Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Hunian Tetap Pasca Banjir Bandang di Desa Patikalain: Adaptasi dan Tantangan Rizani, Muhammad Alfreno; Wulandari, Fitri
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol 8, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.143 KB)

Abstract

Banjir bandang yang menerjang kabupaten Hulu Sungai Tengah pada 14 Januari 2021 mengakibatkan 264 buah hilang dan 340 buah mengalami rusak ringan hingga berat. Salah satu kawasan yang terdampak cukup parah merupakan desa Patikalain. Terdapat 32 keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Merespon kondisi tersebut, MDMC daerah Hulu Sungai Tengah bersama MDMC wilayah Kalimantan Selatan menginisiasi pembangunan hunian tetap untuk para korban di desa tersebut. Sulitnya akses pasca banjir bandang  ke lokasi tersebut akibat tertimbun longsoran, menjadi salah satu hambatan yang dialami. Selain itu, adanya isu penebangan liar turut berdampak pada terbatasnya material lokal, khususnya kayu. Untuk itu, ditetapkan beberapa kriteria bantuan untuk hunian tetap seperti berbiaya murah, mudah dibangun, berkarakater lokal, dan berdasarkan adaptasi kebiasaan baru. Perencanaan dan pembangunan hunian tetap ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada korban bencana banjir bandang yang kehilangan huniannya. Meskipun sudah ada beberapa desain rumah bantuan untuk korban bencana alam, tetapi karena lokasinya yang berada di pegunungan dan akses yang sulit dilewati, sehingga perlu adanya inovasi rancangan. Adapun proses perencanaan menggunakan metode studi kasus dan deskripsi kualitatif. pada beberapa bangunan pasca bencana. Pada akhirnya, keberadaan hunian tetap diharapkan menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan dan isu yang terjadi. Selain itu, melalui pembangunan hunian tetap tersebut diharapkan mampu mendorong pemerintah dan masyarakat untuk membangun rumah berbasis mitigasi bencana di kawasan rawan bencana.
Vibration Spectroscopy Potential for Beef and Pork Extending Tradition: Design Criteria for Developing of Authentic Banjar Settlements on River Banks in Banjarmasin Muhammad Alfreno Rizani; Bambang Soemardiono; Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi
IPTEK Journal of Proceedings Series No 6 (2020): 6th International Seminar on Science and Technology 2020 (ISST 2020)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2020i6.11126

Abstract

Banjarmasin city has the character of settlements along the river that reflects the concept of the authentic Banjar settlements on river banks as a product of Nusantara architecture’s. However, the existence of these settlements began to lose their existence due to changes in life orientation from river culture to landed culture. To restore the existence of these settlements, the government of Banjarmasin city plans to develop these settlements into tourist villages with Banjar culture. This encourages optimization of existing potential by improving the quality of settlements that pay attention to various aspects in the context of the location being developed, such as environmental damage, water quality, and applicable regulations. Although there are many design criteria related to riverbank settlements in Banjarmasin, there are some aspects that have been neglected such as the cultural aspects of urang Banjar which are related to the river and Islam. This has an impact on the quality of settlements that reduce the level of kinship in the Banjar community. By using a force-based framework, the design criteria will be formulated by applying a strategy of extending tradition. The design criteria produced, cover various design aspects that are closely related to activities, order, form, building construction, supporting elements, and circulation patterns to improve the quality of the settlement, so that it can develop into a self-sustaining area with food security, energy sources, and the conservation area of Banjar culture.
Hunian Tetap Pasca Banjir Bandang di Desa Patikalain: Adaptasi dan Tantangan Muhammad Alfreno Rizani; Fitri Wulandari
Jurnal Teknik Sipil : Rancang Bangun Vol. 8 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.143 KB) | DOI: 10.33506/rb.v8i1.1598

Abstract

Banjir bandang yang menerjang kabupaten Hulu Sungai Tengah pada 14 Januari 2021 mengakibatkan 264 buah hilang dan 340 buah mengalami rusak ringan hingga berat. Salah satu kawasan yang terdampak cukup parah merupakan desa Patikalain. Terdapat 32 keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Merespon kondisi tersebut, MDMC daerah Hulu Sungai Tengah bersama MDMC wilayah Kalimantan Selatan menginisiasi pembangunan hunian tetap untuk para korban di desa tersebut. Sulitnya akses pasca banjir bandang  ke lokasi tersebut akibat tertimbun longsoran, menjadi salah satu hambatan yang dialami. Selain itu, adanya isu penebangan liar turut berdampak pada terbatasnya material lokal, khususnya kayu. Untuk itu, ditetapkan beberapa kriteria bantuan untuk hunian tetap seperti berbiaya murah, mudah dibangun, berkarakater lokal, dan berdasarkan adaptasi kebiasaan baru. Perencanaan dan pembangunan hunian tetap ini bertujuan untuk memberikan bantuan kepada korban bencana banjir bandang yang kehilangan huniannya. Meskipun sudah ada beberapa desain rumah bantuan untuk korban bencana alam, tetapi karena lokasinya yang berada di pegunungan dan akses yang sulit dilewati, sehingga perlu adanya inovasi rancangan. Adapun proses perencanaan menggunakan metode studi kasus dan deskripsi kualitatif. pada beberapa bangunan pasca bencana. Pada akhirnya, keberadaan hunian tetap diharapkan menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan dan isu yang terjadi. Selain itu, melalui pembangunan hunian tetap tersebut diharapkan mampu mendorong pemerintah dan masyarakat untuk membangun rumah berbasis mitigasi bencana di kawasan rawan bencana.
Fleksibilitas Lantai Hunian: Alternatif Konsep Mitigasi Banjir di Kota Barabai Muhammad Alfreno Rizani; Kiky Permana Setiawan; Sa'dianoor Sa'dianoor; Achmad Syarif; Ferdi Saputra Nur Alim; Erwin Wahyuni; Nanda Safitri Esti Chomah
Buletin Profesi Insinyur Vol 6, No 1 (2023): Buletin Profesi Insinyur (Januari-Juni)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/bpi.v6i1.150

Abstract

Kota Barabai merupakan salah satu kota yang berada di lembah Pegunungan Meratus. Kota ini kerap dilanda banjir dalam 2 tahun terakhir. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada tahun 2021 terjadi bencana banjir terparah dalam 20 tahun terakhir. Hal ini menyebabkan bangunan sering tergenang banjir, sehingga bangunan harus didesain mampu beradaptasi dengan kondisi banjir. Untuk itu diperlukan adanya kajian terkait konsep hunian tersebut[NA1] , salah satunya adalah dengan menggunakan konsep fleksibilitas lantai pada hunian. Hal ini dimaksudkan untuk tetap memberikan ruang bagi air saat terjadi banjir. Adapun metode yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan metode eksplorasi-deskriptif dengan pendekatan arsitektur amfibi. Konsep ini dinilai menjadi alternatif terbaik untuk merencanakan hunian di perkotaan yang berada di daerah rawan banjir. Pada akhirnya, ditemukan sebuah prototipe bangunan yang mampu beradaptasi terhadap banjir dengan memanfaatkan material yang murah dan mudah diaplikasikan.Kata kunci: Banjir, Fleksibilitas, Hunian, Prototipe 
ANALISA PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP KETINGGIAN BANJIR DI KOTA BARABAI Rizani, Muhammad Alfreno; Setiawan, Kiky Permana; Sadianoor, Sadianoor; Jarmani, Ahmad; Ramadaniar, Hapika Rizki; Abida, Muhammad Rifky; Mahasina, Devi Arina
Sebatik Vol. 27 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v27i2.2173

Abstract

Kota Barabai terletak di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dengan elevasi tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Daerah ini memiliki potensi sumberdaya tambang batu bara, tetapu belum dieksploitasi. Namun, pada 14 Januari 2021 mengalami banjir bandang terparah. Dalam dua tahun terakhir banjir juga semakin sering terjadi dan mengalami kenaikan akibat banyaknya bangunan yang beralih menggunakan konstruksi menapak dari kontruksi panggung, sehingga kemampuan tutupan lahan dalam mengatur aliran pada saat adanya bencana banjir di Kota Barabai semakin berkurang. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap ketinggian banjir yang terjadi di Kota Barabai, mengingat sampai saat ini belum ada kajian terkait perubahan tata guna lahan terhadap banjir. Kerangka penelitian yang digunakan dalam riset ini menggunakan kerangka penelitian korelasi pada peta sebaran banjir dan peta tata guna lahan pada tahun 2001, 2013, dan 2021 di Kota Barabai. Terdapat 4 tahapan pada penelitian, yaitu persiapan dengan menggunakan metode starting objective, pengumpulan data dengan menggunakan metode archive, mapping, dan observation, pengolahan data dan evaluasi dengan menggunakan metode multiple regression, serta kesimpulan dengan menggunakan metode selecting objective. Pada akhirnya, ditemukan sebagian indikasi dampak perubahan tata guna lahan di Kota Barabai yang berakibat pada ketinggian banjir yang terjadi di Kota Barabai. Untuk itu diperlukan adanya studi awalan sebagai panduan untuk mengendalikan pemanfaatan tata ruang berbasis mitigasi bencana khususnya pada wilayah yang berpotensi banjir, sehingga ketinggian banjir dapat dikendalikan dalam kondisi normal.
Pelatihan Dan Pendampingan Pengelolaan Pokdarwis Sei. Jingah, Banjarmasin Oleh PPK Ormawa Arsitektur Mi’mar Sinan, Universitas Muhamamdiyah Banjarmasin Rizani, Muhammad Alfreno; Razi, Muhammad Riza Ar; Syarif, Achmad; Ramadhani, Ahmad; Rudiansyah, Rudiansyah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 1 No. 9 (2023): November
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v1i9.479

Abstract

Pokdarwis Sei. Jingah, Banjarmasin sudah berdiri sejak 2017. Dalam beberapa tahun terakhir banyak prestasi yang diraih oleh pengrajin Sasirangan di kampung Sei. Jingah. Namun, semenjak didirikan, pokdarwis belum memiliki program kerja yang terencana, terukur dan sitematis, sehingga kebermanfaatan Pokdarwis kurang terasa bagi sebagian pengrajin yang ada. Umumnya kegiatan dilaksanakan secara insedental, sehingga sulit untuk pengajuan dan realisasi anggaran. Melihat kondisi tersebut, tim PPK Ormawa Arsitektur Mimar Sinan, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin berinisiasi untuk melaksanakan pelatihan dan pendampingan pengelolaan dan perencanaan program kerja Pokdarwis. Adapun kegiatan tersebut dilaksanakan melalui metode forum grup diskusi untuk menjaring masukkan dan ide-ide pengurus terkait pengelolaan dan program kerja yang dilaksanakan. Pada akhir kegiatan, disepakati program kerja yang akan dilaksanakan pada tahun 2024 dan dimungkinkan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan
IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI PADA TERMINAL PENUMPANG BANDAR UDARA SYAMSUDIN NOOR (Identification of Natural Lighting at Syamsudin Noor Airport Passenger Terminal) Yusuf, Muhammad; Razak, Humairoh; Rizani, Muhammad Alfreno
Tesa Arsitektur Vol 23, No 1: Juni 2025
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v23i1.13536

Abstract

Terminal penumpang bandara memegang peranan penting sebagai fasilitas utama yang mendukung aktivitas penumpang sebelum dan sesudah penerbangan. Salah satu aspek penting dalam desain terminal adalah pencahayaan alami, yang memberikan kontribusi besar terhadap kenyamanan visual dan efisiensi energi. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi intensitas pencahayaan alami di Terminal Penumpang Bandara Syamsudin Noor, khususnya pada tiga area utama: lobi, keberangkatan, dan kedatangan. Dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, data dikumpulkan melalui pengukuran langsung menggunakan alat lux meter pada pukul 09.00, 13.00, dan 17.00. Hasil menunjukkan intensitas rata-rata sebesar 473,8 lux di lobi, 659,9 lux di area keberangkatan, dan 302,4 lux di area kedatangan. Meskipun sebagian besar area telah memenuhi standar minimal 200–250 lux, distribusi cahaya masih belum merata. Kedatangan area, terutama pada hari sore, menunjukkan pencahayaan di bawah standar. Hal ini mengindikasikan perlunya optimalisasi desain pencahayaan alami. Rekomendasi desain meliputi penggunaan rak lampu, skylight dengan difusor, dan material reflektif untuk meningkatkan distribusi cahaya. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan desain terminal yang nyaman secara visual dan efisien energi, terutama di kawasan tropis yang kaya cahaya alami.