Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERBEDAAN PENGARUH KONSUMSI JUS BUAH NAGA MERAH DAN JUS SEMANGKA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA PENDERITA HIPERTENSI Novika Andora; Richta Puspita Haryanti; Annisa Agatha
JURNAL WACANA KESEHATAN Vol 6, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : AKPER Dharma Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52822/jwk.v6i2.279

Abstract

Buah naga merah memiliki kandungan antioksidan, fitokimia berupa flavonoid, vitamin C juga kalium dan menjadi alternatif dalam upaya penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi primer. Buah semangka mengandung sitrulin dan kalium, yang sangat berpengaruh terhadap penurunan tekan darah tinggi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi Perbedaan Pengaruh jus buah naga merah  dan jus semangka dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi primer di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain quasy experiment dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Besar sampel sebanyak 32 reponden terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pertama jus buah naga merah dan kelompok kedua jus semangka. Kedua kelompok dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan di hari pertama dan hari terakhir. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah konsumsi jus buah naga merah didapatkan ada penurunan tekanan darah sistolik sebesar 14 mmHg dari selisih hasil pre dan post test (148,25-134,25 mmHg), dan diastolik 8,625 mmHg dari selisih pre dan post test (95,375 – 86,75 mmHg), sedangkan pada kelompok semangka terdapat penurunan tekanan darah sistolik  hanya 7,5 mmHg dari selisih pre dan post test (149,375-141,875 mmHg), tekanan darah diastolic juga menunjukkan penurunan 3,35 mmHg dengan hasil ( 93,125 – 89,775 mmHg). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan hasil pengaruh yang signifikan antara kelompok jus buah naga merah dengan kelompok jus semangka terhadap penurunan tekanan darah (sistolik) dengan hasil uji Mann-Whitney Test diperoleh P value 0.001, dan pada  tekanan darah ( diastolik ) terdapat perbedaan hasil pengaruh yang signifikan dengan hasil uji Mann-Whitney Test diperoleh P value 0.000.
Perbedaan Pengaruh Pemberian Air Kelapa Muda Dan Cincau Hijau Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Novika Andora; Richta Puspita Haryanti
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.635 KB) | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.718

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi  merupakan faktor risiko stroke, penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, gagal ginjal, dan aneurisma arteri (penyakit pembuluh darah). Kandungan air kelapa muda yang dapat menurunkan tekanan darah adalah kalium. Kalium dalam cairan ekstraseluler akan menyebabkan jantung rileks dan juga membuat detak jantung menjadi lambat. Cincau hijau mengandung bioaktif salah satunya fenol yang berperan dalam menurunkan hipertensi.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian air kelapa muda dan cincau hijau terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi.Metode :quasy eksperimen dan pendekatan two-group pre-post-test design , teknik purposive sampling. Besar sampel adalah 30 responden; dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberi air kelapa muda dan kelompok kedua diberi cincau hijau. kelompok pertama diberikan air kelapa muda selama 7 hari berturut-turut sebanyak 2 kali sehari, kemudian kelompok kedua diberikan cincau hijau selama 7 hari berturut-turut sebanyak 2 kali sehari. Kedua kelompok diukur sebelum dan sesudah perlakuan pada hari pertama dan terakhirHasil : setelah pemberian air kelapa muda terjadi penurunan tekanan darah sistolik sebesar 10,6 mmHg dari selisih hasil pre dan post test (152,25-141,65 mmHg), dan tekanan darah diastolik sebesar 9,625 mmHg dari selisih antara pre dan post test. -tes (97.375 - 87). ,75 mmHg), sedangkan pada kelompok air cincau hijau terjadi penurunan tekanan darah sistolik sebesar 14,125 mmHg dari selisih antara pre dan post test (154,375-139,25mmHg), kemudian tekanan darah diastolik menunjukkan penurunan sebesar 12,325 mmHg dengan hasilnya (98.125 - 85, 8 mm Hg).Simpulan : terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil kelompok pertama (air kelapa muda) dan kelompok kedua (cincin hijau) terhadap penurunan tekanan darah (sistolik) dengan hasil Mann-Whitney Test diperoleh Nilai P 0,001 atau P 0,05, maka pada tekanan darah (diastolik) juga diperoleh perbedaan yang signifikan pada hasil pengaruh dengan hasil Mann-Whitney Test didapatkan P = 0,000 Kata kunci: Air kelapa muda, air cincau hijau, hipertensi , tekanan darah Background: Hypertension is a risk factor for stroke, coronary heart disease (CHD), heart failure, kidney failure, and arterial aneurysm (blood vessel disease). The content of young coconut water that can lower blood pressure is potassium. Potassium in the extracellular fluid will cause the heart to relax and also make the heart rate slow. Green grass jelly contains bioactive, one of which is phenol, which plays a role in reducing hypertension.Purpose: to determine the difference in the effect of giving young coconut water and green grass jelly on changes in blood pressure in patients with hypertension.Methods: quasi-experimental and two-group pre-post-test design approach, purposive sampling technique. The sample size is 30 respondents; divided into two groups, the first group was given young coconut water and the second group was given green grass jelly. the first group was given young coconut water for 7 consecutive days 2 times a day, then the second group was given green grass jelly for 7 consecutive days 2 times a day. Both groups were measured before and after treatment on the first and last daysResults: after giving young coconut water there was a decrease in systolic blood pressure of 10.6 mmHg from the difference between pre and post-test results (152.25-141.65 mmHg), and diastolic blood pressure of 9.625 mmHg from the difference between pre and post-tests. -test (97,375 - 87). ,75 mmHg), while in the green grass jelly water group there was a decrease in systolic blood pressure of 14.125 mmHg from the difference between the pre and post-test (154.375-139.25mmHg), then diastolic blood pressure showed a decrease of 12.325 mmHg with the result (98.125 - 85, 8 mm Hg).Conclusion: there is a significant difference between the results of the first group (young coconut water) and the second group (green ring) in reducing blood pressure (systolic) with the results of the Mann-Whitney Test obtained a P-value of 0.001 or P 0.05, then the blood pressure (diastolic) also obtained a significant difference in the results of the influence with the results of the Mann-Whitney Test obtained P = 0.000 Keywords: young coconut water, green grass jelly, hypertension, blood pressure 
Perbedaan Pengaruh Pemberian Air Kelapa Muda Dan Cincau Hijau Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Novika Andora; Richta Puspita Haryanti
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 1 (2021): Dinamika Kesehatan: Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i1.718

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi  merupakan faktor risiko stroke, penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung, gagal ginjal, dan aneurisma arteri (penyakit pembuluh darah). Kandungan air kelapa muda yang dapat menurunkan tekanan darah adalah kalium. Kalium dalam cairan ekstraseluler akan menyebabkan jantung rileks dan juga membuat detak jantung menjadi lambat. Cincau hijau mengandung bioaktif salah satunya fenol yang berperan dalam menurunkan hipertensi.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian air kelapa muda dan cincau hijau terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi.Metode :quasy eksperimen dan pendekatan two-group pre-post-test design , teknik purposive sampling. Besar sampel adalah 30 responden; dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberi air kelapa muda dan kelompok kedua diberi cincau hijau. kelompok pertama diberikan air kelapa muda selama 7 hari berturut-turut sebanyak 2 kali sehari, kemudian kelompok kedua diberikan cincau hijau selama 7 hari berturut-turut sebanyak 2 kali sehari. Kedua kelompok diukur sebelum dan sesudah perlakuan pada hari pertama dan terakhirHasil : setelah pemberian air kelapa muda terjadi penurunan tekanan darah sistolik sebesar 10,6 mmHg dari selisih hasil pre dan post test (152,25-141,65 mmHg), dan tekanan darah diastolik sebesar 9,625 mmHg dari selisih antara pre dan post test. -tes (97.375 - 87). ,75 mmHg), sedangkan pada kelompok air cincau hijau terjadi penurunan tekanan darah sistolik sebesar 14,125 mmHg dari selisih antara pre dan post test (154,375-139,25mmHg), kemudian tekanan darah diastolik menunjukkan penurunan sebesar 12,325 mmHg dengan hasilnya (98.125 - 85, 8 mm Hg).Simpulan : terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil kelompok pertama (air kelapa muda) dan kelompok kedua (cincin hijau) terhadap penurunan tekanan darah (sistolik) dengan hasil Mann-Whitney Test diperoleh Nilai P 0,001 atau P 0,05, maka pada tekanan darah (diastolik) juga diperoleh perbedaan yang signifikan pada hasil pengaruh dengan hasil Mann-Whitney Test didapatkan P = 0,000 Kata kunci: Air kelapa muda, air cincau hijau, hipertensi , tekanan darah Background: Hypertension is a risk factor for stroke, coronary heart disease (CHD), heart failure, kidney failure, and arterial aneurysm (blood vessel disease). The content of young coconut water that can lower blood pressure is potassium. Potassium in the extracellular fluid will cause the heart to relax and also make the heart rate slow. Green grass jelly contains bioactive, one of which is phenol, which plays a role in reducing hypertension.Purpose: to determine the difference in the effect of giving young coconut water and green grass jelly on changes in blood pressure in patients with hypertension.Methods: quasi-experimental and two-group pre-post-test design approach, purposive sampling technique. The sample size is 30 respondents; divided into two groups, the first group was given young coconut water and the second group was given green grass jelly. the first group was given young coconut water for 7 consecutive days 2 times a day, then the second group was given green grass jelly for 7 consecutive days 2 times a day. Both groups were measured before and after treatment on the first and last daysResults: after giving young coconut water there was a decrease in systolic blood pressure of 10.6 mmHg from the difference between pre and post-test results (152.25-141.65 mmHg), and diastolic blood pressure of 9.625 mmHg from the difference between pre and post-tests. -test (97,375 - 87). ,75 mmHg), while in the green grass jelly water group there was a decrease in systolic blood pressure of 14.125 mmHg from the difference between the pre and post-test (154.375-139.25mmHg), then diastolic blood pressure showed a decrease of 12.325 mmHg with the result (98.125 - 85, 8 mm Hg).Conclusion: there is a significant difference between the results of the first group (young coconut water) and the second group (green ring) in reducing blood pressure (systolic) with the results of the Mann-Whitney Test obtained a P-value of 0.001 or P 0.05, then the blood pressure (diastolic) also obtained a significant difference in the results of the influence with the results of the Mann-Whitney Test obtained P = 0.000 Keywords: young coconut water, green grass jelly, hypertension, blood pressure 
Hubungan peran keluarga tentang penanganan ispa dengan kejadian ispa berulang pada balita Isabel Angelica; Richta Puspita Haryanti; Yuli Lestari
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 7 (2025): October Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i7.1591

Abstract

Background: Acute respiratory infections (ARI) are the leading cause of death in children under five worldwide, with a prevalence in Indonesia reaching 4.0% in 2023. This disease is often linked to environmental factors and a lack of family attention in its treatment. Purpose: To investigate the relationship between the role of the family in the treatment of ARI and the recurrence of ARI in children under five. Method: A correlational descriptive design with a cross-sectional approach was used. This study was conducted at Advent Hospital in Bandar Lampung. The study population consisted of children under five years of age who were treated for ARI. A total of 43 samples were taken using purposive sampling. The instrument used in this study was a family role questionnaire. Research subjects were selected based on specific criteria. Data analysis techniques used the Chi-square test. Results: The study found that most subjects were female, most were in the early adult age category, most had a high school education level, most were unemployed, and most had a poor family role in handling ARI. Most toddlers who had experienced recurrent ARI numbered 25 toddlers. Conclusion: Based on statistical analysis, it was found that there is a relationship between the role of the family in handling ARI and the incidence of recurrent ARI with a p-value <0.05. The positive role of the family is very important in the incidence of recurrent ARI in toddlers. Therefore, an education program is needed to increase knowledge and family involvement in handling ARI in toddlers.
Pengaruh Pijat Refleksi Laktasi Marmet Terhadap Kelancaran Air Susu Ibu Menyusui Mutiara Surya; Dewi Yuliana; Richta Puspita Haryanti
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya (JAKMW)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v5i2.1674

Abstract

Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi terbukti mampu memenuhi kebutuhan nutrisi serta meningkatkan daya tahan tubuh bayi terhadap infeksi penyakit. Selain itu, Air Susu Ibu (ASI) membantu membangun ikatan psikologis antara ibu dan bayi serta mendukung pencapaian target SDGs. Data cakupan ASI eksklusif di Provinsi Lampung khususnya Kabupaten Lampung Tengah masih dibawah target yaitu sebesar 76,9%. Kegagalan pemberian ASI dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi ASI, salah satunya adalah teknik pijat refleksi laktasi marmet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat refleksi laktasi marmet terhadap kelancaran air susu ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Poncowati Kabupaten Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pre-eksperimental One Group Pretest-Posttest Design. Populasi sampel berjumlah 28 ibu menyusui pasca bersalin yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner produksi ASI. Intervensi pijat refleksi laktasi marmet diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore) selama 10-15 menit. Penelitian ini dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test.  Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh pijat refleksi laktasi marmet terhadap kelancaran air susu ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Poncowati Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2026 (ρ-value=0,000). Dapat disimpulkan bahwa pijat refleksi laktasi marmet efektif dalam membantu ibu menyusui meningkatkan produksi ASI secara optimal. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan menambah jumlah sampel dan mempertimbangkan karakteristik paritas responden sebagai variabel yang dianalisis secara lebih mendalam.
Pengaruh Terapi Bermain Meronce terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4-6 Tahun di TK Citra Melati Bandar Lampung : The Effect of Bead-Stringing Play Therapy on the Fine Motor Skills of Children Aged 4–6 Years at Citra Melati Kindergarten in Bandar Lampung Miranda Savitri; Santi Oktavia; Richta Puspita Haryanti
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 5 (2026): EDISI MEI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i5.394

Abstract

Pendahuluan: Salah satu cara mengatasi gangguan tumbuh kembang anak adalah dengan terapi bermain. Bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak karena membantu mengembangkan aspek kognitif, motorik, sosial, dan emosional melalui cara yang alami dan menyenangkan. Permainan melatih anak memecahkan masalah, mengenal pola, serta mengembangkan koordinasi, kekuatan fisik, dan kepercayaan diri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi bermain meronce terhadap peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun di Taman Kanak-Kanak (TK) Citra Melati Bandar Lampung.               Metode: Penelitian kuantitatif quasi eksperimen ini dilakukan dengan one group design dengan membandingkan rata-rata skor sebelum dan sesudah dilakukan terapi meronce Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2026. Sampel pada penelitian ini menggunakan total populasi berjumlah 38 responden. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji t dependent yang mana uji ini membandingkan nilai rata-rata motorik halus anak sebelum dengan sesudah dilakukan terapi bermain meronce.                   Hasil: Berdasarkan hasil analsis data nilai rata-rata terjadi peningkatan kemampuan motorik halus anak, nilai rata-rata sebelum dilakukan terapi bermain meronce sebesar 9.87 dengan nilai tertinggi 17 dan terendah 7. Nilai rata-rata sesudah dilakukan terapi bermain meronce sebesar 13.03 dengan nilai tertinggi 17 dan terendah 9. Nilai p value 0.000 < 0,05. Kesimpulan: Ada pengaruh terapi bermain meronce terhadap peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 4-6 tahun. Disarankan penerapan terapi bermain meronce pada pembelajaran peserta didik taman kanak-kanak untuk mempercepat peningkatan perkembangan motorik halus
Penerapan Aromaterapi Chamomile Terhadap Kecemasan Pasien Pre-Pci di Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung Richta Puspita Haryanti; Arief Shofyan Baidhowy; Sandra Andini; Prima Trisna Aji
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25449

Abstract

ABSTRACT Coronary heart disease is one of the leading causes of mortality worldwide. Patients with ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) who are scheduled to undergo Percutaneous Coronary Intervention (PCI) often experience high levels of anxiety, which may worsen hemodynamic conditions and compromise clinical stability. One potential intervention to address this issue is the administration of chamomile aromatherapy. To analyze the effect of chamomile aromatherapy on anxiety levels in patients during the preoperative phase of PCI at Abdul Moeloek Hospital, Bandar Lampung. This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest approach. A total of 10 respondents were selected using purposive sampling. Anxiety levels were measured using the State-Trait Anxiety Inventory (STAI). The intervention consisted of inhalation of chamomile aromatherapy for approximately 8 hours at night over a period of three days. The study was conducted from January 25 to February 20, 2026. The findings showed that the mean anxiety score decreased from 44.60 to 34.80. Paired t-test analysis indicated a statistically significant difference (p = 0.000). Chamomile aromatherapy is effective in reducing anxiety levels among patients undergoing PCI in the preoperative phase. Keywords: Chamomile Aromatherapy, Anxiety, STEMI, PCI, Coronary Heart Disease.  ABSTRAK Penyakit jantung koroner termasuk salah satu penyebab utama kematian di dunia. Pasien dengan STEMI yang akan menjalani tindakan PCI sering mengalami kecemasan tinggi yang dapat memperburuk kondisi hemodinamik dan mengganggu stabilitas klinis pasien. Salah satu intervensi untuk mengatasi itu adalah dengan pemberian aromaterapi chamomile. Untuk menganalisis pengaruh aromaterapi chamomile terhadap tingkat kecemasan pasien pada fase preoperatif PCI di RS Abdul Moeloek Bandar Lampung. Desain penelitian menggunakan quasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest. Sampel sebanyak 10 responden dipilih secara purposive sampling. Pengukuran kecemasan menggunakan State-Trait Anxiety Inventory (STAI). Intervensi diberikan berupa inhalasi aromaterapi chamomile selama ±8 jam pada malam hari selama 3 hari. Periode penelitian berlangsung antara 25 Januari 2026 – 20 Februari 2026. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor kecemasan menurun dari 44,60 menjadi 34,80. Uji paired t-test menunjukkan hasil signifikan (p = 0,000). Aromaterapi chamomile efektif dalam menurunkan kecemasan pasien preoperatif PCI. Kata Kunci: Chamomile Aromatherapy, Kecemasan, STEMI, PCI, Penyakit Jantung Koroner.
Impact of Citrus aurantium Juice Consumption on Gestational Hypertension in Pregnant Women Resmi Ayu Wandira; Richta Puspita Haryanti; Ida Subardiah P
Genius Journal Vol. 7 No. 2 (2026): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v7i2.642

Abstract

Objective: The Maternal Perinatal Death Rate (MMR) in Indonesia in 2023 is 4,129, based on data from the Maternal Perinatal Death Notification (MPDN). The objective was to determine the effect of consumption of sweet orange juice (Citrus aurantium) on the reduction of blood pressure (gestational hypertension) in pregnancy in the Working Area of the Campang Raya Health Center, Bandar Lampung in 2024. Method: Research on the type of quantitative research. The research was conducted from January to February 2025 for 1 week in the working area of the Campang Raya Health Center in Bandar Lampung. Pre-Experimental design with pretest posttest with one group design Total population of 34 pregnant women with gestational hypertension, sample of 31 respondents. Puposive sample technique. Result: The average blood pressure before consumption of sweet orange juice (Citrus aurantium) was 146.13, SD 3.085. Meanwhile, diastolic blood pressure means 103.71, SD 8.848. The average blood pressure after 121.61, SD 7.460. Diastolic blood pressure means 89.52, SD 6.995. The t-test obtained a p value of 0.000< α (0.05) meaning that Ha was accepted, which means that there is an effect of consumption of sweet orange juice (Citrus aurantium) on the reduction of blood pressure (gestational hypertension) in pregnancy in the Working Area of the Campang Raya Health Center Bandar Lampung in 2024. Conclusion: By conducting this study, it can help pregnant women with gestational hypertension problems by consuming sweet oranges regularly can help lower blood pressure in pregnant women and reduce the risk of complications.