p-Index From 2021 - 2026
10.398
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Kebersyukuran dan Intensi Berselingkuh di Usia Dewasa Madya Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang; Wahyuningrum, Enjang; Christina, Yemima Joy; Gratia, Yessika Sola
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.6505

Abstract

Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terkuat terjadinya perceraian. Intensi merupakan faktor motivasional yang berpengaruh besar terhadap perilaku dan dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi perilaku. Kebersyukuran memiliki korelasi terhadap intensi melakukan perselingkuhan. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain korelasional untuk mengetahui hubungan antara kebersyukuran dengan intensi perselingkuhan dan uji beda untuk mengetahui perbedaan intensitas berselingkuh pada pria dan wanita. Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi diperoleh nilai sebesar -0,134 dengan sig. = 0,007 (p<0,05). Uji komparatif terhadap pria dan wanita tentang intensi berselingkuh menunjukkan ada perbedaan intensi berselingkuh antara pria dengan wanita dan dari kedua kelompok tersebut, intensi berselingkuh pria cenderung lebih tinggi dibanding wanita. Dengan demikian, diharapkan para pasangan dapat meningkatkan kebersyukurannya agar relasi dengan pasangan semakin baik dan kecenderungan berselingkuhnya rendah. Kata kunci: perselingkuhan, kebersyukuran, dewasa madya
The Relationship Between Self-Confidence and Social Interaction in Adolescents from Divorced Families in Manado City Lasut, Zefanya Jennifer; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 05 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i05.1126

Abstract

A broken home is a family condition that experiences a split due to a problem that results in quarrels about divorce. A broken home greatly impacts the process of child development in social interaction. Children, especially in adolescence, are an important segment of life in the individual development cycle and require interaction with others in the process of self-discovery, so self-confidence is needed. This study aims to determine the relationship between self-confidence and social interaction in adolescents from divorced families. Participants in this study were 77 adolescents from divorced families in Manado City with an age range of 13–18 years. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data were collected using the self-confidence scale compiled by Lauster (2012) and the social interaction scale developed by Winslow et al.. The results of this study showed a significant positive relationship between self-confidence and social interaction, with a correlation of r = 0.477 and a significance of 0.000 (p<0.05). This means that the higher the self-confidence, the higher the social interaction.
Hubungan Antara Sikap Terhadap Perilaku Seks Pranikah dengan Perilaku Seks Pranikah pada Mahasiswa Sara Sola Gratia Naibaho; Ratriana Y . E. Kusumiati
Da'watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Vol. 4 No. 6 (2024): Da'watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/dawatuna.v4i6.4495

Abstract

This study aims to determine the relationship between students' attitudes toward premarital sex behavior and premarital sex behavior. Using quantitative approaches with correlation methods, this study involved students aged 18-25 years who had or had a partner. The sampling technique used was Accidental Sampling, with respondents as many as 125 students. Premarital sexual behavior was measured using the Guttman scale based on the stages of premarital sexual behavior: touching, kissing, petting, and intercourse. Attitudes toward premarital sex are measured by the Brief Sexual Attitude Scale (BSAS) which includes four dimensions: permissiveness, birth control, communion, and instrumentality. The results showed a positive relationship between attitudes towards premarital sex and premarital sex behavior, with a Pearson correlation coefficient of 0.479 and significant at p<0.05. Attitudes contributed 22.9% to premarital sexual behavior.
Marital Satisfaction pada Wanita Dewasa Awal Ditinjau dari Love Language Karwur, Eugenia Priskila Matildha; Endang, Ratriana Yuliastuti Kusumiati2
YUME : Journal of Management Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/yum.v8i1.8707

Abstract

Pernikahan merupakan tahap penting dalam kehidupan manusia, di mana kepuasan pernikahan menjadi salah satu indikator keberhasilan hubungan. Namun, dinamika pernikahan yang kompleks sering memicu konflik bahkan berujung pada perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara love language  dan marital satisfaction pada wanita dewasa awal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis korelasi rank-spearman. Subjek penelitian adalah wanita dewasa awal yang menjalani pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara love language dan marital satisfaction. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa dari lima aspek love language, quality time merupakan aspek yang paling dominan dalam memengaruhi marital satisfaction. Hal ini menunjukkan bahwa waktu berkualitas yang dihabiskan bersama pasangan mampu membangun kedekatan emosional yang mendalam dan meningkatkan kepuasan dalam hubungan pernikahan. Temuan ini memperkuat teori love language bahwa pemahaman dan penerapan love language dalam hubungan dapat meningkatkan kualitas dan kepuasan pernikahan. Kata Kunci: Bahasa Cinta, Kepuasan Pernikahan, Wanita Dewasa Awal, Waktu Berkualitas, Pernikahan.
Gambaran Psychological Well-Being pada Perempuan Dewasa Akhir yang Tidak Menikah Clalorin, Fransiska; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
Jurnal Diversita Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v11i2.16017

Abstract

Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis perempuan lansia yang tidak menikah (berusia 60-70 tahun) di Indonesia, yang menghadapi tantangan unik dalam masyarakat yang sangat menghargai pernikahan. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap partisipan yang dipilih dengan teknik snowball sampling. Penelitian ini mengeksplorasi enam dimensi psychological well-being model Ryff: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki profil kesejahteraan psikologis yang bervariasi, dengan kekuatan khusus pada domain otonomi dan pertumbuhan pribadi dibandingkan dengan rekan yang menikah. Spiritualitas dan dukungan sosial muncul sebagai faktor kunci penguat, dengan partisipan yang mandiri secara finansial menunjukkan penerimaan diri yang lebih positif. Mereka menemukan makna melalui aktivitas sosial dan keagamaan serta mengembangkan strategi koping berbasis spiritualitas. Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa pengalaman merawat anggota keluarga dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan psikologis. Implikasinya, program kesejahteraan lansia perlu menekankan aspek spiritualitas dan jaringan dukungan sosial, terutama bagi perempuan lanjut usia yang hidup sendiri.
Contribution of Emotional Maturity with Behavioral Tendencies of Self-Injury In Adolescents Rahardjo, Thalia Angelica; Kusumiati, Ratriana Yuli Endang
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 1 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i1.9311

Abstract

Self-injury as the realization of self-harm is an act of self-harm that is carried out to overcome shocks and mental or emotional pain that is carried out whether intentional or not. Based on previous research sources and journals, it is known that emotional maturity is one of the predictors of the emergence of self-injury behavior tendencies, although there are still other external factors. Specifically, this study focused on the relationship of emotional maturity with the tendency of self-injury behavior in adolescents with the subjects of grade 12 SMA N students in Temanggung as many as 177 respondents. This research is in the form of quantitative research with information in the form of statistical data. Based on the results and analysis of the Spearman-Rho Product-Moment correlation that has been carried out, it is known that the correlation coefficient between the variable X (Emotional Maturity) and the variable Y (Self-Injury) is 0.045 with a Sig. value of 0.278 indicates that there is no correlation of emotional maturity with a tendency to self-injury behavior in adolescents. Furthermore, the value of the contribution of emotional maturity contributed to variable Y, namely self-injury of 4.5% based on the calculation of the correlation coefficient of 0.045 multiplied by 100% and obtained an effective contribution result of 4.5 for variable X to Y. The amount of emotional maturity contribution to the emergence of self-injury behavior tendencies was 4.5% while the rest was influenced by other factors outside of emotional maturity that could trigger the emergence of tendencies self-injury behavior in adolescents. It is hoped that with this research, there will be a lot of knowledge about that emotional maturity only contributes to self-injury behavior.Self-injury sebagai realisasi self-harm adalah sebuah tindakan melukai diri sendiri yang dilakukan guna menanggulangi guncangan serta rasa sakit mental atau emosional yang dilakukan baik disengaja ataupun tidak. Berdasarkan sumber penelitian dan jurnal terdahulu, diketahui bahwa kematangan emosi menjadi salah satu prediktor munculnya kecenderungan perilaku self-injury, meskipun masih terdapat faktor eksternal lainnya. Secara spesifik penelitian ini berfokus pada hubungan kematangan emosi dengan kecenderungan perilaku self-injury pada remaja dengan subjek siswa kelas 12 SMA N di Temanggung sebanyak 177 responden. Penelitian ini berbentuk penelitian kuantitatif dengan informasi berupa data statistik. Berdasarkan hasil dan analisis korelasi Product-Moment Spearman-Rho yang telah dilakukan, diketahui bahwa koefisien korelasi antara variabel X (Kematangan Emosi) dengan variabel Y (Self-Injury) adalah 0.045 dengan nilai Sig. 0.278 mengindikasikan tidak terdapat kolerasi kematangan emosi dengan kecenderungan perilaku self-injury pada remaja. Selanjutnya pada nilai kontribusi kematangan emosi memberikan sumbangan terhadap variabel Y yaitu self-injury sebesar 4.5% berdasarkan hasil perhitungan koefisien korelasi sebesar 0.045 dikalikan 100% dan memperoleh hasil sumbangan efektif sebesar 4.5 untuk variabel X terhadap Y. Besarnya sumbangan kematangan emosi terhadap munculnya kecenderungan perilaku self-injury sebesar 4.5% sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain diluar kematangan emosi yang bisa memicu munculnya kecenderungan perilaku self-injury pada remaja. Diharapkan dengan adanya penelitian ini banyak menyumbangkan pengetahuan mengenai bahwa kematangan emosi hanyalah sebagian kecil memberikan kontribusi terhadap perilaku self-injury.
The Effect of Father’s Involvement in Parenting on Emotional Regulation in Catholic Adolescent at North Jakarta Gregorius Alexander Kristianto; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.9253

Abstract

This study examined the effect of father involvement in parenting on emotion regulation among Catholic adolescents in Region VIII of the Holy Cross Parish, North Jakarta. A quantitative causal-comparative design was employed. Participants were 30 adolescents selected through a total sampling. Data were collected using questionnaires measuring father involvement and adolescents’ emotion regulation. Data analysis was conducted using simple linear regression. Descriptive findings showed that father involvement was generally moderate to high, while adolescents demonstrated high levels of emotion regulation. However, regression analysis indicated no statistically significant effect of father involvement on emotion regulation (p = .910). The coefficient of determination was very small (R² = .001), indicating that father involvement explained a low proportion of variance in emotion regulation. These results suggest that adolescents’ emotion regulation may be more strongly influenced by other factors, including maternal caregiving, peer relationships, and the religious community environment. Despite the non-significant findings and the small sample size, this study highlights the importance of contextual and cultural considerations in examining parenting processes. It contributes to family and parenting psychology by emphasizing adolescent emotion regulation. Keywords: adolescent, emotion regulation, father involvement, parenting
Hubungan antara Kematangan Emosi dengan Kepuasan Pernikahan pada Dewasa Awal Julio Caesar Marvin Maki; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia (Japendi)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i4.7659

Abstract

Kepuasan pernikahan sangat penting untuk mempertahankan hubungan yang harmonis, namun angka perceraian di Indonesia tetap tinggi akibat konflik emosional dan stres ekonomi. Kematangan emosi, sebagai faktor psikologis kunci, diduga dapat meningkatkan kepuasan pernikahan, tetapi kontribusinya pada dewasa awal—fase kritis bagi stabilitas pernikahan—perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini menguji hubungan antara kematangan emosi dan kepuasan pernikahan pada dewasa awal Indonesia (18–40 tahun), sekaligus mengukur besarnya pengaruh kematangan emosi terhadap kepuasan pernikahan. Desain korelasional kuantitatif digunakan, dengan data dari 247 partisipan menikah melalui adaptasi skala Emotional Maturity Scale (EMS) dan ENRICH Marital Satisfaction Scale. Data tidak normal dianalisis menggunakan Spearman’s rho dan koefisien determinasi. Hasil menunjukkan korelasi positif signifikan (*r* = 0,198, *p* = 0,002), dengan kematangan emosi menyumbang 11,1% terhadap kepuasan pernikahan. Sebagian besar partisipan memiliki tingkat kematangan emosi dan kepuasan pernikahan sedang. Penelitian ini menekankan perlunya program konseling pernikahan berbasis budaya dan studi lanjutan tentang prediktor lain (misalnya komunikasi, stres finansial) untuk menjelaskan 88,9% varian kepuasan pernikahan yang belum terungkap.
The Relationship of Feminine Gender Roles to Fear of Success in Working Women Alicia Kusuma Wardani; Ratriana Y. E. Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.7262

Abstract

This study aims to examine the relationship between feminine gender roles and fear of success in working women aged twenty to forty years. Various theories suggest that successful women tend to fear losing their femininity, making this empirical investigation essential. A quantitative correlational research method with probability sampling was employed. The participants were 150 working women recruited via online questionnaires. The instruments used were the Bem Sex Role Inventory (BSRI) to measure feminine gender role and the Fear of Success Scale (FOSS) by Zuckerman and Allison to measure fear of success. Hypothesis testing revealed a correlation coefficient of -0.210 with a significance value of 0.010, leading to the rejection of the alternative hypothesis and acceptance of the null hypothesis. In conclusion, there is no significant relationship between feminine gender roles and fear of success in working women. These findings indicate that the manifestation and factors of feminine gender role can occur and be influenced by factors other than fear of success, such as educational experiences, cultural context, family support, work-family conflict management, and individual psychological resources including self-compassion and resilience. Keywords: feminine gender role, fear of success, working women
Cinta Pertama Jadi Luka : Dinamika Pemaafan Pada Perempuan Dewasa Muda Yang Ayahnya Berselingkuh Arta Sari Manullang; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
Economics and Digital Business Review Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki tingkat perceraian yang tinggi bahkan tertinggi ke-3 di dunia, untuk kasus "fatherless" menempati peringkat ke-7 di Asia. Dampak perceraian ini sangat signifikan terhadap psikologis anak, terutama dalam hal kemampuan mereka untuk memaafkan. Survei mengungkapkan bahwa 73% dari 20 anak yang mengalami perceraian belum bisa memaafkan orang tua mereka, dengan dewasa muda menjadi kelompok yang paling sulit untuk menerima perpisahan tersebut. Penelitian ini meneliti dinamika pemaafan pada perempuan yang ayahnya berselingkuh, mengidentifikasi aspek, motivasi serta faktor-faktor yang memengaruhi pemaafan, Menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap tiga partisipan, hasil menunjukkan bahwa adanya persamaan dinamika partisipan dalam proses pemaafan pada perempuan yang ayahnya berselingkuh. Ketiga partisipan mengalami proses pemaafan yang berlangsung secara bertahap, proses pemaafan memiliki empat fase yang saling berkaitan, yaitu fase pengungkapan, fase keputusan, fase tindakan, dan fase pendalaman. Kata Kunci: fatherless, perceraian, pemaafan, perempuan
Co-Authors Albertus Atalarico Krisna Herdianto Alicia Kusuma Wardani Alvina Tri Septiani Anselma Tesalonika Demosta Beloved Purba Apriliani, Viona Andika Arta Sari Manullang Arthur Huwae Bagas Triadi T Bagus Wicaksono Benedikta Amsalyana Elfrida Siagian Berta Esti Ari Prasetya Bramasto Bima Hendra Catur Prasetyo Adi Chornelia Silintowe Labiro Christiana Christiana Christiana Hari Soetjiningsih Christina, Yemima Joy Cindy Priscila Pantjo’u Clalorin, Fransiska Dwiyanti Tyasningrum, Augustien Edward Jonathan Morel Elbrien Christalica Litaay Elizabeth Hana Permatahati Mongdong Enjang Wahyuningrum Ester Hestiningsih Eunike Doxa Simanjuntak Fita Kumalasari Fortien, Wulan Stefania Gabriella Putri Yolita Gratia, Yessika Sola Gregorius Alexander Kristianto Gultom, Gratia Eunike Dameria Henry Franco Eduard Tobe Hutapea, Yohana Iloen, Alice Sinta Natalia Iwinda Pratama Hae Jenny Erine Valentina Jessica Jetta Pangaribuan Jocelyn Vania Ariadi Julio Caesar Marvin Maki Kakana Puan Talensya Karwur, Eugenia Priskila Matildha Kenania Roseli Dirfa Kezia Hana Situmorang Kurniawan, Baby Ayline Kurniawan, Maximilian Stevano Kusrin, Funny Tabita Lasut, Zefanya Jennifer Leony Rahmawati Listiya Ismi Amaliya Manalu, Glory Romanna Margaretta Erna Setianingrum Merya Anis Febriana Natasya Gloria Pangkey Nathania, Elizabeth Indah Dwi Nelvara, Elva Ningrum, Firanti Widi Nugroho, Risha Aprilia Dwi Picauly, Viona Adinda Putri Prakasa Agif Pramudya Primasari Oktaviani Purnawan Priscilla Cloudia Ruth Telussa Ragil Setiawan Rahardjo, Thalia Angelica Rahmawati, Leony Regina Vironica Wendi Rizqyana, Ayunindha Roy Gita Kristian Ryvo Immanuel Sara Sola Gratia Naibaho Saupa, Rosa Marsella Sinensis Sesilia Widya Kristianti Sherly Argya Putri Sisbandi, Adhetya Bagus Sisilia Karina Pertiwi Situmorang, Kezia Hana Thesalonika, Violin Thiara Marthince Inarkombu Toar Shamgar Mamesah Tommy Mozes La'lang Valentino Agung P. A. Kelegun Venetsya Betralisye Siahaya Vincentia Geralda K. N. Yastri Hastriani Mauboy Zefanya Jennifer Lasut