Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Forum Arkeologi

PERILAKU KONSUMSI KERANG OLEH MASYARAKAT PESISIR DESA HALERMAN, ALOR BARAT DAYA, NUSA TENGGARA TIMUR Yuni Suniarti; nfn Mahirta; Susan Lilian O'Connor; Widya Nayati
Forum Arkeologi VOLUME 32, NOMOR 2, OKTOBER, 2019
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2827.837 KB) | DOI: 10.24832/fa.v32i2.556

Abstract

Exploitation of aquatic resources has been carried out since the time of hunting and gathering food. Aquatic resources are generally exploited by communities or people living in coastal areas. One area that still exploits aquatic resources is Halerman Village, Alor Barat Daya Regency. People who live on the coast use marine resources as food, one of which is shellfish. The most shellfish that widely exploited is Haliotidae. Research question brought in this article is how shellfish consumption behavior of people in Halerman Village is. The purpose of this research is to record shellfish consumption behavior of people in Halerman Village. The research method used was in the form of observation and interviews regarding all stages of shellfish exploitation conducted by Alor coastal communities in Halerman Village. The use of shellfish is closely related to the consumption behaviors of the community which consists of the search for shellfish carried out during periods of low tide when the intertidal area is exposed. When collecting the shellfish, people use various equipment such as iron, wood, stone, baskets and buckets. The method of processing is done by gouging, burning, boiling, cooking with spices and breaking the shell using stones or other hard tools. Shellfish processing in archaeological assemblages can be demonstrated by the presence of breakage and/or burning patterns on the shell remains. These experimental and ethno-archaeological observations can be used as a reference for understanding the behaviour that resulted in the formation of shells in archaeological deposits. Pemanfaatan sumber daya akuatik telah dilakukan sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan. Sumber daya akuatik pada umumnya dieksploitasi oleh komunitas atau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Salah satu daerah yang masih melakukan eksploitasi sumber daya akuatik yaitu Desa Halerman, Kabupaten Alor Barat Daya. Masyarakat yang bertempat tinggal di pesisir memanfaatkan sumber daya laut sebagai bahan pangan, salah satunya kerangkerangan. Salah satu jenis kerang yang banyak dieksploitasi yaitu Haliotidae. Rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Tujuan Penelitian untuk mendokumentasikan perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Metode penelitian yang digunakan berupa observasi partisipasi dan wawancara yang dilakukan kepada masyarakat pesisir Alor di Desa Halerman. Pemanfaatan kerang erat kaitannya dengan perilaku konsumsi masyarakat yang terdiri dari waktu pencarian kerang, cara pemilihan dan proses pengambilan, alat yang digunakan serta cara pengolahan kerang. Waktu pencarian kerang dilakukan meting surut (air laut surut) pada saat area intertidal terbuka. Jenis kerang yang dikonsumsi pada umumnya jenis kerang yang hidup di area low dan middle intertidal, akan tetapi salah satu jenis yang paling banyak dicari merupakan jenis kerang abalone (Haliotidae), alat yang digunakan untuk mencari kerang berupa besi, kayu, batu, keranjang dan ember. Cara pengolahan yang dilakukan dengan cara dicungkil, dibakar, direbus, dimasak bersama bumbu dan dipecahkan cangkangnya menggunakan batu atau alat keras lainnya. Pola pecah atau bekas pembakaran pada cangkang kerang dapat menjadi referensi untuk penelitian arkeologi yang berkaitan dengan pola kerusakan cangkang kerang pada deposit arkeologi.
PELABUHAN WINI NUSA TENGGARA TIMUR DARI MASA KE MASA: STUDI ETNOARKEOLOGI Wachid Azis; Widya Nayati
Forum Arkeologi VOLUME 27, NOMOR 1, APRIL 2014
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3117.625 KB) | DOI: 10.24832/fa.v27i1.58

Abstract

Trading in Timor island was estimated to happened since 16th century. The foreign traders came to Timor island to seek sandalwood, honey, and beeswax to be traded again in their homeland. The purpose of this research is determining activities and role of trading, as well as the Kingdom of Bibokis role in Port Wini. This is a qualitative research. Data were collected through literature study, observation, and interview with ethnoarchaeological method. The data were analyzed by inductive approach and descriptively presented. Port Wini is located in a strategic position and became one of trading centre in the past and still developing until now. In the kingdom era, the king took the role as controler of the port and monopolized sandalwood trading with foreign traders.Perdagangan di Pulau Timor diperkirakan sudah berlangsung sejak abad ke-16 Masehi. Para pedagang asing datang ke Pulau Timor untuk mencari cendana, madu, dan lilin untuk diperdagangkan kembali di daerah asal mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peranan dan aktivitas perdagangan serta peran Kerajaan Biboki di Pelabuhan Wini. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data didapat melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara dengan pendekatan etnoarkeologi. Data dianalisis secara induktif dan disajikan secara deskriptif. Lokasi Pelabuhan Wini sangat strategis dan menjadi salah satu pusat perdagangan sejak dahulu dan terus dikembangkan hingga sekarang. Pada jaman kerajaan, raja sebagai pemegang kontrol atas pelabuhan ini memonopoli perdagangan cendana dengan asing.
WILAYAH KERAJAAN AMARASI, NUSA TENGGARA TIMUR: ANALISIS KEWILAYAHAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI Sinta Akhirian; Widya Nayati
Forum Arkeologi VOLUME 27, NOMOR 1, APRIL 2014
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.134 KB) | DOI: 10.24832/fa.v27i1.55

Abstract

Amarasi is one of the kingdoms on the island of Timor which has a history, tradition, and system of governance which is still preserved nowadays. This research aims to determine the orientation of Amarasi settlements. Literature study, survey, and interview were applied in this research supported by Geographical Information System (GIS). The orientation of Amarasi settlement has dynamic pattern which has been developed according to its topographic and natural morphologic characteristics. The development of Amarasi settlement indicates the change of Amarasi peoples life pattern from the past until now.Amarasi merupakan salah satu kerajaan di Pulau Timor yang memiliki sejarah, tradisi, dan sistem pemerintahan yang masih lestari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui orientasi permukiman wilayah Kerajaan Amarasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, survei, dan wawancara dengan ditunjang oleh SIG. Orientasi permukiman masyarakat Amarasi mempunyai pola dinamis yang mengalami perkembangan sesuai dengan topografi dan morfologi alamnya. Perkembangan permukiman mengindikasikan perubahan pola kehidupan masyarakat Amarasi dari masa lampau sampai sekarang.