Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

HUBUNGAN KADAR HAEMOGLOBIN, STATUS GIZI DAN JARAK KEHAMILAN PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN STUNTING Sri Handayani; Gunarmi Gunarmi; Fery Agusman
Jurnal Kebidanan VOLUME 14, NO.02 DESEMBER 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v14i02.565

Abstract

Kejadian stunting yang berlangsung sejak masa kanak-kanak akan berdampak di masa yang akan datang yaitu dapat menyebabkan gangguan Intelligence Quotient (IQ), perkembangan psikomotor, kemampuan motorik, dan integrasi neurosensori. Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2019 adalah 31,15%, sedangkan persentase balita pendek adalah 20,06%. Hal ini masih jauh dari target yang ditetapkan oleh WHO dan di Kabupaten Boyolali sendiri terdapat sebanyak 5,3 % balita yang mengalami Stunting. Faktor keluarga yang diduga berhubungan dengan stunting khususnya maternal, seperti nutrisi yang buruk selama prakonsepsi, kehamilan, dan laktasi. Nutrisi pada ibu yang mempengaruhi diantaranya rendahnya kadar haemoglobin ibu hamil (anemia), kurang gizi kronis (KEK) serta jarak kehamilan yang terlalu dekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar haemoglobin, status gizi dan jarak kehamilan pada ibu hamil dengan kejadian stunting. Jenis penelitian yang digunakan yakni observasional analitik dengan pendekatan case control. Populasi penelitian ini yaitu balita di Desa Kacangan Kecamatan Andong Kabupaten Boyolali pada Bulan November 2022, besar sampel setiap kelompok 38 balita, maka jumlah sampel sebanyak 76 balita. Pada penelitian ini menggunakan tehnik proportional cluster random sampling. Analisis bivariat dengan chi square dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil analisis diperoleh p value 0,021> 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan kadar haemoglobin pada ibu hamil dengan kejadian stunting. Ada hubungan status gizi pada ibu hamil dengan kejadian stunting p value 0,006> 0,05. Tidak ada hubungan jarak kelahiran dengan kejadian stunting p value 0,216> 0,05. Faktor determinan kejadian stunting adalah status gizi dan nilai OR 3,714, sehingga variabel status gizi paling berhubungan dengan dengan kejadian stunting. Hal ini menunjukkan bahwa jika status gizi mengalami KEK kemungkinan 3,7 kali akan terjadi stunting.
STUDI EKSPLORATIF EFEK SAMPING PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI BAWAH KULIT (AKBK) DI PUSKESMAS CEPOGO Sri Handayani; Andi Ajeng Nur Oktavia
Jurnal Kebidanan VOLUME 15, NO.01 JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Estu Utomo Boyolali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35872/jurkeb.v15i01.601

Abstract

Latar Belakang : Tren 3 (tiga) tahun terakhir penggunaan alat KB modern mengalami penurunan dari 57,1% pada tahun 2018 menjadi 54,34% di tahun 2020. Terdapat kendala pemahaman pada masyarakat tentang kontrasepsi sebanyak 23% wanita tidak mau ber-KB karena alasan kekhawatiran terhadap efek samping. Masih rendahnya konseling yang memberikan informasi tentang efek samping/masalah kontrasepsi yang dipakai yaitu sebesar 42% dan tentang cara mengatasi efek samping sebesar 34% yang mengakibatkan tingginya putus pakai alat kontrasepsi karena alasan efek samping (33%). Tujuan : Menggali secara mendalam efek samping penggunaan alat kontrasepsi bawah kulit di Puskesmas Cepogo. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan studi kasus. Hasil : Peneliti mengumpulkan data kualitatif dengan wawancara mendalam, meliputi: konseling pra penggunaan AKBK, alasan penggunaan AKBK, efek samping penggunaan AKBK, dan tindakan atau penanganan efek samping AKBK. Konseling pra-penggunaan AKBK belum diberikan secara maksimal khususnya pada saat kegiatan pelayanan Safari KB. Alasan penggunaan AKBK mayoritas akseptornya mengatakan karena metode ini efektif dengan jangka yang panjang. Efek samping penggunaan AKBK yang terjadi tidak terlepas dari efek samping yang terjadi pada kb hormonal lainnya. Tindakan/penanganan efek samping penggunaan AKBK belum maksimal dilakukan. Kesimpulan : Adanya efek samping dalam penggunaan AKBK tidak menjadi hambatan masyarakat Cepogo untuk tetap ber-KB khususnya dengan metode jangka panjang seperti AKBK ini. Namun, Konseling pra-penggunaan kontrasepsi menjadi kunci awal dari kasus efek samping penggunaan AKBK agar akseptor mengetahui bahwa kejadian ini merupakan hal yang mungkin terjadi kemudian dapat tertangani dengan baik oleh tenaga kesehatan (bidan). Kata kunci : Kontrasepsi, Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK), Efek Samping.