Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PROSES REFORMASI KATALITIK A.S. Nasution; Oberlin Sidjabat; Abdul Haris; Morina Morina
Swara Patra Vol 1 No 2 (2011): Swara Patra
Publisher : Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses separasi minyak bumi adalah proses pertama untuk pemisahan minyak bumi menjadi fraksi-fraksinya. Proses ini meliputi proses distilasi atmosfer dan distilasi vakum, yang menghasilkan nafta, kerosin, distilat vakum dan residu (residu atmosferik dan residu vakum).Dalam rangka meningkatkan nilai tambah fraksi minyak bumi tersebut, maka dilakukan proses tahap kedua, yaitu: konversi, baik berupa proses termal maupun proses katalitik. Bensin mempunyai kisaran titik didih dari 40oC sampai 220oC yang mengandung grup hidrokarbon parafin, olefin, naftena, dan aromatik dengan variasi nilai angka oktananya cukup besar
Pengaruh Teknik Pencampuran Biodiesel dengan Metode Splash (Pencemplungan) terhadap Unjuk Kerja Kendaraan Bermesin Diesel Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan biodiesel yang meningkat menciptakan beberapa tantangan dalam penanganannya untuk sampai ke pelanggan sebagai bahan bakar campuran (BXX). Yang paling penting bagi produsen pencampur yang segera ditangani adalah jaminan bahwa bahan bakar diesel dan biodiesel dapat dicampurkan secara homogen dan dalam satu fasa. Yang paling sering ditanyakan adalah bagaimana biodiesel akan dicampurkan? Sesuai dengan regulasi untuk mencampurkan biodiesel dan bahan bakar diesel di Indonesia bahwa maksimum penggunaan biodiesel adalah B10. Pengaruh teknik pencampuran biodiesel dengan cara cemplung (splash) atau langsung dimasukkan ke dalam tangki bahan bakar diteliti pada kinerja mesin khususnya terhadap saringan bahan bakar (fuel fi lter). Bahan bakar yang digunakan pada penelitian ini sebagai B20 dan biodiesel diproduksi dari bahan baku minyak sawit. Apabila biodiesel diisikan terlebih dahulu dan kemudian diikuti dengan minyak diesel (minyak solar), hasilnya menunjukkan bahwa saringan bahan bakar akan tersumbat setelah kendaraan beroperasi sejauh 1500 km. Hal ini diharapkan bahwa pencampuran terjadi melalui agitasi (guncangan) bila kendaran melaju dalam perjalanan. Akan tetapi apabila bahan bakar minyak diesel diisikan terlebih dahulu dan diikuti dengan biodiesel maka hasilnya menunjukkan bahwa saringan bahan bakar akan tersumbat setelah kendaraan beroperasi sepanjang 2500 km. Hal ini menunjukkan bahwa kesukaran pada pencampuran dapat diatasi jika biodiesel diisikan paling akhir setelah bahan bakar minyak diesel. Juga biodiesel lebih berat dari bahan bakar diesel dan hal ini sukar teragitasi apabila kendaraan berjalan. Sebaliknya pada uji jalan (road test), dengan menggunakan B30, menunjukkan bahwa tidak ada masalah terhadap saringan bahan bakar (fuel fi lter), dimana B30 dipreparasi dengan mencampurkan biodiesel dengan bahan bakar minyak diesel dalam tangki lain sampai homogen sebelum diisikan ke tangki bahan bakar kendaraan.
Pengembangan Teknologi Bersih dan Kimia Hijau dalam Meminimalisasi Limbah Industri Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi atau proses yang digunakan industri-industri untuk memproduksi produk-produk yang kita butuhkan sangat mempengaruhi kualitas hidup kita terutama terhadap lingkungan dan kesehatan. Pada umumnya industri-industri masih banyak menghasilkan limbah yang merusak lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan solusi untuk meminimalisasi limbah industri atau kerusakan lingkungan dengan mengembangkan teknologi bersih (clean technology) berdasarkan konsep kimia hijau (green chemistry). Pengembangan teknologi atau proses untuk meminimilisasi limbah perlu pertimbangan beberapa aspek yaitu Faktor Lingkungan (Environmental Factor), Utilisasi Atom, dan Peran Katalisis (Proses Katalitik). Aspek yang paling penting dan juga mempunyai pengaruh untuk meminimalisasi limbah industri-industri adalah proses katalitik.
Pengaruh Air dan Etanol terhadap Reaktivitas Hidrogenolisis Isoamil Alkohol pada Katalis Ni/Zeolit Triyono; Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air, etanol (etilalkohol) dan isoamil-alkohol dapat membentuk larutan azeotroph. Di dalam limbah cair, keberadaan alkohol selalu didapatkan bersama-sama dengan larutan berair. Minyak fusel mengandung berbagai macam senyawa alkohol, seperti etanol dan isoamilalkohol. Di dalam penelitian ini, dilakukan proses hidrogenolisis antara campuran isoamil-alkohol dengan air dan juga campuran antara isoamil-alkohol dan etanol dengan masing-masing kadar air atau etanol yang divariasikan. Katalis yang digunakan adalah Ni/Zeolit dengan kandungan Nikel 0,4% berat yang dibuat dengan metoda impregnasi basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bila jumlah kadar air meningkat (bertambah) maka konversi isoamil-alkohol akan menurun (berkurang). Di lain fihak, bila jumlah kadar etanol meningkat (bertambah) maka konversi isoamil-alkohol akan meningkat (bertambah).
Peranan Proses Katalitik dalam Pembuatan Bahan Bakar Minyak Ramah Lingkungan A.S Nasution; Oberlin Sidjabat; Morina; Herizal
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses industrialisasi yang berwawasan lingkungan bahan bakar minyak haruslah memenuhi persyaratan ramah lingkungan yang kian meningkat ketat. Masalahnya, kualitas dan jumlah produksi minyak bumi cendrung menurun sedangkan kebutuhan dan persyaratan bahan bakar minyak (bensin dan so- lar) ramah lingkungan semangkin meningkat . Bahan bensin harus berangka oktana tinggi dengan pembatasan kadar hidrokarbon tak jenuh dan juga kadar sulfurnya. Persyaratan bahan bahan solar adalah antara lain berangka setana tinggi dan kadar hidrokarbon tak jenuh dan sulfur rendah. Pembatasan kadar hidrokarbon tersebut dan sulfur dapat menurunkan emisi gas buangnya (Tabel 1) 821 Pembuatan bahan bakar bensin dan solar ramah lingkungan tersebut memerlukan komponen- komponen bensin dan solar bermutu tinggi dengan bantuan proses-proses katalitik. PERTAMINA mengelola berbagai jenis minyak bumi sebesar 1063 MBCD pada 7 unit yang mengoperasikan 24 unit proses katalitik (Tabel 2). Produk kilang PERTAMINA meliputi bahan bakar (LPG, bensin avgas, avtur, kerosin dan solar), bahan dasar pelumas, bahan baku petrokimia (paraxylene, purified terphthalic acid (PTA), propylene) dan polypropylene 415) Pada umumnya proses-proses katalik tersebut adalah proses-proses yang cukup pelik dan rumit ditinjau baik dari segi fundamental/teori maupun dari segi operasionalnya. Pemahaman tingkah laku proses- proses katalik secara lebih terarah dan kontinu adalah salah satu usaha untuk meningkatkan unjuk kerja proses katalik tersebut. Unjuk kerja proses-proses katalik dan konfigurasi kilang minyak PERTAMINA untuk pembuatan bahan bakar bensin dan solar ramah lingkungan, karakteristik komponen bahan bakar dan komposisinya dalam pembuatan bahan bakar ramah lingkungan dan berbagai spesifikasinya serta partisipasi Puslitbangtek Migas "LEMIGAS" pada operasi dan pengembangan kilang minyak pertamina dan beberapa penelitian katalis/proses katalitik disajikan dalam makalah ini.
Pengolahan Minyak Goreng Bekas (Jelantah) menjadi Bahan Bakar Setara Solar (Biodiesel) dengan Proses Transesterifikasi Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak goreng bekas atau yang sehari-hari disebut jelantah, merupakan salah satu sumber polusi apabila dibuang sembarangan. Pengertian istilah jelantah adalah sisa-sisa dari minyak goreng setelah digunakan beberapa kali. Pada umumnya minyak goreng bekas mengandung senyawa-senyawa antara lain: polimer, aldehida, asam lemak, senyawa aromatik, dan lakton. Untuk menghindari bahaya yang dapat ditimbulkan maka perlu dicari jalan keluar untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut. Salah satu cara adalah dengan mengolahnya melalui proses kimia, dalam hal ini transesterifikasi, yang sangat sederhana (Kac, 2003). Di sisi lain, bahan bakar minyak banyak menghasilkan gas buang yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan sehingga perlu dicari bahan bakar yang akrab lingkungan. Salah satu bahan bakar yang akrab lingkungan adalah biodiesel. Biodiesel adalah suatu nama generik untuk bahan bakar setara bahan bakar minyak solar yang diperoleh dari sumber yang dapat diperbaharui (renewable sources), minyak nabati dan lemak hewan, dengan proses esterifikasi yaitu dengan mereaksikan minyak dan alkohol dengan bantuan suatu katalis. Biodiesel mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan bahan bakar minyak diesel (solar) yang diperoleh dari minyak bumi, antara lain: mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik sehingga memperpanjang umur mesin; merupakan bahan bakar yang aman karena mudah ditangani dan tidak beracun; mempunyai gas buang yang relatif bersih.
Proses Polimerisasi Olefin dan Peranannya dalam Pembuatan Bensin Ramah Lingkungan A.S Nasution; morina morina; Oberlin Sidjabat
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era tahun 2000an persyaratan lingkungan tentang gas buang kendaraan bermotor akan semakin ditingkatkan. Sehubungan dengan hal tersebut, motor bakar dan bahan bakar telah berkembang secara bersamaan sehingga motor bakar memerlukan suatu bahan bakar yang mempunyai persyaratan tinggi. Persyaratan lingkungan dan tekanan untuk menurunkan polusi dari gas buang telah menyebabkan penyempurnaan desain motor bakar, antara lain pemakaian catalytic converter yang berakibat pula pada peningkatan mutu bahan bakarnya. Peningkatan compression ratio motor bahan bensin akan membutuhkan bahan bakar bensin berangka oktana tinggi dan penurunan polusi gas buang kendaraan bermotor akan membatasi baik komponen hidrokarbon tak jenuh bensin (aromatik, benzena dan olefin) maupun kadar nonhidrokarbonnya (organic sulfur).
CATALYTIC PYROLYSIS OF POLYPROPYLENE PLASTIC FROM MUNICIPAL SOLID WASTES INTO GASOLINE FRACTION COMPOUNDS USING THE MIXED NICKEL (Ni) AND CHROME (Cr) METALS AS THE CATALYST Morina Morina; Oberlin Sidjabat
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 37 No 3 (2014)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.37.3.634

Abstract

Plastic wastes which come from municipal solid wastes, have been identi􀂿 ed as the worldwideenvironmental problem in the last decades. Chemical recycling is one of the alternative methods to solvesuch problem. Inorder to obtai appropriate liquid fuels, polypropylene plastic waste was degraded thermallyand catalytically in the presence of natural zeolite incorporated with chromium (Cr) and nickel (Ni) metals.The reaction was conducted in a 􀂿 xed bed reactor in the temperature range of 400-500°C. The dependenciesof process temperature and effect of catalyst on yield of the fuel fractions were determined and comparedto commercial gasoline fractions. The current study shows that the major product of thermal degradation(pyrolysis) and catalytic degradation is liquid (gasoline) fraction and the highest products obtained attemperature 450°C is approximately 77.84%. The use of chromium and nickel metals on activated naturalzeolite as a bi-functional catalyst enhance the yield of liquid fractions and the acidity of the catalysts. The liquid product obtained in this process was analyzed using GC for its composition. Synthesized catalysts, activated natural zeolite and natural zeolite were characterized by means of nitrogen physisorption (BET), porosity, X-ray diffraction (XRD), and acidity. Based on the obtained results, the catalyst containing 6% of chromium and 4% of nickel on activated natural zeolite is a good catalyst for conversion of polypropylene plastic wastes to liquid (gasoline) fuels. Catalytic conversion using such catalysts may applicable as an alternative method for recycling plastic wastes to more valuable commodities such as fuel oils. 
THE CHARACTERISTICS OF A MIXTURE OF KEROSENE AND BIODIESEL AS A SUBSTITUTED DIESEL FUEL Oberlin Sidjabat
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 36 No 1 (2013)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.36.1.649

Abstract

Physicochemical properties characterization a mixture of biodiesel and kerosene were carried out toinvestigate their potential use as a substituted diesel fuel for domestic purposes. The characteristic assessmentswere done by comparing the standard requirement for diesel fuel. The properties characterization of thebiodiesel blends with kerosene were density, viscosity, pour point, cloud point, distillation, and cetane number,which is related to the cold fl ow properties of biodiesel. The characteristics fuel property of biodiesel blendswith kerosene in proportion at 2.5:97.5, 5:95, 10:90, 15:85, 20:80, 30:70, and 50:50 was found mostlymeet the requirement the specifi cation of diesel fuel. Biodiesel is mixed with kerosene to bring many of thebenefi cial characteristics to be a substituted diesel fuel. Overall physicochemical characteristics of blendingfuel were reduced by the increasing of kerosene concentrations. Kerosene can play a role as a diluent agentto reduce the characteristic of cold fl ow properties of biodiesel.
Influence Of Feedstocks In Biodiesel Production On Its Physico-Chemical Properties Of Product : A Review Oberlin Sidjabat
Scientific Contributions Oil and Gas Vol 36 No 3 (2013)
Publisher : Testing Center for Oil and Gas LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29017/SCOG.36.3.767

Abstract

 Biodiesel is attracting increasing attention worldwide as a substituted petroleum diesel fuel or a blending component in transport sector. Biodiesel also become more attractive because of its environmental benefits and the fact that it is made from renewable resources. Biodiesel feedstock can be divided into four main categories: (i). Edible vegetable oi; (ii). Non-edible vegetable oil, (iii); Waste or used cooking oil; and (iv). Animal fats. There are two major factors to take into consideration when dealing with feedstock for biodiesel production i.e the source and composition. Biodiesel feedstocks have three main types of fatty acids as the main compounds that are present in a triglyceride: saturated (Cn:0), monounsaturated (Cn:1) and polyunsaturated (Cn:2,3). The overall biodiesel physicochemical properties are strongly influenced by the properties of individual fatty acid esters in biodiesel. Fatty acid composition varies for all biodiesel feedstocks that affected the product quality. Important fuel properties of biodiesel that are influenced by the fatty acid composition are viscosity, cetane number, heating/ calorific value, cloud point,and oxidation stability. Oxidation stability is one of the major issues influencing the use of biodiesel or FAME (fatty acid methyl ester), due to the nature of biodiesel, makes it more susceptible to oxidation or auto-oxidation during long-term storage than petroleum diesel fuel. The oxidation stability values of the biodiesel range from 0.4 hr (for the most unsaturated biodiesel, linseed) to 35.5 hr (for the most saturated one, coconut).