Claim Missing Document
Check
Articles

GAMBARAN PENYESUAIAN DIRI MAHASISWA DALAM MENYUSUN TUGAS AKHIR SELAMA PANDEMI COVID-19 Aprilia Putri Kartikasari; Rudangta Arianti
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 2 No. 5: Januari 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi Pandemi COVID-19 mengharuskan Pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan dalam upaya pencegahan penularan COVID-19 dengan berbagai cara seperti Physical atau social distancing. Dampak dari aspek pendidikan terutama pada mahasiswa salah satunya yaitu dalam menyusun tugas akhir. Kondisi pandemi COVID-19 memunculkan permasalahan yang dapat menambah stressor bagi mahasiswa dalam proses penyusunan tugas akhir. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan upaya penyesuaian diri pada mahasiswa dalam menyusun tugas akhir di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini mengambil 2 partisipan mahasiswa. Permasalahan yang muncul selama pandemi COVID-19 berlangsung dapat menambah stressor bagi mahasiswa. Hasil analisis dalam penelitian ini mendapati bahwa kedua partisipan dapat mengurangi dan mengatasi stres dengan melakukan upaya penyesuaian diri. Dinamika persoalan yang di alami tiap partisipan berbeda namun kedua partisipan mampu mencapai tujuannya dalam menyelesaikan tugas akhir melalui stategi coping yang bervariatif.
“SAYA MAMPU BANGKIT KEMBALI!!” PENGALAMAN DUKA SERTA RESILIENSI PADA PENYINTAS COVID-19 YANG KEHILANGAN ORANG TUA SELAMA MASA PANDEMI Finsensia Mei Putri Sarumaha; Rudangta Arianti Sembiring
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v5i1.8736

Abstract

AbstrakTerpapar Covid-19 bersamaan dengan kehilangan orang tua merupakan kondisi terburuk bagi sebagian individu yang mengalaminya. Untuk menyesuaikan diri pada kehidupan normal setelah karantina, diperlukan upaya ekstra untuk bangkit dan tetap menjaga kesehatan mental. Salah satu kunci untuk dapat kembali ke kehidupan normal yaitu kemampuan resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman kedukaan serta proses resiliensi pada penyintas covid-19 yang telah kehilangan orang tua selama masa pandemi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis pada 3 responden penyintas Covid-19 berusia 18 dan 22 tahun yang kehilangan salah satu orangtua. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara semi-struktural dan observasi. Data dianalisis menggunakan teknik deskripsi tekstural, dengan teknik triangulasi waktu sebagai uji kredibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga responden mampu melewati masa kedukaan dan bertahan, karena memiliki kemampuan resiliensi yang didukung oleh faktor caring relationship, high expectation messages, dan opportunities for participation and contribution. Implikasi penelitian terutama bagi konselor yang mendampingi individu yang sedang mengalami kedukaan dengan kompleksitas faktor penyebab. Kata Kunci: Penyintas Covid-19, Pengalaman Kedukaan, Proses Resiliensi.  AbstractExposure to covid-19 along with the loss of parents is the worst condition for some individuals who experience it. Adjusting to a normal life after quarantine requires extra effort to get up and maintain mental health. One of the keys to a normal life is the ability to contingency. The study was intended to bring to light the sad experiences and consequences of referring to survivors of Covid-19 who had lost parents during the pandemic. Researchers are using qualitative approaches to the phenomenon with three respondents, 18 - and 22 years old Covid-19 survivors who lost one parent. The data collection technique used was semi-structural interviews and observations. Data is analyzed using a technical description with a time-triangulation test of credibility. The research suggests that the three respondents were able to go through the grief and endure, because they have increased capability that is supported by caring relationship factors, high expectation messages, and opportunities for participation and contribution. The research implications are especially for counselors who assist individuals who are experiencing grief with complexity of the cause. Keywords: Survivor Covid-19, Bereavement Experience, Resilience Proces
PSYCHOLOGICAL WELL BEING WANITA MENIKAH MUDA DI DESA CIGUGUR GIRANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Pricillia Steffany Angelin; Rudangta Arianti
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v5i1.8585

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan psychological well being pada wanita yang menikah muda di Desa Cigugur Girang Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan melibatkan dua orang wanita yang menikah di usia muda. Uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi yaitu dengan mewawancarai orang tua partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita muda yang sudah menikah memiliki psychological well being baik dalam dirinya. Terlihat dari dimensi psychological well being yaitu, self acceptance (penerimaan diri), hubungan positif dengan orang lain (positive relation with other), otonomi (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan dalam hidup (purpose in life), dan pengembangan diri (personal growth) yang sebagian besar terpenuhi pada kedua partisipan. Remaja yang memasuki masa pernikahan perlu mempersiapkan diri menuju kedewasaan dan kematangan emosi untuk mendukung tercapainya psychological well being. Kata Kunci : Menikah Muda, Psychological Well Being, Wanita  AbstractThe purpose of this study was to describe psychological well-being in women who married young in Cigugur Girang Village, West Bandung Regency. This research uses a qualitative approach, involving two women who marry at a young age. Test the validity of the data in this study using triangulation, namely by interviewing the parents of participants. The results showed that young married women have good psychological well being in them. It can be seen from the dimensions of psychological well-being, namely, self-acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth, most of which were met by both participants. Adolescents entering the marriage period need to prepare themselves towards maturity and emotional maturity to achieve psychological well being. Keywords: Early Married, Psychological Well Being, Women
Ayahku Berpoligami, Bagaimana Dengan Masa Depanku? Orientasi Masa Depan Pada Remaja Yang Dititipkan Di Panti Asuhan Akibat Poligami Meli Hizkia Br Barus; Rudangta Arianti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.13681

Abstract

Panti asuhan merupakan proyek layanan dan dukungan untuk anak yatim, broken home, anak terlantar dan anak-anak dengan masalah lainnya. Yang beralih fungsi menjadi tempat yang memenuhi segala kebutuhan material dan spiritual seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan bagi anak yang kurang mampu secara ekonomi. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu seorang remaja yang tinggal di panti asuhan oleh karena ayah yang berpoligami. Sangat penting bagi mereka yang berusia remaja, untuk memikirkan masa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran orientasi masa depan remaja yang dititipkakan di panti asuhan akibat orang tua berpoligami. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif jenis studi kasus dan mengumpulkan informasi melalui wawancara. Penelitian dilakukan pada seorang remaja perempuan korban ayah berpoligami yang sudah tinggal di panti asuhan selama 9 tahun. Hasil dari Penelitian menunjukkan bahwa efek dari orangtua yang berpoligami turut mewarnai orientasi terkait karier dan pernikahan remaja di masa depan. Inspirasi orientasi masa depan subjek memuat unsur ingin berbakti kepada sang ibu dan panti asuhan yang turut memberikan dukungan guna mewujudkan cita-cita dimasa yang akan datang.
Meditasi Agama Buddha: Sejahtera Psikologis dengan Mindfulness Putri Paula Nathania Chrisna; Rudangta Arianti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.13682

Abstract

Dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian, individu berupaya untuk mengambil kendali agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya. Hal ini merupakan bentuk dari ketidaksiapan individu untuk menerima perubahan yang tidak sesuai dengan keinginannya, sehingga menimbulkan perenungan-perenungan negatif yang membuat kondisi psikologis individu kurang sejahtera. Dalam hal ini meditasi Agama Buddha sebagai praktik dari mindfulness membantu individu untuk memelihara kesejahteraan psikologis individu. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna meditasi agama Buddha yang merupakan salah satu bentuk dari praktik mindfulness, terhadap kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Dari penelitian ini diperoleh bahwa pemaknaan individu terhadap meditasi dapat berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh adanya perbedaan dari latar belakang setiap individu. Meditasi tidak dapat menyelesaikan masalah, namun membantu individu untuk lebih tenang ketika menghadapi permasalahan, sehingga lebih bijaksana dalam berpikir dan bertindak, serta dapat menerima dan tidak menghakimi setiap pengalaman yang dialami. Hal ini yang membantu individu untuk mengurangi perenungan dan perasaan negatif, yang mana juga memberikan manfaat dalam menjaga kesejahteraan psikologis individu. Kata kunci: Meditasi agama Buddha, mindfulness, kesejahteraan psikologis
“Haruskah Masa Remaja Dihabiskan Dengan Bermain Game Online?” Kontribusi Sensation Seeking Dan Self Regulation Chantika Brigita Mawuntu; Rudangta Arianti
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.13683

Abstract

Remaja ketika menghabiskan waktunya dengan bermain game online, dapat membangkitkan pencarian sensasi untuk terus menerus memainkannya sedangkan regulasi diri-nya masih belum matang. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara sensation seeking dan self-regulation terhadap time spent gaming pada remaja yang bermain game online. Metode penelitiannya adalah penelitian kuantitatif dengan desain kausalitas, menggunakan alat ukur skala time spent gaming, The Arnett Inventory sensation seeking Scale (AISS), dan skala Self-Regulation Scale (SRS). Data dianalisis menggunakan uji binary logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap dimensi novelty dari sensation seeking terhadap time spent gaming pada remaja yang bermain game online. Implikasi penelitian ini adalah remaja dapat mencari aktivitas atau kegiatan baru yang positif agar tidak berpaku dengan game online, dan dapat mengatur self-regulation serta mengembangkannya. Kata Kunci: time spent gaming, sensation seeking, self-regulation, Remaja
Identitas Ego dan Kecemasan (State Anxiety) Pada Individu Usia Quarter-life Period Yustita Shalsadara; Rudangta Arianti Sembiring
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.14413

Abstract

Sebuah tahap perkembangan baru yang disebut Quarter-life, dialami individu pada saat mencapai usia pertengahan 20 tahun. Pada tahap perekmbangan ini tugas-tugas perkembangan individu merupakan harapan-harapan dari orang terdekat individu tersebut, mencangkup pekerjaan, memilih pasangan, kemandirian finansial, dan kemampuan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Beberapa orang dalam tahap kehidupan ini menghadapi ketidakpastian dan kecemasan di mana mereka mempertanyakan tujuan, rencana, dan bahkan hubungan mereka selama masa quarter-life period. Dengan karakteristik frustasi, panik, khawatir dan tidak tau arah, perasaan-perasaan tersebut akan mengarah kepada anxiety provoking. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara identitas ego dengan kecemasan (state anxiety) pada individu usia quarter-life period. Partisipan dalam penelitian ini adalah 102 mahasiswa di Jawa Tengah berusia 19 hingga 26 tahun dan belum menikah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Pengukuran identitas ego menggunakan instrumen EIPQ sedangkan untuk pengukuran kecemasan menggunakan instrument STAI form Y1. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan negatif signifikan antara identitas ego dengan kecemasan (state anxiety) pada individu usia quarter-life period.
Persepsi Anak Tentang Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas 7b SMP Negeri 2 Tuntang Tahun Ajaran 2022/2023 Cika Ramayanti Malau; Rudangta Arianti
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.316

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi anak tentang peran orangtua dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas 7B SMP Negeri 2 Tuntang. Partisipan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini terdapat 3 siswa dengan jenjang kelas 7 dengan usia 13 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah teknik wawancara, obeservasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran umum bahwa persepsi anak tentang peranan orangtua dalam meningkatkan motivasi belajar siswa adalah sangat penting menurut anak. Melalui fasilitas yang telah diberikan, dorongan (motivasi) baik verbal maupun reward, serta pendampingan dalam belajar. hasil dari penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Slameto (2015) bahwa peran orang tua dalam pendidikan sangat penting dan menentukan keberhasilan pendidikan anak-anaknya. Orang tua dalam pendidikan memiliki beberapa peran yaitu: sebagai fasilitator, sebagai pembimbing dan pendorong (motivator). Orangtua menjadi pendidik dan pendamping pertama dan utama yang mengupayakan berkembangnya potensi anak dari berbagai aspek (kognitif, afektif dan psikomotor), orangtua sebagai fasilitator sebagai penyedia sarana dan prasarana untuk belajar anak, dan orangtua sebagai motivator mesin penggerak dan pendorong munculnya keinginan berkembang anak.”
Perbedaan Tingkat Motivasi Belajar Siswa SMAN 1 Teras Boyolali Kelas 10 pada Masa Pandemi Ditinjau dari 4 Tipe Kepribadian Eysenck Tabita Bintasanti Saputri; Rudangta Arianti
SEIKO : Journal of Management & Business Vol 6, No 1 (2023): January - Juny
Publisher : Program Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/sejaman.v6i1.3988

Abstract

Pendidikan adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh individu secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu proses pembelajaran yang efektif dengan tujuan mendidik peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya. Belajar merupakan proses perubahan dalam kepribadian manusia, terlihat pada tingkat kualitas tingkah laku dan peningkatan kualitas. Belajar menurut Barlow merupakan proses penyesuaian perilaku secara progesif. Tujuan yang dapat didapat dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan tingkat motivasi belajar pada siswa ditinjau dari 4 tipe kepribadian Eysenck. Dalam penelitian ini memunculkan hipotesis ada perbedaan tingkat motivasi belajar pada siswa SMA kelas 10 ditinjau dari 4 tipe kepribadian. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah motivasi belajar dan Eysenck Personality Inventory (EPI). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Kruskal-Wallis menggunakan SPSS versi 25.0 dengan membuktikan taraf signifikan internal sebesar p = 0,157 (>0,05) dan taraf signifikansi eksternal p = 0,134 (>0,05). Implikasi penelitian ini adalah perbedaan tingkat motivasi belajar siswa SMAN 1 Teras Boyolali kelas 10 pada masa pandemi tidak dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing tipe kepribadian. Mayoritas siswa SMAN 1 Teras Boyolali dalam penelitian ini memiliki tingkat motivasi belajar yang sedang, hal ini dapat diartikan bahwa siswa kelas 10 SMAN 1 Teras Boyolali yang sedang menempuh pendidikan mempunyai tingkat motivasi belajar yang cukup baik. Kata Kunci: Tingkat Motivasi Belajar; Masa Pandemi; Tipe Kepribadian Eysenck
Perceptions of physical activity in adolescents with low physical activity levels Ugu, Sisilia Anggelia; Arianti, Rudangta
Jurnal Sport Science Vol 13, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um057v13i2p74-86

Abstract

Insufficient engagement in physical activity is one of the most common and persistent contributors to poor health worldwide. This research was conducted to investigate physical activity perceptions in adolescents with low physical activity. This research predominantly qualitative methodologies to elaborate on perceptions of physical activity, individual preferences, and factors that hinder the experiences of adolescents with low physical activity levels. The International Physical Activity Questionnaire-Short Form (IPAQ-SF) was administered randomly to adolescents aged 18-21 to identify adolescents with low physical activity levels who had less than 1 hour per day or did not meet moderate to vigorous physical activity levels. Semi-structured interviews were conducted with adolescents with low physical activity levels based on IPAQ norm calculations. Interviews were analyzed using thematic analysis. The main themes identified, namely misperceptions about physical activity, perceived ambiguity of social support, and perception of risk to understand the perception of physical activity in adolescents with low physical activity levels.