Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal Tataloka

HUBUNGAN SPASIAL TRANSAKSI TANAH DENGAN PERKEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT Amin Marzuki; Santun Risma Pandapotan Sitorus; Soekmana Soma
TATALOKA Vol 21, No 4 (2019): Volume 21 No 4, November 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.21.4.589-602

Abstract

The big potential of Cirebon Regency with good transportation access and demography bonus is able to promote its regional development. Not all of the potential has been optimized to invite investment in Cirebon Regency. One of the causes is some of the lands haven't been registered, so that obstructs investment that requires land. We explore the spatial relationship between the regional development level and land transaction pattern. We calculate the entropy diversification index to see the level of regional development. We also interpolate the land transaction to see the spatial pattern. The natural neighbor interpolation method was used to show spatial patterns of land transactions. Then, we overlay the map of the entropy index and land transaction pattern map to see the relationship spatially. Land transactions in Cirebon Regency gathered in a very developed and developing region. Districts of Palimanan, Depok, Plumbon, Weru, and Plered that are categorized very developed have more quantity of transactions and land transaction value than the undeveloped area. Pasaleman district has Kecamatan Depok, has the smallest entropy index, and categorized as undeveloped has a lower number and value of land transactions. We found a similar spatial pattern between the regional level of development and land transaction interpolation.
Evaluasi Status Keberlanjutan Penggunaan Lahan di Das Ciliwung Bagian Hulu Erwin Hermawan; Santun R.P Sitorus; Marimin Marimin; Suria Darma Tarigan
TATALOKA Vol 22, No 4 (2020): Volume 22 No. 4, November 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.22.4.515-527

Abstract

The Upper Ciliwung watershed is classified into 15 watersheds that must be restored. This study aims to evaluate the existing conditions of the sustainability status of land use based on environmental, economic and social aspects in the Upper Ciliwung Watershed Region. The Multidimensional Scaling technique through the development of the Rap-Watershed application was used to evaluate the Status of Sustainability of land use in the upstream Ciliwung watershed. The results of the study show that in general the identification of sustainable land use in each sub-watershed in the Upper Ciliwung watershed is categorized as moderately sustainable. The condition of the sub-watersheds in the Ciliwung Hulu watershed which is quite good in conditions that are sufficiently environmentally, economically and socially sustainable are the Upper Ciliwung watershed and the Cisarua watershed. The Cibalok sub-watershed and the Ciesek sub-watershed need to be considered specifically for the status of sustainability in the environmental and economic dimensions.
Analisis Transportasi Siswa Menuju Sekolah dan Arahan Pengembangannya di Kota Bogor Egi Syahril Mulia Purnama; Santun R.P. Sitorus; Janthy T Hidayat
TATALOKA Vol 22, No 3 (2020): Volume 22 No. 3, August 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.22.3.342-353

Abstract

School is one system activities that generates movement and will attract movement from settlements as student residence. The objectives of this research are, to analyze the attraction of school students, to analyze the factors that influence the selection of public transport modes towards schools, analyzing the selection of student public transport modes and to formulate the direction for effective plan for developing school transportation in Bogor City. The methods used are flow mapping method, binary logistic regression method, proximity analysis, and descriptive analysis. The results show that the attraction of elementary students is sufficiently appropriate because they followed the zoning regulation which can be seen from the majority of students come from designated zone, while the result of junior high school student’s attraction show relatively insufficient because the majority of the students come from outside the designated zones. The estimation results of factors that significantly influence the choice of modes of transportation are gender, school distance, travel time, costs, consideration of costs, consideration of walking, and consideration of time. Half of elementary school students use angkot by 51% and 49% others students used other modes towards school. Most junior high school students also use angkot by 73% and 27% others students used other modes. The direction of school transportation development is focused on implementing a zoning system that is maximally implemented so that the movement of students to school is more organized and deviding of school clusters so that the school bus service will run effectively.
Perencanaan Penggunaan Lahan Pertanian Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara Jonas Purba; Santun R.P. Sitorus; Dwi Putro Tedjo Baskoro
TATALOKA Vol 25, No 2 (2023): Volume 25 No. 2 May 2023
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.25.2.70-80

Abstract

Kabupaten Pakpak Bharat merupakan sebuah daerah otonom yang relatif baru, hasil pemekaran dari Kabupaten Dairi pada tahun 2003 di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Sektor pertanian merupakan penyumbang PDRB terbesar Kabupaten Pakpak Bharat dengan 90% masyarakatnya merupakan petani. Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui komoditas unggulan pertanian tiap kecamatan, 2) menganalisis ketersediaan lahan dan kesesuaian lahan pertanian, 3) menentukan arahan lokasi pengembangan komoditas unggulan. Teknik analisis data yang digunakan adalah Location Quotient (LQ) dan Differential Shift (DS), sistem budidaya monokultur dan jumlah rumah tangga pertanian terbanyak. Ketersediaan dan kesesuaian lahan serta arahan pengembangan komoditas unggulan dianalisis secara spasial menggunakan software geographical information system (GIS). Hasil penelitian menunjukkan ketersediaan lahan seluas 24.319 ha. Komoditas unggulan untuk 1) tanaman pangan dan palawija adalah padi sawah di Kecamatan Tinada seluas 2.202 ha, padi gogo di Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu seluas 2.850 ha dan jagung di Kecamatan Kerajaan seluas 5.703 ha, 2) tanaman hortikultura tahunan dengan komoditas unggulan jeruk di Kecamatan Pergetteng-getteng Sengkut seluas 769 ha dan nenas di Kecamatan Siempat Rube seluas 3.222 ha, 3) tanaman perkebunan tahunan dengan komoditas unggulan kopi arabika di Kecamatan Salak seluas 3.113 ha dan kelapa sawit di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe seluas 2.607 ha.
Analisis Obyek Wisata dan Rencana Pengembangan Pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat Gesvita, Intim Vinda; Sitorus, Santun R.P.; Mansyur, Umar
TATALOKA Vol 25, No 4 (2023): Volume 25 No. 4 November 2023
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.25.4.217-231

Abstract

Kabupaten Pesisir Selatan memiliki banyak tempat tujuan wisata namun belum direncanakan untuk pembangunan. Oleh karena itu, perlu diketahui obyek wisata yang telah dikembangkan dan obyek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Selain itu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan juga menjadi hal yang penting dalam pengembangan pariwisata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis semua objek wisata dan untuk mengetahui objek wisata yang telah berkembangkan, untuk menganalisis obyek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan, dan untuk membuat arahan rencana pengembangan pariwisata serta arahan strategi pengembangan pariwisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 objek wisata telah berkembangkan dan 26 objek wisata berpotensi untuk dikembangkan. Dua faktor utama yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Kabupaten Pesisir Selatan, yaitu obyek wisata berupa wisata alam/kelautan dan pelayanan pariwisata yaitu kemanan dan keramah tamahan. Rencana pengembangan pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan disusun dalam bentuk kawasan wisata dan pengembangan obyek wisata ada tiga arahan strategi pembangunan pariwisata, yaitu meningkatkan potensi daerah dan budaya yang berstandar internasional, memulai kerjasama dengan perusahaan pariwisata dan mempertimbangkan adanya ancaman bencana alam.
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan dan Ruang Terbuka Hijau serta Arahan Pengembangannya di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat Dewi, Afrita Satya; Sitorus, Santun R.P.; Makalew, Afra D.N.
TATALOKA Vol 26, No 2 (2024): Volume 26 No. 2, May 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.2.77-88

Abstract

Bandung merupakan kota dengan tingkat pembangunan ekonomi yang cukup cepat. Kondisi ini mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan (PPL) di kota tersebut. Tujuan penelitian ini adalah 1) menganalisis kondisi eksisting RTH dan PPL di Kota Bandung, 2) memprediksi luas dan sebaran RTH pada tahun 2021, 3) menganalisis kebutuhan RTH menurut luas wilayah dan jumlah penduduk serta tingkat kenyamanan berdasarkan indeks kenyamanan thermal serta 4) menyusun arahan pengembangan RTH Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah interpretasi visual dengan software ArcGIS 10.1, teknik overlay, prediksi PPL dengan CA-Markov dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan RTH publik sebesar 6,0 % dari luas Kota Bandung. PPL terjadi dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun dan dari sawah menjadi lahan terbuka dan lahan terbangun. PPL tahun 2021 diprediksi akan menambah luas RTH menjadi 10,1% dengan asumsi menambah luas dari lahan tidak produktif yang direncanakan sebagai RTH dalam RTRW Kota Bandung tahun 2011-2031. Kekurangan RTH berdasarkan luas wilayah sebesar 2.338,1 ha lebih kecil daripada kekurangan RTH berdasarkan jumlah penduduk sebesar 4.171,0 ha. Berdasarkan indeks kenyamanan thermal, Kota Bandung tergolong dalam kategori nyaman. Pengembangan RTH publik diarahkan pada semak belukar dan lahan terbuka dengan nilai tanah yang rendah. RTH privat perlu dikendalikan karena luasnya terbatas.