Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Jurnal MIPA

Penggunaan Karbon Aktif Cangkang Pala - TiO2 Untuk Fotodegradasi Zat Warna Metanil Yellow Patiung, Grace Aprianne Bellatrix; Wuntu, Audy D.; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5991

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh perbandingan berat karbon aktif cangkang pala (KA) : titanium dioksida (TiO2), konsentrasi awal metanil yellow, dan lama penyinaran UV pada jumlah metanil yellow yang terdegradasi menggunakan KA-TiO2. KA dibuat melalui aktivasi arang cangkang pala menggunakan NaCl pada 700 oC. Pembuatan fotokatalis KA-TiO2 dengan perbandingan berat 0,1:9,9 (KA 1%) dan 0,5:9,5 (KA 5%) dilakukan dengan cara sonifikasi. Interaksi KA-TiO2 dengan metanil yellow dilakukan pada konsentrasi awal 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm selama 3 jam. Eksperimen pengaruh lama penyinaran dilakukan pada variasi 1, 2, 3, 4, 5, 18, dan 20 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makin tinggi konsentrasi awal dan makin lama penyinaran, makin banyak metanil yellow terdegradasi. Fotokatalis dengan perbandingan berat KA:TiO2 0,1:9,9 mendegradasi metanil yellow lebih banyak dengan persen degradasi maksimum 66% pada konsentrasi awal 6 ppm.A research had been done to determine the effect of weight ratio of nutmeg shell activated carbon (KA) : titanium dioxide TiO2, initial concentration of metanil yellow, and UV irradiation time on the quantity of metanil yellow degraded using KA-TiO2. KA was prepared by activating nutmeg shell charcoal using NaCl at 700 oC. KA-TiO2 having weight ratio of 0.1:9,.9 (KA 1%) and 0.5:9.5 (KA 5%) were prepared by sonification. Interaction of KA-TiO2 with metanil yellow was performed at initial concentration of 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, and 50 ppm for 3 hours. The experiment of UV irradiation time was performed at 1, 2, 3, 4, 5, 18, and 20 hours. The results showed that the higher the initial concentration of metanil yellow and that the longer the irradion time, the higher the amount of metanil yellow degraded. KA:TiO2 having weight ratio of 0.1:9.9 degraded more metanil yellow than that of 0.5:9.5 with maximum degradation of 66% at initial concentration of 6-10 ppm.
Analisis Fisika-Kimia Air Sumur Di Tempat Pembuangan Akhir Sumompo Kecamatan Tuminting Manado Tambunan, Martin Aprilino; Abidjulu, Jemmy; Wuntu, Audy
Jurnal MIPA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.2.2015.9114

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kualitas fisika-kimia air sumur di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) kecamatan Tuminting, Manado secara kualitatif dan kuantitatif. Kajian yang dilakukan meliputi parameter fisika yaitu penentuan pH, bau, rasa, warna, kekeruhan dan total padatan terlarut (TDT) serta parameter kimia yaitu penentuan nitrat, nitrit, klorida, sulfat, besi dan mangan. Berdasarkan hasil pengujian parameter fisika pada 4 titik pengambilan air ada beberapa titik pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan syarat baku mutu kualitas air yaitu tidak berbau dan berasa serta memiliki rentang pH 6,5-9,2 dan memiliki nilai maksimal untuk warna 50, kekeruhan 25, dan TDT 1500. Begitu juga untuk parameter kimia ada beberapa titik pengambilan sampel yang tidak sesuai dengan syarat baku mutu kualitas air yaitu memiliki nilai maksimal untuk klorida 600 mg/L, nitrat 10 mg/L, nitrit 1 mg/L, besi 1 mg/L, mangan 0,5 m/L dan sulfat 400 mg/L.A research on the physico-chemical quality of the well water in the landfill (TPA) district Tuminting, Manado has been done. The study includedphysical parameters, namely pH, odor, taste, color, turbidity and total dissolved solids (TDS) and chemical parameters, namely nitrate, nitrite, chloride, sulphate, iron and manganese. Among the four sampling sites, some sites did not meet the water quality standard based on some physical parameters, those are odorless and tasteless, pH range of 6.5 to 9.2 and maximum value of 50 for color, 25 for turbidity, and 1500 for TDS. Likewise, for chemical parameters, several sampling points are not in accordance with the terms of water quality standard, those aremaximum value of 600 mg/Lfor chlorides, 10 mg/L for nitrate, 1 mg/L for nitrite, 1 mg/L for iron, 0.5 m/L for manganese and 400 mg/L for sulphate.
Kinetika Fotodegradasi Remazol Yellow Menggunakan Fotokatalis ZnO dan ZnO-Ag Taringan, Agres K.; Wuntu, Audy D.; Aritonang, Henry F.
Jurnal MIPA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.6.2.2017.17762

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kinetika fotodegradasi remazol yellow dengan menggunakan ZnO dan ZnO yang disisipi 1%, 3%, 5%, 7%, dan 9% Ag yang disintesis dengan metode kopresipitasi. Eksperimen kinetika dilakukan melalui penentuan konsentrasi remazol yellow yang tersisa setelah interaksi ZnO dan ZnO-Ag dengan larutan remazol yellow yang disinari UV selama 0, 20, 40, 60, 80, 100, 120 dan 140 menit. Selanjutnya data dianalisis mengikuti model kinetika reaksi orde pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju reaksi fotodegradasi oleh ZnO meningkat dengan penambahan konsentrasi dopan AgA research on photodegradation kinetics of remazol yellow using ZnO and Ag-doped ZnO (1, 3, 5, 7 and 9 wt% Ag) synthesized by co-precipitation method had been studied. Kinetics experiment was performed by determining the concentration of remazol yellow remained after interaction of ZnO and ZnO-Ag with remazol yellow solution that were irradiated by UV-light at 0, 20, 40, 60, 80, 100, 120 and 140 minutes. Data obtained was analyzed using firs-order kinetics model. The results showed that photodegradation rate was increased with the increasing Ag concentration.
Kinetika Adsorpsi Gas Benzena Pada Karbon Aktif Tempurung Kelapa Holle, Rizky B.; Wuntu, Audy D.; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.2.2.2013.2997

Abstract

Telah diteliti kinetika adsorpsi gas benzena pada karbon aktif tempurung kelapa yang diaktivasi dengan NaCl dengan tujuan menentukan model kinetika yang dapat diaplikasikan untuk adsorpsi gas benzena pada karbon aktif tempurung kelapa. Data adsorpsi dianalisis dengan menggunakan empat model persamaan laju adsorpsi yaitu (1) persamaan laju order pertama pseudo Lagergren, (2) persamaan laju order kedua pseudo Ho, (3) persamaan Elovich, dan (4) persamaan Ritchie. Hasil kajian menunjukkan bahwa model kinetika dengan persamaan laju order ke-2 pseudo Ho adalah yang paling sesuai diaplikasikan untuk adsorpsi gas benzena pada karbon aktif tempurung kelapa. Dari model kinetika order ke-2 pseudo Ho diperoleh konstanta adsorpsi benzena sebesar 1,63x10-4 g mg-1 min-1. Nilai energi adsorpsi menunjukkan bahwa benzena teradsorpsi secara fisik pada adsorben.Kinetics of gaseous benzene adsorption on coconut shell NaCl-activated carbon had been studied. The research was aimed to determine the appropriate kinetic model applied to gaseous benzene adsorption on the adsorbent. Adsorption data was analyzed using four kinetic models of adsorption rate equation, which were (1) Lagergren’s pseudo first order rate equation, (2) Ho’s pseudo second order rate equation, (3) Elovich‘s equation, and (4) Ritchie’s equation. The results showed that the Ho’s pseudo second order rate equation was best applied to gaseous benzene adsorption on coconut shell activated carbon. The second order rate constant for benzene adsorption was 1.63x10-4 g mg-1 min-1. The value of adsorption energy showed that benzene was physically adsorbed on the adsorbent.
Barcode DNA Edelweis (Anaphalis javanica) Berdasarkan Gen matK Rahalus, Muzakir; Kumaunang, Maureen; Wuntu, Audy; Pontoh, Julius
Jurnal MIPA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.2.2015.9037

Abstract

DNA barcode merupakan metode identifikasi organisme hidup dengan menggunakan urutan DNA pendek (± 500 pasang basa). Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh barcode DNA Edelweis dan menganalisis kemiripan gen matK Edelweis (Anaphalis javanica) dengan kerabat terdekatnya. Isolasi DNA total Edelweis berhasil dilakukan dengan menggunakan  manual prosedur dari InnuPrep Plant DNA Kit yang dimodifikasi. Gen matK parsial telah diisolasi dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan Primer forward matK-1RKIM-f dan Primer Reverse matK-3FKIM-r. Hasil analisis sekuens menghasilkan barcode DNA edelweis berukuran 843 bp. Hasil analisis kemiripan menunjukkan tingkat kekerabatan terdekat dengan A. margaritaceae yaitu 99.86% pada BOLD System dan 100 % pada NCBI.DNA barcode is a method to identify living organism by using several short sequences of DNA (± 500 base pairs). The purpose of this study was to obtain a DNA barcode and analyze the similarity of matK genes of edelweis (Anaphalis javanica) with its closest relatives. Isolation of total DNA of edelweis has been succesfully done by using modified manual procedures of InnuPrep Plant Kit. matK partial gene has been isolated by the method of Polymerase Chain Reaction (PCR) using forward primer MATK-1RKIM-f and reverse primer MATK-3FKIM-r. Analysis of DNA sequences of edelweis confirmed its DNA barcode size was 843 bp. Furthermore, A. javanica showed similarity 99.86% in BOLD system and 100% in NCBI with A. margaritaceae.
Uji Metode Olsen dan Bray dalam Menganalisis Kandungan Fosfat Tersedia pada Tanah Sawah di Desa Konarom Barat Kecamatan Dumoga Utara Umaternate, Ghazaly R.; Abidjulu, Jemmy; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.1.2014.3898

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan konsentrasi fosfat tersedia pada tanah sawah dan membandingkan dua metode ekstraksi fosfat, yaitu metode olsen yang menggunakan reagen NaHCO3 dan metode bray yang menggunakan reagen Bray dan Kurtz. Hasil ekstrak direaksikan dengan pereaksi pewarna fosfat bersama deret standar dan diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 693 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak fosfat tersedia dari metode Olsen menunjukkan hasil konsentrasi yang tinggi berturut–turut 422,861; 771,614; 1389,464; 1607,386; 821,591; dan 1139,925 ppm, sedangkan metode Bray menunjukkan hasil yang lebih rendah berturut-turut 16,102; 13,899; 11,307; 7,181; 7,183; dan 9,073 ppm. Reagen NaHCO3 pada sampel menyebabkan pH naik sehingga banyak fosfat yang terlepas, sedangkan reagen Bray dan Kurtz menyebabkan pH turun dan lebih sedikit fosfat yang terlepas. pH sampel yang bersifat asam menyebabkan metode Bray lebih cocok untuk digunakan daripada metode Olsen karena metode Bray spesifik untuk tanah asam, sedangkan metode Olsen dapat digunakan untuk tanah asam dan basa.A study aimed to determine the concentration of phosphate available to the rice field soil and to compare the two methods of phosphate extraction, which are Olsen that uses NaHCO3 reagent and Bray that uses Bray and Kurtz reagents, had been done. The extract was reacted with phosphate coloring reagent and standards and the absorbance was measured using spectrophotometer at a wavelength of 693 nm. The results showed that the extract of phosphate available using Olsen method showed higher value of concentrations which were 422.861; 771.614; 1389.464; 1607.386; 821.591; and 1139.925 ppm. On the other hand, Bray method showed a lower value which were 16.102; 13.899; 11.307; 7.181; 7.183; and 9.073 ppm. NaHCO3 increased the pH and more phosphate was released, while the Bray and Kurtz reagent decreased the pH and less phosphate was released. Due to the lower pH of the sample, Bray method is more suitable for acidic soils rather than Olsen method because of its specificity for acidic soil, while the Olsen method can be used for acidic and alkaline soil.
Analisis Senyawa Metabolit Sekunder dan Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.) Marlinda, Mira; Sangi, Meiske S.; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.1.1.2012.427

Abstract

Biji buah alpukat telah banyak digunakan sebagai obat tradisional, oleh karena itu diperlukan informasi ilmiah tentang kandungan kimia dan efek samping yang ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis senyawa-senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam biji alpukat, serta menentukan toksisitas ekstrak biji alpukat berdasarkan metode Brine Shrimp Lethality Test (BST). Skrining fitokimia merupakan suatu tahap seleksi awal untuk mendeteksi golongan senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan. Skrining fitokimia meliputi uji alkaloid, uji triterpenoid dan steroid, uji tanin, uji flavonoid dan uji saponin. Uji toksisitas menggunakan metode BST dengan bioindikator larva Artemia salina Leach. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan analisis probit menggunakan SPSS 20.0 for Windows untuk mengetahui nilaiLethal Concentration50 (LC50). Berdasarkan skrining fitokimia, biji buah alpukat diketahui mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid, triterpenoid, tanin, flavonoid dan saponin. Nilai LC50 yang diperoleh berdasarkan uji toksisitas biji buah alpukat mentega segar dan kering, serta biji buah alpukat biasa segar dan kering, yaitu masing-masing sebesar 42,270 mg/L, 36,078 mg/L, 36,924 mg/L, dan 34,302 mg/L.
Efek Ekstrak Limbah Cair Empulur Batang Sagu Baruk (Arenga microcarpha) Terhadap Fotoreduksi Besi(III) Ginting, Haider Ali; Rorong, Johnly Alfreds; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.12285

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan fenolik, flavonoid, dan tanin dari limbah cair empulur batang sagu baruk dan menguji kemampuanya dalam fotoreduksi Fe3+. Empulur batang sagu baruk diekstrak dengan pelarut akuades secara maserasi selama 2 jam. Selanjutnya ekstrak hasil maserasi dianalisis kandungan fitokimia fenolik, flavonoid dan tanin dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian fotoreduksi dilakukan pada cahaya fluorescent dengan konsentrasi 1000 mg/L selama 5 jam dengan variasi pH 4, 5, 6, 7 dan 8 serta kapasitas daya 42, 62 dan 104 Watt. Analisis ekstrak limbah cair empulur batang sagu baruk menunjukkan konsentrasi fenolik 112,04 mg asam galat/L konsentrasi flavonoid 30,10 mg kuersetin/L dan konsentrasi tanin 22,02 mg katekin/L.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak limbah cair empulur batang sagu baruk pada pH 6 dengan kapasitas daya 104 Watt mempunyai kemampuan yang paling baik untuk mereduksi Fe3+ dibandingkan dengan ekstrak lainya.Research had been carried out to analyze the photochemicals phenolic, flavonoids, and tanins in liquid waste of pith trunk sago baruk and to test its ability in photoreduction. Pith trunk extracted with aquadest in maceration for two hours. The extracts resulted were then analyzed for phenolic, flavonoids and tanins phytochemicals using spectrophotometer UV-Vis. The photoreduction tests performed on fluorescent light with concentration of 1000 mg/L for five hours with variation pH 4, 5, 6, 7 and 8 and on energy capacities of 42, 62 dan 104 Watt. Analysis of liquid waste of pith trunk sago baruk extract showed that phenolic concentration was 112,04 mg gallic acid/L, flavonoid concentration was 30,10 mg quersetin/L and tannin concentration was 22,02 mg chatechin/L. The results showed that extract liquid waste pith trunk sago baruk at pH 6 with energy capacities 104 Watt had best ability in photoreduction Fe3+.
Kinetika Fotodegradasi Remazol Yellow Menggunakan Zeolit A Terimpregnasi TiO2 Titdoy, Suhardi; Wuntu, Audy D.; Kamu, Vanda S.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.11192

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kinetika fotodegradasi remazol yellow dengan menggunakan zeolit A terimpregnasi TiO2. Jumlah TiO2 divariasikan dalam perbandingan berat zeolit A : TiO2 sebesar 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1, 1:1.2, dan 1:1,4 g/g. Eksperimen kinetika dilakukan melalui penentuan konsentrasi remazol yellow yang tersisa setelah interaksi zeolit A : TiO2 dengan larutan remazol yellow yang disinari UV pada waktu 10, 20, 30, 40, 50, 60, dan 90 menit. Selanjutnya data dianalisis mengikuti model kinetika reaksi orde-1. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi jumlah TiO2 dalam material  zeolit A : TiO2 maka semakin kecil laju fotodegradasi. Perbandingan berat 1:0,4 menghasilkan laju fotodegradasi paling besar dengan konstanta laju sebesar 0,0184 menit-1.A research on photodegradation kinetics of remazol yellow using TiO2-impregnated A-type zeolite has been done. The amount of TiO2 was varied in weight ratio of zeolite A : TiO2 which were 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1, 1:1.2, and 1:1.4 g/g. Kinetics experiment was performed by determining the concentration of remazol yellow remained after the interaction of zeolite A : TiO2 with remazol yellow solution that is illuminated by UV-light at 10, 20, 30, 40, 50, 60 and 90 minutes. Data obtained was analyzed using first-order reaction kinetics model. The results showed that the higher the amount of TiO2 in the mixture of zeolite A : TiO2 material, the smaller the rate of photodegradation. The weight ratio of 1:0.4 produced the greatest rate of photodegradation with rate constant of 0.0184 min­­­­-1.
Analisis Kandungan Formalin Dan Boraks Pada Ikan Asin Dan Tahu Dari Pasar Pinasungkulan Manado Dan Pasar Beriman Tomohon Ma’ruf, Hasna; Sangi, Meiske S.; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.6.2.2017.17073

Abstract

Ikan asin dan tahu merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, mudah diperoleh, dan harganya murah. Bahan pangan ini, cepat mengalami proses pembusukan yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme, oleh sebab itu produsen ikan asin dan tahu sering menggunakan bahan pengawet agar produk ini tidak cepat rusak, terutama bahan pengawet yang tidak diizinkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kualitatif keberadan formalin dan boraks pada ikan asin dan tahu serta menentukan secara kuantitatif jika produk pangan tersebut positif mengandung formalin dan boraks. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan asin dan tahu yang diperoleh dari pasar Pinasungkulan Manado dan pasar Beriman Tomohon. Untuk analisis kualitatif formalin digunakan kit pengujian dan pereaksi Schiff sedangkan untuk analisis secara kuantitatif formalin digunakan spektrofotometer UV-Vis. Untuk analisis kualitatif boraks digunakan kertas tumerik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan asin yang dijual di pasar Pinasungkulan Manado dan Pasar Berimam Tomohon tidak mengandung boraks tetapi positif mengandung formalin dengan kadar rata-rata 0,099-0,289 ppm sedangkan tahu yang dijual di pasar Pinasungkulan Manado dan pasar Berimam Tomohon tidak terdeteksi mengandung formalin dan boraksSalted fish and tofu are sources of proteinconsumed by most people in Indonesia for their price and availability. These products, however, are easily deteriorated by microorganism activity and the producers tend to use preservatives to avoid the product degradation. In fact, some producers use chemicals which are prohibited for preservation because of their effects on human health. This research was aimed to qualitatively test the presence of formaldehyde and borax and to quantitatively examine the concentration of these chemicals in salted fish and tofu when the qualitative test showed positive result. Samples used in this research were salted fish and tofu obtained from traditional markets Pinasungkulan Manado and BerimanTomohon. Test kit and Schiff solution were used in qualitative test and spectrophotometer UV-Vis was used in quantitativetest of formaldehyde. Tumeric paper, on the other hand, was used qualitative analysis of borax. The results showed that salted fish obtained from Pinasungkulan Manado and Beriman Tomohondid not contain borax, but containedformaldehyde at the level of 0,099-0,289 ppm. On the other hand, tofu obtained from the traditional markets did not find to contain
Co-Authors Abdul R.H. Korompot Andre G Kalensun Bando, Reksih Evander Bolilera, Theressa Bungan, Gladys K Christmas Togas Colling, Erningsi Dewi A Bukasa Djoni Hatidja Djoni Hatidja Edi Suryanto Edi Suryanto Feti Fatimah Ghazaly R. Umaternate Grace Aprianne Bellatrix Patiung Guntur Pasau Haider Ali Ginting, Haider Ali Harry Koleangan Harry S. J. Koleangan Harry S.J Koleangan Harry S.J Koleangan Harry S.J. Koleangan Harry S.J. Koleangan Henry Aritonang Henry F. Aritonang, S.Si., M.Si. Herling D. Tangkuman Jacobus, Meyffi Merrylin Jemmy Abidjulu Johnly Alfreds Rorong Julius Pontoh Julius S. Pontoh Kakame, Dewi Y. N. Koleangan, Harry Koleangan, Harry Steven Julius Korompot, Abdul R.H. Kumanaung, Maureen Lengkong, Vanda Lidya I Momuat Lidya I. Momuat Lidya Irma Momuat Lidya Irma Momuat Lidya Irma Momuat Lidya Irma Momuat Lumentut, Chrisela Lusiana Eka Sari Maanari, Chaleb Paul Maarebia, Rosalinda Zeniona Ma’ruf, Hasna Makatipu, Christian D. Marini Runtu Mariska Margaret Pitoi Martin Aprilino Tambunan, Martin Aprilino Maureen Kumaunang Maureen Kumaunang Max R.J. Runtuwene Meiske S Sangi Meiske S Sangi Meiske S. Sangi Meiske Sientje Sangi, Meiske Sientje Michelle Poluakan, Michelle Mira Marlinda Muzakir Rahalus, Muzakir Norrytha L Wuntu Onggeteua, Fita M. Pandelaki, Elmi C.J. Pangajow, Stoflly E. M. Prasetyo, Yudhie E Pujiarti, Pujiarti Rizky B. Holle Rosdiana Tidore Runtu, Marini Sanusi Gugule Silvana Yoce Tuwohingide Stifanus Billy Pelle Suhardi Titdoy, Suhardi Syamsi, Ibnu Darmawan Talita Kojong Taringan, Agres K. Tatinting, Gabriel Dinnydio Tumbel, Elsa D. Tumbelaka, Riddel M M Y Tumbelaka, Riddel M.M.Y. TUMUAHI, FIRGIN PRITTY DEISYELLA Vanda Kamu Vanda Lengkong Vanda S Kamu Vanda S. Kamu Vanny H. Siwi Wuntu, Norrytha L Wuntu, Norrytha L. Yudhie E Prasetyo