Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Prosidia Widya Saintek

PENGARUH PERSENTASE KATALIS BIOETANOL DARI UMBI-UMBIAN PADA PROSES FERMENTASI TERHADAP TEMPERATUR NYALA API Manek, Kletus Pascal V.; Soebiyakto, Gatot; Farid, Akhmad
Prosidia Widya Saintek Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor mengakibatkan penurunan jumlah bahan bakar minyak sehingga diperkirakan akan mengalami kehabisan stok nantinya. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh waktu fermentasi pembuatan bioetanol umbi kayu, umbi walur, dan umbi jalar terhadap temperatur nyala api. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. lama fermentasi berpengaruh terhadap temperatur yang dihasilkan oleh bioethanol dari ubi jalar, ubi walur, dan singkong. Suhu terbaik dihasilkan bioethanol dari ubi jalar dengan kadar ragi 15 gr dan waktu fermentasi 90 jam sebesar 37,06 °C dan suhu terendah dihasilkan bioetanol dari ubi walur dengan kadar ragi 10 gr dan waktu fermentasi 50 jam sebesar 26,96 °C.
PERBANDINGAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT NANAS DAN LIMBAH KULIT PISANG Wahai, Rizky; Soebiyakto, Gatot; Farid, Akhmad; Suwandono, Purbo
Prosidia Widya Saintek Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber daya alam tak terbarukan semakin terkuras oleh eksploitasi tanpa batas. Untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, bioetanol dari limbah kulit nanas dan pisang dipelajari dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan bahan baku bioetanol dari limbah kulit nanas dan kulit pisang, serta alat destilasi. Variabel bebas penelitian ini mencakup penggunaan kulit nanas dan kulit pisang, variabel terikat meliputi kadar bioetanol, suhu fermentasi, suhu destilasi, suhu api pembakaran, dan karakteristik titik api. Variabel terkontrol termasuk berat fermipan untuk fermentasi dan berat kapas untuk uji pembakaran.Kulit nanas menghasilkan bioetanol 92,8%, sedangkan kulit pisang 88%, karena kandungan gula yang lebih tinggi pada kulit nanas. Proses fermentasi dan distilasi diamati selama beberapa hari dengan hasil yang menjanjikan untuk menjadi bahan bakar alternatif.
KARAKTERISTIK NYALA API DENGAN PENDEKATAN VOLUME STOIKIOMETRI MINYAK NABATI TERHADAP PEMBAKARAN PREMIXED Sumardi, Sumardi; Soebiyakto, Gatot; Farid, Akhmad
Prosidia Widya Saintek Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan bahan bakar fosil mendorong pemanfaatan energi alternatif berbasis minyak nabati. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik pembakaran premixed dari minyak biji bunga matahari, jagung, dan kedelai dengan fokus pada titik didih, rambatan nyala api, serta rasio udara–bahan bakar (Air Fuel Ratio/AFR). Metode yang digunakan adalah eksperimen nyata dengan variasi jenis minyak sebagai variabel bebas dan karakteristik nyala api sebagai variabel terikat.Hasil penelitian menunjukkan minyak jagung memiliki titik didih tertinggi (273°C) sehingga lebih stabil, sedangkan minyak kedelai memiliki titik didih terendah (248°C) dan rambatan nyala api tercepat (5295 s). Minyak bunga matahari menunjukkan rambatan paling lambat (7230 s) namun lebih stabil. Analisis AFR memperlihatkan minyak kedelai cenderung lebih kaya campuran, minyak jagung seimbang, dan minyak bunga matahari lebih miskin. Secara keseluruhan, minyak kedelai cocok untuk penyalaan cepat, minyak bunga matahari unggul dalam kestabilan, dan minyak jagung berada di posisi tengah. Hasil ini menegaskan potensi minyak nabati sebagai alternatif ramah lingkungan pengganti bahan bakar fosil
KARAKTERISTIK NYALA API BIOETANOL DARI JENIS BIJI-BIJIAN TERHADAP PEMBAKARAN PREMIXED Syalna, Alvirtansyah Iqrotus; Soebiyakto, Gatot; Farid, Akhmad
Prosidia Widya Saintek Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik termal dan visual pembakaran tiga jenis minyak nabati, yaitu minyak kemiri, minyak sawi, dan minyak alpukat. Sampel minyak dengan volume 20 ml diuji melalui proses pemanasan hingga mencapai titik didih, diikuti pencatatan temperatur boiling point (T₁), temperatur nyala api (T₂), serta variasi Air Fuel Ratio (AFR) 20:40 dan 30:30. Hasil menunjukkan bahwa minyak kemiri mencapai boiling point lebih cepat dengan temperatur rata-rata 257,5 °C dan nyala api yang stabil, sedangkan minyak sawi memiliki variasi waktu pencapaian boiling point lebih besar dengan rata-rata 256,5 °C. Minyak alpukat menunjukkan rata-rata boiling point tertinggi sebesar 275 °C dengan temperatur nyala api relatif lebih tinggi dibanding dua minyak lainnya. Analisis visual nyala api menggunakan komposisi warna RGB memperlihatkan bahwa minyak alpukat memiliki dominasi warna merah, sedangkan minyak kemiri dan sawi menunjukkan komposisi warna yang lebih seimbang. Secara keseluruhan, minyak nabati berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif, dengan perbedaan karakteristik termal dan visual yang dipengaruhi oleh jenis minyak serta variasi AFR.
STUDI KARAKTERISTIK PEMBAKARAN DIFUSI BAHAN BAKAR MINYAK ATSIRI Fatullah, Khoirul; Soebiyakto, Gatot; Farid, Akhmad
Prosidia Widya Saintek Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada era globalisasi perkembangan industry di Indonesia berkembang sangat pesat, hal ini menyebabkan akan kebutuhan energy juga meningkat. Hingga saat ini di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbahan fosil sebagai sumber energy. Biodiesel hadir sebagai bahan bakar alternatif yang sangat diminati. Biodiesel dikenal sebagai bahan bakar karbon netral yaitu bahan bakar energy yang tidak memilik emisi gas rumah kaca bersih atau jejak karbon dan tidak melepaskan polusi yang dapat membahayakan atmosfer lingkungan. Biodiesel umumnya dapat diproduksi dari lemak, minyak nabati, minyak atsiri, lemak hewan, minyak sisa penggorengan. Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati pembakaran difusi pada minyak atsiri (minyak kayu putih, minyak daun cengkeh dan minyak daun sereh) agar diketahui karakteristik profil nyala api. Berdasarkan hasil peneliti dapat disimpulkan bahwa pengujian nyala api difusi minyak kayu putih memiliki ketinggian paling tinggi sebesar 35,972 mm, temperatur 845,5 °C, dan kecerahan (luminitas) mencapai 107,508 pixel, dibandingkan dengan minyak daun cengkeh dan sereh.
PENGARUH PERUBAHAN TEKANAN ALIRAN BAHAN BAKAR TERHADAP KARAKTERISTIK NYALA API PADA PEMBAKARAN DIFUSI Adil, Ata Mukhammad; Soebiyakto, Gatot; Farid, Akhmad
Prosidia Widya Saintek Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi pada bidang automotive sangatlah pesat, salah satunya yang berfokus pada sistem pembakaran kendaraan. Sistem pembakaran merupakan hasil reaksi kimia antara bahan bakar, udara, dan sumber api yang berlangsung secara cepat dan menghasilkan suatu energi berupa panas dan cahaya. Disilain terdapat komponen nozzle berfungsi untuk mengontrol laju aliran, kecepatan, arah, fasa, dan tekanan pada bahan bakar. yang dapat mempengaruhi karakteristik nyala api pada sistem berupa warna, panas, cahaya, temperature, panjang, dan tinggi profil api, terhadap nilai tekanan bahan bakar yang bervariasi pada nozzle. sehingga pada penelitian ini berfokus untuk menganalisis karakteristik api yang di hasilkan dari proses pembakaran difusi menggunakan bahan bakar pertalite (RON 90), pertamax (RON 92), pertamax turbo RON (95). Selama 60 second, dengan variasi tekanan bahan bakar 30 psi, 40 psi, dan 50 psi, pada trainer sistem injeksi bahan bakar kendaraan. Dari hasil riset yang telah dilakukan menyatakan bahwa pertamax turbo (RON 95) menghasilkan profil api paling panjang sebesar 85,715 cm pada tekanan 30 psi.