Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Characteristics of Patients with Acute Respiratory Infections Using Antibiotics at Hospital X Haryani, Mega; Sormin, Ida Paulina; Liandhajani, Liandhajani
Journal La Medihealtico Vol. 5 No. 4 (2024): Journal La Medihealtico
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallamedihealtico.v5i4.1527

Abstract

Infection channel Respiratory acute (ARI) includes a number involving infections various part channel breath, of nose and throat until bronchi and lungs. Use antibiotics often required For treat ARI, though approach prevention like promotion cleanliness hands, management environment, and education society is also very important. Factors like type gender, age, education, occupation, marital status, and smoking status join in role in increase risk affected by ISPA. Study This aim For identify characteristics patients suffering from ARI with various aspect covers type gender, range age, level education, type employment, marital status, and smoking status. Study This use design descriptive observational that utilizes secondary data from notes document medical ARI patients at the center record Hospital. Total samples observed in study This is as many as 110 patients. Analysis show domination patient women (56.3%), which is possible influenced by factors biological, hormonal, and social. Age patients at Hospital X are dominated by groups age 18-30 years (50%), which is likely big influenced by style life and activities population on a range age This. Majority patient in study This own education undergraduate level (33.6%). Patients with work as employee private reached 30%, meanwhile percentage patients who smoke reached 54.5%, which shows significant prevalence in population This. In research This, of the total 110 patients at Hospital X, the majority is Woman. Group age the most is 18-30 years old, which is often active in a way social and productive. By education, in part big patient own background behind education high.
ANALISIS INTERAKSI OBAT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE-2 DENGAN KOMPLIKASI HIPERTENSI DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT “X” Qoonitah, Salmaa; Sormin, Ida Paulina
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v6i2.6657

Abstract

Interaksi obat dalam peresepan dapat menjadi masalah serius dan berpotensi menyebabkan kegagalan terapi. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang dapat terjadi komplikasi sehingga sering mendapatkan peresepan polifarmasi dalam terapinya yang cenderung dapat meningkatkan resiko terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengobatan dan interaksi obat yang paling banyak terjadi pada pasien diabetes melitus tipe-2 dengan komplikasi hipertensi di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih Periode Januari – Juni 2021 menggunakan metode penelitian deskriptif dan data dikumpulkan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien di rumah sakit pada periode Januari – Juni 2021. Hasil menunjukkan bahwa gambaran pengobatan pada pasien dengan penggunaan 2-3 obat lebih banyak yaitu 56 orang (70%) dibandingkan dengan 4-5 obat yaitu 24 orang (30%), serta penggunaan antidiabetes dengan persentase terbanyak yaitu metformin (49,2%) dan penggunaan antihipertensi dengan persentase terbanyak yaitu amlodipine (50%). Interaksi obat yang paling banyak terjadi adalah interaksi obat metformin dan amlodipine yaitu sebanyak 46 (74%), serta interaksi obat terbanyak berdasarkan mekanismenya yaitu farmakodinamik sebanyak 58 (94%) dan berdasarkan tingkat keparahannya yaitu moderat sebanyak 62 (100%). Berdasarkan data yang telah didapatkan diketahui dari 80 pasien terdapat 51 pasien (64%) yang mengalami interaksi obat, dan 29 pasien (36%) tidak mengalami interaksi obat.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan Pasien Tuberkulosis Terhadap Kepatuhan Dan Keberhasilan Pengobatan Di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih Tahun 2022 Sormin, Ida Paulina; 01, Alfiani Ma'mun
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v8i2.6697

Abstract

Tuberkulosis yang sering dikenal dengan tuberkulosis paru disebabkan bakteri Mycobacterium Tuberulosis (M. Tuberrculosis) dan termasuk penyakit menular. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan dapat dipengaruhi oleh pengalaman, tingkat pendidikan dan sumber informasi. Kepatuhan terhadap pengobatan didefinisikan sebagai sejauh mana perilaku pasien susuai dengan intruksi yang diberikan oleh tenaga medis mengenai penyakit dan pengobatannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis terhadap kepatuhan dan keberhasilan pengobatan di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih tahu 2022. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan metode cross sectional dengan menggunakan kuisioner Adek Atik (2010) dan dimodifikasi oleh peneliti untuk pengethuan dan kuisioner tingkat kepatuhan menggunakan MMAS-8 (Morisky amedication Adherence Scale) dan dimodifikasi oleh peneliti. Sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu seluruh populasi pasien tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di bulan Januari – Oktober 2022 sebanyak 110 responden. Karakteristik sosiodemografi didapatkan hasil umur 26-40 sebanyak 38 responden (34,5%), jenis kelamin mayoritas laki-laki sebanyak 58 responden (52.7%), pendidikan mayoritas SMA/SMK sebanyak 55 responden (50.0%), pekerjaan mayoritas berprofesi karyawan sebanyak 30 responden (27,3%), penghasilan diatas 3 juta sebanyak 53 responden (48.2%), pengeluaran diatas 3 juta sebanyak 44 responden (40.0%). Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis terhadap kepatuhan di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, hasil ini didapatkan dari uji Chi Square dengan p-value sebesar 0,000 dan tingkat pengetahuan berbanding lurus dengan tingkat kepatuhan. Terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan dan keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, hasil ini didapatkan dari uji Chi Square dengan p-value sebesar 0,000 dan tingkat kepatuhan berbanding lurus dengan keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis.Kata kunci: Tuberkulosis; Pengetahuan; Kepatuhan
The Combination of Gardenia jasminoides, Boswellia serrata, Commiphora myrrha, Foeniculum vulgarae, and Daucus carota Essential Oil Blend Improved the Inflammatory and Clinical Status in Respiratory Tract Infection of COVID-19 Patients: A Multicentre, Randomized, Open-label, Controlled Trial Lestari, Keri; Babikian, Haig; Kulsum, Iceu Dimas; Ferdian, Ferdy; Ismail, Efriadi; Sumalim, Yelsen; Setiawan, Setiawan; Santoso, Prayudi; Hartantri, Yovita; Arifin, Arief Riadi; Meiliana, Anna; Sormin, Ida Paulina; Sugiono, Erizal
The Indonesian Biomedical Journal Vol 16, No 3 (2024)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v16i3.3023

Abstract

BACKGROUND: Essential oils (EO) are complex volatile, naturally synthesized compounds from aromatic plants. It considers as healthy, effective, and safe since they were coming from nature. Gardenia jasminoides, Boswellia serrata, Commiphora myrrha, Foeniculum vulgarae, and Daucus carota are known to have antimicrobials, antioxidants, antiinflammation properties against respiratory tract infection. However, despite its natural content, a safety profile needs to be observed. Therefore, in this study, EO blend (EOB) made from the combination of these 5 plants was assessed for its efficacy and safety for respiratory tract infection in human.METHODS: A multicentre, randomized, open-label, phase II controlled trial involving 80 hospitalized adults with COVID-19 was conducted. One group of subjects only received standard of care (SoC), while the other group receive SoC and EOB orally for 10 days.RESULTS: There were significant decrease in interleukin (IL)-6 level (p=0.016) and interferon (IFN)-γ level (p=0.012), as well as better respiratory rate (p=0.024) for the group receiving SoC and EOB compared to the group receiving SoC only. However, there was no significant differences in aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), creatinine, and the corrected QT interval (QTc) prolongation value in both groups. All subjects with adverse effects were improved and recovered, and there were no serious adverse events found.CONCLUSION: The combination of G. jasminoides, B. serrata, C. myrrha, F. vulgarae, and D. carota EOB could improve the inflammatory and clinical status and safe to be used as adjuvant therapy for treating COVID-19 in adults.KEYWORDS: essential oils, COVID-19, inflammation, safety
Cost Effectiveness Analysis Therapeutic Outcome Antihipertensi Kombinasi A ( Valsartan, Amlodipin, Furosemid) Dan Kombinasi B (Valsartan, Hidroklortiazid, Amlodipin) Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Umum Pendidikan Jakarta Malasari, Wahyuni; Sormin, Ida Paulina; Liandhajani, Liandhajani; Lukas, Stefanus
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55970

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang memerlukan terapi jangka panjang, sehingga biaya pengobatan menjadi faktor krusial dalam keberhasilan terapi. Pemilihan kombinasi antihipertensi yang efektif secara klinis dan efisien secara ekonomi sangat penting untuk mengoptimalkan manajemen pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya antara dua terapi, yaitu Kombinasi A (Valsartan, Amlodipin, Furosemid) dan Kombinasi B (Valsartan, Hidroklortiazid, Amlodipin) pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pendidikan Jakarta periode Januari-Juni 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (Cross-Sectional) dengan pengambilan data secara retrospektif dari rekam medis. Sampel penelitian berjumlah 216 pasien yang dibagi rata menjadi 108 pasien per kelompok. Efektivitas terapi diukur berdasarkan persentase ketercapaian target tekanan darah terkontrol (MAP). Analisis ekonomi dihitung berdasarkan biaya medis langsung yang meliputi biaya obat, jasa dokter, dan pemeriksaan laboratorium menggunakan parameter Average Cost-Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien adalah perempuan (51,4%) dengan kelompok usia terbanyak 50-59 tahun (32,4%). Kombinasi A memiliki efektivitas klinis lebih tinggi (93,5%) dibandingkan Kombinasi B (72,2%). Total biaya medis langsung Kombinasi A (Rp392.326.893) lebih rendah daripada Kombinasi B (Rp452.799.996). Nilai ACER Kombinasi A adalah Rp4.038.777/MAP, lebih rendah dari Kombinasi B (Rp4.498.311/MAP). Perhitungan ICER menghasilkan nilai negatif (-2.839.112) yang menunjukkan posisi dominan Kombinasi A. Kesimpulannya, terapi Kombinasi A lebih efektif secara klinis dan biaya dibandingkan Kombinasi
Cost Effectiveness Analysis Terapi Kombinasi Golongan ACEI (Angiotensin Converting Enzym Inhibitors) – CCB (Calcium Channel Blockers) dan ARB (Angiotensin Receptor Blockers) – CCB (Calcium Channel Blockers) pada Pasien Hipertensi dengan Hemodialisa di R Dini, Shafira Anggia; Sormin, Ida Paulina
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55971

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronik yang memerlukan terapi jangka panjang dengan pertimbangan klinis dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya terapi kombinasi ACEI–CCB dibandingkan ARB–CCB pada pasien hipertensi dengan hemodialisis di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Penelitian menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pendekatan Cost Effectiveness Analysis (CEA). Sampel berjumlah 80 pasien yang dipilih menggunakan purposive sampling, terdiri dari 27 pasien kelompok ACEI–CCB dan 53 pasien kelompok ARB–CCB. Data diperoleh dari rekam medis periode Januari–Desember 2025. Efektivitas diukur berdasarkan proporsi pasien yang mencapai target tekanan darah. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas terapi ARB–CCB sebesar 81,13% lebih tinggi dibandingkan ACEI–CCB sebesar 51,85%. Total biaya medis langsung ARB–CCB sebesar Rp 14.816.264 lebih tinggi dibandingkan ACEI–CCB sebesar Rp 14.446.115. Nilai ACER ARB–CCB sebesar Rp 18.262.373 lebih rendah dibandingkan ACEI–CCB sebesar Rp 27.861.359, dengan nilai ICER sebesar Rp 32.783.422. Disimpulkan bahwa terapi kombinasi ARB–CCB lebih cost-effective dibandingkan ACEI–CCB pada pasien hipertensi dengan hemodialisis.