Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

AN ANALYSIS OF CODE-MIXING IN SPEAKING FOUR CLASS OF FACULTY OF LETTERS IN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA : A CASE STUDY Gitta Vania Naulibasa; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 6 No. 1 (2019): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v6i1.4750

Abstract

This research is about code mixing. Code-mixing is the alternation between varieties or codes within words, clauses, or phrases. The use of code-mixing usually happens in people who speak more than one language or also called bilingual or multilingual people. The writer did this research in order to find out the code-mixing cases based on code-mixing theory in the study of sociolinguistics. She took a descriptive method that used two ways of collecting the data, firstly tape-recording and then questionnaires. The respondents of this research are Speaking Four students batch 2013 in Faculty of Letters in Universitas Kristen Indonesia. The reasons why they commit code-mixing, the type of codes that they mixed, and the proportion of female to male students committing code-mixing are the results of this study. There are 73 data which consist of codes that were mixed by the students: parts of speech (49), phrases (7), and question forms (17). The most common user of code-mixing is the noun (part of speech) and WH-question (question form).
Identifying and Categorizing The Different Types of References Used in All The World’s A Stage By William Shakespeare Ninda Prabawati; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 10 No. 1 (2023): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v10i1.5073

Abstract

Reference is an important aspect of the learning process, especially in analyzing discourse, both in the forms of scientific texts and literary works such as drama, prose, and poetry. Two concepts of reference are used: the kinds of referents and ways of referring. Kinds of referents include unique or non-unique, concrete or abstract, and countable or non-countable referents. Meanwhile, the ways of referring include a generic or non-generic, specific or non-specific, and definite or indefinite reference. These two concepts are used to identify and categorize referents in the poem “All the World’s a Stage” by William Shakespeare. Categorizing referents can help reveal some of the referents used by Shakespeare in the poem. Analyzing references in poetry can enrich understanding in analyzing literary works more deeply. Even so, the results of each researcher’s analysis may differ depending on how each individual interprets the poem.
BAHASA SEBAGAI ANUGERAH TUHAN DAN IDENTITAS BANGSA Ramot Peter; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 1 (2024): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i1.6025

Abstract

Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai alat berkomunikasi dengan Tuhan dan sesama maupun sebagai alat pemersatu bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami konsep bahasa sebagai anugerah Tuhan dan peran bahasa dalam membentuk identitas suatu bangsa serta pandangan kebangsaan tentang bahasa sebagai alat pemersatu di tengah keberagaman. Masyarakat Indonesia terkenal dengan keberagaman yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang tak dapat terelakan. Salah satu keberagaman yang menjadi identitas bangsa yaitu bahasa. Peran bahasa sering terabaikan karena dianggap tidak berpengaruh langsung pada pembangunan di era moderen. Permasalahan tersebut tidak boleh dibiarkan karena bahasa sebagai alat pemersatu dan kekayaan yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia. Pembahasan dalam artikel ini menggunakan metode kajian studi pustaka membahas fenomena yang terjadi berdasarkan kajian-kajian ilmiah yang telah ada dengan cara membaca, mencatat, dan mengolah bahan-bahan penelitian yang telah dipublikasi sebelumnya baik berupa buku, artikel jurnal, maupun teks lainnya. Artikel ini menjelaskan keberagaman bahasa (bahasa-bahasa daerah) sebagai kekayaan yang dianugerahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia, serta menjelaskan bahasa nasional (bahasa Indonesia) sebagai identitas bangsa Indonesia dan alat pemersatu di tengah keberagaman masyarakat dalam aspek etnik, suku dan budaya yang berbeda.
PERAN MODERASI BERAGAMA DALAM MENJAGA HARMONI KEBERAGAMAN BAHASA Ramot Peter; Masda Surti Simatupang
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 11 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v11i2.6510

Abstract

Abstrak Keberagaman bahasa di Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang mencerminkan kekayaan budaya, namun juga menjadi tantangan dalam menjaga harmoni sosial. Artikel ini membahas bagaimana keberagaman bahasa dapat memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik, seperti munculnya bias kelompok (in-group favoritism), kebijakan bahasa yang tidak sensitif terhadap minoritas, serta stereotip dan prasangka antar kelompok. Dampak buruk dari konflik ini meliputi segregasi sosial, ketegangan horizontal, dan ancaman terhadap pelestarian bahasa daerah. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan yang holistik, meliputi pendidikan multikultural untuk menanamkan nilai toleransi sejak dini, kebijakan bahasa yang inklusif yang menghormati keberagaman, serta dialog lintas budaya untuk membangun pemahaman bersama. Artikel ini menyoroti peran moderasi beragama sebagai pendekatan strategis untuk menjaga keberagaman bahasa agar menjadi elemen pemersatu. Moderasi beragama dapat diterapkan melalui pendidikan berbasis multikultural, kebijakan pemerintah yang menghargai keberagaman, serta pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan toleransi. Dengan nilai-nilai moderasi seperti toleransi, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan, keberagaman bahasa dapat menjadi kekuatan yang mempererat kohesi sosial dan membangun masyarakat yang inklusif, harmonis, dan toleran. Artikel ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis terhadap pengelolaan keberagaman bahasa dalam perspektif moderasi beragama. Kata kunci: Keberagaman Bahasa, Konflik Sosial, Moderasi Beragama, Pendidikan Multikultural.
PEMBELAJARAN BAHASA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER BERBAHASA SANTUN MAHASISWA Masda Surti Simatupang; Ramot Peter
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 12 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v12i1.7055

Abstract

Fenomena meningkatnya penggunaan gaya berbahasa tidak santun di kalangan mahasiswa cenderung menimbulkan kemerosotan nilai-nilai karakter dan buruknya interaksi mahasiswa di lingkungan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memicu kecenderungan penggunaan gaya berbahasa tidak santun, menganalisis dampak buruk terhadap karakter mahasiswa dan merumuskan strategi pembentukan karakter melalui pembelajaran bahasa. Menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengkaji berbagai literatur yang membahas teori kesantunan, perilaku linguistik mahasiswa, dan pendidikan karakter dalam konteks pendidikan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan gaya berbahasa seperti "anjir", "bullshit", "elu-gue", dan bentuk-bentuk ekspresi slang lainnya dipengaruhi oleh pengaruh budaya populer, media digital, serta kurangnya pembelajaran eksplisit tentang etika berbahasa. Ketidaksantunan dalam komunikasi terbukti melemahkan nilai-nilai moral seperti empati dan rasa hormat, serta menciptakan ketimpangan sosial di lingkungan kampus. Untuk mengatasi hal tersebut, artikel ini mengusulkan strategi pembentukan karakter melalui kesadaran linguistik yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan tinggi, termasuk pelatihan komunikasi berbasis konteks, integrasi nilai dalam literasi digital, dan pembelajaran teori kesantunan. Penelitian ini menawarkan kontribusi konseptual dengan mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan karakter sebagai upaya transformatif dalam membentuk etika komunikasi mahasiswa di era modern.
EXAMINING THE LEADERSHIP AND PERFORMANCE RELATIONSHIP IN HIGHER EDUCATION: SEQUENTIAL MEDIATION OF QUALITY ASSURANCE AND ORGANIZATIONAL COMMITMENT Erni Murniarti; Julinda Siregar; Masda Surti Simatupang; Ramot Peter; Goklas Siahaan; Al Ghazali Al Ghazali
PEDAGOGIK : JURNAL PENDIDIKAN Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Nurul Jadid University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/pjp.v13i1.11822

Abstract

This study examines the intricate relationship between transformational leadership (TL) and organizational performance (OP) within the higher education sector in Indonesia, emphasizing the sequential mediating roles of quality assurance (QA) practices and organizational commitment (OC). Drawing on the Resource-Based View (RBV) and Social Exchange Theory (SET), this research proposes that transformational leadership fosters robust quality assurance systems, which in turn enhance employees' affective commitment, ultimately improving institutional performance. Data were collected via structured questionnaires from 427 academic and administrative staff in accredited public and private universities in Indonesia, analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings reveal that transformational leadership does not directly influence organizational performance (β = 0.082, p = 0.225), but exerts a strong positive effect on quality assurance (β = 0.672, p < 0.001), which in turn significantly enhances organizational commitment (β = 0.658, p < 0.001) and ultimately drives organizational performance (β = 0.551, p < 0.001). Most importantly, the full sequential mediation pathway TL → QA → OC → OP was confirmed significant (β = 0.244, p < 0.001; CI [0.171, 0.261]), demonstrating that transformational leadership improves institutional performance exclusively through the institutionalization of quality assurance and the cultivation of staff commitment. These findings contribute to theory by integrating RBV and SET into a unified sequential mediation framework, and offer practical guidance for university leaders and policymakers seeking to strengthen internal quality culture and human capital development in Indonesian higher education.
PERGESERAN BAHASA ANTARGENERASI PADA MAHASISWA BATAK DI JAKARTA: POLA, FAKTOR, DAN IMPLIKASINYA Masda Surti Simatupang; Ramot Peter
DIALEKTIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA Vol. 12 No. 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Prodi Sastra Inggris UKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/dia.v12i2.7834

Abstract

Penelitian ini mengkaji dinamika pergeseran bahasa antargenerasi pada mahasiswa Batak yang bermukim di Jakarta. Berbasis data survei terhadap 176 responden, studi ini menganalisis pola kemahiran, penggunaan, serta pewarisan bahasa dari orang tua kepada anak. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, temuan menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar orang tua memiliki kemahiran aktif dalam berbahasa Batak, penggunaan yang konsisten di ranah rumah tangga relatif terbatas. Di kalangan mahasiswa, hanya sebagian kecil yang menyatakan kemampuan fasih atau cukup lancar, sementara proporsi yang besar hanya menunjukkan pemahaman pasif atau tidak memiliki kemahiran sama sekali. Faktor-faktor yang berpengaruh meliputi tempat lahir, intensitas pengajaran oleh orang tua, serta paparan bahasa Batak dalam konteks keseharian. Sebaliknya, latar tumbuh kembang di perkotaan dan dominasi Bahasa Indonesia turut mendorong penurunan penggunaan bahasa Batak. Temuan ini berhubungan dengan kerangka teori sosiolinguistik yang lebih luas serta dibandingkan dengan studi-studi regional di Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun keluarga Batak mempertahankan penanda identitas budaya yang kuat, penyebaran bahasa antargenerasi secara aktif melemah di lingkungan perkotaan. Oleh karena itu, diperlukan strategi edukatif dan berbasis komunitas yang lebih terarah untuk menjaga keberlanjutan warisan kebahasaan.