Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Manajemen Kesiswaan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Di Kabupaten Bangka Riski, Riski; Adib, Noblana; Pratiwi, Fely; Fajrin, Rulli
Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 8 No. 1 (2022): Edugama: Jurnal Kependidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : PASCASARJANA IAIN SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK BANGKA BELITUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/edugama.v8i1.2517

Abstract

Dalam menangani siswa sangat membutuhkan keterampilan, kejelian, kepekaan, keseriusan dan tekad yang kuat dalam rangka memberikan perhatian yang baik. Oleh karena itu, masalah yang berkaitan dengan manajemen kesiswaan memerlukan perhatian dan pengelolaan yang sangat serius agar bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui manajemen kesiswaan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan manajemen kesiswaan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di Kabupaten Bangka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yaitu memberikan laporan hasil penelitian dengan mendeskripsikan dan memaparkan data-data yang diperoleh mengenai manajemen kesiswaan sekolah dasar Islam terpadu (SDIT) di Kabupaten Bangka. Lokasi Penelitian di SDIT Alam Biruni, SDIT Jamalullail Belinyu dan SDIT Pelita Alam Semesta. Sumber data penelitian yang diperoleh adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Subjek penelitian terdiri dari 3 kepala sekolah, 3 waka kesiswaan dan 3 pembina. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur dan tidak terstruktur, observasi terstruktur dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis data menggunakan reduksi data yang diambil dari pedoman wawancara, pedoman observasi, penarikan kesimpulan didasarkan pada fakta-fakta kenyataan yang telah ditemukan dari hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pertama manajemen kesiswaan SDIT berlandaskan teori manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemotivasian dan pengevaluasian. Kedua, ada tiga program yaitu program tahfidz di SDIT Alam Biruni, pembelajaran tahsin di SDIT Jamalullail dan program TPQ di SDIT Pelita Alam Semesta. Ketiga program ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem manajemen yang baik. Adanya kekurangan ketika belum dibukukannya sebuah program, tetapi jika para stakeholder bekerja dengan baik program berjalan. Argumen penelitian ini adalah program baik dilaksanakan oleh manajemen yang baik dan tim yang kokoh
Rasionalitas Siswa dalam Belajar Pasca Covid 19 Di Sekolah Dasar Perspektif Max Weber Noblana Adib; Ismiati Ismiati
Al-Tarbawi Al-Haditsah: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 2 (2023): Pendidikan Islam
Publisher : Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruann, IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tarbawi.v8i2.15170

Abstract

This study explored students' rationality in post-COVID-19 learning using Weber's perspective as a framework. This qualitative study involved VI-grade students at SDN 3 Simpangkatis, Central Bangka, Bangka Belitung Islands Province as primary informants. Then, the principal and teacher of Islamic Religious Education who will provide extra instructions. The data were collected through observation, structured interviews, and documentation which were then analyzed through data reduction, data display, and data verification. Weber's rationality theory was utilized as the theoretical foundation. The findings revealed four patterns of rationality among VI-grade students at SD Negeri 3 Simpangkatis regarding post-COVID-19 in Islamic Religious Education. Firstly, there was a traditional irrational pattern, where some students preferred playing games over studying. Secondly, an irrational affective pattern was observed, where students showed enthusiasm to be class champions, but they lacked of proper planning. Thirdly, instrumental rationality was shown by students who took private lessons and purchased Islamic Religious Education books to enhance their knowledge and achieve optimal learning outcomes. Lastly, a value-based rationality pattern was identified, where students prioritized comprehensive understanding of the subject matter rather than solely focusing on learning outcomes or being the class champions. To accomplish this, these students attended private lessons, reviewed the learning material at home, performed reading and re-reading, and memorized the verses and hadiths.
Kebijakan Tentang Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam Non-Formal: Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) Tahun 2011-2015 Noblana Adib
Sustainable Vol. 2 No. 1 (2019): Sustainable
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/kjmp.v2i1.980

Abstract

The more autonomous the more creative. This article refutes Hasbullah's opinion that the management of Madrasas is not autonomous because it is under the centralized Ministry of Religion (Kemenag). Hasbullah said that it was very dilemmatic, Madrasas could not develop because in the budget structure in the area of Islamic education institutions were not included in the local government budget (APBD) otherwise the ministry of religion did not have an adequate budgeting structure to finance all educational institutions under its guidance. Instead of Madrasas being marginalized institutions at the local level, madrasas are the concern of several local governments committed to helping, especially the implement. Keyword : Madrasah Diniyah Takmiliyah, Educational Policy, Islamic educational institutions Abstrak Semakin otonom semakin kreatif. Artikel ini membantah pendapat Hasbullah yang mengemukakan pengelolaan Madrasah yang tidak diotonomkan sebab di bawah Kementerian Agama (Kemenag) yang masih sentralisasi. Hasbullah mengatakan sangat dilematis, Madrasah tidak dapat berkembang karena dalam struktur anggaran di daearah lembaga pendidikan Islam tidak masuk di APBD (anggaran pemerintah daerah) sebaliknya kementerian agama tidak punya struktur penganggaran yang memadai untuk membiayai seluruh lembaga pendidikan yang berada di bawah binaannya. Alih-alih Madrasah menjadi lembaga yang termarginalisasi di tingkat daerah, madrasah menjadi perhatian beberapa pemerintah daerah berkomitmen membantu, terutama penyelenggaraan MDT sebagaimana yang kemukakan oleh Juju Saepudin, Amin Thaib BR, Abdul Basid, Nursalamah Siagian, dan Neneng Habibah.
Memikirkan Kembali Strategi Mengajar Dosen: Analisis Terhadap mahasiswa Pendiam Pada Diskusi Kelas di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik, 2016 Noblana Adib
Sustainable Vol. 3 No. 2 (2020): Sustainable
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/kjmp.v3i2.1466

Abstract

The silent students in the class discussions. What is the cause, is it because they are not confident in front of their classmates or their lecturers? How do they see lecturers, as people, who will help them learn, or as people who will embarrass them in the lecture? What should be the right learning strategy, how lecturers should help students to be active in class. Meanwhile, the students are not elementary school students, but the adults who study in the college. They should be more courageous in expressing their opinions in various class discussions. This study argues the more harmonious the relationship between lecturers and students is, the more successful students are in completing their studies, and the more professional the lecturers are.