Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMAMFAATAN LIMBAH BAKAU UNTUK PEMBUATAN AQUASCAPE SEBAGAI USAHA MIKRO DI DESA MATA AIR PESISIR SULAMANDA: UTILIZATION OF MANGROVE WASTE FOR AQUASCAPE MANUFACTURING AS A MICRO BUSINESS IN MAT AIR VILLAGE SULAMANDA COASTAL Saraswati , Suprabadevi Ayumayasari; Toruan, Lumban Nauli Lumban; Rammang, Nixon; Namas, Benediktus Julio Ta
Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia Vol 3 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v3i1.1885

Abstract

Aquascape is one form of media that can be used for fish maintenance, especially ornamental fish for home scale. Aquascape itself is the identity of life that represents the original habitat of fish. Physically, the aquarium is only a place or container. Aquascape is the art of combining aquatic plants and ornamental fish in water media. However, the existing Aquscape products are generally large in size with expensive prices so that they can only be reached by large consumers such as hotels, restaurants, and offices. The use of mangrove waste is an alternative and also the use of natural materials that are environmentally friendly. Aquascape can meet the needs of the middle to lower market and accommodate the needs of office workers who do not have a large space or place to put an aquarium, so the mini Aquascape business becomes very promising. Some of the problems faced in presenting the natural atmosphere, starting from the fish that cannot survive to the dirty and mossy fish Aquascape quickly. By conducting training on making mini Aquascapes and fish rearing techniques, especially ornamental fish, it is hoped that it can provide information to coastal community fishermen to try to apply it to home micro scale. The method used is field observation, coupled with literature studies and socialization to fishermen on the Sulamanda coast.
Keanekaragaman Echinodermata Pada Ekosistem Lamun Di Teluk Kupang NTT Suprabadevi Ayumayasari S; Lumban Nauli Lumban Toruan; Lady Cindy Soewarlan
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

cukup tinggi dan berfungsi sebagai penyumbang nutrisi yang sangat berpotensi bagi perairan di sekitarnya serta dijadikan sebagai habitat bagi biota laut untuk mencari makan dan tempat berlindung. Salah satu organisme yang hidup berasosiasi dengan lamun adalah filum Echinodermata. Keberadaan Echinodermata sangat berpengaruh penting pada tingkat kesuburan substrat dasar perairan yang disebabkan karena secara tidak langsung Echinodermata merupakan biota bentik pemakan deposit (deposit feeder). Saat ini belum ada informasi tentang keanekaragaman Echinodermata pada ekosistem lamun di Pantai Tebing, Kelurahan Alak, Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, kelimpahan, dan keanekaragaman Echinodermata serta mengetahui kondisi parameter fisika kimia perairan di ekosistem lamun. Pantai Tebing di lokasi penelitian ditemukan 175 individu Echinodermata yang terdiri atas 17 spesies, 14 genus, 13 famili, dan 4 kelas. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman, keseragaman komunitas yang bervariasi. Suhu pada lokasi penelitian adalah 28,68 °C, pH sebesar 7,8, dan salinitas sebesar 30,42. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kondisi parameter sesuai dengan baku mutu No 51 Tahun 2014 antara lain suhu, pH dan salinitas berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa perairan Pantai Alak dalam kondisi yang baik.
Keanekaragaman Echinodermata Pada Ekosistem Lamun Di Teluk Kupang NTT Suprabadevi Ayumayasari S; Lumban Nauli Lumban Toruan; Lady Cindy Soewarlan
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

cukup tinggi dan berfungsi sebagai penyumbang nutrisi yang sangat berpotensi bagi perairan di sekitarnya serta dijadikan sebagai habitat bagi biota laut untuk mencari makan dan tempat berlindung. Salah satu organisme yang hidup berasosiasi dengan lamun adalah filum Echinodermata. Keberadaan Echinodermata sangat berpengaruh penting pada tingkat kesuburan substrat dasar perairan yang disebabkan karena secara tidak langsung Echinodermata merupakan biota bentik pemakan deposit (deposit feeder). Saat ini belum ada informasi tentang keanekaragaman Echinodermata pada ekosistem lamun di Pantai Tebing, Kelurahan Alak, Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, kelimpahan, dan keanekaragaman Echinodermata serta mengetahui kondisi parameter fisika kimia perairan di ekosistem lamun. Pantai Tebing di lokasi penelitian ditemukan 175 individu Echinodermata yang terdiri atas 17 spesies, 14 genus, 13 famili, dan 4 kelas. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman, keseragaman komunitas yang bervariasi. Suhu pada lokasi penelitian adalah 28,68 °C, pH sebesar 7,8, dan salinitas sebesar 30,42. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kondisi parameter sesuai dengan baku mutu No 51 Tahun 2014 antara lain suhu, pH dan salinitas berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa perairan Pantai Alak dalam kondisi yang baik.
Tingkat Pencemaran Perairan Laut di Pesisir Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia: Pollution Level of Sea Water on The Coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara, Indonesia Yulita Hellen Fernandez; toruan, lumban nauli lumban; Soewarlan, Lady Cindy
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 1 No. 1 (2023): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2023
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2023.001.01.3

Abstract

Pencemaran air laut telah menjadi permasalahan yang umum terjadi pada wilayah pesisir, sebagai akibat dari peningkatan aktivitas di lingkungan perairan pesisir. Tingginya aktivitas yang dilakukan di wilayah pesisir Kota Kupang berkontribusi terhadap menurunnya kualitas perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perairan dan status pencemaran perairan pesisir. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus 2021 di perairan pesisir Kota Kupang. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pencemaran tertinggi pada saat pasang ditemukan pada perairan Pelabuhan Tenau dengan nilai indeks pencemar 6,68 dan terendah pada perairan Lasiana dengan nilai indeks pencemar 3,19. Tingkat pencemaran tertinggi pada saat surut terdapat pada perairan Pelabuhan Tenau dengan nilai indeks pencemaran 6,61 dan terendah pada perairan Oesapa (2,95). Secara keseluruhan, maka perairan pesisir Kota Kupang pada saat pasang dan surut tergolong tercemar sedang.   Seawater pollution has become a problem that occurs in the coastal environment as a result of increased activity in the coastal water environment. The high level of activities carried out in the coastal waters of Kupang City is also feared to have an impact on pollution for water quality conditions. The purpose of this research was to determine the water quality and pollution status of coastal waters.  This research was conducted in August 2021, located in the coastal waters of Kupang City. The sampling method is carried out by purposive sampling method. The results showed that the highest level of pollution at high tide was found in the waters of Tenau Port with a pollution index value of 6.68 and the lowest in Lasiana waters with a pollution index value of 3.19. The highest level of pollution at low tide is found in the waters of Tenau Port with a pollution index value of 6.61 and the lowest is in Oesapa waters (2,95). Overall, the coastal areas of Kupang City at high tide and low tide are classified as moderately polluted.
Identifikasi Jenis Sampah Pantai di Wilayah Pesisir Pasir Putih Kecamatan Sulamu Nusa Tenggara Timur: Identification of Beach Debris in the Coastal Area of Pasir Putih Beach, Sulamu District, East Nusa Tenggara Giri, Sarlin Sarlince; Toruan, Lumban Nauli Lumban; Tallo, Ismawan
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 1 No. 2 (2023): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Desember 2023
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2023.001.02.2

Abstract

Sampah laut merupakan masalah lingkungan yang saat ini sudah menjadi isu global dan menarik perhatian semua orang karena dampaknya terhadap lingkungan laut yang begitu persisten. Salah satu yang memprihatinkan saat ini adalah banyaknya sampah laut yang terdampar pada daerah pantai. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis sampah yang terdampar pada Pantai Pasir Putih, Sulamu. Kajian ini dilakukan di pesisir pantai Pasir Putih, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Bulan Agustus 2020. Sampling yang dilakukan dari arah darat yang berbatasan dengan aktivitas antropogenik, gundukan pasir, dan vegetasi yang menuju ke arah laut dengan menarik garis sepanjang 100 m dan lebar 5 m. Selanjutnya lebar transek dibagi menjadi lima jalur dengan jarak masing-masing 1 m. Hasil dari kajian ini menunjukkan terdapat sampah plastik sebesar 80,5%, 3% berupa kain, 2% gabus atau busa, 2% kayu, 1% gelas dan keramik, 1% logam, 1% karet, 1% kertas dan kardus, dan. 8% berupa sampah lainnya.   Marine debris is a growing environmental concern that has captured the attention of people all over the world due to its persistent impact on the marine environment. One of the most concerning aspects at the moment is the large amount of marine debris washing ashore in coastal areas. The purpose of this research is to identify the different types of stranded debris on Pasir Putih Beach in Sulamu. In August 2020, this investigation was conducted along the coastline of Pasir Putih Beach, Sulamu District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara. The sampling was done by drawing a line 100 metres long and 5 metres wide from the inland bordering anthropogenic activities, sand dune, and vegetation leading towards the sea. According to the findings of this study, plastic debris accounts for 81% of all waste, with fabric accounting for 3%, cork or foam accounting for 2%, wood accounting for 2%, glass and ceramics accounting for 1%, metal accounting for 1%, rubber accounting for 1%, paper and cardboard accounting for 1%, and other types of waste accounting for 8%
Distribusi Parameter Fisika-Kimia Perairan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang, Teluk Jakarta, Indonesia: Distribution of Physicochemical Parameters in Waters Around the Muara Karang Coal-Fired Power Plant, Jakarta Bay, Indonesia Toruan, Lumban Nauli Lumban
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 3 No. 1 (2025): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2025
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2025.003.01.3

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkontribusi terhadap perubahan parameter perairan melalui pelepasan limbah termal dan polutan lainnya. Penelitian ini menganalisis distribusi parameter fisika-kimia di sekitar PLTU Muara Karang, Teluk Jakarta, untuk mengevaluasi dampak lingkungan akibat aktivitas PLTU. Pengambilan sampel dilakukan pada sembilan stasiun, dengan parameter yang diukur mencakup suhu, salinitas, kecerahan, kekeruhan, pH, dan oksigen terlarut. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson, uji ANOVA, dan pemetaan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tertinggi ditemukan di stasiun yang berada di jalur pembuangan air pendingin PLTU, yang berkontribusi terhadap penurunan oksigen terlarut. Korelasi negatif yang signifikan ditemukan antara suhu dan oksigen terlarut, serta antara kekeruhan dan oksigen terlarut. Analisis varians menunjukkan perbedaan signifikan antar stasiun dalam parameter suhu, salinitas, kecerahan, dan kekeruhan (p<0,05). Hasil ini menegaskan bahwa aktivitas PLTU memberikan dampak nyata terhadap kualitas perairan sekitar, terutama dalam meningkatkan stres termal dan sedimentasi. Studi ini menyoroti pentingnya penerapan strategi mitigasi, seperti sistem pendinginan yang lebih efisien, untuk mengurangi dampak lingkungan dari PLTU di wilayah pesisir.   Power plants contribute to changes in water quality through the release of thermal effluents and other pollutants. This study analyzes the spatial distribution of physicochemical parameters around the Muara Karang Power Plant, Jakarta Bay, to evaluate its environmental impacts. Water sampling was conducted at nine stations, measuring temperature, salinity, turbidity, water clarity, pH, and dissolved oxygen. Data analysis included Pearson correlation, ANOVA, and spatial mapping. The results indicate that the highest temperatures were recorded at stations near the plant’s cooling water discharge points, leading to a significant decrease in dissolved oxygen levels. A strong negative correlation was observed between temperature and dissolved oxygen, as well as between turbidity and dissolved oxygen. ANOVA results revealed significant differences among stations for temperature, salinity, water clarity, and turbidity (p < 0.05). These findings confirm that the power plant's activities have a notable impact on water quality, particularly by increasing thermal stress and sedimentation. This study highlights the need for mitigation strategies, such as more efficient cooling systems, to minimize the environmental impact of power plants on coastal ecosystems.
Kontaminasi Mikroplastik Pada Insang dan Usus Ikan Tongkol (Auxis thazard) yang Ditangkap di Perairan Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur toruan, lumban nauli lumban; Qomariah, Siti; Soewarlan, Lady Cindy
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 4 No. 1 (2026): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2026
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2026.004.01.4

Abstract

Pencemaran mikroplastik menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut karena sifatnya yang persisten, berukuran kecil (≤ 5 mm), dan berpotensi terakumulasi dalam organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi dan karakteristik mikroplastik pada organ insang dan usus ikan tongkol (Auxis thazard) yang ditangkap di Perairan Teluk Kupang, Indonesia. Ekstraksi mikroplastik dilakukan melalui destruksi kimia jaringan menggunakan larutan HNO₃ 65%, diikuti filtrasi (0,45 µm), dan identifikasi menggunakan mikroskop. Mikroplastik terdeteksi pada 80,8% individu, dengan tipe fiber sebagai satu-satunya tipe mikroplastik yang ditemukan pada kedua organ, yang menunjukkan dominasi sumber dari serat sintetis yang berkaitan dengan aktivitas domestik dan perikanan. Kelimpahan mikroplastik secara signifikan lebih tinggi pada insang (2,2 ± 1,7 partikel per individu) dibandingkan pada usus (1,2 ± 1,0 partikel per individu), yang menunjukkan peran insang sebagai jalur utama paparan melalui air, sementara keberadaan di usus mencerminkan proses asupan melalui rantai makanan. Mikroplastik berwarna hitam mendominasi baik pada insang (49,3%) maupun usus (43,5%), yang mengindikasikan adanya akumulasi selektif dan/atau perbedaan ketersediaan di lingkungan. Temuan ini menunjukkan adanya berbagai jalur paparan mikroplastik pada ikan pelagis serta menunjukkan dominasi partikel tipe fiber sebagai indikator utama masukan antropogenik di perairan pesisir. Penelitian ini menyediakan data dasar terkait kontaminasi mikroplastik pada ikan pelagis bernilai ekonomis penting serta menekankan urgensi penerapan strategi pengelolaan terpadu untuk mengurangi masukan mikroplastik ke dalam ekosistem laut.   Microplastic pollution poses a serious threat to marine ecosystems due to its persistence, small size (≤ 5 mm), and potential to accumulate in aquatic organisms. This study aimed to analyze the distribution and characteristics of microplastics in the gills and intestines of frigate tuna (Auxis thazard) collected from Kupang Bay, Indonesia. Microplastics were extracted through chemical digestion of tissues using 65% HNO₃, followed by filtration (0.45 µm) and microscopic identification. Microplastics were detected in 80.8% of individuals, with fibers as the only type observed in both organs, indicating a dominant input from synthetic fibers associated with domestic and fisheries-related activities. Microplastic abundance was significantly higher in the gills (2.2 ± 1.7 particles per individual) than in the intestines (1.2 ± 1.0 particles per individual), suggesting that gills serve as the primary pathway for waterborne exposure, while intestinal presence reflects trophic ingestion. Black-colored microplastics predominated in both the gills (49.3%) and intestines (43.5%), indicating selective accumulation and/or differences in environmental availability. These findings reveal multiple exposure pathways in pelagic fish and highlight the dominance of fiber-type particles as a key indicator of anthropogenic inputs in coastal waters. This study provides baseline data on microplastic contamination in an economically important pelagic species and emphasizes the need for integrated management strategies to reduce microplastic inputs into marine ecosystems.