Sidhi Wiguna Teh
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

RUANG EDUKASI ANAK-ANAK Denisa Sumardi Sumardi; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.17238

Abstract

The educational process of children cannot be separated from them need to play, education is a very important activity for children. Through learning, children will get to know the world around them. In Indonesia, the quality of education is still relatively low. In the HDI (Human Development index) survey, Indonesia is ranked 35 out of 57 countries. So the need for a new strategy to improve the quality of education, through programs, new learning methods. Adapting to the behavior and habits of children. Typological methods related to interactive and recreational spaces related to personal, social and public spaces that are prioritized for children. The result is a new education system with the management of open spaces, playrooms and interacting with children. By implementing interactive science, math, art learning programs for children. This research aims to offer a typology of comfortable educational places, taking into account the ergonomics of habits, children's behavior and new experiences for children. As well as analytical studies to develop the relationship between typology and architectural psychology. The children's education room must also provide comfort such as a playground but still maintain the function of an educational place itself Keywords:  Children; Education; Typology.AbstrakProses edukasi anak-anak tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhannya akan bermain, edukasi merupakan sebuah aktivitas yang kerusial untuk anak-anak. Melalui belajar, anak akan mengenal dunia sekitarnya. Di Indonesia kualitas Pendidikan masih tergolong rendah. Dalam survei HDI (Human Development index) Indonesia berada di peringkat 35 dari 57 negara. Sehingga perlunya strategi baru peningkatan kualitas edukasi, melalui program, metode balajar yang baru. Menyesuaikan dengan perilaku dan kebiasaan anak-anak. Metode tipologi terkait ruang interaktif dan rekreatif terkait ruang personal, sosial dan publik yang di utamakan untuk anak-anak. Hasilnya adalah system edukasi yang baru dengan pengelolaan ruang terbuka, ruang bermain dan berinterasi anak-anak. Dengan menerapkan program pembelajaran sains, matematika, seni yang interaktif kepada anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan tipologi tempat edukasi yang nyaman, dengan memperhatikan ergonomi kebiasaan, tingkah laku anak-anak dan pengalaman baru untuk anak-anak. Serta studi analisis untuk mengembangkan relasi antara tipologi dengan psikologi arsitektur. Ruang edukasi anak-anak juga harus memberikan kenyamanan seperti taman bermain tetapi tetap mempertahankan fungsi dari sebuah tempat edukasi itu sendiri.
PAVILIUN KEBUDAYAAN BETAWI Felicia Setiawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6767

Abstract

Most people are trapped by their monotonous activities, they tend to look for more practical entertainment through smart phones, the internet or television. That might  reduce  the real meaning of social interaction. The existence of public space itself is one of many factors that encourgage people to do social interaction. Therefore, as what the author has read in  a literature study, that third place able to be one of the bridges of social interaction. Third Place provides a catalyst space between home and work, making the third place a comfortable haven. Third Place is not a place of work or home, but a place to relax that can allow you to have a open community life. The selection of a cultural center as a third place because the cultural center can pour various expressions of human needs, dreams and desires. In addition, the location of the site is next to Taman Ismail Marzuki. Seeing that there are several programs that cannot be accommodated by Taman Ismail Marzuki and the need to reintroduce Betawi cultural values that are starting to fade in the present,  encouragge us to create programs that can support this. The design method used by this project is the dis-programming method, a program that is mutually contaminating with other programs, The location is close to the education center and cultural the center which drives both programs to support one another, here the writer combines programs in the cultural center with educational programs such as dance studios, music studios and libraries. AbstrakSebagian besar masyarakat terjebak dengan aktivitas mereka yang monoton, mereka cenderung mencari hiburan yang lebih praktis melalui ponsel pintar, internet atau televisi. Hal tersebut mengurangi esensi dari interaksi sosial yang seharusnya dilakukan. Keberadaan ruang publik sendiri merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong terjadinya interaksi sosial. Oleh karena itu penulis melakukan studi literatur, berdasarkan hasil studi penulis dapat menyimpulan bahwa third place dapat menjadi salah satu jembatan interaksi sosial. Third Place menyediakan ruang katalis antara rumah dan tempat kerja, menjadikan third place sebagai tempat singgah yang nyaman. Third Place bukanlah tempat kerja ataupun rumah, melainkan tempat bersantai yang dapat memungkinkan kehidupan komunitas yang terbuka. Pemilihan pusat kebudayaan sebagai third place dikarenakan pusat budaya dapat menuangkan berbagai ekspresi kebutuhan manusia, mimpi dan keinginan. Selain itu, lokasi tapak berada disebelah Taman Ismail Marzuki. Melihat ada beberapa program yang belum dapat diakomodir oleh Taman Ismail Marzuki dan perlunya pengenalan kembali akan nilai-nilai budaya betawi yang mulai pudar di zaman sekarang, mendorongnya diciptakan program – program yang dapat mendukung hal tersebut. Metode perancangan yang digunakan proyek ini adalah metode dis-programming, program yang sifatnya saling mengkontaminasi dengan program lainnya. Letak tapak yang dekat dengan pusat pendidikan dan pusat kebudayaan mendorong terjadinya program yang saling mendukung satu sama lain, disini penulis menggabungkan program yang ada di pusat kebudayaan dengan program pendidikan seperti studio tari, studio musik dan perpustakaan.
PENERAPAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN BELAJAR YANG IDEAL PADA TEMPAT BELAJAR BIO-TEK KEBON JERUK Nicholas Denny Dharmawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10872

Abstract

The world is currently faced with an era of technological disruption in the 4.0 industrial revolution which is marked by the emergence of Big Data, Artificial Intelligence, industrial autonomization, IoT, and others. Those things bring benefits and problems that must be overcome. The impact of this innovation can be felt by all groups, not only adults, rich people, entrepreneurs, people expert in technology, teenagers, and even children today. Humans need to adapt and mitigate these changes in order to survive in this condition, one of which is through education. The world of education needs to shift the education system because currently the condition of education, especially schools, is still using learning methods like the 2.0 era so that is is not suitable in this 4.0 era. The education strategy to face the era of the industrial revolution 4.0 is to immediately increase the capabilities and skills of human resources, equipped with invisible abilities, such as personal skills, global thinking, digital literacy, critical thinking, problem solving, communication, collaboration and. Advancement of information technology-based education will answer the challenges of industry 4.0. Kebon Jeruk Bio-Tech Learning space is a place for learning that is more flexible and suitable for building student character and creativity. Room quality, configuration and facilities must be adapted to the us of technology that is currently increasing. There is also need of special guidance from the community in responding to the increasing popularity of technology  in this era of disruption, increase the closeness between general citizens in anticipating the negative effects of technology. Keywords:  dwell; education ; industrial revolution 4.0 ; learning space    AbstrakDunia saat ini tengah dihadapkan dengane era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan munculnya Big Data, Aritificial Intelligence, otonomisasi industri, IoT, dan lain-lain. Hal tersebut membawa segala kemajuan dan masalah yang harus dilalui. Dampak kecanggihan ini dapat dirasakan semua kalangan, bukan hanya orang dewasa, orang kaya, pengusaha, orang-orang ahli bidang teknologi, remaja bahkan anak-anak saat ini. Manusia perlu beradaptasi dan mitigasi di tengah perubahan ini agar tetap dapat dwell di kondisi ini, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan perlu menggeser sistem pendidikannya karena saat ini kondisi pendidikan khususnya sekolah masih menggunakan metode belajar seperti era 2.0 sehingga dirasa kurang sesuai di era 4.0 ini. Strategi pendidikan menghadapi era revolusi industri 4.0 adalah segera meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dilengkapi dengan kemampuan tak kasat mata, seperti keterampilan interpersonal, berpikir global, literasi digital, berpikir kritis, pemecahan masalah, kemampuan berkomunikasi, kolaborasi dan kreativitas. Kemajuan pendidikan berbasis teknologi informasi akan menjawab tantangan industri 4.0. Kebon Jeruk Bio-Tech Learning space merupakan tempat belajar yang dirancang dengan metode linkungan belajar yang ideal, ruang sebagai guru ke-3, neuroarsitektur, dan biofilik desain dimana menghasilkan ruangan  lebih fleksibel, kolaboratif dan sesuai untuk membangun karakter dan kreativitas para murid. Kualitas ruang, konfigurasi ruang, dan fasilitas juga disesuaikan dengan penggunaan teknologi yang akan semakin berkembang.  Perlu juga adanya bimbingan khusus dari masyarakat dalam menyikapi semakin maraknya teknologi di era disrupsi ini, meningkatkan kedekatan antar warga umum dalam mengantisipasi dampak buruk teknologi.
RUANG PERANTARA MANUSIA DENGAN HEWAN Jennifer Chandra; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4484

Abstract

Millennials are currently facing the 6th stage of Psychosocial Crisis which revolves around the nature of relationships. Success in going through this phase will lead them to love and intimacy, while failure will result in isolation and in some cases might lead to depression and other mental health problems. Animal Assisted Therapy has been proven to be effective in the correction of an individual’s relationship orientiation. A space is needed to accommodate these programs and activities in which humans and animals are concerned. This journal will be discussing the design of the previously mentioned required space. Discussion will include analysis and syntesis of the datas collected, and also the final design output. Abstrak Milenial sedang menghadapi krisis psikososial ke-6 yang berkaitan dengan hubungan relasi dengan pihak-pihak lain. Keberhasilan dalam melewati tahap ini akan membentuk sebuah individu yang mengenal cinta dan bahagia, kegagalan dalam melewati tahap ini adalah isolasi yang dapat menjurus kearah masalah mental seperti depresi. Terapi hewan telah dibuktikan dapat membantu untuk memperbaiki hubungan manusia dan juga memberikan dampak yang sangat baik pada sifat dari hubungan tersebut. Sebuah wadah dibutuhkan untuk mewadahi kegiatan tersebut. Artikel ilmiah ini akan membahas mengenai perancangan sebagai wadah kegiatan. Pembahasan akan meliputi analisis dan sintesis dari data-data yang telah dikumpulkan, dan output perancangan.
PENERAPAN TEORI SUPERIMPOSITION METHODS BERNARD TSCHUMI PADA PENGOLAHAN SAMPAH DAN SARANA EDUKASINYA Adriel Gandhi; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12428

Abstract

Indonesia is the largest waste-producing country in the world after China, this affects marine ecosystems and the human environment itself. Jakarta is one of the largest contributors of waste, therefore efforts are needed to overcome this waste problem which can be started from an area, namely North Jakarta. North Jakarta is the estuary of 13 rivers in Jakarta which makes this area one of the largest waste producers in Jakarta. The waste processing facility in North Jakarta is a facility that introduces the waste processing process in Jakarta with an environmental perspective to the public. This facility is located in the Penjaringan sub-district, where in this area a waste processing site will be built to overcome the surrounding waste problem and is expected to be used by residents as a means of education. This facility can be a tourist destination for the community in recognizing the types, processes and results of waste processing. This facility will also introduce the impact and information about waste and the community can be directly involved in the waste processing process. In addition, this facility is equipped with supporting facilities, namely an exhibition area and a souvenir shop. The architectural design approach uses Bernard Tschumi's superimposition methods which were chosen with the aim of overcoming design problems. This project is expected to be able to overcome the waste problem that exists in Indonesia and remove the name of Indonesia from the list of the largest waste producers in the world starting from an area, namely North Jakarta. Keywords: education; garbage; Indonesia;  Jakarta; Waste processing Abstrak Indonesia merupakan negara penghasil sampah terbanyak di dunia setelah Cina, hal ini mempengaruhi ekosistem laut dan lingkungan hidup manusia itu sendiri. Jakarta merupakan salah satu penyumbang sampah terbanyak, oleh karena itu dibutuhkan upaya untuk mengatasi masalah sampah ini yang dapat dimulai dari suatu daerah yaitu Jakarta Utara. Jakarta Utara merupakan muara dari 13 sungai di Jakarta yang menjadikan daerah ini salah satu penghasil sampah terbanyak di Jakarta. Fasilitas pengolahan sampah di Jakarta Utara merupakan fasilitas yang memperkenalkan proses pengolahan sampah di Jakarta dengan berwawasan lingkungan kepada masyarakat. Fasilitas ini terletak di kawasan Kecamatan Penjaringan, dimana pada kawasan ini akan dibangun tempat pengolahan sampah untuk mengatasi permasalahan sampah sekitar dan diharapkan dapat digunakan warga sebagai sarana edukasi. Fasilitas ini dapat menjadi tujuan wisata bagi masyarakat dalam mengenal jenis-jenis, proses dan hasil pengolahan sampah. Fasilitas ini juga akan mengenalkan dampak dan informasi tentang sampah serta masyarakat dapat terjun langsung dalam proses pengolahan sampah. Selain itu, fasilitas ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung, yaitu area eksibisi dan toko souvenir. Pendekatan perancangan arsitektur menggunakan superimposition methods Bernard Tschumi yang dipilih dengan tujuan untuk mengatasi masalah perancangan. Proyek ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah yang ada di Indonesia dan menghapus nama Indonesia dari daftar penghasil sampah terbanyak di dunia yang dimulai dari suatu daerah yaitu Jakarta Utara. 
WADAH AKTIVITAS KRE-AKTIF Melissa Melissa; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6751

Abstract

Living and growing up in urban areas with various pressures, both from home or work/school, makes people have a higher stress level. Urban people need a space in between home (first place) and a place of work / study (second place), namely the third place. Third place is important for the people because it is a place where they can be themselves, freely channel their talents and interests, as well as socializing and maintaining fitness in the midst of the busy city. Therefore, a need rises for an architectural manifestation in the form of a third place with a creative hub to channel ideas, creativity, talents, and interests and active space to maintain fitness, socialize, and build community. Alam Sutera is a developing city that has a beautiful atmosphere and integrated transportation system so that it can support a healthy walking lifestyle. In addition, Alam Sutera is also home to various types of communities, ranging from student activity units to car lovers communities. The location of the site which is located in Alam Sutera and close to universities, offices, and residential areas makes the Cre-Active Social Hub a strategic third place and able to accommodate various needs of the third activities of the Alam Sutera community and its surroundings. Cre-Active Social Hub is designed to be a place for sustainable community development, a place in between for the people of Alam Sutera, and to make the environment mood more lively and pleasant. AbstrakTinggal dan besar di daerah perkotaan dengan berbagai tekanan, baik dari rumah maupun tempat kerja atau sekolah, membuat masyarakat memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Masyarakat kota membutuhkan ruang antara tempat tinggal (first place) dan tempat kerja/ belajar (second place) yaitu third place. Third place penting bagi masyarakat kota untuk menjadi tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bebas menyalurkan bakat dan minat, sekaligus bersosialisasi dan menjaga kebugaran di tengah sibuknya kota. Oleh karena itu, muncul kebutuhan akan sebuah perwujudan arsitektur berupa third place dengan creative hub untuk menyalurkan ide, kreativitas, bakat, dan minat serta active space untuk menjaga kebugaran, bersosialisasi, dan membangun komunitas. Alam Sutera merupakan sebuah kota berkembang yang memiliki suasana asri dan sistem transportasi terintegrasi sehingga dapat mendukung pola hidup berjalan kaki yang sehat. Selain itu, Alam Sutera juga merupakan rumah untuk berbagai jenis komunitas, mulai dari unit kegiatan mahasiswa hingga komunitas pecinta mobil. Lokasi tapak yang berada di Alam Sutera dan dekat dengan universitas, kantor, dan hunian membuat Wadah Aktivitas Kre-Aktif menjadi sebuah third place yang strategis dan dapat mewadahi berbagai kebutuhan third activities masyarakat Alam Sutera dan sekitarnya. Wadah Aktivitas Kre-Aktif dirancang untuk menjadi wadah bagi pembangunan komunitas yang berkelanjutan, menjadi tempat antara bagi masyarakat Alam Sutera, serta membuat suasana semakin hidup dan menyenangkan.
TIPOLOGI BARU PASAR TRADISIONAL SERPONG Nadhifa Aurelia Prawira; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16924

Abstract

Serpong E-Peken Project: A New Form of Serpong Traditional Market is based on the problems that arise and affect most of the traditional markets in Indonesia. Traditional markets are often considered slum and unfit, especially for the upper middle class, this makes the market undeveloped due to its inability to compete with the emergence of modern markets. Though this problem should not happen because every market has its own characteristics. The construction of this project is based on a conceptual method, which in its development takes into account many factors, both external and internal. In addition, this project also combines several other functions outside of its main function, such as a food court area, a sitting area as well as a communal area, and a recreation area to keep activities in the market alive. By using this method, it is hoped that this project will be able to carry out its main function as a traditional market and also be able to increase its competitiveness. This new form of traditional market is also expected to increase public interest in traditional markets and can be used as an example in the development of other traditional markets in the future. Keywords:  Market Revitalization; Rethinking Typology; Traditional Market.  AbstrakProyek E-Peken Serpong: Wujud Baru Pasar Tradisional Serpong diangkat dari permasalahan yang muncul dan menimpa sebagian besar pasar tradisional yang ada di Indonesia. Pasar tradisional kerap dinilai kumuh dan tidak layak khususnya bagi masyarakat kelas menengah atas, hal ini membuat pasar tidak berkembang karena ketidakmampuannya untuk bersaing dengan bermunculannya pasar - pasar modern. Hal ini tidak seharusnya terjadi sebab setiap pasar memiliki karakteristik yang berbeda. Pembangunan proyek ini berbasis metode konseptual, dimana dalam pembangunannya memperhatikan banyak faktor baik eksternal maupun internal. Selain itu, proyek ini juga menggabungkan beberapa fungsi lain di luar fungsi utamanya, seperti area food court, area duduk sekaligus area komunal, dan area rekreasi agar aktivitas di dalam pasar tetap hidup. Dengan menggunakan metode tersebut diharapkan proyek ini akan mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai pasar tradisional dan juga mampu meningkatkan daya saingnya. Wujud baru pasar tradisional ini juga diharapkan akan meningkatkan minat masyarakat akan pasar tradisional dan bisa dijadikan contoh dalam pengembangan pasar tradisional lainnya di kemudian hari. 
PISANGAN NUANSA RETRO Hendi Setiawan; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8593

Abstract

Urban society is a modern society that has daily mobility and high routines and activities. This daily life then guides the city community with an all-practical lifestyle. The lifestyle demands of the urban community often demand to face a job and activity that takes up so much time that it often makes people forget about other needs including rest. This study aims to address the needs of the community, especially the East Pisangan community which is one of the areas in Pulo Gadung sub- district dominated by housing, land allotment used for housing / housing that is equal to 89.63% and the rest is used for roads, green lanes / parks , and lakes, this problem is then exacerbated by the eviction of the flea market which is the center of community gathering, then with a minimal amount of land which is then earmarked for open space and space to gather, through the role of architecture it is hoped that it can create a commercial space in the form of a flea market which is a place rest and communicate between residents so that people can have space to interact comfortably with each other. In this research the methods used are: first, conducting studies and observations; secondly, studying and reviewing the needs of the surrounding community and the need to relieve boredom and rest in the midst of a dense activity; third, compile the program in accordance with the results of the survey, observation and answer the community's needs so that the project objectives will be achieved.Keywords: Architecture; Needs; Rest; SocietyAbstrakMasyarakat kota merupakan masyarakat modern yang memiliki keseharian dengan mobilitas serta berbagai rutinitas dan aktivitas yang tinggi. Keseharian ini kemudian menuntun masyarakat kota dengan gaya hidup serba praktis. Tuntutan gaya hidup masyarakat kota sering sekali menuntut untuk menghadapi suatu pekerjaan dan kegiatan yang begitu menyita waktu sehingga sering sekali membuat masyarakat lupa akan kebutuhan lainnya termasuk istirahat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat , terutama masyarakat Pisangan Timur yang merupakan salah satu daerah di kecamatan Pulo Gadung yang di dominasi oleh perumahan, peruntukan lahan yang dipergunakan untuk pemukiman/perumahan yaitu sebesar 89.63% dan sisanya dipergunakan untuk jalan, jalur hijau/taman, dan danau, masalah ini kemudian diperburuk dengan adanya penggusuran pasar loak yang merupakan pusat berkumpulnya masyarakat, kemudian dengan minimnya jumlah lahan yang kemudian di peruntukan untuk ruang terbuka dan ruang untuk berkumpul, melalui peran arsitektur diharapakan dapat menciptakan ruang komersial berupa pasar loak yang menjadi tempat beristirahat dan berkomunikasi antar penghuni sehingga masyarakat dapat memiliki ruang untuk saling berinteraksi dengan nyaman. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah pertama, melakukan studi dan observasi; kedua, mempelajari dan meninjau kebutuhan dari masyarakat sekitar serta kebutuhan untuk melepas kejenuhan dan beristirhat ditengah aktivitas yang padat; ketiga, menyusun program sesuai dengan hasil survei, observasi serta menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek akan tercapai.
SOCIO-ECOLOGY HOUSING : KAMPUNG VERTIKAL SEBAGAI RUMAH SUSUN DI PERMUKIMAN KUMUH MUARA BARU Owen Sebastian; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12454

Abstract

The urbanization of people towards the city center in search of employment and a better life was one of the initial factors that led to the emergence of slum areas in urban areas. Communities who come lack in preparing skills / knowledge so that their economic situation is not able to have a place to live in urban areas. Housing which is one of the urgent basic needs of people who are less able to build simple housing without the provision of adequate facilities and utilities, thus giving rise to slum settlements. The Muara Baru area is one of the slum areas located in Penjaringan Village, North Jakarta. Slum areas that are not well organized have a negative effect on the environment where the slums are located.. This vertical village is one solution to improve the quality of human life by organizing slum settlements. This vertical village design aims to answer the ecological problems caused by slum settlements, especially in the Muara Baru area. So, with the aim of improving the quality of life of residents and restoring good environmental quality, through daily concepts and ecological principles, this Vertical Village is present as a recovery space. Optimizing natural elements, involving the daily activities of residents in slums, and implementing efficient and beneficial space programs for residents and nature are expected to restore the social ecology and environment of slums. Keywords: localities; Muara Baru; slums;  vertical villagesAbstrakUrbanisasi masyarakat menuju pusat kota untuk mencari lahan pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak menjadi salah satu faktor awal memunculkan area kumuh di perkotaan. Masyarakat yang datang kurang dalam mempersiapkan keahlian / ilmu pengetahuan sehingga keadaan ekonomi mereka tidak mampu memiliki tempat tinggal yang ada di perkotaan. Tempat tinggal yang merupakan salah satu kebutuhan pokok, mendesak masyarak yang kurang mampu mendirikan tempat tinggal sederhana tanpa penyediaan fasilitas dan utilitas yang memadai, sehingga memunculkan permukiman kumuh. Daerah Muara Baru merupakan salah satu daerah kumuh yang terletak di Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Daerah kumuh yang tidak tertata dengan baik ini memberikan efek negatif bagi lingkungan dimana daerah kumuh itu berada. Kampung vertikal ini merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dengan menata permukiman kumuh. Desain kampung vertikal ini bertujuan untuk menjawab masalah ekologi yang ditimbulkan oleh permukiman kumuh terutama di daerah Muara Baru. Maka, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup warga dan mengembalikan kualitas lingkungan yang baik, melalui konsep keseharian dan prinsip ekologi, Kampung Vertikal ini hadir sebagai ruang pemulihan. Mengoptimalkan unsur alam, melibatkan aktivitas sehari-hari warga di permukiman kumuh, dan penerapan program ruang yang efisien dan bermanfaat untuk penghuni dan alam diharapkan dapat memulihkan kembali ekologi sosial dan lingkungan permukiman kumuh.
KOMUNITAS UNTUK ALAM: INOVASI LIMBAH AMPAS KOPI DAN EKSTRIM GYM Vanessa Natanael; Sidhi Wiguna Teh
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4359

Abstract

The need for employment among the milenial generation is increasing, along with the age of milenials who are in the productive age stage. Not only that changes in the characteristics of the milenial generation are faster to enjoy and love coffee. Not only the needs of the milenial generation, but the principle of sustainable development is a consideration. The project aims as a means to open up business opportunities and foster intimacy especially for coffee lovers and nature lovers who are united through the movement "Forests That Indonesia" (HII). Where the businesses formed make waste coffee waste (basic material), a form of sustainable development effort. The method used is descriptive, direct observation in the field and analysis of data - data to determine the space requirements to obtain the relationship of space and circulation in the site. The concept used is Contrast - Harmonious, the union between office typology (the depiction of innovative coffee grounds waste) and the gym (extreme depiction of the gym). The form that is displayed through a combination of massing (rigid) with curves (dynamic). Artificial application can feel the nature in an indirect manner, being in a coffee plantation is artificial through its aroma (sense of smell) visually with greening (sense of sight). AbstrakKebutuhan akan lapangan kerja dikalangan generasi milenial kian meningkat, seiring dengan usia generasi millenial yang berada pada tahap usia produktif. Tak hanya itu perubahan karakteristik generasi millenial yang lebih cepat untuk menikmati dan mencintai kopi. Tak hanya kebutuhan generasi milenial, melainkan prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi pertimbangan. Proyek ini bertujuan sebagai sarana untuk membuka lapangan usaha dan membina keakraban khususnya bagi pecinta kopi dan pecinta alam yang dipersatukan melalui gerakan “Hutan Itu Indonesia” (HII). Dimana usaha yang terbentuk memperdayakan limbah ampas kopi (bahan dasar) menjadi wujud usaha pembangunan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah deksriptif, dilakukan pengamatan langsung di lapangan dan analisis data – data untuk menentukan kebutuhan ruang hingga didapatkan hubungan ruang serta sirkulasi di dalam tapak. Konsep yang digunakan adalah Kontras - Harmonis, penyatuan antara tipologi kantor (pengambaran inovasi limbah ampas kopi) dan gym (pengambaran ekstrim gym). Wujud yang tampilkan melalui perpaduan massing kotak (kaku) dengan lengkung (dinamis). Penerapan secara artifisial dapat merasakan alam secara tidak langsung, berada di kebun kopi diartifisialkan melalui aromanya (indera penciuman) secara penglihatan dengan penghijauan (indera penglihatan).