Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

EFEKTIVITAS PROGRAM “MENJADI DIRI BERENCANA” PADA PESERTA PROGRAM ASAK PAROKI X Shanti, Theresia Indira; Chrysantha, Charlotte; Samudera, Benedictus Wishnu; Padmagita, Fransisca Maria Fabrianna; de April, Agata; Brandon, Albertus; Yanti, Agnes; Simamora, Bernadetta Sabrina; Andrini, Florencia Rosa
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.22682

Abstract

Siswa dari keluarga kurang mampu rentan untuk tidak alami perubahan kualitas kehidupan karena kurangnya inisiatif untuk lakukan perubahan dalam hidupnya. Intervensi dalam bentuk pelatihan bertema umum “Menjadi Diri Berencana” ini diberikan satu kali dalam 1 bulan, masing-masing 2 jam, selama 5 bulan berturut-turut dengan tema yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai self-esteem, self-efficacy, cognitive emotion regulation, social support, dan future orientation; atau dengan tema yang disampaikan pada masyarakat adalah “Aku Berharga”, “Aku Mampu Mengatasi Tantangan”, “Aku Kelola Emosiku”, “Aku Memiliki Dukungan untuk Meraih Cita-cita”, dan “Saat ini dan Masa Depanku”. Dari hasil uji beda terhadap skor pre-test dan post-test untuk masing-masing tema tersebut tidak ada perbedaan signifikan. Hasil ini mungkin disebabkan skor peserta yang sudah termasuk dalam kategori minimal sedang, sehingga sulit untuk meningkatkan kembali dan soal pre dan post-test yang terlalu sedikit serta tingkat kesulitan rendah. Peserta menyebutkan bahwa pelatihan beruntun ini memberi manfaat antara membuat mereka percaya pada kemampuan mereka, tidak perlu putus asa saat menghadapi tantangan, dapat meminta bantuan orang lain, memiliki teman. Disarankan bahwa intervensi serupa dapat dilakukan pada skala yang lebih luas, lebih dari satu Paroki.
Gambaran dinamika self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan Agnes Christy Wijaya; Theresia Indira Shanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2020.v07.i01.p04

Abstract

Perselingkuhan dalam pernikahan adalah kondisi di mana ketika salah satu pasangan melanggar komitmen dalam hubungan pernikahan, meliputi satu atau lebih elemen yaitu kerahasiaan, aktivitas seksual, dan keterlibatan emosional, berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Perselingkuhan merupakan alasan utama perceraian di Jabodetabek. Namun, tidak semua perselingkuhan berakhir dengan perceraian. Self-forgiveness dijelaskan sebagai proses yang membuat pelaku perselingkuhan mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas dampak pada korban padahal pelaku juga mengalaminya, seperti dikucilkan, malu dan bersalah. Untuk dapat menghadapi dampak tersebut, self-forgiveness merupakan kunci bagi pelaku yang ingin mempertahankan rumah tangganya dengan cara mengakhiri perselingkuhan. Hal tersebut menjadi tanda bahwa dia mempertimbangkan makna hidup (meaning in life) yang dimiliki terutama tujuan menikah sehingga mampu memaknai perselingkuhan sebagai masa lalu yang dijadikan pelajaran untuk memperbaiki pernikahan. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran dinamika self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan. Penelitian dilakukan pada pelaku perselingkuhan yang tetap pada ikatan pernikahan, kedua pihak saling mengetahui perselingkuhan, sudah mengakhiri perselingkuhannya dan memiliki orientasi seksual heteroseksual. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed-methods. Sebanyak 27 partisipan diperoleh menggunakan teknik sampling non-probabilty. Uji korelasi dilakukan dalam penelitian ini dan hasilnya terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan. Sebanyak empat partisipan diperoleh melalui teknik purposeful sampling. Hasil analisis data kualitatif mampu menjelaskan gambaran self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan.
Psychometric properties of The Revised Rape Myth Acceptance Scale–Indonesian version (rIRMA-Indonesian) Tsania M. Isa; Theresia Indira Shanti; Nathanael E.J. Sumampouw; Murniati Agustian
Jurnal Psikologi Vol 25, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jp.25.1.1-15

Abstract

Background: Rape myths are inaccurate beliefs that legitimize sexual violence through victim-blaming and perpetrator justification. Rape myth acceptance (RMA) is linked to sexual violence perpetration and underreporting by victims and is shaped by broader cultural norms and power relations, emphasizing the need for culturally sensitive measurement tools.Purpose: In line with Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi’s 2024 PPKPT policy on preventing and addressing sexual violence in higher education, this study examines the construct validity and reliability of the Revised Illinois Rape Myth Acceptance Scale Adapted for Indonesia (rIRMA-Indonesian).Method: Using an online survey of 504 participants (ages 15–61), which includes students, lecturers, and Satgas PPKS members. Exploratory along with confirmatory factor analyses and reliability testing were conducted based on the revised three-factor rIRMA model.Findings: Results supported a theoretically coherent three-factor structure with strong internal consistency, although elevated RMSEA values and high inter-factor correlations suggested partial construct overlap.Implications: The findings indicate a culturally convergent rape myth belief system in Indonesia shaped by gender, moral norms, and authority structures, while the rIRMA-Indonesian provides an empirically grounded tool for higher education institutions and policymakers under the PPKPT framework.Limitations: Model fit concerns and cultural convergence across factors indicate the need for further culturally informed refinement beyond item reduction.