Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

MEWARISKAN INGATAN BENCANA Partisipasi Peneliti Ilmu Sejarah Unpad dalam Penelitian dan Peringatan Bencana Sangiang 1980 di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka Gustaman, Budi; Jaelani, Gani A.; Rahman, Fadly
Midang Vol 3, No 1 (2025): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.61267

Abstract

Pada 26 Desember 1981, lima kampung di Desa Sangiang Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka dilanda banjir bandang yang menewaskan sebanyak 139 orang tewas, 124 luka-luka, dan 14 orang dinyatakan hilang. Bencana banjir bandang yang didahului longsor di perbukitan tersebut menjadi suatu bencana nasional yang membuat Presiden Soeharto datang langsung ke lokasi bencana untuk upaya relokasi. Bencana yang terjadi pada 44 tahun lalu tersebut hingga sekarang masih terekam dalam memori kolektif masyarakat Desa Sangiang, dengan suatu persoalan perihal pewarisan ingatan bencana kepada generasi muda yang semakin tereduksi oleh waktu dan perkembangan zaman. Untuk itu, kegiatan PPM ini berfokus pada partisipasi terhadap upaya pewarisan ingatan bencana melalui riset dan peringatan bencana pada 26 Desember 2024 lalu. Ada tiga temuan penting yang didapat dari kegiatan tersebut. Pertama, kegiatan PPM ini didahului oleh kegiatan riset sejarah bencana Sangiang yang dilakukan tim peneliti dari Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, yang dalam pelaksanannya memberikan sumbangsih berupa penyediaan data tentang bencana katastropik tersebut. Suatu kondisi yang sebelumnya tidak dimiliki oleh masyarakat Desa Sangiang. Kedua, berdasarkan riset tim peneliti, masyarakat mendapatkan informasi yang komprehensif perihal bencana yang pernah terjadi di wilayahnya sehingga menjadi bahan kajian masyarakat dalam upaya pewarisan ingatan yang berkontinuitas. Ketiga, pada 26 Desember 2024 lalu, masyarakat Desa Sangiang mencoba untuk mengemas peringatan bencana dengan pemberian edukasi serta informasi yang aktual dan faktual, dengan menggandeng tim peneliti Unpad, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Majalengka, pegiatan budaya, dan masyarakat umum, baik para saksi hidup maupun para generasi muda. Kegiatan PPM ini menjadi sumbangsih nyata bagi masyarakat Desa Sangiang yang memiliki visi dalam pewarisan ingatan bencana yang terarah dan berkelanjutan.
Hajat lembur: a disaster literacy on ritual communication on the Lembang fault Evi Rosfiantika; Rinda Aunillah; Budi Gustaman
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v8i2.7972

Abstract

The Hajat Lembur is a yearly ritual by Batu Lonceng Villagers, in West Bandung-Indonesia, following the 1956 landslide disaster that occurred in the Lembang Fault area. A series of local wisdom emerged as important messages tucked into the procession that are related to the ritual communication concept. Based on the three interrelated terms of ritual communication: communication, communion, and commonality (Couldry,2003), this research seeks to reveal the meaning of the Hajat Lembur tradition as disaster risk reduction literacy. This research uses a case study approach, conducted by participatory observation in the Hajat Lembur ritual procession in 2023; in-depth interviews with two informants, in the form of opinion leaders who play a central role in the ritual procession; and literature reviews. The results showed that in terms of communication, the Hajat Lembur tradition is interpreted as a transcendent medium about the importance of maintaining harmonisation between humans, nature, and the Creator. In terms of communion, it is a celebration of the sacred Batu Wahyu that led to an agreement to establish a sacred forest, as an area that must be preserved. In terms of commonality, this ritual is a joint expression of the Batu Lonceng Village community about the importance of protecting nature and the environment inherited by the ancestors. Although there is a need for more established local knowledge in this area, this research contributes to the future of disaster mitigation management by emphasising rationality and local wisdom in dealing with natural disasters.
Di Balik Arena Pertarungan dan Pertaruhan: Historisitas Sabung Ayam Berdasarkan Narasi Sumber Lokal dan Kolonial Gustaman, Budi
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 9 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v9i2.30586

Abstract

Sabung ayam, or cockfighting, is a game with a long history in the Nusantara region, extending to Southeast Asia. Its implementation has been ongoing since the classical era, continuing to this day, with various applications, including entertainment for kings, religious rituals, public games, and even illegal games. Fighting and betting in the cockfighting arena are narrated periodically in various historical sources, with various changes, uniformity, and diversity in narrative, substance, and perspective that describe conditions in each era. For this reason, this study is significant to question the change in the meaning of cockfighting based on the narrative presented by local and European sources. By using the historical method, this study emphasizes the use of local sources in the form of oral traditions, as well as European sources in the form of ethnographic works, travel notes, colonial government archives, and mass media coverage. In general, this study produces three important findings. First, cockfighting is a game that is often held in the royal environment with a twist of betting based on the narrative of oral tradition. Second, European records interpret cockfighting as a 'national' public entertainment, with the negative stigma of betting that accompanies it. Third, cockfighting became a prohibited game due to the essence of gambling based on colonial legal provisions, and its practice became a form of crime that was widely reported by the mass media. The change in the meaning of cockfighting historically led to the current condition of the problem of criminality in its practice that closely combines aspects of fighting and betting in one unit.
The Vulnerable Region: Disasters in West Java in the 19th and Early 20th Centuries Jaelani, Gani Ahmad; Rahman, Fadly; Gustaman, Budi
Paramita: Historical Studies Journal Vol 34, No 2 (2024): Disaster and Disease in History
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v34i2.49318

Abstract

Abstract: This article examines the disasters in West Java during the nineteenth and early twentieth centuries, focusing on earthquakes and volcanic eruptions. These events, frequently reported in newspapers, garnered the attention of colonial scientists due to their potential threat to colonial economic and political interests. The initial response involved systematically documenting these occurrences annually, a practice aligned with global efforts to understand these natural phenomena. Consequently, annual reports have become abundant. Through systematic analysis of reports routinely published in the Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, this article analyzes the process of knowledge production about earthquakes and volcanic eruptions during the colonial era, using West Java as a case study. Additionally, it investigates how these natural disasters influenced political policies, particularly the relocation of the capital from Cianjur to Bandung. Finally, the article explores the evolution of knowledge production concerning advancements in science and technology and shifts in colonial politics. Abstrak: Artikel ini mengkaji fenomena bencana di Jawa Barat pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dengan  fokus pada gempa bumi dan gunung meletus. Kedua peristiwa bencana ini banyak mendapat pemberitaan dan kemudian menarik perhatian para ilmuwan kolonial untuk melakukan kajian lebih mendalam, karena keduanya sampai batas tertentu mulai dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan ekonomi dan politik kolonial. Upaya awal yang dilakukan oleh para ilmuwan saat itu adalah pendokumentasian kedua peristiwa tersebut setiap tahun. Praktik ini cukup umum dilakukan di tingkat global, sebagai salah satu upaya untuk memahami kedua fenomena alam tadi. Konsekuensi dari itu, laporan tahun terkait kedua fenomena tersebut menjadi berlimpah. Dengan melakukan pembacaan sistematis laporan yang secara rutin diterbitkan di Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, artikel ini akan menganalisis proses produksi pengetahuan gempa dan gunung meletus di masa kolonial dengan mengambil contoh kasus di Jawa Barat. Dari pembacaan secara serial laporan peristiwa bencana, artikel ini juga akan melihat sejauh mana fenomena gempa dan gunung meletus berpengaruh pada kebijakan politik, dalam hal ini perpindahan ibu kota dari Cianjur ke Bandung. Terakhir, artikel ini juga akan menganalisis perubahan proses produksi pengetahuan dalam hubungannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan juga politik kolonial.