Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Ergonomi Dapur Terhadap Kenyamanan Pengguna: Perumahan Alexsandria, Palembang Jassmine, Jassmine; Darmayanti, Tessa Eka; Setyoningrum, Yunita
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 10, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v10i1.6947

Abstract

Dapur merupakan kebutuhan utama untuk rumah tinggal. Dapur juga merupakan area rumah tinggal yang memiliki frekuensi aktivitas yang cukup tinggi. Dikarenakan itu, dibutuhkan segitiga kerja pada dapur untuk meningkatkan efisiensi pengguna dapur dalam menjalankan aktifitasnya di dapur. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji kenyamanan berdasarkan layout dapur dan memberi himbauan kepada orang untuk memperhatikan dapur dari aspek ergonomi. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah dengan metode kualitatif dengan mewawancara penghuni rumah di komplek Alexsandria Palembang. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dapur rumah yang ada di perumahan ini tidak sesuai standar dikarenakan masih banyaknya keluhan seperti area racik yang terlalu sempit sehingga penghuni menggunakan meja makan atau lantai sebagai gantinya. Manfaat dari artikel ini adalah untuk mengetahui ergonomi dapur sehingga meningkatkan kenyamanan kerja serta mengurangi dampak buruk bagi kesehatan yang dapat mempengaruhi tubuh di kemudian hari.
Analisis Pencahayaan dan Kenyamanan Pengguna: Studi Kasus The Sanctuary Bandung Marchya Joellyn Pattiasina; Carina Tjandradipura; Yunita Setyoningrum
Design Spectrum Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ds.v1i1.13095

Abstract

Kesehatan dan kesejahteraan merupakan aspek penting dalam kehidupan modern, di mana pencahayaan berperan dalam menjaga keseimbangan fisik, mental, dan emosional. Penelitian ini mengevaluasi kualitas pencahayaan buatan di The Sanctuary Wellness Center Bandung terhadap kenyamanan pengguna dalam aktivitas yoga. Analisis dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif melalui pengukuran suhu warna (Kelvin), intensitas pencahayaan (lux), serta persepsi pengguna. Hasil menunjukkan suhu warna berada dalam rentang mendukung relaksasi (2700–3500K), namun intensitas pencahayaan (135 lux untuk area indoor, 80 lux untuk area semi-outdoor, 21 lux untuk area outdoor) belum optimal untuk aktivitas yoga. Sebanyak 40% responden menyatakan kurang nyaman dengan kondisi pencahayaan tersebut. Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi pencahayaan buatan guna meningkatkan kenyamanan dan efektivitas aktivitas relaksasi
Analisis Estetika Proporsi Langgam Art Deco pada Fasad bangunan Grand Hotel Preanger Bandung Jeremia Edwin; Yunita Setyoningrum; Carina Tjandradipura
Design Spectrum Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ds.v1i1.13302

Abstract

Grand Hotel Preanger merupakan bangunan hotel yang telah berdiri sejak tahun 1897, dengan rekonstruksi ulang pada tahun 1920-an. Grand Hotel Preanger mempunyai keunikan estetika khas Art Deco pada bagian fasadnya, berupa perpaduan proporsi garis lurus yang membentuk bidang-bidang dinding visual simetris dan geometris, yang selaras dengan keberadaan bukaan pintu dan jendela. Proporsi elemen-elemen fasad ini mewujudkan cita rasa estetik khas Art Deco. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana estetika fasad Art Deco diwujudkan pada bangunan Grand Hotel Preanger, khususnya pada penerapan proporsi bagian-bagian pada tampilan fasad, meliputi bukaan pintu dan jendela, serta garis-garis ornamen dekoratif yang membentuk bidang-bidang bergaya Art Deco. Untuk mengetahui estetika proporsi, digunakan perhitungan proporsi Golden Section. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif, yang dilakukan melalui observasi dan perbandingan pengukuran pada tampilan fasad bangunan Grand Hotel Preanger Bandung. Hasil analisis menunjukkan bahwa perhitungan Golden Section tidak diterapkan secara menyeluruh, namun telah diterapkan pada beberapa bagian fasad bangunan, khususnya area yang menjadi focal point.
Perang ruang komunal dalam membentuk sense of place terhadap interaksi sosial: Studi kasus Bandung Creative Hub Najmita Utami; Yunita Setyoningrum
Design Spectrum Vol 1 No 3 (2026)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ds.v1i3.14625

Abstract

Ruang bersama di lingkungan perkotaan memiliki peran strategis dalam membangun hubungan sosial serta membentuk pengalaman ruang yang bermakna bagi penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi kualitas ruang interior terhadap keterikatan emosional dan pola interaksi sosial pada fasilitas kreatif publik. Studi dilakukan pada sebuah pusat aktivitas kreatif di Kota Bandung yang berfungsi sebagai wadah kolaborasi, edukasi, dan pertemuan lintas komunitas. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner daring dan observasi langsung di lapangan. Responden penelitian berasal dari kelompok usia produktif dengan latar belakang aktivitas yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen interior seperti keterbukaan tata ruang, fleksibilitas furnitur, pemilihan material, serta pengaturan pencahayaan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kenyamanan dan kecenderungan interaksi pengguna. Tata ruang yang terbuka dan mudah diakses mendorong pertemuan spontan antar pengunjung, sementara furnitur ergonomis meningkatkan durasi penggunaan ruang. Suasana visual yang hangat melalui kombinasi material dan pencahayaan turut mendukung aktivitas individu maupun kelompok secara seimbang. Temuan observasi memperkuat hasil kuesioner dengan menunjukkan bahwa beberapa ruang lebih efektif dalam memfasilitasi interaksi sosial, baik secara aktif maupun pasif. Kehadiran bersama dalam satu ruang, meskipun tanpa komunikasi verbal intens, tetap membangun rasa kebersamaan dan keterikatan terhadap tempat. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan ruang komunal tidak hanya ditentukan oleh fungsi fisik, tetapi juga oleh kualitas pengalaman ruang yang mampu menciptakan kenyamanan emosional dan hubungan sosial berkelanjutan. Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi dalam perancangan ruang publik yang responsif terhadap kebutuhan sosial masyarakat urban masa kini.