Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

WAKTU SIMPAN DARAH ANTIKOAGULAN K2EDTA DAN K3EDTA TERHADAP PARAMETER ERITROSIT Ayu Putri Utami; Betty Nurhayati; Ganjar Noviar; Adang Durachim
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.406 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.743

Abstract

Pemeriksaan sampel darah yang baik harus dilakukan segera setelah pengambilan spesimen darah. Semakin lama penyimpanan maka jumlah sel-sel terhitung makin berkurang karena sel-sel rusak (hemolisis). Bahan pemeriksaan yang diteliti adalah whole blood dengan variasi lama penyimpanan dengan segera, disimpan selama 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam, setiap sampel dilakukan pemeriksaan parameter eritrosit.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA dengan variasi penyimpanan terhadap parameter eritrosit. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Data dianalisis menggunakan uji General Linear Model untuk distribusi data normal, uji Friedman dan Wilcoxon untuk distribusi data tidak normal. Hasil pemeriksaan pada beberapa parameter dalam darah K2EDTA dan K3EDTA didapatkan hasil pemeriksaan K3EDTA lebih rendah dibandingkan K2EDTA. Secara statistik untuk parameter hemoglobin, hematokrit dan eritrosit didapatkan nilai sig > 0.05 sehingga dapat dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan menggunakan antikoagulan K2EDTA atau K3EDTA dengan variasi lama penyimpanan. Nilai MCH didapatkan sig < 0,05 dengan penyimpanan 4 jam sehingga terlihat ada. Nilai MCV didapatkan sig < 0,05 dengan penyimpanan 8 jam sehingga terlihat ada perbedaan dalam tabung K2EDTA dan K3EDTA. Nilai MCHC tabung K2EDTA didapatkan sig < 0.05 dengan penyimpanan 8 jam terlihat perbedaan dan tabung K3EDTA dengan penyimpanan 6 jam didapatkan sig < 0.05 sudah muncul perbedaan yang signifikan secara statistik. Sedangkan hasil pemeriksaan darah lengkap pada jenis spesimen darah dengan antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA dalam tabung vacutainer diperoleh nilai Sig > 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada jenis spesimen darah K2EDTA dan K3EDTA dalam tabung vacutainer terhadap pemeriksaan darah lengkap.
PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN URINE TERHADAP TITER STATUS SEKRETOR Ralla Catur Nantika; Ganjar Noviar; Nina Marliana; Betty Nurhayati
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.337 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.750

Abstract

Urine seorang sekretor terdapat substansi antigen zat terlarut yang disekresikan berupa glikoprotein sehingga urine dapat digunakan sebagai salah satu sampel pemeriksaan status sekretor. Pada penelitian ini pemeriksaan titer status sekretor dilakukan segera dan 2 jam pada suhu kamar 25-26°C dan suhu refrigerator 2-8°C dengan tujuan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh suhu dan waktu penyimpanan terhadap titer status sekretor dalam urine. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu One Group Pre and Post-test Design yaitu memberikan perlakuan untuk melihat perbedaan titer hemaglutinasi inhibisi status sekretor yang terjadi antara urine yang diperiksa secara langsung dengan urine yang telah diberikan perlakuan berupa variasi waktu penyimpanan segera dan 2 jam pada suhu 25-26°C dan suhu 2-8°C. Hasil penelitian dari 8 sampel sekretor yang diperiksa segera di suhu 25-26°C dan suhu 2-8°C sebanyak 7 orang ( 87,5%) mengalami perubahan titer status sekretor pada suhu 25-26°C dan 6 orang ( 75%) mengalami perubahan titer status sekretor pada suhu 2-8°C setelah disimpan 2 jam. Sedangkan hasil uji statistik McNemar didapatkan hasil dari suhu 25-26°C dan suhu 2-8°C memiliki nilai p (sig) 0.016 dan 0.031 (< 0.05) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh suhu da waktu penyimpanan urine terhadap titer status sekretor.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KEPATUHAN PENERAPAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAMBILAN DARAH VENA Putri Amalia; Entuy Kurniawan; Ira Gustira Rahayu; Ganjar Noviar
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.986 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.751

Abstract

Kepatuhan petugas terhadap SOP di laboratorium merupakan kesalahan pra analitik yang memberikan kontribusi paling besar pada kesalahan di laboratoriun, yaitu 77,1%. Salah satu faktor penyebab kesalahan yaitu sistem managemen rumah sakit seperti individu, organisasi, dan lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penerapan standar operasional prosedur pengambilan darah vena. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 38 orang flebotomis yang bekerja di Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Hasil analisis secara statistik Chi Square dengan taraf kepercayaan 95% (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan antara variabel beban kerja dengan kepatuhan penerapan standar operasional prosedur (p=0,008). Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada pihak RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung untuk dapat menambah petugas flebotomi pada saat waktu puncak pasien saat diambil darah meningkat.
PENGARUH KONSENTRASI SUSPENSI ERITROSIT GOLONGAN O DAN LAMA INKUBASI COOMB'S CONTROL CELL TERHADAP HASIL VALIDASI ANTI HUMAN GLOBULIN Irfan Heksa Nugraha; Ganjar Noviar; Betty Nurhayati; Nina Marliana
Jurnal Kesehatan Siliwangi Vol. 4 No. 3 (2024): JURNAL KESEHATAN SILIWANGI
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jks.v4i3.1951

Abstract

Reagen Anti Human Globulin (AHG) digunakan dalam uji kompatibilitas pra-transfusi. Suspensi sel kontrol yang dibuat dari darah golongan O Rhesus Positif yang sengaja dilapisi dengan suatu antibodi inkomplit disebut dengan Coomb’s Control Cell (CCC). Tujuan dari penggunaan CCC untuk mengetahui AHG yang digunakan masih layak pakai atau tidak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh konsentrasi suspensi eritrosit golongan O dan lama inkubasi CCC terhadap hasil validasi AHG. Jenis penelitian menggunakan Quasi Eksperimental, untuk mengetahui adanya pengaruh konsentrasi suspensi eritrosit golongan O (1%, 3% dan 5%) dan lama inkubasi pembuatan CCC pada suhu 37°C selama 15 menit dan 30 menit terhadap hasil validasi AHG. Hasil penelitian diolah menggunakan Uji Friedman, disimpulkan terdapat pengaruh yang bermakna konsentrasi suspensi eritrosit golongan O 1%, 3%, dan 5% terhadap hasil validasi AHG. Sedangkan untuk lama inkubasi CCC tidak terdapat pengaruh yang bermakna CCC yang diinkubasi selama 15 dan 30 menit terhadap hasil validasi AHG. Hasil Uji Wilcoxon disimpulkan terdapat perbedaan yang bermakna suspensi eritrosit golongan O 1% lama inkubasi CCC 15 dan 30 menit, serta tidak terdapat perbedaan yang bermakna suspensi eritrosit golongan O 5% lama inkubasi CCC selama 30 menit dan suspensi eritrosit golongan O 3% lama inkubasi CCC selama 15 dan 30 menit dibandingkan dengan sel 0 5% dengan lama inkubasi CCC selama 15 menit.
THE EFFECTIVENESS OF PAPAYA LEAF EXTRACT (CARICA PAPAYA L.) AS AN ANTIAGGREGATION AGENT ON PLATELET COUNT AND PLATELET AGGREGATION: IN VITRO STUDY Ganjar Noviar; Eem Hayati; Riski Nur Ramadhani
Journal of Vocational Health Studies Vol. 9 No. 1 (2025): July 2025 | JOURNAL OF VOCATIONAL HEALTH STUDIES
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jvhs.V9.I1.2025.38-46

Abstract

Background: In hypertensive patients, platelet hyperaggregation may lead to acute ischemic stroke, which can increase mortality or neurological deficits. Papaya (Carica papaya L.) has potential effect to mitigate complications arising from hyperaggregation, because its effectiveness as antiplatelet aggregants. Purpose: The aim of this study was to determine the effectiveness of papaya leaf extract as an antiaggregation on platelet count and platelet aggregation. Method: A quasi-experimental design was adopted observing platelet counts utilizing a hematology analyzer medonic M32 and assessing platelet aggregation values through the velaskar method. These assessments were conducted on citrated blood samples, including a control group, aspirin at 5 ppm, and a group with citrated blood augmented with papaya leaf extract at concentrations of 5 ppm, 10 ppm, and 15 ppm. Result: The platelet count in citrated blood was 186.000 cells/μL and platelet aggregation was 75%. When with aspirin at 5 ppm, the platelet count was 153.000 cells/μL and platelet aggregation was 71%. In ethanol extract from papaya leaves at 5 ppm, a platelet count of 160.750 cells/μL and platelet aggregation of 70% were exhibited. At 10 ppm, the platelet count was 149.125 cells/μL and platelet aggregation was 65%. At 15 ppm, the platelet count was 105.675 cells/μL and platelet aggregation was 56%. The results of the General Linear Model (GLM) test indicated that p (Sig.) < 0.05. Conclusion: The ethanol extract of papaya leaves can be used effectively as an antiplatelet agent, reducing both platelet count and platelet aggregation at minimum concentrations of 5 ppm and 10 ppm of papaya leaf extract.
THE INFLUENCE OF BLOOD VOLUME AND STORAGE DURATION ON THE ERYTHROCYTE SEDIMENTATION RATE (ESR) VALUE USING THE WESTERGREN METHOD Inna Marlina; Eem Hayati; Adang Durachim; Zuri Rismiarti; Ganjar Noviar
Journal of Vocational Health Studies Vol. 9 No. 2 (2025): November 2025 | JOURNAL OF VOCATIONAL HEALTH STUDIES
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jvhs.V9.I2.2025.103-109

Abstract

Background: Hematological examination is conducted to determine the condition of blood and its components, which are used to establish a diagnosis, support a diagnosis, make a differential diagnosis, monitor disease progression, assess the severity of an illness, and determine the initial prognosis of a disease. Phlebotomy procedures in the pre-analytical stage are not always successful and sometimes encounter failure. Inappropriate anticoagulant administration can lead to erroneous hematological examination results, including Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) examination results. Purpose: This research aims to examine the influence of blood volume and storage duration on the Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) value using the Westergren method. Method: The Westergren method utilizes 5 venous blood samples with a ratio of blood volume to 3.8% anticoagulant at 4 : 1, 3 : 1, and 2 : 1, with sample storage durations of 0 and 3 hours at room temperature. Result: The average ESR values with a ratio of 4 : 1, at 0 hours, were 5.20 mm/hour and at 3 hours were 3.60 mm/hour. The average ESR values with a ratio of 3 : 1, at 0 hours, were 6.20 mm/hour and at 3 hours were 4.40 mm/hour. The average ESR values with a ratio of 2 : 1, at 0 hours, were 7.60 mm/hour and at 3 hours were 5.60 mm/hour. Conclusion: There is a significant influence of blood volume (p-value < 0.05) and storage duration (p-value = 0.05) on the Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) value using the Westergren method.