Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

WACANA ESKATOLOGIS DALAM PUTRU PASAJI Anak Agung Inten Mayuni; I Wayan Suka Yasa; I Wayan Budi Utama
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 20 No 1 (2020): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.97 KB) | DOI: 10.32795/ds.v20i1.636

Abstract

Putru Pasaji merupakan salah satu teks kesusastraan Hindu yang diwarisi di Bali dan selalu dibacakan dalam ritual kematian ‘mamukur’. Kedudukan dan fungsinya sebagai wacana mantra menjadikan wacana di dalam teks tersebut tidak dipahami sepenuhnya oleh umat Hindu. Melalui analisis wacana kritis van Dijk yang memfokuskan kajiannya pada dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial ditemukan bahwa wacana yang dominan dalam teks Putru Pasaji adalah eskatologi Hindu. Teks ini menyampaikan wacana keutamaan sesaji dalam konteks ekatologis, yakni perjalanan roh setelah kematian. Konsep svarga, naraka, karmaphala, punarbhawa, serta moksa yang dihubungkan dengan sesaji membangun wacana eskatologis dalam Putru Pasaji secara holistik dan komprehensif.
SAKRALISASI PRALINGGA DI PURA DALEM PAKERISAN A.A. Putra Dwipayana; I Wayan Budi Utama
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 20 No 2 (2020): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v20i2.1017

Abstract

Pelaksanaan sakralisasi pralingga di Pura Dalem Pakerisan merupakan salah satu wujud ritual keagamaan Hindu yang dilaksanakan terkait dengan keberadaan pralingga (barong, rangda, dan telek) di Pura Dalem Pakerisan. Prosesi ini berimplikasi terhadap kehidupan sosial dan religius umat Hindu di Desa Pedungan. Implikasi sakralisasi pralingga di Pura Dalem Pakerisan Desa Pedungan, dalam aspek kehidupan sosial terjadinya reproduksi struktur dan praktik sosial, yangditandai dengan pembentukan struktur baru oleh pihak (lembaga) yang memiliki otoritas dalam melegitimasikan pelaksanaan sakralisasi pralingga; keharmonisan pawongan, diamati pada kebijakan yang dibuat sangat dirasakan oleh umat Hindu terutama umat yang bekerja, karena tindakan tersebut dianggap efisien dan efektif sebagai masyarakat kota yang di satu sisi sebagai pekerja di setiap instansi, dan juga sebagai umat beragama yang mempunyai kewajiban berbhakti kepada-Nya, serta kewajiban sebagai masyarakat adat. Dalam kehidupan religius, berimplikasi terhadap tindak koversi internal sehingga sistem-sistem ritual yang dilaksanakan telah beradaptasidengan sistem ritual di daerah lainnya; revitalisasi nilai agama terjadi yang merupakan prosessejalan dengan upaya atas kemajuan dan perkembangan kehidupan masyarakat kota yang mengikutiarus modernisasi.