Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Evaluasi Konfigurasi Spasial pada Fasilitas Umum di Rumah Susun Pekunden Semarang Menggunakan Pendekatan Space Syntax Hasna Salsabila Mumtaz; Sudarwanto, Budi
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 12 No 1 (2025): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v12i1a5

Abstract

Pekunden Vertical Housing is one of the urban slum upgrading programs initiated by the City of Semarang between 1990 and 1992. As the oldest public housing complex in Semarang, it has experienced significant deterioration and changes in the function of its public facilities over time. These emerging issues need to be evaluated to ensure that Pekunden Vertical Housing can be realigned with its original design objectives—not only as a place of shelter, but also as a space that supports the social and economic needs of its residents. This study aims to apply the space syntax method to evaluate the spatial configuration of public facilities within Pekunden Vertical Housing. A quantitative approach with a spatial focus was adopted, utilizing DepthMapX to analyze connectivity, accessibility, and visibility values. Visibility Graph Analysis (VGA) was selected for its ability to provide insights into how spaces are perceived and accessed from various points within the spatial configuration. The results reveal that the communal spaces within Pekunden Vertical Housing are suboptimal in terms of connectivity, accessibility, and visibility. The public facilities located on the ground floor demonstrate the highest integration values across the complex. In particular, the circulation paths leading to and from Taman Pekunden, as well as the parking area adjacent to Rumah Pintar, have high integration values, making them highly suitable for communal functions and as gathering points for disaster mitigation.
PENERAPAN ELEMEN KONSEP PLACEMAKING PADA RUANG PUBLIK TAMAN BUDAYA RADEN SALEH Daffa Maulana Rifli; Budi Sudarwanto; Siti Rukayah; Agung Budi Sardjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4527

Abstract

Abstract: Public spaces are one of the most important urban elements in improving the quality of life for the community. However, not all public spaces are designed with the comfort of their users in mind. One example is the Raden Saleh Cultural Park, which is often used by the community. The quality of public spaces can be improved by strengthening the relationship between the public space itself and the community. In this case, a public space is designed with elements that can improve comfort in mind. With the Placemaking approach, public spaces can be designed with an emphasis on the four elements within them. Several previous studies have shown that applying the Placemaking concept can increase comfort for users. This study discusses the evaluation of the placemaking elements found in the object. The research method used is a qualitative descriptive analysis of the elements in the concept as a comparative study in identifying objects. This study aims to identify the placemaking elements found in the object of study, namely the Raden Saleh Cultural Park. Public spaces were chosen as the subject of this study because they are the site of many community activities. The results of this study show that there is a close relationship between the components of the object of study and its users. These elements will be very important in creating public spaces that are comfortable for the community in the future. Keyword: Placemaking Concept, Public Space, Raden Saleh Cultural Park Abstrak: Ruang publik, merupakan salah satu elemen perkotaan yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup bagi Masyarakat. Namun, tidak semua ruang publik dirancang dengan memperhatikan kenyamanan bagi penggunanya. Salah sataunya adalah Taman Budaya Raden Saleh yang sering dimanfaatkan masyarakat. Peningkatan kualitas pada ruang publik sendiri dapat dilakukan dengan cara mempererat hubungan yang ada antara ruang publik itu sendiri dengan Masyarakat. Dalam hal ini sebuah ruang publik dirancang dengan memperhatikan elemen yang dapat meningkatkan kenyamanan. Dengan pendekatan Placemaking, ruang public dapat dirancang dengan penekanan terhadap keempat elemen yang ada didalamnya. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa dengan menerapkan konsep Placemaking dapat meningkatkan kenyamanan bagi pengguna. Penelitian ini membahas evaluasi dari elemen placemaking yang terdapat pada objek. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif analisis deskriptif terhadap elemen yang ada pada konsep sebagai studi banding dalam mengidentifikasi objek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui elemen placemaking apa saja yang terdapat pada objek Penelitian yaitu Taman Budaya Raden Saleh. Ruang publik menjadi pilihan penelitian karena banyak terdapat aktivitas masyarakat pada tempat tersebut. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara komponen pada objek penelitian dengan pengguna, elemen-elemen ini nantinya sangat penting untuk membuat ruang public yang nyaman kedepannya bagi masyarakat. Kata Kunci: Konsep Placemaking, Ruang Publik, Taman Budaya Raden Saleh
Evaluating Placemaking Elements in Campus Urban Parks: A Case Study of UNDIP Jogging Track, Semarang Daffa Maulana Rifli; Airin Dian Nagari; Budi Sudarwanto; Siti Rukayah; Agung Budi Sardjono
Jurnal Planologi Vol 23, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v23i1.45760

Abstract

Public space plays a crucial role in improving urban quality of life by supporting social interaction, physical activity, and community engagement. However, many existing public spaces in Indonesian cities are not designed with sufficient attention to user comfort, inclusivity, and long-term spatial sustainability. This study evaluates the implementation of the placemaking concept in UNDIP Jogging Track Park, Semarang, by examining four key elements: Uses and Activities, Comfort and Image, Access and Linkages, and Sociability. A qualitative descriptive approach was employed, supported by systematic field observations, spatial mapping, informal user interviews, and triangulation through spatial plan analysis and activity-based interpretation. Data were analyzed using placemaking indicators as an evaluative framework to assess the relationship between spatial configuration, facility distribution, environmental quality, and user perception. The results demonstrate that only 17 of 33 placemaking subcategories were fulfilled, indicating partial implementation of placemaking principles. Nevertheless, the park exhibits strong sociability, high activity diversity, and continuous daily use, supported by spatial integration, visual openness, and functional facility provision. The findings reveal a structural gap between functional success and comprehensive placemaking performance, particularly in aspects of universal accessibility, passive engagement spaces, micro-scale comfort, and inclusive design. This study uniquely positions campus-based public space as a hybrid socio-spatial environment, integrating academic life, public use, and everyday urban activities within a single placemaking evaluation framework. This study contributes to placemaking literature by providing an integrated user-centered assessment model within a campus-based public space context, offering both theoretical insights and practical implications for inclusive and sustainable urban public space development.Keywords: Placemaking Concept, Placemaking Indicators, Campus Open Space, Public Space.  Ruang publik memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup perkotaan dengan mendukung interaksi sosial, aktivitas fisik, dan keterlibatan komunitas. Namun, banyak ruang publik yang ada di kota-kota Indonesia belum dirancang dengan perhatian yang memadai terhadap kenyamanan pengguna, inklusivitas, dan keberlanjutan spasial jangka panjang. Penelitian ini mengevaluasi penerapan konsep placemaking di Taman Jogging Track UNDIP, Semarang, dengan mengkaji empat elemen kunci, yaitu: penggunaan dan aktivitas, kenyamanan dan citra, akses dan keterhubungan, serta sosiabilitas.   Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan, didukung oleh observasi lapangan sistematis, pemetaan spasial, wawancara informal dengan pengguna, serta triangulasi melalui rencana tata ruang dan interpretasi berbasis aktivitas. Data dianalisis menggunakan indikator placemaking sebagai kerangka evaluatif untuk menilai hubungan antara konfigurasi spasial, distribusi fasilitas, kualitas lingkungan, dan persepsi pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 17 dari 33 subkategori placemaking yang terpenuhi, yang mengindikasikan penerapan prinsip placemaking secara parsial. Meskipun demikian, taman ini menunjukkan sosiabilitas yang kuat, keragaman aktivitas yang tinggi, serta penggunaan harian yang berkelanjutan, yang didukung oleh integrasi spasial, keterbukaan visual, dan penyediaan fasilitas yang fungsional. Temuan ini mengungkap adanya kesenjangan struktural antara keberhasilan fungsional dan kinerja placemaking yang komprehensif, khususnya pada aspek aksesibilitas universal, ruang keterlibatan pasif, kenyamanan skala mikro, dan desain inklusif. Studi ini secara unik memposisikan ruang publik berbasis kampus sebagai lingkungan sosio-spasial hibrida, yang mengintegrasikan kehidupan akademik, penggunaan publik, dan aktivitas perkotaan sehari-hari dalam satu kerangka evaluasi pembentukan ruang. Penelitian ini berkontribusi terhadap literatur placemaking dengan menyediakan model penelitian terintegrasi yang berorientasi pada pengguna dalam konteks ruang publik berbasis kampus, serta menawarkan wawasan teoris dan implikasi praktis bagi pengembangan ruang publik perkotaan yang inklusif dan berkelanjutan.Kata kunci: Konsep Placemaking, Indikator Placemaking, Ruang Terbuka Kampus, Ruang Publik.
PENGARUH SUN SHADING TERHADAP KENYAMANAN THERMAL DAN VISUAL PADA RUANG BACA GEDUNG AUDITORIUM POLITEKNIK PEKERJAAN UMUM SEMARANG Delano Pasha Arrahman; Budi Sudarwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i3.3868

Abstract

Abstract: The use of Sunshading elements is often applied by Architects in designing building facades to respond to solar heat radiation entering the building and is an important element that influences the temperature in the room and the intensity of light entering the room. By using quantitative methods with OTTV OTTV ( Overall thermal transfer Value )  calculation simulations and software dialux according to SNI 6389-2020 regulations with a standard of 35 watts / m2 and SNI 6197:2020 Energy conservation in natural lighting systems with a standard of 350 lux to determine the optimal design and adapt to the facade that has been implemented so that it will produce a space standard that meets the thermal comfort criteria and visual so that it has a good impact on activities in the room as well as saving electrical energy loads because the intensity and propagation of solar heat radiation can be responded to optimally using a sun shading design.Keywords: sun shading, thermal Comfort ,Visual ComfortAbstrak: Penggunaan elemen Sunshading sering diterapkan oleh Arsitek dalam merancang fasade bangunan untuk merespon terhadap radiasi panas matahari yang masuk ke dalam bangunan dan menjadi elemen penting yang berpengaruh terhadap temperatur didalam ruangan dan intensitas cahaya yang masuk kedalam ruangan.Dengan menggunakan metoda kuantitatif dengan simulasi  perhitungan OTTV ( Overall thermal transfer Value ) dan software dialux  sesuai peraturan SNI 6389-2020 Konservasi energi selubung bangunan pada bangunan Gedung dengan standar 35 watt /m2 dan SNI 6197:2020 Konservasi energi pada sistem pencahayaan alami dengan standar 350 lux untuk menentukan desain yang optimal dan menyesuaikan pada fasade yang sudah diterapkan sehingga akan mengahasilkan standar ruang yang memenuhi kriteria kenyamanan thermal dan visual sehingga memberikan dampak yang baik pada aktivitas di ruangan tersebut disamping akan menghemat beban energi listrik karena intensitas maupun rambatan dari radiasi panas matahari dapat direspon secara optimal menggunakan desain sun shading.Kata Kunci: Naungan matahari,Kenyamanan Thermal,Kenyamanan Visual
KONSEP PLACEMAKING ELEMEN COMFORT AND IMAGE PADA RUANG PUBLIK TAMAN JOGGING TRACK UNDIP Daffa Maulana Rifli; Budi Sudarwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4073

Abstract

Abstract: Public space is one of the important things that need to be considered in improving the quality in urban areas. The quality of public space itself can be improved by strengthening the relationship between public space and its users. In this case it can be in the form of increasing the comfort of the public space itself. By using the Placemaking approach, public spaces can be designed by emphasizing on the Image and Comfort of the place towards the users themselves. This research uses descriptive qualitative method with descriptive analysis of Comfort and Image elements as a comparative study in identifying placemaking elements in the object. Placemaking is a concept of public space design approach that becomes the parent concept used, while Comfort and Image is an element that forms Placemaking itself which explains more about the comfort and image of an object. This research aims to find out the character of the placemaking concept in public buildings by reviewing one of the public spaces in Semarang City. Public space itself is the choice of research because many community activities are carried out in that place. The results showed that there is a close relationship between the components in public space design. These elements are very important to reinforce the character of a place and provide an overview and meaning of public space to provide shared comfort for the Community. Keyword: Comfort and Image, Placemaking Concept, Public Space Abstrak: Ruang Publik merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas di perkotaan. Peningkatan kualitas dari ruang publik dapat dilakukan dengan cara mempererat hubungan antara ruang publik dan penggunanya. Dalam hal ini dapat berupa meningkatkan kenyamanan dari ruang publik itu sendiri. Dengan menerapkan pendekatan Placemaking, ruang publik dapat dirancang dengan penekanan terhadap aspek Citra dan Kenyamanan tempat terhadap pengguna itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan analisis deskriptif terhadap elemen Comfort and Image sebagai studi banding dalam mengidentifikasi elemen placemaking pada objek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter dari konsep placemaking pada bangunan publik dengan meninjau salah satu ruang publik yang berada di Kota Semarang. Ruang publik sendiri menjadi pilihan penelitian karena banyak kegiatan masyarakat yang dilakukan ditempat tersebut. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara komponen dalam desain ruang publik. Elemen-elemen ini sangat penting untuk memperkuat karakter suatu tempat dan memberikan gambaran dan makna ruang publik untuk memberikan kenyamanan bersama bagi Masyarakat. Kata Kunci: Comfort and Image, Konsep Placemaking, Ruang Publik
Pengaruh Gaya Hidup urban Terhadap Desain Arsitektur Pusat Perbelanjaan Dalam Aspek Budaya Konsumtif Elang Ilham muchamad -; Budi sudarwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4273

Abstract

Abstract: The impact of urban lifestyles on the architectural design of shopping centers in Semarang, focusing on consumerist cultural patterns through case studies of Uptown Mall, Paragon Mall, The Park Mall, and Queen City Mall. In the context of a fast-paced and consumption-oriented urban society, shopping malls have evolved beyond their commercial function to become social, recreational, and lifestyle spaces. Architectural design is therefore required to be adaptive, integrating aesthetics, comfort, and functionality to meet diverse user needs. Elements such as modern interiors, communal spaces, and entertainment facilities are essential in attracting visitors and shaping urban social identity. The findings highlight that urban lifestyles significantly influence consumer preferences, with architectural quality playing a vital role in both the appeal and sustainability of malls. This research offers a valuable reference for future shopping center development, particularly in rapidly urbanizing cities. Keyword: Urban Lifestyle, Shoping Center, architecture,consumerism Abstrak: Pengaruh gaya hidup urban terhadap desain arsitektur pusat perbelanjaan di Kota Semarang lalu di kaji dalam budaya konsumtif pada gaya hidup urban  melalui studi kasus empat mall: Uptown Mall, Paragon Mall, The Park Mall, dan Queen City Mall. Dalam masyarakat urban yang konsumtif dan dinamis, Pusat perbelanjaan kini berperan tidak hanya sebagai lokasi transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial, sarana hiburan, serta representasi gaya hidup. Oleh karena itu, desain arsitektur mall harus bersifat fleksibel, memadukan estetika, kenyamanan, dan fungsi yang mendukung beragam aktivitas pengunjung.. Desain interior yang modern, ruang komunal yang nyaman, serta fasilitas hiburan yang lengkap menjadi faktor penting dalam menarik minat masyarakat. Mall juga menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat urban, sehingga peran desain sangat penting dalam menciptakan pengalaman ruang yang berkesan. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa gaya hidup urban sangat memengaruhi preferensi masyarakat terhadap pusat perbelanjaan, dan keberhasilan desain arsitektur berkontribusi besar terhadap daya tarik serta keberlanjutan mall. Studi ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan desain pusat perbelanjaan di masa depan, terutama di kota-kota dengan tingkat urbanisasi tinggi. Kata Kunci: Gaya Hidup Urban; Pusat perbelanjaan; Arsitektur; Konsumtif
Tingkat Kesesuaian Konfigurasi Lanskap Berdasarkan Faktor Kepuasan Konfigurasi Area Aktivitas Primer Muhammad Widad Bayuadi; Budi Sudarwanto; Edward Endrianto Pandelaki
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 1 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i1.57652

Abstract

This study aims to obtain the formulation of research results related to the grade of satisfaction and the dominant satisfaction variable in the primary activity area of Nganjuk City Park. Qualitative descriptive research was used in this study, then the data was processed by qualitative data methods and processed using an Importance Performance Analysis (IPA) diagram which is then described using multiple linear regression analysis. The population survey used is city park users with a sample of 100 users. The sampling technique uses a sampling method based on certain characteristics (purposive sampling). In the results of the Importance Performance Analysis, it can be seen that in quadrants I to 4, there are priorities that must be hastened by changes or maintains configuration aspects so that the value of the satisfaction level of the configuration area can be maximized. Sequentially the priority changes that can be made are from the sports activity area (very dissatisfied) with the x;y quadrant points (9.68; 8.92); tours and stopovers (not satisfied) with quadrant points x; y (8.55; 10.84) and (9.11; 9.92); the learning area category (satisfied) with the x;y quadrant point (5.68;8.36), and the trading area category (very satisfied) with the x;y quadrant point (7.34; 10.03).
PENGARUH ALIH FUNGSI BANGUNAN CAGAR BUDAYA LAWANG SEWU SEMARANG DALAM PERSEPSI MASYARAKAT UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN REVITALISASI Iin Maryati; Siti Rukayah; Budi Sudarwanto
TEKNIK Vol 36, No 1 (2015)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.78 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v36i1.8395

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi karena Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Kota Semarang yang layak untuk direvitalisasi dalam upaya melestarikannya dan agar tetap fungsional. Telah banyak berbagai usulan alih fungsi Lawang Sewu, diantaranya adalah menjadi hotel, pusat perbelanjaan dan menjadi perkantoran. Pada tahun 2009 diputuskan untuk direvitalisasi menjadi galeri, temporary exhibition room dan menjadi objek wisata heritage. Kemudian dari hal-hal tersebut muncul sebuah tujuan penelitian yaitu mengetahui adanya pengaruh alih fungsi menjadi temporary exhibition room, gallery, dan tetap menjadi objek wisata heritage dalam persepsi masyarakat untuk mewujudkan tujuan revitalisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif rasionalistik. Melakukan pengumpulan data salah satunya menggunakan kuesioner yang disebar pada responden. Kemudian diuji menggunakan beberapa langkah uji statistik, salah satunya dengan uji path analysis yang digunakan untuk melihat ada tidaknya pengaruh alih fungsi sebagai variabel mediator dalam persepsi masyarakat untuk mewujudkan tujuan revitalisasi. Pemaknaan hasil temuan menunjukan adanya pengaruh alih fungsi dalam persepsi masyarakat untuk mewujudkan tujuan revitalisasi yang dijelaskan berdasarkan teori yang telah dipaparkan dalam kajian pustaka serta kondisi di lapangan. Kesimpulan yang dapat diperoleh dengan adanya pengaruh alih fungsi dalam persepsi masyarakat untuk mewujudkan tujuan revitalisasi adalah aspek-aspek alih fungsi harus diperhatikan dengan serius bagi berbagai pihak yang akan melakukan kegiatan revitalisasi.[The Influences of Revitalization Heritage Building Lawang Sewu Semarang in Public Opinion to Realize Revitalization Purpose] Lawang Sewu is one of heritage building in Semarang which suitable to have a conservation, especially revitalization to keep the existency of the building. There are a lot of opinions to revitalize Lawang Sewu. Between 2004-2006 this site is going to be used as a hotel, shopping center and full office. Finally in 2009 there was a conclution that Lawang Sewu would be revitalized into gallery, temporary exhibition room and heritage tourist destination. One of the purpose of revitalization is the type of function could give benefits for public, and the heritage building doesn’t become an exclusive place. So the new function that selected has to be a support for the revitalization purpose (Priatmojo, 2009). Thats all the background of this research.The research method that be used is quantitative method. From collecting data’s and using questionnaire for the respondences. The next step is testing those data’s with several test which one of them is path analysis or called Sobel test. Path analysis is an analytic system to see whether the influence of the new function in a heritage building exist as a mediator variable in public opinion to realize revitalization purpose.The result shows that there is influences of a new function in public opinion to realize revitalization purpose. It is explained and based the theory which has been explained in review of the literature and the real situation. It comes to the conclusion that influences is the aspect which need to be taken seriously by who does the revitalization.