Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Gambaran dinamika self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan Agnes Christy Wijaya; Theresia Indira Shanti
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2020.v07.i01.p04

Abstract

Perselingkuhan dalam pernikahan adalah kondisi di mana ketika salah satu pasangan melanggar komitmen dalam hubungan pernikahan, meliputi satu atau lebih elemen yaitu kerahasiaan, aktivitas seksual, dan keterlibatan emosional, berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Perselingkuhan merupakan alasan utama perceraian di Jabodetabek. Namun, tidak semua perselingkuhan berakhir dengan perceraian. Self-forgiveness dijelaskan sebagai proses yang membuat pelaku perselingkuhan mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas dampak pada korban padahal pelaku juga mengalaminya, seperti dikucilkan, malu dan bersalah. Untuk dapat menghadapi dampak tersebut, self-forgiveness merupakan kunci bagi pelaku yang ingin mempertahankan rumah tangganya dengan cara mengakhiri perselingkuhan. Hal tersebut menjadi tanda bahwa dia mempertimbangkan makna hidup (meaning in life) yang dimiliki terutama tujuan menikah sehingga mampu memaknai perselingkuhan sebagai masa lalu yang dijadikan pelajaran untuk memperbaiki pernikahan. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran dinamika self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan. Penelitian dilakukan pada pelaku perselingkuhan yang tetap pada ikatan pernikahan, kedua pihak saling mengetahui perselingkuhan, sudah mengakhiri perselingkuhannya dan memiliki orientasi seksual heteroseksual. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed-methods. Sebanyak 27 partisipan diperoleh menggunakan teknik sampling non-probabilty. Uji korelasi dilakukan dalam penelitian ini dan hasilnya terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan. Sebanyak empat partisipan diperoleh melalui teknik purposeful sampling. Hasil analisis data kualitatif mampu menjelaskan gambaran self-forgiveness dan meaning in life pada pelaku perselingkuhan dalam pernikahan.
Psychoeducational Interventions on Conflict Resolution Styles among Individuals Involved in Commuter Marriages Qurrata A'yun; Theresia Indira Shanti
Journal of Innovation and Community Engagement Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Faculty of Smart Technology and Engineering, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/jice.v2i2.3777

Abstract

Couples in commuter marriages who live apart face many challenges, such as having ineffective communications which lead to conflict. Couples who use a positive and constructive conflict resolution style, have a better chance of getting a better quality of marital life. This intervention aims to provide psychoeducation to participants in order to understand conflict resolution styles that can be applied when dealing with and resolving conflicts in commuter marriages. The evaluation of the intervention effect was carried out by comparing the knowledge and skill to the application of conflict resolution styles, before and after the intervention. After being given psychoeducation, it was found that 25 participants changed the resolution style they would use when experiencing conflict with their partner. While the other 5 participants still chose the same resolution style. In conclusion, through this psychoeducation, participants have new knowledge about various resolution styles that can be used, and according to the conflict conditions experienced by each partner.
Psychometric properties of The Revised Rape Myth Acceptance Scale–Indonesian version (rIRMA-Indonesian) Isa, Tsania M.; Shanti, Theresia Indira; Sumampouw, Nathanael E.J.; Agustian, Murniati
Jurnal Psikologi Vol 25, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jp.25.1.1-15

Abstract

Background: Rape myths are inaccurate beliefs that legitimize sexual violence through victim-blaming and perpetrator justification. Rape myth acceptance (RMA) is linked to sexual violence perpetration and underreporting by victims and is shaped by broader cultural norms and power relations, emphasizing the need for culturally sensitive measurement tools.Purpose: In line with Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi’s 2024 PPKPT policy on preventing and addressing sexual violence in higher education, this study examines the construct validity and reliability of the Revised Illinois Rape Myth Acceptance Scale Adapted for Indonesia (rIRMA-Indonesian).Method: Using an online survey of 504 participants (ages 15–61), which includes students, lecturers, and Satgas PPKS members. Exploratory along with confirmatory factor analyses and reliability testing were conducted based on the revised three-factor rIRMA model.Findings: Results supported a theoretically coherent three-factor structure with strong internal consistency, although elevated RMSEA values and high inter-factor correlations suggested partial construct overlap.Implications: The findings indicate a culturally convergent rape myth belief system in Indonesia shaped by gender, moral norms, and authority structures, while the rIRMA-Indonesian provides an empirically grounded tool for higher education institutions and policymakers under the PPKPT framework.Limitations: Model fit concerns and cultural convergence across factors indicate the need for further culturally informed refinement beyond item reduction.
GAMBARAN HASIL PELATIHAN PARENTS EMOTION COACHING UNTUK ORANGTUA DARI REMAJA Theresia Indira Shanti; Fransisca Rosa Mira Lentari; Mohammad Adi Ganjar Priadi; Chelsea Jetrolin Wijaya; Kayla Saheera Wibawa
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v9i1.36430

Abstract

Salah satu bentuk dukungan bagi orangtua adalah pelatihan untuk mengelola emosi remaja melalui emotions coaching. Tujuan pelatihan ini uji coba modul parents emotion coaching apakah memberikan dampak peningkatan pemahaman peserta untuk mengelola emosi remaja mereka. Ada 3 Ibu yang bersedia mengikuti pelatihan ini. Desain pengabdian adalah melihat dampak pelatihan terhadap peserta, dengan data diolah secara kualitatif. Perbedaan materi pelatihan ini dibandingkan pelatihan emotions coaching lainnya adalah materi yang tidak hanya emotions coaching, namun juga pemahaman meta emosi orangtua, serta persepsi Ibu mengenai keterlibatan suami dalam mendampingi remaja. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif untuk perbaikan modul yang dapat lebih disebarluaskan pada masyarakat. Keterbatasan pengabdian ini adalah kurang ragamnya partisipan yaitu tidak adanya ayah. Disimpulkan bahwa modul ini sudah mengafirmasi peserta untuk memiliki meta emosi dan kepekaan terhadap emosi remaja, dan menambah pengetahuan peserta sehingga dapat berkomunikasi yang dipahami secara positif oleh remaja mereka. Mengenai keterlibatan ayah, modul ini juga membantu responden untuk memahami keterlibatan ayah yang ideal dalam mengasuh remaja, dan peran mereka sebagai ibu untuk mengoptimalkan keterlibatan suami mereka dalam pengasuhan remaja mereka. Mereka merasakan manfaat dari pelatihan ini dan berharap lebih banyak orangtua mendapatkan materi dan manfaat yang minimal sama positifnya dengan mereka. Perbaikan modul diantaranya penjelasan lebih rinci mengenai bentuk komunikasi orangtua yang dipahami secara positif oleh remaja dan dukungan sosial bagi remaja bila figur ayah tidak ada dalam keluarga.
Pendampingan Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual dengan Disabilitas Psikososial Theresia Indira Shanti; Chika Aslia Yorza
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Volume 4 No 1, Tahun 2024
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v4i1.56

Abstract

ABSTRAK Lebih dari 70% kekerasan seksual terjadi dalam relasi dekat antara korban dan pelaku. Ketidaktahuan mengenai bentuk kekerasan seksual dan kesulitan pengelolaan kebutuhan psikologis seringkali membuat individu rentan dimanipulasi diantaranya oleh relasi kuasa dan sexual grooming sehingga menjadi korban kekerasan seksual, apalagi bila relasi ini melibatkan hubungan romantis. Studi ini merupakan studi kasus, bertujuan menggambarkan isu-isu dalam pendampingan perempuan penyintas kekerasan seksual dengan disabilitas psikososial. Responden terdiri dari dua orang, pernah alami kekerasan seksual dalam hubungan romantis. Kekerasan seksual yang dialami berkontribusi terhadap berkembangnya disabilitas psikososial pada dirinya, dan kemudian disabilitas psikososial ini menyumbang pada kerentanannya untuk kembali alami kekerasan seksual pada dirinya. Tema yang muncul dalam pendampingan adalah 1) Kerentanan korban yang membuat mereka terjebak dalam manipulasi; 2) Stigmatisasi masyarakat; 3) Ketidakpercayaan pada sistem terkait institutional betrayal; 4) Pemberdayaan. Rekomendasi dikategorikan pada pencegahan dan penanganan, baik untuk penyintas, keluarga, pendamping, dan masyarakat, dengan fokus untuk pemberdayaan penyintas, dan penelitian berikutnya.
Gambaran Adverse Childhood Experiences (ACE) Pada Individu Dewasa Muda yang Melakukan Perilaku Beresiko Terpapar HIV/AIDS Kintan Ayu Utami; Theresia Indira Shanti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 41 No 2 (2026): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 41, No. 2, 2026)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v41i2.7308

Abstract

Perilaku berisiko terpapar HIV/AIDS pada dewasa muda masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang mendesak di Indonesia. Berbagai studi terdahulu menunjukkan bahwa Adverse Childhood Experiences (ACE) memiliki dampak jangka panjang terhadap regulasi emosi, impulsivitas, dan pengambilan keputusan, yang dapat memicu perilaku berisiko seperti hubungan seksual tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik. Fenomena ini menjadi penting mengingat mayoritas partisipan dalam studi ini memiliki skor ACE tinggi, terutama pada domain kekerasan, penolakan, dan disfungsi rumah tangga. Studi ini memiliki kebaruan dalam memetakan secara spesifik gambaran ACE pada individu dewasa muda yang telah melakukan perilaku berisiko HIV/AIDS, berbeda dari studi sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada dampak ACE secara umum. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif terhadap 163 partisipan dewasa muda, studi ini memberikan pemahaman yang lebih terarah mengenai karakteristik ACE dan pola perilaku berisiko yang muncul. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi pencegahan dan intervensi yang lebih efektif bagi kelompok dewasa muda berisiko.
Construct Validity and Reliability Measures of the Institutional Betrayal Questionnaire: Indonesian version (IBQ–Indonesian) Tsania M. Isa; Nathanael E. J. Sumampouw; Theresia Indira Shanti; Murniati Agustian
Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 17 No. 1 (2026): Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/jpp.v17i1.1654

Abstract

Pengkhianatan institusional mengacu pada kegagalan institusi-institusi yang dipercaya untuk secara tepat merespons dan mencegah pengalaman negatif, khususnya dalam kasus kekerasan seksual. Ketika kegagalan tersebut terjadi, korban sering kali mengalami tekanan yang signifikan, yang mengakibatkan berbagai konsekuensi psikologis dan fisik. Menanggapi isu ini, penelitian sebelumnya telah menetapkan properti psikometrik dari pengkhianatan institusional seperti validitas konstruk dan reliabilitasnya melalui berbagai versi Institutional Betrayal Questionnaire (IBQ) dan versi revisinya, IBQ.2. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk dari adaptasi IBQ versi Bahasa Indonesia (IBQ–Indonesian) serta mengevaluasi struktur faktornya. Sebanyak 504 partisipan berusia 15 hingga 61 tahun, yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan anggota Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), direkrut melalui Google Forms. Analisis Faktor Konfirmatori (CFA) dan analisis statistik reliabilitas menunjukkan bukti bahwa IBQ–Indonesian memiliki properti psikometrik yang baik. Namun, nilai RMSEA yang tinggi mengindikasikan adanya potensi penyempurnaan pada spesifikasi model. Rekomendasi untuk penelitian lanjutan turut dibahas.