Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Metode Finite Mixture Partial Least Square Untuk Mengatasi Heterogenitas Pada Model Struktural Partial Least Square Karina Ayudhia Sasmito; Muhammad Yahya Ayyasy; Syafitri Hidayahningrum; Nursiti Azirah; Kameliani Kameliani; Afifah Farhanah Akadji
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7208

Abstract

Finite Mixture Partial Least Square (FIMIX-PLS) adalah metode untuk mengungkap heterogenitas yang tidak teramati di dalam model struktural. FIMIX-PLS dapat dipakai sebagai pendekatan yang komprehensif untuk mengetahui heterogenitas dalam pemodelan jalur PLS. Metode FIMIX-PLS mengidentifikasi heterogenitas data dengan memperkirakan probabilitas dari keanggotaan segmen untuk setiap observasi dan secara bersamaan memperkirakan koefisien jalur semua segmen. Pada studi kasus pengaruh predisposisi dan kebiasaan terhadap tekanan darah pasien hipertensi, sehingga menghasilkan anggota kelompok yang lebih homogen berdasarkan hubungan antar variabel laten. Pada penelitian ini ,jumlah segmen terbaik hasil dari FIMIX-PLS dipilih berdasarkan nilai kriteria dari AIC dan EN. Tujuan penelitian ini yaitu mendeteksi heterogenitas pada model struktural PLS menggunakan metode FIMIX-PLS pada studi kasus pengaruh predisposisi dan kebiasaan terhadap tekanan darah pasien hipertensi dan mengetahui jumlah segmentasi terbaik dari hasil FIMIX- PLS berdasarkan nilai kriteria dari AIC dan EN. Variabel predisposisi diukur oleh 6 indikator yaitu jenis kelamin, keterbatasan mobilitas, penyakit penyerta, psikolo- gis, suhu tubuh dan usia. Variabel kebiasaan pasien diukur oleh 5 indikator alkohol, diet oral, merokok dan olahraga. Variabel tekanan darah diukur oleh 2 variabel indikator distolik dan sistolik. Hasil penelitian menunjukkan kajian hetoreginitas dengan dengan FIMIX-PLS menghasilkan segmentasi yang menunjukkan adanya heterogenitas. Segmentasi terbaik pada K=5 dengan nilai AIC terendah yaitu sebesar 175,947 dengan nilai EN sebesar 0,610.
Pendampingan Metode Heuristik dalam Pemecahan Masalah Kuantitatif Kompleks pada Siswa MAN 1 Kota Gorontalo Afifah Farhanah Akadji; Irfan Akadji; Ahmad Farhan Mardani Jusuf
Empiris Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59713/dbz3ga85

Abstract

Ketidakmampuan dalam melakukan pemodelan matematika dan ketergantungan pada rumus prosedural seringkali menjadi hambatan utama bagi siswa dalam menyelesaikan persoalan logika kuantitatif yang kompleks. Pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir taktis dan efisien, mengingat standar kompetensi akademik tingkat tinggi yang menuntut ketajaman penalaran, bukan sekadar hafalan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendampingan intensif selama 20 pertemuan bagi siswa MAN 1 Kota Gorontalo dengan menerapkan metode Heuristik, yang meliputi teknik eliminasi strategis, substitusi variabel, dan visualisasi masalah. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada kapasitas kognitif siswa, yang tercermin dari kenaikan rata-rata skor pre-test sebesar 30-45 menjadi 85-90 pada post-test. Selain peningkatan nilai secara kuantitatif, siswa menunjukkan perubahan perilaku kognitif yang lebih berani dalam menghadapi soal tipe Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan lebih efisien dalam manajemen waktu pengerjaan. Kesimpulannya, penguasaan metode heuristik terbukti efektif menjadi jembatan bagi siswa dalam mentransformasi masalah kuantitatif yang kompleks menjadi solusi yang logis dan terstruktur, sehingga sangat direkomendasikan untuk diterapkan sebagai pengayaan kurikulum di tingkat madrasah.
Information Technology Utilization in Senior High School Learning in Gorontalo: A Systematic Literature Review Abdul Gani Fadhlulrahman S. H. Lihawa; Fandli Supandi; Afifah Farhanah Akadji
Jurnal MEKOM (Media Komunikasi Pendidikan Kejuruan) Volume 13, Issue 1, February 2026
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/j18x3y06

Abstract

Purpose – This study critically examines patterns, challenges, and research gaps pertaining to information technology (IT) utilization in learning among senior high school (SMA) students in Gorontalo, Eastern Indonesiaa region characterised by significant infrastructure constraintswith the aim of generating evidence-based recommendations for contextually appropriate technology integration in secondary and vocational educational settings. Methods – A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA 2020 protocol. A structured Boolean search across four databasesGoogle Scholar, Semantic Scholar, Garuda, and DOAJyielded 287 initial results. After two-stage screening and quality appraisal using an adapted CASP checklist, five peer-reviewed articles (2019–2025) were selected for thematic comparative synthesis. Findings – Three dominant themes emerged: the conditional effectiveness of digital learning platforms under adequate infrastructure; the primacy of teacher digital literacy over infrastructure availability as a predictor of implementation success (path coefficient = 0.67 vs. 0.43); and the strategic value of offline-capable mobile learning (SUS = 78.6). Gorontalo-specific data show 62% of SMA students rely exclusively on smartphones, only 56.9% of sub-districts have 4G coverage, and a critically low proportion of teachers received ICT training in the preceding two years, according to available provincial data. Research implications – The corpus of five studies reflects a genuine literature gap. Caution is warranted in generalising findings. Interventions addressing only device access, without commensurate teacher capacity development or offline content design, will yield suboptimal outcomes across SMA and SMK contexts in under-resourced regions. Originality – This review provides the first systematic synthesis specifically examining IT utilisation in secondary education within Gorontalo's regional context, offering an evidence-based foundation for more equitable educational technology policy in Eastern Indonesia.
Comparing K-Means and Fuzzy C-Means for Student Academic Risk Mapping and Early Warning in a Basic Mathematics Course Hendy Prasetyo; Wildan; Afifah Farhanah Akadji; Andi Sitti Dwi Auliyani; Rahmad Hidayat Dongka
Jurnal MEKOM (Media Komunikasi Pendidikan Kejuruan) Volume 13, Issue 1, February 2026
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/mekom.v13i1.261

Abstract

Purpose – This study compares the K-Means and Fuzzy C-Means (FCM) algorithms for mapping student academic risk using in-course academic performance data. Methods – The dataset consisted of 35 students and included assignment scores, quiz scores, midterm examination scores, attendance, learning participation, employment status, and language variables. The data were preprocessed through cleaning, identity anonymization, and min-max normalization to ensure that all attributes were measured on a comparable scale. The experiments were conducted under two clustering scenarios, namely K=2 and K=3. Findings – In the K=2 scenario, both methods produced the same separation between low-risk and high-risk student groups. After the clustering results were mapped to the actual Pass/Fail labels using a majority-vote approach, 27 students who passed and 7 students who failed were correctly identified, with no false positives and 1 false negative. These results yielded 97.14% accuracy, 100% precision, 96.43% recall, and a 98.18% F1-score. In the K=3 scenario, K-Means formed three distinct groups containing 27, 4, and 4 students, whereas FCM produced a more gradual distribution of 13, 14, and 8 students. Research implications – These findings indicate that K-Means is suitable as a fast baseline for binary risk screening, whereas FCM is more informative for gradual risk interpretation in academic early warning systems. Originality – This study contributes by showing the different practical value of hard and soft clustering for identifying clearly at-risk and borderline students using routinely available in-course academic indicators.