Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengharapan Mesias pada Masa Intertestamental Ayub Sugiharto
Angelion Vol 1, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.955 KB) | DOI: 10.38189/jan.v1i1.42

Abstract

AbstractThe arrival of a Messiah is an important hope in the life of the nation of Israel. Until now the Jews still had the expectations of the Messiah, without ever mentioning the name of the figure of the Messiah, both explicitly and implicitly. The existence of this hope can not be separated from the condition of Israel at that time, which has experienced all forms of oppression and social inequality in the era of Media-Persia, Greece, and Rome. The journey of this nation which is full of great struggles related to other nations through various wars, even captivity is very sad. In conditions of distress, persecution, captivity, they need the helping hand of others who are expected to be able to release and liberate them, they expect someone who is able to release all their suffering, but that hope does not come. This condition was made worse by the absence of a prophet among them, who became a direct link between Yahweh and them. The presence of a deliverer or personal savior who had been promised was certainly very much awaited by this nation. What was their hope for the presence of the Messiah during the Intertestamental, when God was silent and did not reveal His Word to His chosen people? This brief article, specifically, will discuss the evidence of the hope of the Messiah, where the source of hope came from, and what the expected Messiah was like.AbstrakKedatangan seorang Mesias merupakan pengharapan penting dalam kehidupan bangsa Israel.  Sampai saat ini orang Yahudi masih mempunyai pengharapan Mesias, tanpa pernah menyinggung nama dari sosok Mesias tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit.  Adanya pengharapan tersebut sebenarnya tidak terlepas dari kondisi Israel saat itu, yang telah mengalami segala bentuk penindasan dan ketimpangan social di jaman Media-Persia, Yunani, maupun Romawi.  Perjalanan bangsa ini yang penuh dengan berbagai pergumulan hebat berkaitan dengan bangsa-bangsa lain melalui berbagai peperangan, bahkan penawanan yang sangat menyedihkan. Dalam kondisi tertekan, teraniaya, tertawan, mereka membutuhkan uluran tangan pihak lain yang diharapkan bisa melepaskan dan memerdekakan mereka, mereka mengharapkan adanya seseorang yang mampu melepaskan segala penderitaan mereka, namun harapan itu tidak kunjung datang.  Kondisi ini semakin bertambah parah dengan tidak adanya lagi seorang nabi di antara mereka, yang menjadi penghubung langsung antara Yahweh dengan mereka. Hadirnya seorang pembebas atau pribadi penyelamat yang pernah dijanjikan tentu sangat dinanti-nantikan oleh bangsa ini.  Seperti apakah pengharapan mereka akan kehadiran Mesias pada masa Intertestamental, ketika Allah berdiam diri dan tidak menyatakan Firman-Nya kepada umat pilihan-Nya?  Tulisan singkat  ini, secara spesifik akan membahas tentang bukti pengharapan Mesias, dari mana  sumber pengharapan itu berasal, dan seperti apa Mesias yang diharapkan itu. 
Keselamatan Eksklusif dalam Yesus di tengah Kemajemukan Beragama Ayub Sugiharto
Angelion Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1069.517 KB) | DOI: 10.38189/jan.v1i2.66

Abstract

Keselamatan eksklusif di dalam Yesus adalah keselamatan yang bersifat absolut, mutlak, dan final.  Ini berarti bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, dan tidak ada jalan yang lain bagi keselamatan.  Inilah makna keselamatan eksklusif dalam Yesus.  Sebagai konsekuensi, keselamatan tidak dapat diperoleh di luar Yesus.  Dengan demikian ungkapan banyak jalan ke Roma, tidak dapat diterima dalam konteks keselamatan.  Agama-agama yang oleh para penganutnya dianggap sebagai saluran keselamatan juga mengalami kegagalan karena agama-agama sebagai produk manusia tidak punya kuasa untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dalam konteks kemajemukan beragama, keselamatan eksklusif di dalam Yesus dapat menimbulkan ketegangan atau bahkan konflik dengan penganut agama lain.  Untuk itu orang percaya perlu mengembangkan sikap toleransi, dalam arti menghargai atau menghormati para pemeluk agama lain dalam hubungan bermasyarakat, namun tidak bertoleransi dalam keyakinan yang mereka percayai. Toleransi hendaknya dilakukan dalam suatu hubungan yang di dasari oleh kasih.  Namun di sisi lain, orang percaya tidak boleh lupa dengan tanggung jawab utamanya untuk memberitakan Injil.  Toleransi dalam konteks kemajemukan beragama bukanlah alasan bagi orang percaya untuk tidak memberitakan Injil karena memberitakan Injil adalah tugas yang melekat dan pemberita Injil adalah identitas yang melekat dalam diri orang percaya. 
Women's Witnesses in the Resurrection of Jesus and Implications in Church Service Ayub Sugiharto; Junio Richson Sirait
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v2i2.74

Abstract

It is undeniable that women have been involved in the ministry, although their involvement is often debated to date. There are various reasons used to justify the group that disagrees, but also many arguments are given to support the involvement of women in services. This paper seeks to raise the role of women in the ministry of the church based on the New Testament. Hopefully this research is to clarify the understanding of Christians on the role of women in church services. In the midst of the struggles related to the position and dignity of women at that time, the New Testament records the involvement and role of women that cannot be taken lightly in the ministry. This can be seen from the Bible, how women were involved in the time of the Lord Jesus, the Acts of the Apostles which records the role of women in church ministry accompanying the apostles; as well as in Paul's letters where not a few women were partners with the Apostle Paul in the ministry.
Minyak Urapan dalam Perspektif Alkitab dan Relevansinya pada Masa Kini Ayub Sugiharto
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 The polemic of using anointing oil is still an interesting topic of conversation today. There has been much discussion and argumentation about the use of a certain "anointing oil" by a group or part of God's church.  Some of them use the Bible as the basis for the use of this anointing oil, and partly because they just go along without having a clear basis. This research article aims to answer various confusions experienced by Christians regarding the widespread practice of using what is known as anointing oil. The type of research used is descriptive qualitative. Data collection techniques were carried out using the library approach. Judging from the discussion regarding the meaning, manufacture, use and validity period of anointing oil, the research results show that the perspective of the Bible, both the Old and New Testaments, is different from what is understood by some Christians and churches who use it today. As a conclusion of this research, there is no relevance between the use of anointing oil in the Old Testament and the anointing of oil carried out by New Testament Christians and the church today. AbstrakPolemik penggunaan minyak urapan masih menjadi perbincangan menarik sampai saat ini.  Ada begitu banyak diskusi dan argumentasi tentang penggunaan “minyak urapan tertentu” yang dipakai oleh sekelompok atau sebagian gereja Tuhan.  Mereka memakai Alkitab sebagai dasar penggunaan minyak urapan tersebut, dan sebagian lagi hanya karena ikut-ikutan saja tanpa memiliki dasar yang jelas.  Artikel penelitian ini bertujuan untuk menjawab berbagai kebingungan yang dialami orang Kristen terkait dengan maraknya praktik penggunaan apa yang disebut sebagai minyak urapan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan Pustaka.  Dilihat dari pembahasan tentang pengertian, pembuatan, penggunaan, dan masa berlakunya minyak urapan, hasil penelitian menunjukkan  bahwa perspektif Alkitab baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbeda dengan apa yang dipahami oleh sebagian orang Kristen dan gereja yang menggunakannya pada masa kini. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini, tidak ada relevansi  antara penggunaan minyak urapan  dalam Perjanjian Lama dengan pengurapan minyak yang dilakukan oleh orang Kristen Perjanjian Baru maupun gereja pada masa kini.  Kata Kunci: arti, penggunaan minyak urapan, relevansi         
Konsep Trilogi Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara dan Implementasinya bagi Pendidikan Kristiani Ayub Sugiharto; Sri Puji Kristanti
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 7 No 2: November 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The educational trilogy of Ki Hajar Dewantara has made a significant contribution to the development of education in Indonesia. The purpose of this study is to identify how the concept of Ki Hajar Dewantara's leadership trilogy is implemented in the context of Christian education. In facing the changing times in the current era of globalization, it is important for educators to re-understand the concept of education in the educational trilogy. This trilogy consists of three things, namely: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. By applying qualitative descriptive methods and literature approaches, it can be concluded that the application of the concept of the educational trilogy in Christian education will support teachers in playing their roles well, both as good examples, facilitators, and motivators for students.   Abstrak Trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara telah memberikan sumbangan besar bagi pendidikan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat konsep trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara diimplementasikan dalam konteks pendidikan Kristen. Dalam menghadapi perubahan zaman di era globalisasi saat ini, penting bagi pendidik untuk kembali memahami konsep pendidikan dalam Trilogi pendidikan. Trilogi ini terdiri dari tiga hal, yaitu: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dengan menerapkan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan literatur, dapat disimpulkan bahwa penerapan konsep trilogi pendidikan pada pendidikan Kristen akan mendukung guru dalam memainkan peran mereka dengan baik, baik sebagai contoh yang baik, fasilitator, maupun motivator bagi siswa.  
Konsep Ciptaan Baru Sebagai Dasar Teologis untuk Menjawab Krisis Identitas Manusia Modern Herman Suwito; Ayub Sugiharto
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 9 No 1 (2026): Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v9i1.820

Abstract

This article examines the theological concept of new creation in 2 Corinthians 5:17 as a foundation for addressing the contemporary crisis of human identity, characterized by individualism, relativism, and moral disorientation. This crisis reveals the inadequacy of identity constructions based on subjective values detached from transcendent truth. This study employs a qualitative approach through library research, utilizing a biblical-exegetical method grounded in the historical-grammatical approach. The analysis focuses on the literary context of 2 Corinthians 5:14–21, a lexical study of en Christō and kainē ktisis, and a theological synthesis within Paul’s framework of reconciliation and renewed identity. The findings demonstrate that new creation signifies an ontological transformation encompassing theological, soteriological, ethical, and ecclesiological dimensions. This renewed identity is rooted in God’s reconciling work in Christ and is expressed in both personal and communal life. In conclusion, the concept of new creation offers a comprehensive theological framework for responding to the modern identity crisis by affirming that true identity is found in relationship with Christ. This study highlights its doctrinal, existential, and missional implications for contemporary Christian life. AbstrakArtikel ini mengkaji konsep teologis ciptaan baru dalam 2 Korintus 5:17 sebagai dasar untuk merespons krisis identitas manusia modern yang ditandai oleh individualisme, relativisme, dan disorientasi moral. Krisis ini menunjukkan ketidakcukupan konstruksi identitas yang bertumpu pada nilai subjektif yang terlepas dari kebenaran transenden. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna teologis ciptaan baru serta relevansinya dalam menjawab krisis identitas kontemporer.  Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan metode eksegesis biblika berbasis pendekatan historis gramatikal. Analisis difokuskan pada konteks literer 2 Korintus 5:14–21, kajian leksikal terhadap istilah en Christō dan kainē ktisis, serta sintesis teologis dalam kerangka rekonsiliasi dan identitas baru menurut Paulus.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciptaan baru merupakan transformasi ontologis yang mencakup dimensi teologis, soteriologis, etis, dan eklesiologis. Identitas baru ini berakar pada karya rekonsiliasi Allah di dalam Kristus dan terwujud dalam kehidupan personal maupun komunal.  Kesimpulannya, konsep ciptaan baru menyediakan kerangka teologis yang komprehensif untuk menjawab krisis identitas modern dengan menegaskan bahwa identitas sejati hanya ditemukan dalam relasi dengan Kristus. Implikasinya bersifat doktrinal, eksistensial, dan misioner bagi kehidupan Kristen kontemporer.
PERAN PENGKHOTBAH SEBAGAI PENYAMBUNG LIDAH ALLAH BAGI UMAT Devi Triningsih; Ayub Sugiharto
Alucio Dei Vol 10 No 2 (2026): Alucio Juni 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i2.221

Abstract

Pemberitaan Firman Tuhan adalah salah satu unsur terpenting dalam kegiatan ibadah. Khotbah datang dari hati Tuhan, bukan dari manusia. Di zaman modern, pengkhotbah adalah seorang pendeta, gembala, atau penginjil yang ditunjuk dan dipercaya untuk menyampaikan Firman Tuhan. Pengkhotbah adalah penyambung lidah Allah atau di sebut juru bicara Tuhan karena dia berbicara atas nama Tuhan, bukan namanya sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran pengkhotbah sebagai penyambung lidah Tuhan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti menganalisis dan memahami lebih dalam mengenai pokok permasalahan. Sumber data meliputi literature yang tersedia seperti artikel jurnal dan buku. Hasil Analisa data kemudian dideskripsikan dan diperoleh kesimpulan bahwa sebagai penyambung lidah Allah, seorang pengkhotbah memiliki peran memberikan nasihat, menguatkan iman, menyatakan kebenaran, dan menegur perbuatan dosa.
KHOTBAH SEBAGAI PRAKSIS MISSIO DEI: MENUJU KERANGKA KONSEPTUAL HOMILETIKA EVANGELISTIK Ayub Sugiharto; Etni Grace Andi Yusuf; Reva Grace Celine; Welly Sigo
Jurnal Penggerak Vol. 8 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62042/itp.v8i1

Abstract

This study proposes a critical reconstruction of preaching as an evangelistic strategy by synthesizing homiletical and missiological frameworks within the missio Dei paradigm. It addresses the long-standing disciplinary fragmentation between homiletics and missiology. This fragmentation signals a crisis of homiletical identity, manifested in two forms: ecclesial introversion—namely, an excessive inward focus on congregational maintenance—and pragmatic functionalism, which reduces preaching to a mere instrument for mobilizing church activities. Such a condition is profoundly detrimental to the contemporary church, as it results in kerygmatic stagnation.  This research employs a qualitative approach with a systematic literature review (SLR) design based on the PRISMA protocol. The data consist of scholarly publications from the period 2011–2025, analyzed using a thematic analysis approach. The urgency of this research stems from the necessity of radical integration to prevent preaching from losing its prophetic edge and devolving into mere moralistic rhetoric in a fragmented public square.  The findings indicate: (1) a conceptual gap between homiletics and missiology; (2) the absence of a systematic formulation of preaching as an evangelistic praxis within the missio Dei; and (3) the dominance of descriptive approaches in contemporary homiletical studies. This research culminates in a novel integrative model that bridges the gap between textual fidelity and missional relevance, offering a transformative praxis for the contemporary church.
INTEGRASI IMAN DAN EKOLOGI: ANALISIS EKOTEOLOGI KRISTEN TERHADAP BANJIR DAN TANAH LONGSOR 2025: Analisis Ekoteologi Kristen terhadap Banjir dan Tanah Longsor 2025 Ayub Sugiharto
Alucio Dei Vol 10 No 1 (2026): Alucio Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v10i1.285

Abstract

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah Indonesia pada akhir tahun 2025 menegaskan bahwa krisis ekologis yang terjadi dewasa ini tidak hanya bersifat ekologis dan sosial, tetapi juga merupakan krisis moral dan spiritual manusia terhadap ciptaan. Bertolak pada pemahaman di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perspektif ekoteologis antara hubungan tanggung jawab ekologis dan iman Kristen. Metode yang digunakan adalah analisis teologis-kualitatif dengan menafsirkan teks-teks Alkitab dan menelaah refleksi teologis kontemporer, khususnya ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus serta pandangan para teolog ekoteologis modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa iman Kristen mengandung mandat ekologis yang menuntut pertobatan ekologis, pengakuan terhadap nilai intrinsik seluruh ciptaan, serta peran aktif gereja dalam pemulihan bumi sebagai rumah bersama. Kesimpulannya, sintesis keyakinan agama dan pertimbangan lingkungan telah berkembang menjadi manifestasi spiritualitas Kristen yang diarahkan pada integritas komprehensif dari tatanan yang diciptakan. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya pembaruan paradigma teologi Kristen agar gereja mampu berperan profetis dan transformatif dalam menghadapi krisis ekologis masa kini.
Gaya Penginjilan Kristen Progresif: Tantangan Bagi Usaha Penginjilan Kristen Konservatif Ayub Sugiharto; Etni Grace Andi Yusuf
Journal Of Spirituality And Practical Theology Vol 2 No 2 (2026): JOSAPRAT (Journal Of Spirituality And Practical Theology)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69668/josaprat.v2i2.127

Abstract

The phenomenon of progressive Christianity has become a serious concern within Indonesian Christianity because it introduces theological perspectives and evangelistic practices that differ from conservative Christian traditions, particularly regarding the exclusive understanding of salvation. This article formulates the following research questions: how is the evangelistic style of progressive Christianity developed, and why does it pose a challenge to conservative Christian evangelism? The urgency of this study lies in the church’s need to respond to shifts in evangelistic approaches that are increasingly contextual and socially oriented. This study employs a descriptive qualitative method through the analysis of theological literature. The findings indicate that progressive Christianity promotes a holistic model of evangelism that emphasizes relationships, dialogue, and social justice, with minimal emphasis on personal conversion. In conclusion, conservative Christian evangelism needs to formulate contextual strategies without obscuring the core message of the Gospel. This study recommends strengthening theological foundations while cultivating social sensitivity in evangelistic practice.