Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KHILAFIYAH DALAM IBADAH PADA MASYARAKAT GUNUANG OMEH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Vito Dasrianto; Hamda Sulfinadia
Jurnal AL-AHKAM Vol 11, No 2 (2020)
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/alahkam.v11i2.2170

Abstract

Khilafiyah that occurred in Gunuang Omeh because people worshiped to maintain what had  been  practiced  and  left  behind  by  previous  parents  or  scholars.  A review of  the  results  of this study shows that in general, people worship. First, people who are thick with their stance or  understanding,  while  still  practicing  what  they  have  learned  from  previous  scholars, teachers  and  parents.  Second,  people  who  cannot  accept  differences  in  worship  so  that  they establish a place of worship to worship according to the practice they believe is carried out by the elderly who are still on their stance that their practice is the most correct or in worshiping an opinion they believe in. the truth is and the people who worship are willing to accept openly the acts of worship of others who are not the same as their practice of the younger generation. Third,  khilafiyyah  in  Gunuang  Omeh  District  is  not  a  new  thing,  this  is  commonplace  but  the scholars  try  to  unite  and  provide  an  explanation  of  khilafiyah  in  worshiping  the  community even  though  there  are  still  scholars  who  remain  strong  with  their  daily  practices  or  imitate what  has  been  passed on  by their  predecessors.  Fourth,  trying not  to  question the problem of khilâfiyah  and  not  showing  khilâfiyah  in  the  community  even  though  this  kind  of  thinking  is difficult  to  put together  in  the  same  concept  among  Niniak  Mamak  in  Gunang  Omeh  District. Because  this  Niniak  Mamak  has  a  clan  or  leader  of  their  people  who  they  have  to  unite  and provide an explanation for worshiping which they have disputed so far, but in practice Niniak Mamak is also involved in the khilafiyah sphere even though the majority of Niniak Mamak are ulama and community leaders who heard and became a role model by the people in Gunuang Omeh. Key words: Khilafiyah in Worship and Gunuang omeh society
TEORI MAQASHID AL-SYARI’AH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM HUKUM ISLAM Vito Dasrianto
Juris Sinergi Journal Vol. 1 No. 2 (2024): JSJ-September
Publisher : PT. Sinergi Legal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini menjelaskan dan berbicara tentang maqashid al-syari'ah dan implementasinya dalam hukum Islam yang merupakan hal penting dalam suatu pembahasan serta dalam penerapan hukum Islam dan tidak luput dari pandangan para ulama serta pakar hukum Islam. Sebagian ulama menempatkan maqashid syari’ah dalam bahasan ushul fiqh, dan ulama lain menjelaskan lebih terperinci sebagai materi tersendiri dan diperluas dalam filsafat hukum Islam. Jenis penelitian ini merupakan (Library Reseach) yang mengandalkan data- data dari perpustakaan mengenai berbagai macam regulasi yang tertera dalam literatur sumber hukum Islam dan yang tertera dalam aturan dalam hukum Islam tersebut sampai saat ini. Apabila dianalisis semua perintah dan larangan Allah dalam Al-Qur'an, begitu pula perintah dan larangan nabi Muhammad saw dalam sunnah yang terumuskan dalam fiqh, akan nampak bahwa semuanya memiliki tujuan tertentu dan tidak ada yang sia-sia. Semuanya memiliki hikmah yang mendalam dan lebih jelas terlihat, bahwa maqashid al-syari'ah merupakan aspek penting dalam pengembangan sekaligus penerapan hukum Islam. Ini sekaligus sebagai jawaban bahwa hukum Islam itu dapat dan bahkan sangat mungkin beradaptasi dengan perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Adaptasi yang dilakukan tetap berpijak pada landasan-landasan yang kuat dan kokoh serta masih berada pada ruang lingkup syari'ah yang bersifat universal. Ini juga sebagai salah satu bukti bahwa Islam itu selalu sesuai untuk setiap zaman dan pada setiap tempat dan teori maqasid al-syari’ah sebagai tempat kemaslahatan dalam segala hal dengan memakai daruriyyat, hajiyyat dan tahsiniyyat.
Analisis Penghapusan Khitan Bagi Perempuan Dalam Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 Menurut Pandangan Hukum Islam Elva Mahmudi; Vito Dasrianto; Dede Hafirman Said
QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies Vol. 4 No. 1 (2025): QANUN: Journal of Islamic Laws and Studies
Publisher : ASIAN PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58738/qanun.v4i1.877

Abstract

Khitan perempuan adalah tindakan memotong atau mengurangi sedikit kulit pada bagian paling atas alat kelamin perempuan, umumnya pada preputium klitoris (kulit penutup klitoris. Penelitiannya adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data memakai studi dokumentasi dengan analisis data induktif dan deduktif. Hasil penelitiannya: PP No. 28 Tahun 2024 adalah tonggak penting dalam perlindungan kesehatan reproduksi dan hak anak di Indonesia. Dengan pelarangan khitan perempuan secara eksplisit, pemerintah menegaskan bahwa praktik ini tidak lagi dapat dibenarkan dari sisi medis, agama, maupun budaya, dan seluruh upaya diarahkan pada edukasi serta perlindungan anak perempuan dari risiko dan bahaya. Secara umum, kebijakan penghapusan khitan perempuan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak yang peduli pada kesehatan dan hak perempuan, namun masih menghadapi tantangan kuat dari tradisi dan pemahaman agama yang keliru di masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi, edukasi, dan pendekatan budaya yang melibatkan tokoh adat dan agama sangat krusial untuk keberhasilan implementasi kebijakan ini.  PP No. 28 Tahun 2024 tentang penghapusan khitan perempuan secara prinsip hukum Islam dapat diterima karena: 1) Tidak ada kewajiban syariat yang kuat untuk khitan perempuan. 2) Praktik tersebut berpotensi membahayakan dan merusak tubuh, yang dilarang dalam Islam. 3) Regulasi ini sejalan dengan maqasid syariah dalam menjaga kesehatan dan kemaslahatan umat. Namun, keberhasilan implementasi kebijakan ini membutuhkan pendekatan edukasi yang sensitif terhadap nilai-nilai agama dan budaya masyarakat agar penghapusan praktik sunat perempuan dapat diterima secara luas tanpa menimbulkan konflik sosial.
Religious Practices of the Batubara Community Through Local Wisdom Traditions: Perspectives from Surah Al-Baqarah 165 Said, Dede Hafirman; Vito Dasrianto; Elva Mahmudi
Medina-te : Jurnal Studi Islam Vol 21 No 2 (2025): Medina-Te: Jurnal Studi Islam
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/medinate.v21i2.28376

Abstract

This study aims to generate theoretical ideas about religious practices within the tradition of local wisdom. The fact that the Malay Batubara community continues to perform a healing ritual known as ubat-ubat serves as the foundation of this research. In addition to Islam, elements of Hinduism and Buddhism can also be found in these healing rituals, reflecting a form of religious syncretism. The purpose of this study is to explain why the community continues to practice this ritual from the perspective of Surah Al-Baqarah, Verse 165. A qualitative method involving observation and interviews was used to collect data. The findings indicate that the Malay Batubara community performs the ubat-ubat ritual to avoid misfortune and express gratitude to the Creator, who has provided sustenance to His servants through objects and nature. Whether conducted individually or collectively, this ritual reflects the love for Allah, as stated in Surah Al-Baqarah, Verse 165, which serves as the foundation for strengthening the devotion of believers. The author hopes that this religious tradition does not become mystical or negatively impact the community in the future, whether in terms of education, economy, or religion, despite this ceremony being held annually.