Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PERBANDINGAN GEJALA KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI SETELAH VAKSIN COVID-19 ASTRAZENECA PERTAMA DAN KEDUA DI CENTRAL VAKSINASI UTA 45 JAKARTA Lukas, Stefanus; Ramatillah, Diana Laila; Aldi, Yufri; Wahyuni, Fatma Sri
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 1 (2024): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v9i1.1879

Abstract

Post-Immunization Adverse Events (AEFI) are common among vaccine participants. AEFI needs to be evaluated because Covid-19 vaccination is an effort to prevent Covid-19 infection which is still relatively new and people are still afraid of post-immunization adverse events occurring. In order for community participation to increase, it is deemed necessary to carry out an AEFI evaluation for both the first dose and the second dose (complete dose). This study aims to evaluate the symptoms of AEFI 1 with AEFI 2 by measuring the number of respondents who caused local and systemic reactions after COVID-19 vaccination. The retrospektive and prospective cross sectional study were used in this study with about 113 Astrazeneca vaccine participants at the UTA'45 Jakarta vaccine center and the data met the inclusion and exclusion criteria. Data was collected through questionnaires, AEFI forms and interviews based on symptoms of local and systemic reactions. Of the 113 participants, 29 were female, while 84 were male and the reactions they caused were different, such as pain, redness, swelling at the injection site, such as fever, muscle aches throughout the body, joint pain and also weakness. Comparison of symptoms of local and systemic reaction between KIPI 1and KIPI 2. In those without symptoms, there was increase number, but in those with symptoms, the number of respondens decrease, and statistically there was sig, P value <0,05.
TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS CEMPAKA PUTIH, JAKARTA PUSAT TAHUN 2016 Lukas, Stefanus; Siringo-Ringo, Victor
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v1i2.837

Abstract

Pelayanan merupakan suatu kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik dan memberi kepuasan kepada pelanggan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah tingkat kepuasan pasien pada saat pemberian pelayanan dalam pemanggilan nama berdasarkan nomor urut, ketepatan waktu pelayanan, etiket, dan wadah obat, pemberian Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), dan sikap pemberian obat di puskesmas Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross sectional.untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di puskesmas Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sample yang digunakan adalah 124 responden. Analisa data menggunakan rumus IKM(Indeks Kepuasan Masyarakat) kemudian nilai IKM tersebut dikonversikan. Dari hasil analisa data didapatkan tingkat kepuasan pasien pada saat pemberian pelayanan dalam pemanggilan nama berdasarkan nomor urut, ketepatan waktu pelayanan, etiket, dan wadah obat sebanyak 1545, pemberian informasi mengenai obat yang diminum, aturan pakai obat, efek samping obat,  dan penyimpanan suatu obatsebanyak 1702, sedangkan cara bertatap muka, pemberian ucapan lekas sembuh, pemberian salam dan kesopanan petugas dalam melayani resep sebanyak 1765. Semua nilai IKM dari masing-masing unsur pelayanan kefarmasian termasuk dalam kategori B (baik).
DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) BERDASARKAN KATEGORI PCNE V6.2. PADA PASIEN HIPERTENSI GERIATRI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD TARAKAN JAKARTA Lukas, Stefanus; sonya, laura
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v1i2.695

Abstract

High prevalence of using drug combination and pharmacokinetics and pharmacodynamics changes of age-related cause the geriatrics of hypertension patients who susceptible to drug related problems (DPSs). The purpose of this research to identification related problems on geriatrics of hypertension patients in RSUD Tarakan Jakarta which analyzed based PCNE V6.2. Data collected retrospectively using prescriptions, medical records and index records/nurse records. From 31 samples which got in inclusion criteria obtainable that primer hypertension was the most found (77,24%) and happened at 60 – 65 years old (51,61%). Long term care was ≤ 7 days (67,74%). The use of combination antihypertension drugs were 2 drugs (48,39%) and ACE Inhibitors was groups the most frequently used (32,05%). There were 124 causes from 83 DRPs incidences successfull identified. Percentage of therapeutic effectiveness issues (57,83%) and unwanted drug reactions (42,17%) with the biggest causes was because of inexactly combination of drug-drug or drug-meals include the incidence drugs interactions.Tingginya prevalesi penggunaan kombinasi obat serta perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik terkait usia menyebabkan pasien hipertensi usia lanjut rentan terhadap masalah terkait obat (DRPs). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi DRPs pada pasien rawat inap hipertensi geriatri di RSUD Tarakan Jakarta yang dianalisis berdasarkan PCNE V6.2. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif menggunakan resep, rekam medis, kardeks/catatan perawat. Dari 31 sampel yang memenuhi kriteria inklusi diketahui bahwa hipertensi primer paling banyak ditemukan (77,24%) dan terjadi pada usia 60 – 65 tahun (51,61%). Lama masa perawatan ≤ 7 hari (67,74%). Penggunaan antihipertensi kombinasi 2 obat paling banyak digunakanan (48,39%) dan golongan yang paling sering digunakan adalah ACE Inhibitor (32,05%). Terdapat 124 penyebab dari 83 kejadian DRPs yang berhasil teridentifikasi. Persentase masalah efektivitas terapi (57,83%) dan reaksi obat yang tidak diinginkan (42,17%) dengan penyebab paling besar dikarenakan kombinasi obat-obat atau obat-makanan tidak tepat termasuk kejadian interaksi obat (39,52%).
ANALISA HUBUNGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIASMA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN ASMA PERSISTEN RAWAT JALAN DI RSUP PERSAHABATAN JAKARTA PERIODE JULI-AGUSTUS 2017 Lukas, Stefanus
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v2i2.854

Abstract

Asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran penafasan. Salah satu tujuan dari penatalaksanaan asma yaitu meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pasien.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan obat antiasma dengan kualitas hidup pasien asma persisten rawat jalan di RSUP Persahabatan Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional. Subjek penelitian ini terdiri dari 60 pasien asma persisten yang diperoleh dengan teknik quota sampling pada bulan Juli-Agustus 2017.Penilaian kepatuhan pengobatan asma dengan menggunakan Morisky Medication Adherence Scales 8 (MMAS-8) dan kualitas hidup dinilai dengan Mini Asthma Quality of Life Questionnaire (MINI-AQLQ). Hasil analisa dengan Uji Chi-square (Confident 95%; α=0.05) didapat nilai p= 0,005 (p<α) OR=8,636 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan penggunaan obat antiasma dengan kualitas hidup pasien asma persisten. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan dengan kualitas hidup pasien asma persisten rawat jalan di RSUP Persahabatan Jakarta. Semakin tinggi tingkat kepatuhan penggunaan obat antiasma maka semakin tinggi juga kualitas hidup pasien asma persisten.Asthma is a chronic inflammatory disease of the respiratory tract. One of the goals of asthma management is to improve patient adherence and quality of life. This study aims to determine the relationship of adherence antiasma drug use to the quality of life of persistent asthma patients outpatient in RSUP Persahabatan Jakarta. This study used a cross-sectional study design. The subjects of this study consisted of 60 persistent asthma patients obtained by quota sampling technique in July-August 2017. Assessment of asthma treatment adherence using Morisky Medication Adherence Scales 8 (MMAS-8) and quality of life was assessed with Mini Asthma Quality of Life Questionnaire( MINI-AQLQ). Result of analysis with Chi-square test (Confident 95%; α = 0.05) got p value = 0,005 (p <α) OR = 8,636 indicated that there was significant correlation between adherence of antiasma drug usage with quality of life of persistent asthma patient. Based on the results of research that has been done that there is a relationship between adherence to the quality of life of persistent asthma patients outpatient in RSUP Persahabatan Jakarta. The higher the level of adherence to antiasma drug use, the higher the quality of life of persistent asthma patients.
EVALUASI PENGOBATAN PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) DI PUSKESMAS PASAR REBO PADA BULAN JULI-OKTOBER 2023 Wibowo, Anton Hadi; Lukas, Stefanus
Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 5 (2024): Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/serojahusada.v1i5.3307

Abstract

Salah satu penyakit pernapasan yang umum terjadi di Indonesia adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Istilah medis ini digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis infeksi yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru. ISPA adalah penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. ISPA terbagi berdasarkan wilayahnya yaitu ISPA bagian atas dan ISPA bagian bawah. Infeksi bagian atas meliputi influenza, rhinitis, sinusitis, laryngitis, faringitis, epiglotitis, tonsillitis dan otitis. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data demografi (usia pasien, jenis kelamin dan pekerjaan) pasien yang terdiagnosa ISPA pada saat polusi udara tinggi yang terjadi di Indonesia di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur dan mengevaluasi pengobatan yang diberikan pada pasien ISPA di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo Jakarta Timur. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data secara retrosfektif pengambilan data dilakukan dengan teknik simple random sampling. Didapatkan data demografi subjek penelitian dengan jenis terbanyak adalah laki-laki 133 pasien (42,64%) dan perempun 187 pasien (57,36%). Sedanglan untuk kelompok umur yang paling tinggi mengalami ISPA adalah rentang usia 19-44 tahun yang termasuk dalam golongan dewasa sebanyak 138 (42,33%), Berdasarkan data pekerjaan yang terbayak adalah yang tidak bekerja dengan jumlah 157 (48,16%). Kemudian untuk komorbid adalah dengan penyakit diabetes melistus yaitu sebanyak 5 orang (71,32%) dari semua pasien yang memiliki komorbid. Dari data pengobatan yang paling banyak adalah yang tidak diberikan antibiotik sebanyak 179 (54,97%). Untuk terapi suportif yang paling banyak digunakan adalah deksamethason sebagai kortikosteroid sebanyak 198 (29,39%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengobatan ispa di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo tidak memakai antibiotik sesuai dengan Depkes RI 2005 dan memakai terapi suportif paling banyak adalah deksametason.
Evaluasi Antibodi dan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Vaksin COVID-19 AstraZeneca Dosis Lengkap di Sentra Vaksin UTA'45 Jakarta Lukas, Stefanus
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 11, No 3 (2024)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v11i3.54268

Abstract

Latar Belakang: AstraZeneca merupakan vaksin vektor virus. Vaksin adalah alat penting untuk membatasi kesehatan pandemi COVID -19. Vaksin ini memiliki metode yang lebih canggih yaitu menggunakan virus yang dimodifikasi untuk memicu antibodi guna menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) pada masyarakat. Tujuan : Mengevaluasi hubungan pemberian vaksin AstraZeneca terhadap nilai titer antibodi dan KIPI. Metode : Penelitian ini menggunakan metode  retrospektif dan prospektif kohort Responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi akan dijadikan sebagai responden dalam penelitian. Sebanyak 113 responden melakukan vaksinasi COVID-19 AstraZaneca dosis lengkap di Pusat Vaksin UTA’45 Jakarta. Setelah 7 hari pasca-vaksinasi, dilakukan pengukuran kadar titer antibodi dan gejala lokal dan sistemik KIPI selama 7 hari. Hasil: Jumlah responden yang pernah terpapar COVI-19 signfikan secara statistik terjadi pada jenis kelamin laki-laki, umur dibawah 35 tahun, disertai dengan penyakit penyerta (komorbid), aktif berolahraga, merokok dan tidak meminum alkohol. Sebanyak 38 (88.4%) orang dari 43 (38,05%) responden memiliki titer antibodi tinggi dan 5 orang (11,63%)  dengan titer antibodi rendah. Tingginya kadar titer antibodi setelah vaksin COVID-19 berhubungan dengan munculnya gejala atau reaksi sistemik KIPI. Kesimpulan: Terdapat hubungan kadar titer antibodi COVID-19 dengan KIPI pasca vaksinasi
EVALUASI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) VAKSIN BOOSTER PFIZER COVID-19 PADA LANSIA DI PUSKESMAS TANAH SAREAL KOTA BOGOR Putri, Diandra Garneta; Lukas, Stefanus
Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2024): Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat
Publisher : Seroja Husada: Jurnal Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat global, dengan 8.525.042 kasus di 216 negara. Indonesia melaporkan lebih dari 6,2 juta infeksi dan 157.000 kematian. Untuk mencegah infeksi, pemerintah memperkuat sistem kekebalan masyarakat melalui vaksinasi. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah reaksi medis yang terjadi setelah vaksinasi, seperti demam, yang mungkin dipengaruhi oleh kondisi medis lain. Penelitian ini menggunakan desain observasional cross-sectional dengan kuesioner yang diberikan kepada 70 responden di Puskesmas Tanah Sareal Kota Bogor yang menerima vaksinasi Pfizer pada September 2023. Tujuannya adalah mengetahui persentase KIPI, jenis reaksi KIPI akibat vaksinasi Pfizer, dan persentase responden dengan penyakit penyerta. Hasil analisis menggunakan SPSS versi 23 menunjukkan 51,4% responden mengalami KIPI dan 48,6% tidak mengalami KIPI. Dari yang mengalami KIPI, 52,8% mengalami reaksi lokal, 38,9% reaksi sistemik, dan 8,3% reaksi lain. Selain itu, 6 responden memiliki penyakit komorbid: 33,3% gastritis, 50,0% hipertensi, dan 16,7% diabetes.
HUBUNGAN KOMORBIDITAS DAN PERILAKU TERHADAP TITER ANTIBODI DAN TERPAPAR COVID-19 PASCA VAKSIN ASTRAZENECA DOSIS LENGKAP DI UTA 45 JAKARTA Lukas, Stefanus; Diana Laila Ramatillah; Aldi, Yufri; Fatma Sri Wahyuni
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 9 No 2 (2024): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36387/jiis.v9i2.2028

Abstract

AstraZeneca vaccine has become one of the efforts to overcome the COVID-19 pandemic. This study aims to determine the relationship between the AstraZeneca vaccine and antibody titers and its association with exposure to COVID-19 infection. This study used a retrospective and prospective cohort design with convenience sampling. A total of 102 respondents who had received a complete dose of the AstraZeneca vaccine and were willing to be followed up for 18 months were involved in this study. Sociodemographic data, comorbidity history, lifestyle, and antibody titers were measured at two times: before the first dose and after the second dose of vaccinations. This study found that there was no significant relationship between comorbidities and respondent behavior (smoking and alcohol consumption) with COVID-19 antibody titers. Physical activity (exercise) showed a positive relationship with COVID-19 antibody titers. Respondents who exercised regularly had higher antibody titers than those who did not. There was a positive relationship between comorbidities, smoking, and alcohol consumption with the risk of exposure to COVID-19 infection after vaccination. This study found that physical activity (exercise) can increase COVID-19 antibody titers and provide protection against COVID-19 infection after vaccination.
Hubungan Sosiodemografi dengan Hasil Klinis Pasien Covid-19 di RSUD Bengkulu Lukas, Stefanus; Ramatillah, Diana Laila; Aldi, Yufri; Wahyuni, Fatma Sri; Gloria, Fransisca; Michael, Michael; Wahyudi, Agung Aji; Astari, Lita Tri
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.839 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v14i1.59

Abstract

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 yang memiliki bentuk dan perilaku menyerupai virus SARS. Persentase angka kematian nasional adalah 4,23, yang berada di atas angka kematian rata-rata nasional. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kematian pasien Covid-19 di RS Pemerintah Bengkulu.Dengan tujuan Mengetahui hubungan sosiodemografi dengan luaran klinis pasien COVID-19 di Bengkulu.dengan metode Penelitian kohort retrospektif dilakukan dalam penelitian ini. Penelitian ini hanya melibatkan pasien terkonfirmasi COVID-19, dengan total sampel 127 pasien yang dirawat di rumah sakit selama April, Mei, dan Juni 2021.Dan mendapatkan hasil Semua pasien yang dirawat di Rumah Sakit Pemerintah Bengkulu antara April dan Juni 2021 menggunakan azitromisin atau levofloxacin + oseltamivir + vitamin sebagai pengobatan. Hasil dari infeksi covid-19 memiliki beberapa faktor korelasi yang signifikan: usia (0,0001), pekerjaan (0,0001) dan penyakit penyerta (0,0001). Kesimpulan Outcome klinis terburuk paling banyak ditemukan pada pasien yang menderita Diabetes dan berusia lebih dari 50 tahun.
Evaluasi Hasil Klinis Pada Tim Medis yang Mendapat Vaksinasi Booster di Rumah Sakit Bengkayang Kalimantan Barat Lukas, Stefanus; Ramatillah, Diana Laila; Aldi, Yufri; Wahyuni, Fatma Sri; Paulina, Ida; Gloria, Fransisca; Michael, Michael
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.685 KB) | DOI: 10.35617/jfionline.v14i2.70

Abstract

Abstract: In reducing the risk of transmission to health workers, the Government has given the 3rd Booster Covid-19 Vaccination since August 2021. This study uses the Astra Zeneca Vaccine, Moderna Vaccine and Pfizer Vaccine. The purpose of this study was to evaluate the effectiveness of the 3rd Booster vaccine and the clinical outcomes of post-vaccination health workers at West Kalimantan Hospital. Research method Observational Cross-sectional Prospective by conducting questionnaires and interviewing health workers. Samples were taken by convenience sampling and statistical analysis of chis-square. The research instrument used a questionnaire distributed in the hospital. In the study, it was found that as many as 12.60% (14 out of 118 health workers) were infected with Covid-19. The habit that influenced the effectiveness of the 3rd booster vaccination was sunbathing (p <0.05). The low severity of health workers infected with Covid-19 after the 3rd booster vaccine can be seen from the place of treatment, namely 97% independent isolation, 60% without using antivirals and 77% without using antibiotics. The type of vitamin that is most widely used is vitamin C. Hence with this booster vaccination aims to prevent and reduce the severity of patients who contract Covid-19 after vaccination.