Sihol Situmorang
Filsafat, Universitas Katolik Santo Thomas

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : Logos

DOSA ASAL MENURUT AGUSTINUS Situmorang, Sihol; Sihombing, Agustian Ganda
LOGOS Vol 17 No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v17i1.1037

Abstract

Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna sekaligus sebagai pusat dan puncak segala ciptaan. Kepada manusia, yang diciptakan Allah menurut citra-Nya, Allah menganugerahkan rahmat khusus, yakni akal budi dan kehendak bebas. Namun, manusia salah menggunakan rahmat itu dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Keadaan ini dipahami sebagai dosa asal yang diwariskan kepada generasi manusia berikutnya. Esensi dan eksistensi dosa asal menjadi salah satu topik diskusi yang hangat di kalangan para teolog sejak permulaan kekristenan. Dalam tulisan ini diuraikan pemikiran seorang tokoh dan sekaligus teolog besar dalam Gerea, yakni Agustinus dari Hippo, seputar dosa asal. 
EKSISTENSI KAUM TERTAHBIS dalam Perspektif Ignasius dari Antiokia, Yohanes Krisostomus, Origenes dan Ambrosius dari Milan Situmorang, Sihol
LOGOS Vol 18 No 1 (2021): Januari 2021
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v18i1.1177

Abstract

Dalam Gereja Katolik, keberadaan dan peran kaum tertahbis (diakon, imam, uskup) termasuk sesuatu yang sangat essensial dan fundamental. Pemahaman akan eksistensi dan hakikat imamat khusus ini mesti didasarkan pada Kitab Suci, khususnya Perjanjian Baru dalam konteks pelayanan terhadap komunitas Kristen dan karya missioner Gereja yang begitu pesat. Para Bapa Apostolik mulai merefleksikan pendekatan tipologis atas imamat Perjanjian Lama untuk berbicara tentang imamat pelayan Perjanjian Baru. Konsep imamat kaum tertahbis pun semakin bercorak hirarkis. Para Bapa Gereja (Ignasius dari Antiokia, Yohanes Krisostomus, Origenes dan Ambrosius dari Milan) mengajak kaum tertahbis, sebagai alter Christus, untuk menghayati imamat Kristus yang tunggal dan lestari.
RELASI PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU MENURUT IRENEUS DARI LYON Situmorang, Sihol; Sitohang, Alfandes Lucius
LOGOS Vol. 19 No. 1 (2022): Januari 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i1.1634

Abstract

Alkitab, Kitab Suci orang Kristen, terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam arti tertentu masing-masing mempunyai otonomi, namun sekaligus memiliki kaitan yang sangat erat dan tidak terpisahkan. Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama disingkapkan dalam Perjanjian Baru. Kitab-kitab Perjanjian Lama ditampung dan memperoleh serta memperlihatkan maknanya yang penuh dalam Perjanjian Baru. Dari sisi lain, Perjanjian Lama menyinari dan menjelaskan Perjanjian Baru. Ireneus dari Lyon termasuk Bapa Gereja yang memberi kontribusi penting berhadapan dengan kaum heretik pada masa itu dalam menjelaskan relasai yang tak terpisahkan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kedua perjanjian ini mengetengahkan rencaka keselamatan Allah bagi seluruh umat manusia yang terpenuhi dalam diri Yesus Kristus.
SPIRITUALITAS PELAYANAN KAUM TERTAHBIS DALAM GEREJA PERDANA Situmorang, Sihol
LOGOS Vol. 19 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v19i2.2016

Abstract

Di tengah umat beriman, yang menerima martabat imamat umum, eksistensi kaum tertahbis merupakan unsur yang sangat hakiki. Kaum tertahbis mengemban imamat ministerial, karena dipanggil untuk melayani seperti Kristus yang datang untuk menjadi hamba dan melayani. Kaum tertahbis melanjutkan pelayanan Kristus untuk keselamatan seluruh umat manusia. Spiritualitas pelayanan mereka bersumber dan berpusat pada kehidupan Kristus sendiri. Cara hidup Kristus menjadi motif dan modalitas pelayanan kaum tertahbis. Kendati ditinggikan pada martabat luhur sebagai alter Christus dan tergolong dalam hirarki, dengan otoritas yang mereka miliki, mereka diutus untuk menampakkan hidup Kristus sendiri. Para Bapa Gereja dengan tegas dan lantang mendeskripsikan spiritualitas pelayanan kaum tertahbis. Mereka dipanggil, dikuduskan dan disucikan untuk keperluan Gereja dan seluruh umat manusia
PENGAKUAN IMAN AKAN ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS DASAR PERSAUDARAAN TAREKAT HIDUP BAKTI: Suatu Refleksi Teologis atas Anjuran Apostolik Vita Consecrata Situmorang, Sihol; Purba, Dionsius; Donobakti, Yohanes Anjar; Purba, Asrot
LOGOS Vol. 20 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i1.2546

Abstract

Tarekat Hidup Bakti merupakan bagian tak tergoyahkan bagi hidup dan kekudusan Gereja. Sebagai garda terdepan perwujudan misi Gereja, pemeluk Hidup Bakti, melalui penghayatan nasihat-nasihat Injil, bersaksi tentang persekutuan penuh cinta Allah Tritunggal Mahakudus di dalam Gereja maupun dalam dunia. Mereka yang menjalani panggilan khusus ini berusaha menghidupi ikatan cinta kasih yang begitu total dan sempurna dalam diri Bapa, Putera dan Roh Kudus. Bercermin pada Jemaat Rasuli, anggota Hidup Bakti menghayati persaudaraan dalam cinta kasih dengan kerelaan saling berbagi, baik materi, bakat maupun pengalaman rohani. Kasih sejati yang bersumber dari Allah Tritunggal itu dipupuk melalui Sabda dan Ekaristi, dimurnikan dalam Sakramen Pendamaian dan ditopang oleh doa. Hidup bersaudara dalam cinta kasih sebagai perwujudan Kerajaan Allah merupakan inti dan pokok misi Tarekat Hidup Bakti.
PERKAWINAN TANPA ANAK YANG DISENGAJA: Tidak Sesuai dengan Kodrat Perkawinan Katolik menurut Seruan Apostolik Amoris Laetitia Nadeak, Largus; Situmorang, Sihol; Bhia, Marianus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2991

Abstract

Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut model dan motivasi kasih. Allah memahat di dalam diri setiap manusia suatu daya untuk mengasihi. Salah satu bentuk panggilan untuk mengasihi dalam Gereja Katolik terwujud dalam perkawinan. Salah satu tujuan perkawinan adalah kehadiran anak. Dewasa ini, ada fenomen perkawinan tanpa anak yang disengaja, yang disebut childfree. Gereja mencermati dan menanggapi childfree yang merupakan salah satu keadaan keluarga saat ini. Dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia dicermati beberapa alasan keluarga memilih childfree. Gereja berpandangan bahwa childfree tidak sesuai dengan kodrat perkawinan Katolik. Ada beberapa pendapat Gereja sehingga mengatakan bahwa childfree tidak sesuai dengan kodrat perkawinan Katolik, salah satunya ialah prokreasi. Gereja perlu bertindak menghadapi fenomen childfree dengan menggalang kerja sama dengan pasangan suami-istri dan pemerintah.
KEMARTIRAN:JALAN MENUJU PERSATUAN DENGAN YESUS KRISTUS: Menurut Surat Ignatius kepada Jemaat di Roma Situmorang, Sihol; Moa, Antonius; Eko, Silvanus
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2992

Abstract

Pada zaman Santo Ignatius, Uskup Antiokia, Gereja sungguh berjuang untuk membela dan mempertahankan imannya. Umat Kristiani dipaksa untuk menyangkal imannya dan dihadapkan ke pengadilan. Sebagian besar dari mereka tetap mengakui imannya kendati harus menanggung kemartiran, antara lain Ignatius. Ia memandang kemartiran sebagai bukti persembahan diri kepada Allah dengan menjadikan dirinya sebagai gandum yang digiling menjadi roti murni. Bagi Ignatius, kemartiran adalah bentuk pemuridan total dan jalan mencapai kesempurnaan mengikuti jejak Kristus. Penghayatannya akan kemartiran terkait erat dengan pemahamannya perihal Ekaristi yang menghantar umat pada persatuan dengan Allah dalam Kristus.
PERWUJUDAN BELAS KASIH DEVOSAN KERAHIMAN ILAHI DI PAROKI SANTO LAURENTIUS BRINDISI PEMATANGSIANTAR Donobakti, Yohanes Anjar; Girsang, Andi Bonifasius; Situmorang, Sihol
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2998

Abstract

Devosi Kerahiman Ilahi diperkenalkan oleh seorang suster dari Kongregasi Bunda Allah Kerahiman, dan sekarang telah dikanonisasi menjadi santa. Devosi Kerahiman Ilahi sudah berkembang di banyak negara termasuk di Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komunitas Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Pontianak (KKI-KAP), devosi Kerahiman Ilahi telah berkembang di 22 keuskupan di Indonesia. Di Keuskupan Agung Medan umat beriman sudah banyak mengetahui dan berdevosi Kerahiman Ilahi. Penulis tertarik mendalaminya untuk mengetahui sejauh mana para devosan mewujudkan belas kasih Allah. Dalam buku catatan hariannya, St. Faustina mencatat begitu banyak pesan belas kasih yang disampaikan Yesus kepadanya. Pesan-pesan itulah yang kiranya menjadi inspirasi permenungan St. Faustina tentang belas kasih. Belas kasih itu harus diamalkan dengan perbuatan, perkataan dan doa. Pesan belas kasih itu jugalah yang dihidupi oleh para devosan Kerahiman Ilahi di Paroki St. Laurentius Brindisi Pematang Siantar.
KEMARTIRAN: JALAN MENUJU PERSATUAN DENGAN YESUS KRISTUS: Surat Ignatius kepada Jemaat di Roma Situmorang, Sihol; Eko, Silvanus
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3948

Abstract

Pada zaman Santo Ignatius, Uskup Antiokia, Gereja sungguh berjuang untuk membela dan mempertahankan imannya. Umat Kristiani dipaksa untuk menyangkal imannya dan dihadapkan ke pengadilan. Sebagian besar dari mereka tetap kukuh mengakui iman mereka kendati harus menanggung kemartiran. Ignatius memandang kemartiran sebagai bukti kesetiaan dan persembahan diri secara utuh kepada Allah dengan menjadikan dirinya sebagai gandum yang digiling agar menjadi roti murni. Bagi Ignatius, kemartiran merupakan bentuk pemuridan total dan jalan mencapai kesempurnaan mengikuti jejak Kristus. Penghayatannya akan kemartiran terkait erat dengan pemahamannya perihal Ekaristi yang menghantarnya pada persatuan dengan Allah dalam Kristus.
LATAR BELAKANG, ASAL-USUL, PELOPOR DAN SPRITUALITAS MONAKISME KRISTEN Situmorang, Sihol; Ara, Alfonsus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4472

Abstract

Munculnya sebuah gerakan baru pasti melalui sejarah dan proses yang panjang dan terkait erat dengan konteks saat itu. Para pertapa pertama ingin menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup seturut Injil. Monakisme Kristen turut dipengaruhi oleh dualisme Timur Tengah. Penarikan diri dari dunia yang ditandai dengan pakaian yang tampak aneh bahkan telanjang, tidak mandi, rambut acak-acakan dan memakai rantai besi di leher seperti terdapat di kalangan pertapa Syria merupakan pengaruh manikeisme. Spiritualitas monastik mencerminkan konsep atau teologi hidup kristiani. Satu-satunya tujuan hidup seorang pertapa adalah Allah yang kesatuan dengan-Nya dicari di padang gurun dengan doa dan praktik-praktik asketik. Hidup kristiani dipahami sebagai suatu pertumbuhan untuk sampai pada kesempurnaan. Seperti orang-orang pada masa itu, para pertapa yakin bahwa setan ada di mana-mana yang mengakibatkan malapetaka moral dan fisik. Menurut para pertapa itu, hidup kristiani bertumbuh dalam perang melawan sijahat.