Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pengaruh Ekstrak Bawang Merah Terhadap Kadar Malondialdehid Jejunum Tikus Putih (Rattus Norvegicus) yang Diinduksi dengan Ketorolac Fitroh, Rizqiyah Amalia; Azis, Fahmi Dimas Abdul; Narsih, Umi
Indonesian Health Science Journal Vol. 5 No. 2 (2025): September
Publisher : Universitas Nazhatut Thullab Al- Muafa Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52298/ihsj.v5i2.132

Abstract

Penggunaan obat antiinflamasi non-steroid (NSAID) seperti ketorolac diketahui dapat menyebabkan stres oksidatif melalui peningkatan produksi radikal bebas, yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak etanol umbi bawang merah (Allium cepa L.) terhadap kadar MDA pada jejunum tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan ketorolac. Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan 25 ekor tikus putih jantan yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan: kontrol positif (sehat), kontrol negatif (ketorolac), kelompok P1 (ranitidin), dan dua kelompok dosis ekstrak umbi bawang merah (100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB). Diawali dengan validasi metode, hasil pengukuran kadar MDA menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi bawang merah mampu menurunkan kadar MDA secara signifikan dibandingkan kelompok yang hanya diinduksi ketorolac (p < 0,05). Dosis 200 mg/kgBB menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan 100 mg/kgBB. Temuan ini menunjukkan potensi ekstrak umbi bawang merah sebagai agen antioksidan alami dalam menurunkan kadar MDA pada jejunum akibat stres oksidatif yang diinduksi ketorolac.
Peningkatan Pengetahuan Remaja Putri melalui Pendekatan Komunikasi dan Psikologi untuk Pencegahan Anemia Narsih, Umi; Widayati, Agustina
Darmabakti : Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 02 (2025): Darmabakti : Junal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Lembaga Peneliian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Madura (UIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31102/darmabakti.2025.6.02.321-329

Abstract

Anemia masih menjadi masalah kesehatan pada remaja putri, terutama di negara berkembang, akibat menstruasi, peningkatan kebutuhan zat besi, serta pola diet yang kurang tepat. Kondisi ini juga ditemukan pada siswi SMAU BPPT Zainul Hasan Probolinggo sebagai mitra pengabdian. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia melalui pendekatan komunikasi dan psikologi. Metode yang digunakan meliputi penyampaian informasi akurat, diskusi interaktif, dan teknik psikologis untuk membangun motivasi. Sebanyak 63 siswi berpartisipasi aktif dalam setiap sesi. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 36,19% serta adanya perubahan sikap lebih positif terhadap pencegahan anemia. Program ini berdampak pada terbentuknya lingkungan belajar yang mendukung keterbukaan dalam membahas kekhawatiran, kesalahpahaman, dan kebiasaan makan, sehingga memberikan kontribusi nyata dalam menurunkan risiko anemia pada remaja putri.
Pengaruh Suhu Dingin Terhadap Stabilitas Fisik Sedian Krim Ekstrak Umbi Bawang (Allium Cepa L.) Merah Dengan Variasi Konsentrasi Metil Paraben kholili, hasyim; Umi Narsih; Fahmi Dimas Abdul Aziz
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 4 No 3 (2025): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v4i3.187

Abstract

Bawang merah (Allium cepa L.) memiliki potensi sebagai agen anti-inflamasi alami karena kandungan senyawa aktif seperti allicin dan flavonoid. Namun, stabilitas fisik sediaan topikal berbasis bahan alami masih menjadi tantangan, terutama dalam kondisi penyimpanan dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi stabilitas fisik krim yang mengandung ekstrak umbi bawang merah (Allium cepa L). pada suhu penyimpanan 8°C selama satu bulan. Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan tiga formula krim yang berbeda berdasarkan konsentrasi metil paraben (0,1%, 0,2%, 0,3%). Evaluasi dilakukan terhadap parameter organoleptis, homogenitas, pH, dan daya sebar secara mingguan. Hasil menunjukkan bahwa seluruh formula tetap stabil secara organoleptik dan homogen, dengan pH dalam rentang aman (4,5–6,5). Meskipun daya sebar mengalami penurunan minor, nilainya tetap dalam kisaran ideal (5–7 cm). Formulasi 3 (F3) menunjukkan kestabilan paling konsisten, terutama pada parameter pH dan daya sebar. Kesimpulannya, sediaan krim ekstrak umbi bawang merah (Allium cepa L.) memiliki stabilitas fisik yang baik pada suhu dingin dan berpotensi dikembangkan sebagai produk topikal herbal.
The Role of Hypertension Exercise on Blood Pressure in Hypertension Sufferers Sriyono, Grido Handoko; Hamim, Nur; Narsih, Umi
Al Makki Health Informatics Journal Vol. 1 No. 1 (2023): Al Makki Health Informatics Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/hij.v1i1.2

Abstract

The prevalence of hypertension in Indonesia at ages > 18 years is increasing. Hypertension sufferers who make efforts to control blood pressure are only one-fifth of all sufferers in the world. Controlling hypertension can be done by controlling risk factors, namely by eating healthy food, reducing the amount of salt in food, not consuming alcohol, not smoking, controlling stress, and doing physical activity.
Identifikasi Flavonoid Ekstrak Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan Pelarut Etanol 96% dan Metanol 96% Hasanah, Riatul Maulia; Narsih, Umi; Dimas Abdul Azis, Fahmi
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 8 No. 1 (2024): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v8i1.792

Abstract

Abstrak   Kulit buah naga merah  mengandung serat, antioksidan, dan senyawa bioaktif diantaranya senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pelarut etanol 96% dan metanol 96% dalam mengekstraksi flavonoid dalam kulit buah naga merah. Serbuk kulit buah naga merah diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak kulit buah naga merah dianalisis secara kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian skrining flavonoid menunjukkan ekstrak etanol 96% dan metanol 96% kulit buah naga merah yang ditetesi pereaksi menunjukkan perubahan warna ekstrak menjadi warna hijau kehitaman. Pada hasil KLT menunjukkan adanya noda berwarna kuning lembayung dan didapatkan nilai Rf ekstrak etanol 96% kulit buah naga merah sebesar 0,92  dan ekstrak metanol 96% sebesar 0,95; pada  standar pembanding (kuersetin) didapatkan nilai sebesar 0,87. Dari hasil nilai Rf menunjukkan adanya kandungan senyawa flavonoid pada ekstrak kulit buah naga merah. Kesimpulan pelarut etanol 96% dan metanol 96% mampu mengekstraksi flavonoid kulit buah naga merah secara kromatografi lapis tipis (KLT). Kata kunci: flavonoid, KLT, kulit buah naga merah, maserasi, nilai faktor retensi (Rf)   Abstract     The red dragon fruit peel contains fiber, antioxidants and bioactive compounds, including flavonoid compounds which have antioxidant properties. This research aims to determine the ability of 96% ethanol and 96% methanol solvents to extract flavonoids. Red dragon fruit peel powder was extracted using ethanol and methanol with the maceration. Red dragon fruit peel extract was analyzed qualitatively using the thin layer chromatography (TLC) method. The results of the flavonoid screening research showed that both methanol and ethanol extract of red dragon peel contained flavonoid according to color change after FeCl3 addition showed a change in the color of the extract to blackish green. The TLC results showed that there were purple yellow stains and the Rf value of 96% ethanol extract of red dragon fruit peel was 0.92 and 96% methanol extract was 0.95  the comparison standard (quercetin) obtained a value of 0.87. From the results of the Rf value, it shows that there are flavonoid compounds in red dragon fruit peel extract. It can be concluded that 96% ethanol and 96% methanol solvents are able to extract red dragon fruit peel flavonoids using the thin layer chromatography (TLC). Keywords: flavonoids, TLC, red dragon fruit, maceration, retention factor value (Rf)
Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Fenolik Florotanin Ekstrak Alga Coklat (Sargassum Sp.) terhadap Bakteri E. Coli Kusuma Wardani, Nurlita; Narsih, Umi; Aziz, Fahmi Dimas Abdul
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 8 No. 2 (2025): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v8i2.793

Abstract

Abstrak Infeksi bakteri E. coli penyebab penyakit diare sering kali berhubungan dengan sanitasi yang buruk dan konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Alga coklat (Sargassum sp.) berpotensi sebagai antibakteri karena kandungan senyawa bioaktifnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi optimal ekstrak alga coklat (Sargassum sp.) yang memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi terhadap bakteri E. coli. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan pengujian beberapa variasi konsentrasi 10%, 30%, 50%, dan 70% ekstrak alga coklat (Sargassum sp.) dengan metode difusi sumuran, kontrol positif menggunakan tablet ciprofloxacin dan kontrol negatif menggunakan aquadest. Ekstrak alga coklat (Sargassum sp.) Analisa statistik dilakukan dengan metode uji Shapiro-Wilk, Kruskal-Wallis. Hasil pada penelitian ini menunjukkan pengukuran rata-rata zona hambat ekstrak alga coklat (Sargassum sp.), konsentrasi 10% tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri, konsentrasi 30% sebesar 1,52±0,26 mm, konsentrasi 50% sebesar 2,09±0,06 mm, konsentrasi 70% sebesar 2,39±0,16 mm. Sedangkan kontrol positif menggunakan ciprofloksasin 45,19 mm, dan pada kontrol negatif menggunakan aquadest tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli. Maka dapat disimpulkan bahwa zona hambat optimal ekstrak alga coklat (Sargassum sp.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli yaitu pada konsentrasi 70% dengan zona hambat rata-rata sebesar 2,39±0,16 mm, sehingga alga coklat memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli. Kata kunci  : difusi sumuran, alga coklat, E. coli, Sargassum sp., antibakteri.   Abstract E. coli bacterial infections that cause diarrhea are often associated with poor sanitation and consumption of contaminated food or water. Brown algae (Sargassum sp.) have potential as an antibacterial because of its bioactive compound content. This research aims to determine the optimal concentration of brown algae extract (Sargassum sp.) with the highest antibacterial activity against E. coli bacteria. The study tested various concentrations of brown algae extract, including 10%, 30%, 50%, and 70%, using the well diffusion method. Statistical analysis was performed using the Shapiro-Wilk, Kruskal-Wallis test method. The results showed that the average inhibition zone measurement of brown algae extract at different concentrations did not inhibit bacterial growth. The optimal concentration for brown algae extract was found to be 70% with an average inhibition zone of 2.39 ± 0.16 mm, indicating that brown algae have the potential to inhibit E. coli bacteria growth. The positive control used ciprofloxacin, while the negative control used distilled water, did not inhibit bacterial growth. Therefore, brown algae extract has the potential to effectively inhibit E. coli bacteria growth. Keywords: well diffusion, brown algae, E. coli, Sargassum sp., antibacterial
Potensi Ekstrak Etanol Kulit Bawang Merah terhadap Kadar Malondialdehid Jejunum Tikus Gastritis Sulistyorini, Endah; Narsih, Umi; Shofia, Vivi
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 9 No. 1 (2025): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/ji-kes.v9i1.894

Abstract

Abstrak Gastritis adalah peradangan mukosa lambung yang ditandai dengan peningkatan stress oksidatif dan kadar malondialdehid. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.45.952 jiwa penduduk setiap tahun. Kulit bawang merah (Allium sp.) mengandung senyawa antiinflamasi dan antioksidan yang berpotensi untuk pengobatan gastritis. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi ekstrak etanol kulit bawang merah dalam menurunkan kadar malondialdehid jejunum tikus putih (Rattus norvegicus) model gastritis. Metode penelitian ini menggunakan desain eksperimental research dengan rancangan post-test only control group design. Sebanyak 25 tikus dibagi dalam 5 kelompok, yakni kelompok tikus sehat, kelompok tikus gastritis, kelompok terapi ranitidin, kelompok terapi ekstrak kulit bawang merah dosis 100 dan 200 mg/kgBB. Kadar malondialdehid dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan penurunan signifikan kadar malondialdehid pada kelompok dengan terapi ekstrak kulit bawang merah dosis 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB yaitu penurunan sebesar 52,52% (1,313 ± 0,393)  pada dosis 100 mg/kgBB dan 61,69% (1,059 ± 0,264) pada dosis 200 mg/kgBB. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol kulit bawang merah berpotensi sebagai agen antioksidan dan antiinflamasi dalam menurunkan kadar MDA pada kondisi gastritis. Kata kunci: gatritis, stress oksidatif, malondialdehid, tikus, kulit bawang merah   Abstract Gastritis is an inflammation of gastric mucosa characterized by increased oxidative stress and elevated levels of malondialdehyde (MDA). The number of gastritis cases in Indonesia is relatively high, with a prevalence of 274,396 cases among a population of 238,459,952 annually. Shallot peel (Allium sp.) contains anti-inflammatory and antioxidant compounds that have potential for treating gastritis. This study aimed to determine the potential of ethanol extract of shallot peel in reducing malondialdehyde levels in jejunum of white rats (Rattus norvegicus) with gastritis models. This research used an experimental design with a post-test only control group design. A total of 25 male white rats were divided into five groups: negative control, positive control, ranitidine therapy group, and treatment groups receiving shallot peel ethanol extract at doses of 100 mg/kgBW and 200 mg/kgBW. Malondialdehyde levels were analyzed using UV-Vis spectrophotometry. The results showed a significant decrease in malondialdehyde levels in the groups treated with shallot peel extract at doses of 100 mg/kgBW and 200 mg/kgBW, with reductions of 52.52% (1.313 ± 0.393) and 61.69% (1.059 ± 0.264), respectively. Based on these findings, ethanol extract of shallot peel has potential as an antioxidant and anti-inflammatory agent in reducing MDA levels under gastritis conditions. Keywords: gastritis, oxidative stress, malondialdehyde, mouse, shallot peel
ANALISA FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PEMAHAMAN PASIEN TENTANG SWAMEDIKASI DI APOTEK Hidayatullah, Rio Renaldi; Narsih, Umi; Fatmawati, Umi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i4.50918

Abstract

Swamedikasi adalah praktik umum masyarakat dalam menangani keluhan kesehatan ringan tanpa resep dokter. Meskipun memberikan kemudahan dan efisiensi, praktik ini memiliki risiko tinggi jika dilakukan tanpa pemahaman yang memadai. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi swamedikasi di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan seperti Apotek Trisna Farma yang minim edukasi kesehatan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkat pemahaman pasien dalam melakukan swamedikasi. Pertanyaan penelitian difokuskan pada hubungan antara usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, domisili, iklan, referensi orang lain, pengalaman pribadi, dan persepsi biaya terhadap tingkat pemahaman pasien. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 100 responden diperoleh melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner tertutup, dan data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% responden memiliki pemahaman yang kurang tentang swamedikasi. Ditemukan bahwa faktor usia (p=0,004), jenis kelamin (p=0,001), pendidikan (p=0,003), pekerjaan (p=0,003), penghasilan (p=0,002), domisili (p=0,002), iklan (p=0,001), referensi orang lain (p=0,001), pengalaman pribadi (p=0,000), dan biaya (0,000) berhubungan signifikan terhadap tingkat pemahaman. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran apoteker dalam memberikan edukasi swamedikasi yang tepat dan aman. Hasil studi ini dapat menjadi dasar pengembangan program intervensi edukatif di apotek, khususnya bagi masyarakat pedesaan. Penelitian lanjutan disarankan untuk menggunakan pendekatan kualitatif guna mengeksplorasi lebih dalam aspek perilaku, motivasi, dan persepsi pasien dalam swamedikasi.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan Penggunaan Obat Antinyeri Pada Pasien Swamedikasi Nyeri Muskuloskeletal: Studi dilakukan di Apotek Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo Hanin Syahrullah, Royhan; Umi Narsih; Fahmi Dimas Abdul Azis
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i1.186

Abstract

Nyeri muskuloskeletal merupakan salah satu keluhan kesehatan yang umum dan sering diatasi melalui swamedikasi menggunakan obat antinyeri, terutama NSAID dan paracetamol. Namun, ketidakpatuhan terhadap aturan penggunaan obat dalam praktik swamedikasi dapat menimbulkan risiko klinis yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan penggunaan obat antinyeri pada pasien swamedikasi nyeri muskuloskeletal, khususnya di Apotek Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo. Desain penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup dari 57 responden dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketidakpatuhan mencapai 40,4%. Dari berbagai faktor yang dianalisis, hanya sikap pasien terhadap penggunaan obat yang menunjukkan hubungan signifikan terhadap ketidakpatuhan. Sementara itu, pengetahuan pasien dan dukungan sosial tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi edukatif yang berfokus pada perubahan sikap pasien guna meningkatkan kepatuhan dalam penggunaan obat. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman perilaku swamedikasi dan menjadi dasar perencanaan strategi edukasi berbasis perilaku.
The Determinants Self-Care of Diabetic Foot Ulcer Incidence Diabetes Mellitus Patients Hamim, Nur; Rahmat, Nafolion Nur; Ro’isah; Narsih, Umi
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 10 No 4 (2025): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v10i4.28477

Abstract

Background: : Diabetic foot ulcers are a chronic complication of Diabetes Mellitus (DM) that often leads to disability and amputation. The incidence of foot ulcers is closely related to patient self-care behavior, including diet, physical activity, medication adherence, blood sugar monitoring, and foot care Objective: The purpose of this study was to determine the determinants of self-care on the incidence of diabetic foot ulcers in Diabetes Mellitus patients. Methods: This article used a cross-sectional design with a population of 91 with a sample of 73 DM patients selected by purposive sampling. The instruments used were the Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA) questionnaire to assess self-care and an observation sheet for the incidence of diabetic foot ulcers. Data analysis was performed using the Chi-Square test and logistic regression to determine the determinant factors. Results: The results showed a significant relationship between self-care and the incidence of diabetic foot ulcers (p < 0.05). Foot care was the most dominant factor (OR = 0.0004; CI95%), followed by blood sugar monitoring and medication adherence. Conclusion: Self-care significantly influences the incidence of diabetic foot ulcers, with foot care being the primary determinant. Intensive education regarding self-care, particularly foot care and blood sugar monitoring, is needed to prevent further complications.