Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

ZONASI JENIS MATERIAL DAN POTENSI AMBLESAN LAHAN SEBAGAI INSTRUMEN MITIGASI TATA RUANG WILAYAH DI KOTA SEMARANG Firman, Annas; Agung, Pribadi; Rabbani, Nauval; Malik, Muhammad; Kumalasari, Dwi; Tisnawati; Zaenul, Reza
SEMINAR TEKNOLOGI MAJALENGKA (STIMA) Vol 8 (2024): STIMA 8.0 : Menuju Kesinambungan : Inovasi dan Adaptasi Teknologi untuk Pembangunan Be
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/stima.v8i0.1234

Abstract

Kemampuan lahan untuk pemanfaatan ruang selama ini berdasarkan perhitungan kemampuan lahan untuk pertanian dan dari aspek fisik lahan, belum terkait kemampuan lahan ditinjau dari karakteristik massa tanah pembentuk hamparan lahan yang menjadi faktor penentu seluruh faktor kemampuan lahan. Karakteristik massa tanah lebih ditentukan oleh stratigrafi massa tanah di bawah permukaan fisik yaitu komposisi jenis material, distribusi perlapisan, konsistensi dan densitas massa tanah yang menentukan potensi amblesan. Tuntutan tata ruang Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah diperlukan wilayah-wilayah yang siap untuk dibangun sarana dan prasarana kota. Kecenderungan demikian yang menyebabkan terus diadakan usaha-usaha rekayasa lahan dan wilayah rawan untuk konstruksi menjadi daerah-daerah yang harus siap dibangun lengkap dengan prasarananya. Rekayasa lahan dan perencanaan konstruksi sangat dipengaruhi karakteristik tanah setempat yang sangat beragam kondisinya, sehingga efektifitasnya akan diperoleh jika telah diketahui pasti sifat-sifat tanah tertentu pada zona-zona tertentu dalam hubungannya dengan stratifikasi kemampuan lahan. Penelitian dilakukan di Kota Semarang, secara geografis terletak di antara 6°50' – 7°10' LS dan 109°50' – 110°35' BT terletak di kawasan pantai utara pulau Jawa. Penelitian dengan pengeboran, sondir, diskripsi strata lapisan tanah pada seluruh titik uji tersebar di wilayah Kota Semarang dan selanjutnya disusun peta zona material lahan. Sampel tanah tidak terganggu dari bor dianalisis di laboratorium untuk mengetahui parameter karakteristik fisik tanah guna menganalisis potensi amblesan dengan indikator kemampuan / daya dukung lahan, besar dan lama waktu amblesan. Dari penelitian ini diperoleh zonasi jenis material dan potensi amblesan lahan yang dapat digunakan sebagai instrumen mitigasi tata ruang wilayah di Kota Semarang
PENGARUH CURING AIR LAUT TERHADAP KUAT TEKAN BETON DENGAN AGREGAT HALUS ABU BATU Tisnawati, Tisnawati; Kumalasari, Dwi; Rabbani, Nauval; Abdul Malik Annasir, Muhammad; Firman, Annas; Trilaksono, Fizal
SEMINAR TEKNOLOGI MAJALENGKA (STIMA) Vol 8 (2024): STIMA 8.0 : Menuju Kesinambungan : Inovasi dan Adaptasi Teknologi untuk Pembangunan Be
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Based on the source, aggregates can be divided into two, namely natural and artificial. Along with the increasing development of infrastructure using concrete structures, the demand for fine aggregate in the form of sand has also increased, so innovations have emerged to use artificial fine aggregate in the form of stone ash. Stone ash is a material that comes from the process of breaking down and filtering natural rock produced from crushed stone industry waste with a size of less than 0.5 cm. Stone ash was chosen as a building block for concrete because Pekalongan City frequently experiences tidal floods, resulting in the flooding of old and newly built buildings, such as roads and houses made of concrete. Concrete structures generally harden quickly and dry easily, therefore concrete curing is carried out so that the water content of the concrete does not decrease quickly, thereby producing good quality concrete. The concrete curing process is an important method for maintaining concrete quality because it not only maintains the moisture content on the inside or surface of the concrete, but also ensures that the concrete produced is of the desired quality. This research was carried out using experimental methods and was carried out at the Construction Engineering Laboratory, Pekalongan University. The objects of this research include testing materials with fine aggregate in the form of stone ash and making concrete samples to determine the effect of seawater curing on the compressive strength of concrete. The compressive strength results for well water treatment were 18,064 MPa for 14 day old concrete and 22,867 MPa for 28 day old concrete. Meanwhile, concrete treatment with sea water has a compressive strength of 16,400 MPa for 14 day old concrete and 20,416 MPa for 28 day old concrete. From these results it can be concluded that treating concrete with sea water can affect the compressive strength value of concrete. Keywords: Compressive Strength, Rock Ash, Sea Water
Analisis Perbandingan Kuat Tekan Mortar Menggunakan Agregat Halus Padas Giling Weleri Dengan Pasir Muntilan Annas Firman; Tisnawati, Tisnawati; Kumalasari, Dwi; Malik A, M. Abdul; Zulfan, M. Dwi; Hariyanto, Hariyanto
Jurnal Nasional Pengelolaan Energi MigasZoom Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Nasional Pengelolaan Energi MigasZoom
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37525/mz/2025-2/1004

Abstract

Mortar adalah bahan perekat yang digunakan dalam konstruksi untuk menghubungkan dan mengikat bahan bangunan seperti batu bata, batu, blok beton, atau bahan lainnya menjadi satu kesatuan yang kokoh. Di kawasan Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal Provinsi Jawa Tengah adalah  salah satu penghasil padas giling dengan kualitas cukup baik. Material ini berpotensi digunakan sebagai pengganti pasir atau agregat halus dalam campuran mortar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan padas giling sebagai substitusi agregat halus dalam campuran mortar, sehingga dapat menjadi inovasi alternatif pada masa mendatang. Metode dalam penelitian ini adalah eksperimental dimana data diperoleh melalui serangkaian pengujian. Benda uji yang dibuat adalah mortar kubus berukuran 5 x 5 x 5 cm dengan perbandingan campuran 1S : 4PG; 1S: 3PG: 1PS; 1S : 2PG : 2PS; 1S: 1PG : 3PS dan 1 S: 4 PS. Benda uji tersebut di uji pada umur perawatan 14 dan 28 hari dengan FAS (Faktor Air Semen) sebesar 0,5 mengacu pada SNI 6882:2014 tentang mortar pada pasangan dinding. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mortar dengan material pasir padas giling weleri cenderung berada dibawah material pasir muntilan. Dengan campuran pasir padas giling weleri dengan perbandingan 1S : 4PG mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu nilai uji tekan pada umur 14 hari sebesar  136,82 Kg/cm² sedangkan umur 28 hari sebesar 203,2 Kg/cm² dengan prosentasi kenaikan 48,51 %.