Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Jurnal Agrohut

Inventarisasi Alat Tangkap Ramah Lingkungan di Desa Werinama Tahir Tuasikal
Jurnal Agrohut Vol 11 No 1 (2020): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v11i1.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis alat tangkap ikan ramah lingkungan yang di gunakan oleh nelayan di Desa Werinama. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Data yang berhasil dikumpulkan dan disesuaikan dengan kriteria keramahan lingkungan alat tangkap. Hasil penelitian inventarisasi alat tangkap ramah lingkungan menunjukan bahwa Jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Desa Werinama adalah pancing, jaring insang dasar (bottom gillnet), dan jaring bobo (pukat cincin). Alat penangkapan ikan yang termasuk katagori sangat ramah lingkungan yaitu pancing tegak, jaring insang dasar (bottom gillnet), dan jaring bobo (pukat cincin). Hasil skor keramahan alat tangkap ikan yang digunakan di Desa Werinama pada alat tangkap pancing tegak, jaring insang dasar (bottom gillnet), dan jaring bobo masing-masing adalah 31,2, 27,8, dan 25,7.
Kerapatan Ekosistem Mangrove di Dusun Wael, Kabupaten Seram Bagian Barat Tahir Tuasikal
Jurnal Agrohut Vol 11 No 1 (2020): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v11i1.4

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi, kerapatan, dan pola zonasi vegetasi mangrove di Pantai Wael. Lokasi penelitian dibagi menjadi dua stasiun dan estimasi komposisi dan kerapatan vegetasi mangrove menggunakan sistematik random sampling dengan bantuan transek dan kuadran dengan ukuran kuadran untuk kriteria pohon 10x10m, pancang 5x5m, dan anakan 2x2m. Hasil penelitian pada stasiun ditemukan komposisi dan kerapatan tertinggi kriteria pohon adalah Rhizophora apiculata sebesar 31,6 % dan 433,7 ind/ha, komposisi dan kerapatan terendah adalah jenis Soneratia alba 0,2 % dan 2,1 ind/ha. Kriteria pancang komposisi dan kerapatan tertinggi adalah jenis Rhizophora apiculata 35,5 %, dan 374,7 ind/ha, sedangkan komposisi dan kerapatan terendah adalah jenis Scyphipora hydrophylaceae 1,6 % dan 16,8 ind/ha. Kriteria anakan komposisi dan kerapatan tertinggi adalah jenis Bruguiera sexangula 25,3 % dan 2131,6 ind/ha, sedangkan komposisi dan kerapatan terendah adalah jenis lumnitzera rasemoza 0,6 % dan 52,6 ind/ha. Untuk stasiun II komposisi dan kerapatan tertinggi kriteria pohon adalah jenis Rhizophora apiculata 31,4 % dan 296,8 ind/ha, dan komposisi dan kerapatan terendah adalah Limnotzera litorea 0,3 % dan 3,2 ind/ha. Kriteria pancang komposisi dan kerapatan tertinggi adalah jenis Rhizophora apiculata 29,3 % dan 262,4 ind/ha, dan komposisi terendah Lumnitzara litorea 1,4 % dan 12,9 ind/ha. Kriteria anakan komposisi tertinggi adalah jenis Rhizophora apiculata 32,8 % dan 2096,8 ind/ha, dan komposisi terendah Ceriops decandra 1,7 % dan 107,5 ind/ha. Pola zonasi yang terbentuk pada stasiun I dari arah laut menuju daratan untuk kriteria pohon adalah zona Rhizophora, zona Ceriops, zona Scyphipora dan Zona Acroticum. Kriteria pancang adalah zona Rhizophora, zona Ceriops, dan zona Avicennia. Untuk kriteria anakan adalah zona Rhizophora, zona Ceriops, zona Avicennia dan Bruguiera. Sedangkan pada stasiun II, untuk kriteria pohon adalah zona Rhizophora, zona Ceriops, zona Scyphiphora, dan zona Acrosticum. Zona kriteria pancang adalah zona Rhizophora, zona Ceriops, dan zona Avicennia. Kriteria anakan adalah zona Rhizophora, zona Ceriops, dan zona Rhizophora.
Strategi Pengembangan Ekowisata Pantai Nitanghahai di Desa Morela, Kabupaten Maluku Tengah Tahir Tuasikal
Jurnal Agrohut Vol 11 No 1 (2020): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v11i1.28

Abstract

Salah satu kawasan wisata pantai yang terletak di pesisir pantai Desa Morella, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah adalah wisata Pantai Nitanghahai. Kawasan wisata ini memiliki daya tarik tersendiri dan menjadi salah satu objek wisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat di pulau Ambon dan sekitarnya termasuk wisatawan mancanegara karena itu perlu dilakukan studi untuk mengembangkan kawasan wisata ini pada waktu yang akan datang. Metode yang digunakan adalah survey kondis lokasi dan dilanjutkan dengan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu dilakukan beberapa strategi, antara lain (1) Pemanfaatan ekowisata dengan menarik investasi dan menjadikan aset daerah dengan menjaga dan melestarian potensi perikanan. (2) Pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan ekowisata dan pelestarian lingkungan serta saling koordinasi dalam pengembangan ekowisata secara lintas sektor dalam mengelola kawasan ekowisata pantai Nitanghahai. (3) Pemanfaatan lahan sesuai dengan potensi ekowisata untuk meningkatkan kontribusi secara ekonomi bagi pengelola dan masyarakat secara berkelanjutan dan peningkatan koordinasi lintas sektor dari proses perencanaan, implementasi serta evaluasi. (4) Pengelolaan potensi lahan sesuai dengan peruntukannya agar dapat mendukung upaya konservasi lahan secara berkelanjutan. (5) Pembangunan fasilitas penunjang ekowisata oleh pengelola harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan pengunjung.
KODAM 4.0 (Kolaborasi Desa Adat, Karang Taruna, dan Pemda): Strategi Optimalisasi Potensi Kearifan Lokal Sasi sebagai Branding Provinsi Maluku guna Mensukseskan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional di Era Revolusi Industri 4.0 Dita Fomara Tuasikal; Tahir Tuasikal
Jurnal Agrohut Vol 12 No 1 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i1.124

Abstract

Terdapat 11 wilayah pengembangan perikanan (WPP) di Indonesia dan 3 di antaranya ada di Maluku. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Maluku telah menggalakkan proyek mercusuar bertajuk Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN). Seiring berjalannya waktu, pasang surut pengelolaan perikanan terintegrasi melalui M-LIN belum membuahkan hasil yang maksimal. Sintesa ini berusaha untuk menawarkan KODAM (Kolaborasi Desa Adat, Karang Taruna, dan Pemda) untuk mensukseskan M-LIN. Kolaborasi ini berbasis pelaksanaan “sasi” sebagai kearifan lokal di Maluku. Proyek yang ditawarkan akan berlangsung tiga tahap, mulai dari pelaksanaan kebijakan khusus dari Pemda, dilanjutkan dengan sosialisasi kepada Karang Taruna dan unsur terkait, pelaksanaan sasi secara serempak pada beberapa Desa, publikasi, hingga evaluasi keberhasilan program. Tahap berikutnya adalah analisa dan perbaikan terhadap aktifitas KODAM di tahun pertama. Harapannya adalah pelaksanaan KODAM di tahun kedua lebih terukur, ideal dan sukses.
Pengaruh Lama Perendaman Jaring Insang Dasar Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Demersal di Perairan Telaga Indah, Huamual Belakang, Seram Bagian Barat Tuasikal, Tahir; Sangadji, Madehusen
Jurnal Agrohut Vol. 15 No. 2 (2024): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v15i2.341

Abstract

Ikan demersal merupakan ikan dasar (karang) yang bernilai ekonomis tinggi memiliki pangsa pasar ekspor luas, dengan harga yang tinggi. Kebutuhan dan permintaan pasar yang terus mengalami peningkatan sehingga membutuhkan kontinuitas bahan baku. Untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat , menyebabkan intensitas penangkapan semakin meningkat. Peningkatan intensitas penangkapan terjadi hampir di seluruh wilayah perairan indonesia termasuk di perairan Laut dusun Telaga Indah, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat. Intensitas penangkapan menyebabkan ikan Demersal mengalami penurunan ukuran stok yang tertangakap dari segi ukuran individu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, pengaruh waktu perendaman jaring insang dasar (Bottom gillnet) terhadap hasil tangkapan ikan demersal. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2018 bertempat diperairan dusun Telagah Indah. Pengambilan sampel ikan dilakukan setelah melakukan pengoperasian jaring yang didapatkan dari hasil tangkapan yang mana dalam pengoperasiannya di lakukan tiga kali sehari yaitu: Pagi, Siang, dan Malam, Analisis data pengaruh waktu perendaman jaring insang dasar terhadap hasil tangkapan ikan demersal dengan menerapkan metode eksprimen. Analisis yang digunakan adalah Analisis Varian (Anova) dengan penggunaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang sesuai dengan asumsi yang digunakan pada saat penelitian. Tiga taraf perlakuan yang digunakan adalah : Hasil tangkapan pada pagi hari, pada siang hari, dan hasil tangkapan pada malam hari. Satuan percobaan pada penelitian ini adalah alat tangkap jaring insang dasar, sedangkan respon yang di ukur adalah berat dan jumlah individu hasil tangkapan pada setiap kali operasi penangkapan. Berdasarkan hasil yang telah diuji dengan menggunakan uji ANOVA didapatkan nilai Fhitung = 3.9323 > Ftabel = 3,354 pada α 0,05, hal ini menunjukkan bahwa waktu penangkapan berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan dengan alat tangkap Bottom Gill Net. Sementara itu uji lanjutan dengan mempergunakan Uji t Student untuk melihat perbedaan waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan menunjukkan bahwa pada waktu malam berbeda nyata dengan waktu siang (2,5953 >2,2621) pada α 0,05 dan tidak berbeda nyata dengan waktu pagi (0,3701 < 2,2621) pada α 0,05. Sedangkan pada waktu pagi berbeda nyata dengan waktu siang (3,6839 > 2,2621) pada α 0,05.