Claim Missing Document
Check
Articles

GAMBARAN SUBJECTIVE WELL-BEING PADA ANAK YANG MEMILIKI ORANG TUA PENYANDANG TUNANETRA SEJAK LAHIR Invokavit Putri Wau; Rudangta Arianti
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v3i2.4662

Abstract

ABSTRACT: DESCRIPTION OF SUBJECTIVE WELL-BEING IN CHILDREN WHOSE PARENTS WERE BLIND SINCE BIRTH The purpose of this study was to determine the description of subjective well-being in children whose parents were blind since birth. This study uses a case study qualitative approach. The selection of research subjects using snowball. Characteristics of the subjects aged 13 to 18, unmarried, and has parents who are blind since birth. The data collection method uses in-depth interview techniques. The results showed that subjective well-being in children whose parents were blind, includes cognitive evaluation that is life satisfaction and affective evaluation. Subjective well-being aspects on the subject of life satisfaction are influenced by the domain of family, friends, school, job, and future. Their positive affects are happy, proud, and affection. Negative affects that appear are sad and depressed feeling. For further research, it is expected to discuss and compare subjective well-being with other persons with disabilities. Keywords: Subjective Well-Being, Blind Individuals Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran subjective well-being pada anak yang memiliki orang tua penyandang tunanetra sejak lahir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Pemilihan subyek penelitian menggunakan snowball. Karakteristik subyek adalah yang berusia 13 sampai 18 tahun, belum menikah dan memiliki orang tua penyandang tunanetra sejak lahir. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan subjective well-being pada anak yang memiliki orang tua penyandang tunanetra, meliputi penilaian kognitif yaitu kepuasan hidup dan penilaian afektif. Aspek subjective well-being pada subyek yaitu kepuasaan hidup yang dipengaruhi oleh domain keluarga, teman, sekolah, pekerjaan, dan masa depan. Afek positif yang mereka alami yaitu senang, bangga, dan kasih sayang. Afek negatif yang muncul adalah sedih dan perasaan tertekan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat membahas dan membandingkan subjective well-being dengan penyandang disabilitas lainya. Kata Kunci: Subjective Well-Being, Tunanetra
PERBEDAAN TINGKAT FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA DITINJAU DARI EMPAT TIPE KEPRIBADIAN EYSENCK Elisabet Istharini; Rudangta Arianti
JURNAL PSIKOLOGI MALAHAYATI Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v4i1.5603

Abstract

ABSTRACT :DIFFERENCES IN THE RATE OF FEAR OF MISSING OUT IN ADOLESCENTS REVIEW FROM FOUR TYPES OF PERSONALITY OF EYSENCK The desire of individuals to access social media is now inseparable from life today, without exception, teenagers. This is due to the increasing availability of internet-based communication media that is able to accelerate individuals in accessing information from within and outside the country. This increase in the use of social media has given rise to a new phenomenon called Fear of Missing Out (FoMO), which is a feeling of fear of losing precious moments so that you want to continue to connect with others through social media. This study aims to determine differences in the level of FoMO in adolescents in terms of 4 personality types involving 50 respondents with an age classification of 12-15 years and using active social media. The measuring instruments used in this research are Fear of Missing Out Scales (FoMOS) and Eysenck Personality Inventory (EPI). The data analysis technique used is the difference test using the Kruskal-Wallis test using the SPSS version 25.0 program by proving the results of the hypothesis obtained a significant level of p = .001 (<.05), that from these results it can be interpreted that there are differences in the level of FoMO in each each Personality Type. The implication of this study is that the differences in the level of FoMO among adolescents at SMP Kristen 1 Purwokerto are strongly influenced by the differences in the nature and characteristics of each personality type. This is expected to help the guidance and counseling teacher at SMP Kristen 1 Purwokerto in handling the problems experienced by students. Keyword: Fear of Missing Out, Personality Types. Keinginan individu untuk mengakses media sosial sekarang ini sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan di masa kini, tanpa terkecuali remaja. Hal ini terjadi karena semakin bertambahnya ketersediaan media komunikasi berbasis internet yang mampu mempercepat individu dalam mengakses informasi dari dalam maupun luar negeri. Peningkatan penggunaan media sosial ini memunculkan fenomena baru yang disebut Fear of Missing Out (FoMO) yakni perasaan takut akan kehilangan momen berharga sehingga ingin terus terhubung dengan orang lain melalui media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat FoMO pada remaja ditinjau dari 4 tipe kepribadian yang melibatkan 50 responden dengan klasifikasi usia 12-15 tahun dan menggunakan media sosial yang aktif. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fear of Missing Out Scales (FoMOS) dan Eysenck Personality Inventory (EPI). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji perbedaan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis menggunakan program SPSS versi 25.0 dengan membuktikan hasil hipotesis diperoleh taraf signifikan sebesar p= .001 (<.05), bahwa dari hasil tersebut dapat diartikan terdapat perbedaan tingkat FoMO pada masing-masing Tipe Kepribadian. Implikasi dari penelitian ini adalah perbedaan tingkat FoMO pada remaja di SMP Kristen 1 Purwokerto sangat dipengaruhi oleh perbedaan sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing Tipe Kepribadian. Hal ini diharapkan dapat membantu Guru BK di SMP Kristen 1 Purwokerto dalam penanganan permasalahan yang dialami oleh siswa. Kata Kunci: Fear of Missing Out, Tipe Kepribadian
HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DENGAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA PERAWAT Dany Stefanus Rungkat; Rudangta Arianti
PSIKOLOGI KONSELING Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/konseling.v19i2.30715

Abstract

Organisasi yang sukses memerlukan karyawan yang akan melakukan tugas mereka melebihi pekerjaan yang telah ditetapkan dan diharapkan. Pemimpin transformasional akan mengubah perilaku para bawahannya agar dapat mengubah cara kerja menjadi lebih baik dengan memotivasi para bawahannya. Perilaku - perilaku yang dihasilkan ini dapat memunculkan sikap organizational citizenship behavior. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kepemimpinan transformasional dengan organizational citizenship behavior pada perawat di RS ‘’X’’ Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik sampling insidental, dengan jumlah sampel 65 perawat. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Organizational Citizenship Behavior punya Organ yang dikembangkan oleh Podsakoff, dkk dan Skala Kepemimpinan Transformasional oleh Bass & Avolio yang dimodifikasi oleh penulis. Hasil koefisien korelasi antara kepemimpinan transformasional dengan OCB sebesar 0,832, dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan OCB. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti diterima
HUBUNGAN ANTARA PSYCHOLOGICAL WELL-BEING DENGAN ENGAGEMENT LEARNING PADA MAHASISWA Sepdi Putera Anugerahnu; Rudangta Arianti
PSIKOLOGI KONSELING Vol 12, No 2 (2021): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/konseling.v19i2.30714

Abstract

Psychological well-being dan engagement learning merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan guna meningkatka sistem pendidikan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara psychological well-being dengan engagement learning pada mahasiswa. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW yang merupakan mahasiswa aktif dan tidak dalam status cuti kuliah, mulai dari angkatan 2016 sampai angkatan 2019. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive quota sampling dengan partisipan sebanyak 91 mahasiswa. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Skala psychological well-being disusun menurut Carol Ryff  (1989) yang bernama psychological well-being scale (PWBS) dan untuk engagement learning diukur menggunakan skala Engaged Learning Index (ELI)  yang disusun berdasarkan penelitian Schreiner & Louis (2006). Hasil dari penelitian ini menunjukan  bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara PWB dengan engagement learning (r= 0498; p < 0,05), hal ini menujukan  bahwa semakin tinggi psychological well-being pada mahasiswa maka semakin tinggi pula engagement learning  pada mahasiswa tersebut, begitu pula sebaliknya. Dengan hasil tambahan bahwa PWB memiliki kontribusi sebesar 24,8% terhadap engagement learning.
Gambaran Komitmen Organisasi pada Mahasiswa yang Aktif di Lembaga Kemahasiswaan, Pekerjaan Paruh Waktu, dan Perkuliahan Rosa Dyah Anggraini; Rudangta Arianti
Humanitas (Jurnal Psikologi) Vol 3 No 3 (2019)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/humanitas.v3i3.2267

Abstract

This study aims to see a picture of commitment to students who are active in three main areas, namely lectures, student organizations, and part-time work. Although experience and success in all three can increase the chances of success in the world of work, but very few students are able to live it simultaneously well. The method used was a case study involving one male and one female participant. The results showed that affective, normative, and continuity commitment contributed to the loyalty and performance of both participants in the three areas. Their commitment is also influenced by the goals to be achieved, priority goals, perceptions of leadership and support from colleagues in the team. Keywords: organizational commitment, student organizations, work part time
Potret Kebahagiaan Relawan Studi Kasus Relawan Satya Wacana Peduli di Lombok
Humanitas (Jurnal Psikologi) Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/humanitas.v4i1.2397

Abstract

The main purpose of all activities carried out by humans is to obtain happiness. The same thing happened to Satya Wacana Peduli volunteers who provided assistance directly to the people in Lombok. The purpose of this study is to see a picture of happiness in volunteers who were members of Satya Wacana Peduli. This research was analyzed qualitatively by using a case study approach. The study involved two volunteers who provided assistance in Lombok. The results of the study showed that the picture of happiness in each participant was different. The difference in happiness was influenced by the initial encouragement of participants to provide assistance. The suggestion for the next research is to pay more attention to factors that influence happiness such as personality factors or other factors that make volunteers can feel happiness. Keywords: happiness, volunteer, qualitative.
Dinamika Sikap Provos Menwa Mahadhipa Batalyon 914 Ganesha UKSW Terhadap Agresi Dalam Pembentukan Disiplin Lezario Anantyas Basuki; Rudangta Arianti
Humanitas (Jurnal Psikologi) Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/humanitas.v5i1.3468

Abstract

In the Resimen Mahasiswa (menwa), all members are obligated to comply to the rules. The disciplining tactis used in menwa’s training are often associated with aggressive behavior from the provosts to the juniors. These aggressive behaviors often cause the juniors to become victims, hence why most juniors decide to leave menwa. The purpose of this study is to determine the attitude of the Resimen Mahasiswa Satya Wacana Christian University's Provos 914 Battalion Mahadhipa towards aggression in their training. This research uses a qualitative research approach, with 2 provosts as research participants. The results of this study showed that different attitudes of the two participants will result in different internal responses which will form a certain belief. This belief can also form different results in the behavior of the two participants. On the other hand, different internal responses can also produce similar behavior.
Gambaran Psychological Well-Being pada Remaja di Dusun Krasak yang Tidak Melanjutkan Pendidikan Formal Sita Angelia; Rudangta Arianti
Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12 No 02 (2021)
Publisher : Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/inquiry.v12i02.353

Abstract

Tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang memengaruhi psychological well-being, namun masih banyak remaja di Dusun Krasak yang tidak melanjutkan pendidikannya secara formal. Mereka memilih mengikuti kejar paket C. Oleh sebab itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psychological well-being remaja di Dusun Krasak yang tidak melanjutkan pendidikan formal dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Partisipan penelitian ini terdiri dari 2 orang remaja berusia 16 dan 18 tahun yang tidak melanjutkan pendidikan formal. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan partisipan tidak melanjutkan pendidikan formal karena dipengaruhi oleh faktor reaksi emosional. Hal tersebut membuat kedua partisipan memilih bekerja dan mengikuti kejar paket C. Terdapat rasa penyesalan dari kedua partisipan karena tidak melanjutkan pendidikan formal. Selain itu, kedua partisipan mengungkapkan hal positif dan negatif yang dirasakan saat bekerja maupun mengikuti kejar paket. Keduanya sempat memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang lain, yaitu P1 dengan orang tua dan P2 dengan teman. Kemudian, dalam hal otonomi kedua partisipan cenderung mengikuti orang lain dalam menentukan keputusannya, seperti teman dan orang tua. Dalam hal penguasaan lingkungan, kedua partisipan mengungkapkan kesulitan selama bekerja. Pengembangan diri partisipan terlihat dari adanya potensi yang dikembangkan dari keduanya, tetapi P2 sempat terlibat dalam perilaku negatif dengan meminum minuman beralkohol.
Regulasi Emosi pada Caregiver Orang dengan Gangguan Jiwa Gibranamar Giandatenaya; Rudangta Arianti Sembiring
Psycho Idea Vol 19, No 1 (2021): Psycho Idea
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.093 KB) | DOI: 10.30595/psychoidea.v19i1.7052

Abstract

ABSTRAKSeiring dengan meningkatnya jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang tidak sebanding dengan jumlah perawat menimbulkan stressor bagi perawat itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan proses regulasi emosi dari caregiver di Rumah Pemulihan Efata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang melibatkan dua orang caregiver sebagai partisipan. Hasil penelitian menunjukan perilaku agresivitas verbal sebagai respon terhadap situasi sebelum adanya proses regulasi emosi. Latar belakang pola asuh dinilai dapat mempengaruhi munculnya agresivitas verbal pada partisipan. Dalam proses regulasi emosi pada partisipan pertama ditemukan terdapat adanya perilaku distraksi sementara pada partisipan kedua ditemukan adanya perilaku religiusitas. Proses regulasi emosi yang telah dilakukan menghasilkan perilaku expressive suppression atau menahan ekspresi emosi yang sedang dirasakan ketika terdapat emosi negatif. Perilaku tersebut bermanfaat dalam mencegah munculnya emosi negatif yang tidak dikehendaki. Dengan adanya tingkat emosi yang stabil akan membantu caregiver dapat bekerja dengan baik serta mereduksi stressor.Kata kunci: agresivitas verbal, caregiver, regulasi emosi
Suasana Hatiku Bagaikan Roller Coaster: Studi Kasus Self-Disclosure di Media Sosial pada Orang dengan Bipolar Semasa Pandemi Covid-19 Fransiska Uly Simanjuntak; Rudangta Arianti
Bulletin of Counseling and Psychotherapy Vol. 4 No. 2 (2022): Bulletin of Counseling and Psychotherapy
Publisher : Kuras Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/bocp.v4i3.370

Abstract

This study aims to find out how the description of adolescents with bipolar disorder with drastic and extreme mood changes who carry out self-disclosure on social media during the pandemic. Subject selection using snowball sampling technique. Participants were 2 adolescents with bipolar disorder range aged 18-23 years, using social media for 2-3 hours in one time, and during a pandemic, the number of posts on social media increased, difficult to interact with other people directly and often share posts or writings or things that should not be shared on social media. Retrieval of data in this study using a qualitative approach, using in-depth online interviews, observation and collecting documentation as secondary research data. The results of this study indicate that the subjects experienced drastic changes in living life on social media during the pandemic, both subjects experienced fluctuating emotional changes and both also found ways to express themselves on social media during the pandemic, which states that people with bipolar disorder have lots of topics to talk about and daydream about something out of the ordinary. The main cause of bipolar disorder that often relapses is the pandemic period where people with bipolar disorder often feel relapse because they cannot meet their peers freely and even feel very lonely.