Sidhi Wiguna Teh
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PASAR PUBLIK MAYESTIK Sebastian Tanuwidjaja; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8582

Abstract

A third place is needed by various groups of human. This serves as entertainment for the routine of human activity in the modern times. Where Their lives are divided by the first place that becomes their home and the second place where they running daily work activities. The Project is located on Jalan Tebah, Kebayoran Baru which is famous for its trading. Activities around the site are dominated by trade activities, other activities are school, office and housing activities. The purpose of this project is to facilitate the community to socialize from all groups of people through trading activities, the role of the community in this project is as a user who is divided into the role of traders who work as entrepreneurs and buyers. It also aims to support the Sustainable Development Goals program regarding equality of social status. With an individualist lifestyle due to demands of time-consuming work and humans need primary needs, therefore the Mayestik Public Market was formed to accommodate the needs of clothing and food and recreation with a third place concept. The market program is divided into 2 parts, namely wet and dry areas. In the wet area there are Food Street, Fresh Market, Mini Market and Bar, while in the dry area there are Bazaar, Online Marketplace, and Barbershop. There are also other programs to support the third place and self-development activities with Library, Artspace, Culinary Workshop, and Public Space. This place can be used for all people without paying, hoping to unite people from all groups of people without looking at each other's social status and interacting with one another as they should. Keywords:  Kebayoran Baru; Market; Needs; Third Place AbstrakSebuah tempat ketiga sangat dibutuhkan oleh berbagai kalangan manusia. Hal ini berfungsi sebagai hiburan terhadap rutinitas kegiatan manusia pada masa modern. Dimana kehidupan mereka terpecah pada sebuah tempat pertama yang menjadi rumah dan tempat kedua yang menjadi tempat kegiatan bekerja mereka sehari-hari. Lokasi Proyek terletak di Jalan Tebah, Kebayoran Baru yang terkenal dengan area perdagangan. Aktivitas di sekitar tapak didominasi aktivitas perdagangan, aktivitas lainnya terdapat aktivitas sekolah, perkantoran dan perumahan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk memfasilitasi masyarakat untuk bersosialisasi dari semua kalangan melalui aktivitas perdagangan, peran masyarakat pada proyek ini adalah sebagai user yang terbagi menjadi peran pedagang yang bekerja sebagai wirausaha yang dan pembeli. Hal ini juga bertujuan mendukung program Sustainable Development Goals perihal kesetaraan status sosial. Manusia membutuhkan kebutuhan primer dan dengan gaya hidup manusia modern yang individualis akibat tuntutan pekerjaan yang memakan waktu, oleh sebab itu dibuatlah sebuah Pasar Publik Mayestik yang dapat mewadahi kebutuhan sandang dan pangan serta rekreasi dengan konsep tempat ketiga. Program pasar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu area basah dan area kering. Dalam area basah terdapat program Food Street, Fresh Market, Mini Market, dan Bar, sedangkan pada area kering terdapat program Bazaar, Online Marketplace, dan Barbershop. Terdapat juga program lainnya untuk mendukung konsep tempat ketiga dan aktivitas pengembangan diri berupa Library, Artspace, Culinary Workshop, dan Public Space. Tempat ini dapat digunakan untuk semua kalangan manusia tanpa harus berbayar, dengan harapan dapat menyatukan manusia dari semua kalangan tanpa melihat status sosial masing-masing dan berinteraksi satu dengan lainnya seperti seharusnya.
PENERAPAN METODE LANDSCAPE URBANISM DALAM PERANCANGAN AGRO EDU-WISATA DI CENGKARENG Rivaldo Clemens; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21493

Abstract

The history of the Cengkareng area, which has the image of a plantation area and green space, should be a comfortable, productive, healthy and sustainable area that is experiencing degradation. The plantations and green spaces in this area have changed their function into dense and unhealthy industrial buildings. Therefore, the Cengkareng area currently has a high stress level problem due to the absence of tourist attractions and green spaces. In this case, new attractors are needed in this area, which can revive the image of healthy and comfortable plantation areas and green spaces and provide lessons on how to cultivate a plant. By using the urban acupuncture method in finding problem points that must be healed in the Cengkareng area to restore the image of the area. The design of Agro Edu-Tourism Cengkareng is proposed to be an acupoint to restore the image of the area with agro-tourism and reduce stress levels so as to create a healthier area. With the existence of Agro Edu-Wisata with the application of the landscape urbanism method that emphasizes performance rather than pure aesthetics, it is hoped that it will have a major impact on the Cengkareng community. Keywords:  Attractor; Farming; Agrotourism Abstrak Sejarah Kawasan Cengkareng yang mempunyai citra kawasan perkebunan dan ruang hijau seharusnya kawasannya nyaman, produktif, sehat dan berkelanjutan ini mengalami degradasi. Perkebunan dan ruang hijau pada kawasan ini mengalami perubahan fungsi menjadi bangunan-bangunan industrial yang padat dan kurang sehat. Oleh karena itu, kawasan Cengkareng saat ini mempunyai masalah tingkat stress yang tinggi karena tidak adanya tempat wisata dan ruang hijau. Dalam hal ini membutuhkan adanya attractor baru pada Kawasan ini, dimana dapat menghidupkan kembali citra Kawasan perkebunan dan ruang hijau yang sehat dan nyaman serta memberikan pelajaran cara membudidayakan suatu tanaman. Dengan menggunakan metode urban akupuntur dalam menemukan titik-titik masalah yang harus disembuhkan pada Kawasan Cengkareng untuk mengembalikan citra Kawasan. Perancangan Agro Edu-Wisata Cengkareng diusulkan menjadi titik akupuntur untuk mengembalikan citra kawasan dengan agrowisata dan mengurangi tingkat stress sehingga menciptakan Kawasan yang lebih sehat. Dengan adanya Agro Edu-Wisata dengan penerapan metode landscape urbanism yang menekankan kinerja dari pada estetika murni, diharapkan dapat berdampak besar bagi masyarakat Cengkareng.
PERANCANGAN ‘KREATIF DAUR ULANG SAMPAH ANORGANIK’ SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS LINGKUNGAN BANTARGEBANG Priska Debora Iskandar; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21642

Abstract

Waste should receive serious attention and handling. However, due to the lack of understanding of the community and the government, this waste problem has been neglected. There needs to be an effort to improve the quality of the environment by optimizing waste management so that it can benefit the people's economy and not damage the environment in cities in Indonesia. The project to be designed has the aim of overcoming the problem of environmental degradation in Bantargebang so as to produce a better environmental quality. Ecological architecture is used as a design concept that respects the importance of preserving natural ecosystems. This architectural design approach and concept as the application of urban acupuncture also promises to protect nature and the ecosystem in it from greater damage and create physical, social and economic comfort for its residents. The purpose and benefit of this research is to design a Creative Inorganic Waste Recycling as an application of urban acupuncture which is expected to overcome the problem of environmental degradation in the Bantargebang area. So that the area that previously experienced environmental damage can become a well-organized area and provide comfort for users. Keywords: Ecological Architecture; Environmental Degradation; Inorganic Waste; Recycle Abstrak Sampah seharusnya mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Namun karena kurangnya pengertian masyarakat dan pemerintah maka masalah sampah ini menjadi terabaikan. Perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan dengan cara mengoptimalkan penanganan sampah sehingga dapat bermanfaat untuk perkonomian warga dan tidak merusak lingkungan di kota-kota di Indonesia. Proyek yang akan dirancang memiliki tujuan untuk mengatasi persoalan degradasi lingkungan Bantargebang sehingga menghasilkan kualitas lingkungan yang lebih baik. Arsitektur ekologis digunakan sebagai sebuah konsep perancangan yang menghargai pentingnya kelestarian ekosistem alam. Pendekatan dan konsep desain arsitektur ini sebagai penerapan urban akupunktur juga menjanjikan untuk menjaga alam dan ekosistem di dalamnya dari kerusakan yang lebih besar dan menciptakan kenyamanan fisik, sosial dan ekonomi bagi penghuninya. Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah merancang sebuah Kreatif Daur Ulang Sampah Anorganik sebagai penerapan urban akupunktur yang diharapkan dapat mengatasi persoalan degradasi lingkungan pada kawasan Bantargebang. Sehingga kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan lingkungan dapat menjadi kawasan yang tertata baik dan memberikan kenyamanan bagi pengguna.
OMNICHANNEL RETAILING PADA PERANCANGAN PUSAT HIBURAN BARU DI PAMULANG, TANGERANG SELATAN Rendy Reynaldi; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21645

Abstract

Continuous infrastructure and economic development cause land values in satellite cities to increase. This encourages stakeholders to re-examine whether the function of buildings on these potential lands is still relevant or has been abandoned. The same case occurred in the Pamulang Square area, Pamulang, South Tangerang. In the past, the trade center was successful and gained popularity among developers. However, now its prestige is fading after the shifting trend of retail consumers. Seeing this area that is almost dead makes this area suitable as a target for urban acupuncture. The idea is how to create a new 'shopping center' that could revive this area while providing benefits to all parties.The design process begins by finding out the history and development of shopping centers from time to time. The design method used is narrative architecture, where the project will describe the transition from a trade center to an entertainment center. In addition, film and collage methods are used to unite two contrasting entities. The result is an entertainment center that prioritizes the visitor experience to increase traffic to this area. The narrative in this project starts from the form of an adapted trade center to apply the latest technology, which is then continued with an outdoor gathering area with food and beverage stalls, as well as a retail area combined with interactive activities. Using an omnichannel retailing concept that combines technology and brick-mortar provides a new experience in response to a decline in shopping trips. It is hoped that by adopting these ideas, the area around Pamulang Square can revive and continue to provide benefits for traders and visitors. Keywords:  Narattion; Omnichannel; Retail; Trade Center; Urban Acupuncture Abstrak Pembangunan infrastruktur dan ekonomi yang lebih merata menyebabkan nilai lahan di kota satelit menjadi meningkat. Hal ini mendorong para pemegang kepentingan untuk melihat kembali, apakah fungsi bangunan di lahan-lahan potensial ini masih relevan atau sudah ditinggalkan. Kasus yang sama terjadi pada area Pamulang Square, Pamulang, Tangerang Selatan. Jika dahulu trade center berjaya, namun kini pamornya semakin meredup seiring bergesernya tren konsumen ritel. Melihat area ini yang sudah hampir mati, menjadikan area ini cocok menjadi target akupunktur kota. Gagasan yang disampaikan adalah bagaimana menciptakan ‘shopping center’ baru yang mampu menghidupkan kembali area ini sekaligus memberikan keuntungan kepada semua pihak. Perancangan dimulai dengan mencari tahu sejarah dan perkembangan pusat perbelanjaan dari masa ke masa. Metode perancangan yang digunakan adalah narasi, dimana proyek akan menjelaskan transisi dari trade center konvensional, menjadi sebuah entertainment center. Selain itu juga dengan metode film dan kolase untuk menyatukan 2 entitas yang kontras. Hasil yang didapatkan adalah pusat hiburan yang mengutamakan pengalaman pengunjung untuk meningkatkan arus ke area ini. Narasi dalam proyek ini dimulai dari bentuk trade center yang disesuaikan dengan menerapkan teknologi terbaru, yang kemudian dilanjutkan dengan area berkumpul outdoor dengan kios-kios makanan dan minuman, serta terdapat area ritel yang digabungkan dengan kegiatan-kegiatan interaktif. Menggunakan konsep omnichannel retailing yang menggabungkan antara teknologi dengan toko offline sehingga memberikan pengalaman maksimal sebagai respon atas menurunnya aktivitas berbelanja. Diharapkan dengan mengadopsi usulan-usulan tersebut, area sekitar Pamulang Square dapat hidup kembali dan tetap memberikan manfaat bagi pedagang maupun pengunjung.
KEMBALINYA PUSAT HIBURAN KEBUDAYAAN DI THR LOKASARI, JAKARTA BARAT Paramitha Mauina Hartanto; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21715

Abstract

The phenomenon of degradation does not only occur in humans, but can also occur in an area. Degradation both functionally and morally occurred in the Lokasari THR area, Taman Sari District, West Jakarta. The degradation that occurs is that the area that was once known as the center of cultural entertainment in Batavia is now inversely becoming an area that is rarely touched and contains nightlife so it is considered dangerous. The aim of the project is to deal with existing degradation by turning Lokasari back into a positive cultural entertainment area and providing a place for local people to gather. It is hoped that the project will also be useful as a city magnet, a place for recreation from daily activities, and again to experience the beautiful memories they once had in the Lokasari THR area. This research uses borrowed design methods to get space programs and typology design methods to get the shape of the mass composition. From the existing background, the Lok(Art-H)sari Cultural Center is now present and is intended to revive cultural elements in the Lokasari area. The project will be a place where people can also gather, interact, and have fun. The cultural center will bring back various programs that have become Lokasari's memories by including additions and adding a touch of modern adjustments to give an interesting impression. The memory of the culture that is very attached to the area is used as a "magnet" to revive the interaction of the community and make it an inclusive entertainment center so that it can be enjoyed by all groups of people. Keywords:  Area Degradation; Cultural Center; Lokasari; Recreaction Abstrak Fenomena degradasi tidak hanya terjadi pada manusia, namun juga dapat terjadi pada sebuah kawasan. Degradasi baik secara fungsi dan moral terjadi di Kawasan THR Lokasari, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Degradasi yang terjadi ialah kawasan yang dulunya dikenal sebagai pusat hiburan kebudayaan di Batavia, kini berbanding terbalik menjadi kawasan yang jarang terjamah dan berisi hiburan malam sehingga dianggap berbahaya. Tujuan dari proyek adalah untuk menghadapi degradasi yang ada dengan mengembalikan Lokasari menjadi kawasan hiburan kebudayaan yang positif dan menyediakan tempat bagi masyarakat sekitar untuk berkumpul. Diharapkan proyek juga bermanfaat sebagai magnet kota, tempat berekreasi dari aktivitas sehari-hari, dan kembali merasakan memori indah yang pernah mereka miliki pada kawasan THR Lokasari. Penelitian menggunakan metode desain meminjam untuk mendapatkan program ruang serta metode desain tipologi untuk mendapatkan bentuk dari gubahan massa. Berdasarkan latar belakang yang ada, Pusat Kebudayaan Lok(Art-H)sari kini hadir dan dimaksudkan untuk menghidupkan kembali unsur kebudayaan di kawasan Lokasari. Proyek akan menjadi tempat di mana masyarakat juga dapat berkumpul, berinteraksi, dan berekreasi. Pusat kebudayaan akan mengangkat kembali berbagai program yang pernah menjadi kenangan Lokasari dengan disertakan penambahan dan memasukkan sentuhan penyesuaian masa kini agar memberi kesan menarik. Kenangan akan budaya yang sangat melekat dengan kawasan digunakan sebagai “magnet” untuk menghidupkan interaksi para masyarakat dan menjadikan pusat hiburan yang inklusif sehingga dapat dinikmati oleh seluruh golongan masyarakat.
PERAN HUNIAN VERTIKAL DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN TERHADAP KUALITAS HIDUP DAN KESADARAN MASYARAKAT AKAN KURANGNYA PENGHIJAUAN Elvira Velda Hamdani; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22303

Abstract

Jakarta, as the capital and center of activity, faces a number of urban challenges, including a growing population, increased housing and employment needs, rising urban land prices, congestion, limited green open space, and environmental degradation. Since population growth is not proportional to the government's ability to meet housing needs, slum settlements have emerged. Good urban planning needs to be balanced with sustainable planning. One of the solutions that can be implemented is urban planning that optimizes land and cities that are accessible by pedestrians. Increasing the quality of settlements can improve the quality of life and the quality of the city itself. The method used in this study is a qualitative research method. Vertical housing is one of the solutions in dealing with the lack of land for settlements along with green space. Arrangement of slum settlements at appropriate points in urban areas is expected to significantly reduce the number of slums in a city. Furthermore, housing is a strategic location to begin educating people on healthy living. Keywords:  Green Open Space; Quality Of Life; Slums; Sustainable Architecture; Urban Planning; Vertical Occupancy Abstrak Jakarta, sebagai ibukota dan pusat kegiatan, memiliki beberapa isu perkotaan seperti peningkatan jumlah populasi penduduk, meningkatnya kebutuhan hunian dan lapangan pekerjaan, naiknya harga lahan perkotaan, kemacetan, ruang terbuka hijau yang terbatas, dan degradasi lingkungan. Tingginya pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan kemampuan pemerintah dalam menyediakan kebutuhan hunian, hal ini menyebabkan munculnya permukiman yang kumuh. Penataan kota yang baik perlu diseimbangkan dengan perencanaan yang berkelanjutan. Penataan perkotaan yang mengoptimalkan lahan dan kota yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan. Dengan meningkatnya kualitas permukiman dapat meningkatkan kualitas hidup dan kualitas dari kota itu sendiri. Metode yang digunakan pada penulisan ini ialah metode penulisan kualitatif. Hunian vertikal menjadi salah satu solusi dalam menangani kurangnya lahan bagi permukiman dan juga ruang hijau. Penataan permukiman kumuh pada titik-titik yang tepat di perkotaan diharapkan dapat mengurangi angka kekumuhan suatu kota dengan signifikan. Dan juga hunian merupakan tempat yang strategis untuk mulai menyadarkan masyarakat dalam hidup sehat.
PENYEDIAAN HUNIAN YANG LAYAK BAGI LANSIA SEBAGAI PELAYANAN MENGHADAPI AGEING POPULATION DI JAKARTA Hansen Leonardo; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22609

Abstract

Population growth in Indonesia is a concern to prevent population growth. The elderly community is targeted because the number of elderly people can bring Indonesia into the era of the Ageing Population. This study discusses solutions to deal with the increasing elderly population in the next few years by providing decent housing and improving the quality of life of the elderly. By using a qualitative method which is realized in the form of a design, it is hoped that it can be a solution to the existing problems. Of course, by not forgetting several factors that must be considered in maintaining and improving the quality of life of the elderly. Keywords: Elderly Population; population density; elderly; population growth; housing provision Abstrak Pertumbuhan penduduk di Indonesia menjadi perhatian untuk mencegah terjadinya lonjakan jumlah penduduk. Masyarakat lansia menjadi sasaran dikarenakan jumlah masyarakat lansia dapat membawa negara Indonesia memasuki era Ageing Population. Dalam penelitian ini membahas solusi untuk menghadapi pertambahan penduduk lansia dalam beberapa tahun kedepan dengan memberikan hunian yang layak serta meningkatkan kualitas hidup lansia. Dengan menggunakan metode kualitatif yang diwujudkan dalam bentuk desain diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Tentu saja dengan tidak melupakan beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup para masyarakat lansia.