Claim Missing Document
Check
Articles

Spirituality and Resilience in Involuntary Childlessness: A Correlational Study Ryvo Immanuel; Ratriana Y.E Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 01 (2026): January 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i01.7688

Abstract

Involuntary childlessness is a condition of not having children due to external factors, such as illness or other things that are beyond individuals’ control, which make them unable to have children. Involuntary childless couples have challenges in psychological, emotional, and social aspects. This study aims to determine the relationship between spirituality and resilience in involuntary childless families. This study used a quantitative method with a correlational design. There were 187 participants in this study, consisting of 80 husbands and 107 wives of childless individuals. The research data is collected from involuntary childless families using a snowball sampling. Spirituality was measured by the Spiritual Attitude and Involvement List (α=0.995), and resilience was measured by the Connor Davidson Resilience Scale (α=0.977). The results showed a sig=0.000 (p<0.005) and a correlation coefficient of 0.463, where the higher the level of spirituality, the higher the resilience in involuntary childless families. Involuntary childless families can increase their spirituality and be more resilient to the problems faced by following spirituality and non-spirituality practices. Keywords: spirituality, resilience, involuntary childless family, mental health
Dinamika Forgiveness pada Istri Korban Perselingkuhan Suami Kenania Roseli Dirfa; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i2.15684

Abstract

Infidelity is a relationship established with someone other than one's spouse. This certainly evokes various emotions in the victim. Forgiveness is a change in an individual's behavior with the aim of reducing the motivation for revenge or distancing oneself from other individuals who have hurt them. This study aims to reveal the stages of the process and factors that influence forgiveness in a wife who is a victim of her husband's infidelity but still maintains her marriage. A qualitative research method was chosen to collect data from three participants through semi-structured interviews and observation. The results show that each participant went through four stages in the forgiveness process, namely the uncovering phase, decision to forgive, work phase, and deepening phase. Although they went through the same four stages, each participant had a different way of expressing and responding to their feelings, as well as their motivation to reconcile. This study also reveals that one of the biggest factors influencing forgiveness in the three participants was their level of religiosity.
Gambaran Psychological Well-Being pada Perempuan dengan Orientasi Seksual Sesama Jenis di DKI Jakarta Benedikta Amsalyana Elfrida Siagian; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i2.15887

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran psychological well-being pada individu lesbian di DKI Jakarta dengan mengacu pada enam dimensi psychological well-being menurut Ryff, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga partisipan lesbian yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk menggali pengalaman subjektif partisipan secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being terbentuk melalui proses yang dinamis dan saling berkaitan antar dimensi, dengan penerimaan diri sebagai fondasi utama yang diperkuat oleh dukungan sosial. Dukungan dari teman, pasangan, dan komunitas membantu partisipan mengembangkan otonomi, mengelola lingkungan sosial yang belum sepenuhnya menerima keberagaman orientasi seksual, serta menemukan tujuan hidup yang bermakna. Selain itu, penelitian ini juga menemukan temuan di luar kerangka Ryff, yaitu pengelolaan identitas secara selektif, penetapan batasan psikologis, dan pembentukan rasa aman melalui relasi serta komunitas yang suportif sebagai strategi koping adaptif. Temuan ini memberikan implikasi bahwa upaya mendukung kesejahteraan psikologis individu lesbian perlu mempertimbangkan konteks sosial serta strategi adaptif yang mereka kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara Regulasi Emosi dan Kepuasan Pernikahan pada Generasi Z Roy Gita Kristian; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i2.16613

Abstract

Penelitian ini didorong oleh fenomena tantangan dalam menjaga keharmonisan perkawinan di kalangan pasangan Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk secara empiris menguji hubungan antara regulasi emosi dan kepuasan perkawinan pada Generasi Z. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara regulasi emosi dan kepuasan perkawinan, dengan tingkat regulasi emosi yang lebih tinggi mengarah pada tingkat kepuasan perkawinan yang lebih tinggi. Partisipan dalam penelitian ini adalah 100 individu dari Jawa Tengah. Pengumpulan data menggunakan skala kepuasan perkawinan ENRICH dan Kuesioner Regulasi Emosi (ERQ). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diuji menggunakan Uji Korelasi Spearman diterima. Penelitian ini menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara regulasi emosi dan kepuasan perkawinan. Hal ini ditunjukkan oleh hasil r = 0,791 dengan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Ini berarti bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi emosi, semakin tinggi pula kepuasan perkawinan yang dirasakan. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya mengembangkan keterampilan manajemen emosi bagi pasangan muda untuk meningkatkan kualitas hubungan perkawinan mereka.
BALANCING SHIFTS AND MARRIAGE: THE ASSOCIATION BETWEEN WORKLOAD AND MARITAL ROLE CONFLICT AMONG MARRIED FEMALE NURSES Sherly Argya Putri; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
EDUCATIONE Volume 4, Issue 2, July 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i2.207

Abstract

Female nurses commonly face dual-role demands from shift-based clinical work and family responsibilities, which can heighten marital role conflict and threaten work–family balance. This study examined the association between perceived workload and marital role conflict among married female nurses at PKU Muhammadiyah Hospital, Temanggung. Using a quantitative correlational design, data were collected from 90 married female nurses selected through proportionate stratified random sampling. Workload was measured with the NASA Task Load Index (NASA–TLX), while marital role conflict was assessed using the Work–Family Conflict Scale developed by Netemeyer et al. (1996). Pearson correlation analysis showed a positive and statistically significant relationship between workload and marital role conflict (r = 0.311; p = 0.003), indicating that higher perceived workload is associated with greater conflict in fulfilling marital and family roles. These findings suggest that workload—particularly in shift-based nursing—may contribute to strain at home through reduced time, energy depletion, and emotional fatigue. The study concludes that hospital management should prioritize more proportional workload allocation and fairer shift arrangements, complemented by supportive programs (e.g., stress management, supervisor support, and work–family facilitation) to protect nurses’ well-being and family functioning. Future research should employ longitudinal or mixed-method designs and test potential mediators/moderators such as job resources, social support, marital satisfaction, and coping strategies.