Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT ASMA PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS TANAH GOYANG KEC.HUAMUAL KAB.SERAM BAGIAN Lukman La Bassy; Epi Dusra; Rosnia Rosnia
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 7 (2017): Nomor Khusus Hari Kesehatan Nasional
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.497 KB)

Abstract

Asma merupakan penyakit heterogen yang biasanya ditandai oleh peradangankronik pada saluran napas dengan riwayat gejala pernapasan seperti mengi, sesak napas, danbatuk yang dapat terjadi pada semua kelompok usia.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit asma pada pasien rawat jalan di puskesmas tanah goyang kecamatan huamual kabupaten seram bagaian barat.desain penelitian yang di gunakan adalah survey crossectional.berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kategori Genetik yag ada yaitu sebanyak 7 orang (25,9%),dengan uji person chi-square di mana df:1,nilai kemaknaan a =0,005 diperoleh nilai p=0,001 dan faktor Lingkungan yang buruk sebanyak 20 orang (74,1%), dengan uji person chi-square di mana df:1,nilai kemaknaan a =0,005 diperoleh nilai p=0,011 maka.dapat di tarik kesimpulan H0 ditolak dan H1 diterimah yang artinya ada hubungan bermakna antara penyakit asma dengan lingkungan di puskesmas tanah goyan kec.huamual.kab.seram bagian barat Kata kunci: Penyekit Asma, Lingkungan, Genetik
Penyuluhan Mengenai Penyakit-Penyakit Yang Dapat Menyerang Sistem Imun Di Desa Seiht Lukman La Bassy
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2021): November: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v1i3.1413

Abstract

Sistem imun bekerja untuk melindungi tubuh dari infeksi oleh mikroorganisme, membantu proses penyembuhan dalam tubuh, dan membuang atau memperbaiki sel yang rusak apabila terjadi infeksi atau cedera, Pada individu normal sebagian besar infeksi berlangsung dalam jangka waktu terbatas dan menyebabkan sedikit sekali kerusakan permanen karena sistem immun melawan agen infeksi dengan mengendalikan atau menghancurkanny. Sistem imun adalah sistem pertahanan tubuh yang terdiri dari sel atau gabungan sel, molekul-molekul, dan atau jaringan yang berperan dalam penolakan mikroorganisme penyebab infeksi. Sistem imun berguna sebagai perlindungan terhadap infeksi molekul lain seperti virus, bakteri, protozoa dan parasite. Kondisi stres dan pola hidup modern serta polusi, diet tidak seimbang dan kelelahan menurunkan daya tahan tubuh sehingga menurunkan kecukupan antibodi. Gejala menurunnya daya tahan tubuh seringkali terabaikan sehingga timbul berbagai penyakit infeksi, penuaan dini pada usia dini. Gangguan atau penyakit pada sistem imun dapat berupa imunodefisiensi, penyakit autoimun , penyakit inflamasi, dan kanker. Imunodefisiensi dapat terjadi ketika sistem imun kurang aktif sehingga dapat menimbulkan infeksi berulang dan dapat mengancam jiwa. Pada manusia, imunodefisiensi dapat disebabkan karena faktor genetik seperti pada penyakit defisiensi imunitas kombinasi serta kondisi dapatan seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. crosssectional, menggunakan instrumen berupa kuesioner. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan pelaksanaan pretest, edukasi, dan posttest.. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengetahuan awal peserta yang rendah terlihat dari pre test yang dilakukan dan terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah dilakukan edukasi post test . Berdasarkan hasil dari Pengabdian masyarakat ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi dan penyuluhan tentang penyakit- penyakit yang dapat menyerang sisten imun dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat di Desa Seiht, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Cacing Laut (PerinereisAlbuhitensis) Dari Desa Negeri Kabauw Kec. Pulau Haruku Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Lukman La Bassy; Amelia Niwelle; Sri Astuti Ripamole
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 2 (2022): JULI : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v2i2.1151

Abstract

Cacing laut (Perinereis albuhitensis) sangat berpotensi sebagai bahan obat antibakteri, antifungi baru karena memeliki kandungan metabolit sekunder yaitu : Saponin dan Flavanoid, terpenoid, alkalaod tanin yang bekerja sebagai anti bakteri dan antifungi. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengidentifikasi daya hambat antibakteri ekstrak cacing laut (Perinereis albuhitensis) yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% terhadappertumbuhan bakteri Staphylococcua aureus Pengujian aktivitas antibakteri ini menggunakan metode difusi agar dengan menggunakan beberapa konsentrasi 1,5%, 10%, 20%, dan 30%. Kontrol positif menggunakan Amoxicillin dan kontrol negatif yaitu aquadest steril. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ekstraksi cacing laut menggunakan etanol 96% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30%.
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder dan Penetapan Kadar Total Flavonoid Ekstrak Etanol Daun Gatal (Laportea Stimulans) Cut Bidara Panita Umar; Lukman La Bassy; Syamsudin Kelutur
Protein : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan.  Vol. 2 No. 3 (2024): Juli : Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/protein.v2i3.728

Abstract

Determination of total flavonoid levels is calculated based on the linear regression equation based on the calibration curve of the quercetin standard solution from the reading results of the UV-Vis spectrophotometry tool. The absorbance value (ppm) is entered into the linear regression formula as the y value, while the x value is the concentration of flavonoids in the working sample solution. The results are stated in triplicate and the flavonoid content is stated with the equivalence of flavonoid standards using quercetin standard standards, qualitative and quantitative research methods to determine metabolite compounds and determination of levels using UV-vis spectrophotometry. Qualitative testing is carried out by taking a thick extract and adding reagents according to the identified compounds. Based on the results of the tests carried out, it shows that alkaloid, flavonoid, steroid, triterpenoid, tannin, and saponin compounds show positive results while quinone compounds show negative results. Quantitative testing From the results of this study, the total flavonoid content of the ethanol extract of itching leaves (Laportea stimulans) was 175.961%. Based on the results of qualitative tests, it shows that the ethanol extract of itchy leaves (Laportea stimulants) positively contains several compounds including alkaloids, flavonoids, steroids, terpenoids, tannins, and saponins which are indicated by changes in color. Based on the results of quantitative tests, it shows that the determination of the content of 95% ethanol extract of itchy leaves (Laportea stimulants) spectrophotometrically at a wavelength of 430 nm has an average total flavonoid content of 0.2999%.
Potensi Ekstrak Cacing Laut (Perinereis Albuhitensis) sebagai Antimikroba Bakteri Staphylococcus Aureus Sri Astuti Ripamole; Lukman La Bassy; Amelia Niwele; Jayanti Djrami; Maryam Lihi
JURNAL KESEHATAN MALUKU HUSADA Vol 1, No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : STIKes Maluku Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/jkmh1102

Abstract

Latar belakang: Cacing laut (Perinereis albuhitensis) memiliki potensi sebagai sumber bahan obat antibakteri dan antifungi alami karena mengandung metabolit sekunder seperti saponin, flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan tanin yang diketahui memiliki aktivitas antimikroba. Pemanfaatan biota laut sebagai sumber senyawa antibakteri menjadi alternatif dalam menghadapi meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daya hambat antibakteri ekstrak cacing laut (Perinereis albuhitensis) yang diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode: Penelitian ini menggunakan metode difusi agar untuk menguji aktivitas antibakteri ekstrak cacing laut dengan variasi konsentrasi 1,5%, 10%, 20%, dan 30%. Amoksisilin digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan aquadest steril digunakan sebagai kontrol negatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 96% cacing laut (Perinereis albuhitensis) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30%, sedangkan pada konsentrasi 1,5% belum menunjukkan aktivitas penghambatan. Simpulan: Ekstrak etanol 96% cacing laut (Perinereis albuhitensis) memiliki potensi sebagai agen antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan berpeluang untuk dikembangkan sebagai bahan antibakteri alami.