Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGARUH KEPEMIMPINAN, MOTIVASI KERJA DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA DINAS PENGENDALIAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA KABUPATEN KARAWAN Banuara Nadeak
Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2024): Ekasakti Jurnal Penelitian & Pegabdian (Mei 2024 - Oktober 2024)
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/ejpp.v4i2.1083

Abstract

Tujuan Pembangunan nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan Makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.Pendduduk atau Masyarakat adalah asset Pemerintah untuk ikut serta membangun. Laju Pertumbuhan Penduduk menyambut tahun 2035 pertumbuhan merupakan pedang bermata dua maksudnya bila tidak bisa pertumbuhannya dikendalikan pengangguran menjadi bom waktu, oleh karena itu kurang lebih jumlah penduduk kurang lebih 70 % adalah usia produktif harus lebih diperhatikan Pemerintah agar jangan menjadi pengangguran menajadi beban pemerintah oleh karena itu pemerintah agar melakukan program peningkatan life skiil, Pendidikan kewirausahaan, pelaku ekomi UMKM dan berbagai paket bea siswa dalam pengembangaan sumber daya Pembangunan. Pemerintah melalui Non Departemen yaitu BKKBN mempunyai empat program kependudukan dan Pembangunan keluarga adalah (1) Melakukan program Pendewasaan Usia Perkawinan bagi wanita minimal kawin batas usia 20 tahun dan laki-laki 25 tahun. (2) Mengendalikan kelahiran terutama Pasangan Usia Subur diharapkan dengan kesadaran menggunakan alat kontrasepsi misalnya piil, suntik, inplant, iud, medis operasi wanita dan operasi pria. (3) Mengembangkan Pembangunan Ketahanan Keluarga seperti Bina Keluarga Balita, Keluarga Remaja, Keluarga Dewasa dan Keluarga Manula. (4) Meningkatkan perkembangan usaha produktif melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKA). Petugas BKKBN dari Pusat sampai ke Daerah  adalah sebagai motivator  untuk melakukan penyuluhan indidividu dan kelompok dan selalu standart operasinal prosedure (SOP) sepuluh langkah PLKB dan mempragakan alat penyuluhan yang  disebut KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi). Hal merupakan budaya organisasi yang selalu dilakukan yang berdampak terhadap motivasi kerja pertugas sangan tinggi sehingga integritasnya sangat berdampak terhadat kinerja dalam mewudkan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
Pengaruh Peran Kepemimpinan Komunikasi Interpersonal dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Tutor dalam Memberantas Buta Aksara di Kabupaten Karawang Banuara Nadeak
Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah Vol. 6 No. 5 (2024): Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/alkharaj.v6i5.2546

Abstract

The Indonesian government is accelerating the National Movement for Accelerating the Nine-Year Compulsory Education Completion and Eradication of Illiteracy. In West Java Province, the illiterate population amounts to 1,512,899 (2.4%), with Karawang Regency having 117,710 illiterate individuals. Karawang has developed a model for eradicating illiteracy within 32 days, starting from preparation, through the process, to implementation of learning activities tailored to the location. Typically, illiterate learners are adults. Effective leadership plays a crucial role in an educative and persuasive approach, enabling smooth interpersonal communication through the use of Knowledge, Information, and Education (KIE) communication techniques. Local governments strive to boost the motivation of tutor teams, supervisors, and monitoring teams in the 32-day illiteracy eradication program. Simultaneously, local governments conduct widespread illiteracy learning activities and have received recognition from MURI (Indonesian World Records Museum) for achieving literacy in reading, writing, and arithmetic. Interpersonal communication enhances the motivation of tutors and relationships with illiterate learners, as evidenced by the evaluation of the success of the 32-day illiteracy learning program. Learners are able to read, write, and calculate (CALISTUNG), and subsequently, they can prepare for equivalency exams (Package A). The outstanding performance of tutors and supervision teams, prepared by the local government of Karawang Regency through the Department of Education and Sports, demonstrates spectacular success. Karawang Regency serves as a model for the 32-day illiteracy eradication program in each province and at the national level.