau memilih kaligrafi Islam sebagai media dakwah. Permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana aktivitas dakwah KH. Moh. Faiz Abdul Razzaq, bagaimana persepsi beliau tentang kaligrafi, dan apa saja upaya beliau untuk menjadikan kaligrafi sebagai media dakwah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metodepengumpulan data adalah interview dan dokumentasi. Melalui metode analisis deskriptif diharapkan hasil penelitian ini mampu menjawab persoalan yang akan ditelliti.
HARMONIZING ISLAMIC VALUES WITH TECHNOLOGICAL ADVANCEMENTS FOR SELF-DEVELOPMENT Ramadhan, Yusfar; Asykur, Asykur; Ali, Ahmad Zulfikar; Mujibno, Mujibno
Reflektika Vol 18, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/reflektika.v18i2.1463

Abstract

The development of learning innovation in the era of "Industrial Revolution 4.0" will be closely related to educational technology. Both of them can be harmonized into Islamic values. One of them is that learning online or better known as online is something that must be done in the midst of the Covid 19 outbreak. However, many teaching staff are not yet ready, due to the phenomenon of being technologically illiterate or technologically illiterate. Educators who are technologically clueless can reduce the level of professional credibility in front of their students so that students sometimes tend to underestimate them. It can be seen that here lies the harmonization of Islamic values. Considering that students are more familiar with the world of technology and communication because it has become a nutritional intake in gaining knowledge. This phenomenon often occurs around us, including being found at one of the MTs educational institutions. Al-Irsyadiyah, whose address is Dermowebang Village, Sarirejo District, Lamongan Regency, there are several teachers who are said to still be technologically deficient in their learning. So it is still lacking in implementing Islamic values. Therefore, the focus point in this research is how teachers carry out the online learning process, especially for those who are technologically clueless and what impact this has on student learning outcomes and harmonization of Islamic values. With this article, the author hopes that inspiration and solutions will grow for teachers who experience the same problems.Â