Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

STUDI KEANEKARAGAMAN GENETIK TANAMAN KECIPIR (PSOPHOCARPUS TETRAGONOLOBUS (L.) DC): UPAYA MENUJU LABORATORIUM GENETIKA SEBAGAI PUSAT KAJIAN KETAHANAN PANGAN DAN BIOENERGI Amurwanto, Adi; Yuniaty, Alice; Susanto, Agus Hery; Sasongko, Nurtjahjo Dwi; Aziz, Saefuddin
Prosiding Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Prosiding

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecipir mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan segar maupun olahan bernilai gizi tinggi dan sebagai bahan dasar dalam industri biodiesel. Pemanfaatan kecipir yang belum optimal mendorong dilakukannya penelitian tentang keanekaragaman genetik tanaman kecipir sebagai langkah awal untuk mengembangkan potensi tanaman ini. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai keanekaragaman genetik pada level molekuler kecipir polong panjang dan polong pendek dengan teknik RAPD. Dari 32 primer yang diskrining, 20 dipilih untuk analisis menggunakan Program GenAlEx 6.1. Hasilnya 156 buah fragmen dengan 140 diantaranya menunjukkan polimorfisme sehingga didapatkan polimorfisme total sebesar 89,74%. Polimorfisme dalam populasi kecipir polong pendek bernilai 64.10% dan polimorfisme dalam populasi kecipir polong panjang sebesar 51.28%. Kemiripan genetik Nei (bias) antara kecipir polong panjang dan kecipir polong pendek adalah 0,805 sementara jarak genetik antara keduanya adalah 0,218. Adapun kemiripan genetik tidak bias antara kedua populasi adalah 0,873, sementara jarak genetik tidak bias sebesar 0,136.
OPTIMASI METODE LISIS ALKALI UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI PLASMID Hardianto, Dudi; Indarto, Alfik; Sasongko, Nurtjahjo Dwi
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 2, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.116 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.510

Abstract

Plasmids are extra chromosomal molecules of DNA that replicate autonomously and found in prokaryote and eukaryote cells. There are a number of methods that are used to isolate plasmids, such as alkaline lysis, boiling lysis, using cesium chloride, and chromatography. Amongst the disadvantages in plasmid isolation methods are lengthy time especially when handling a large number of samples, high cost, and low purity. Alkaline lysis is the most popular for plasmid isolation because of its simplicity, relatively low cost, and reproducibility. This method can be accomplished in 50 minutes to one hour. In this research, the alkaline lysis method was developed to obtain suitable plasmid for applications in a molecular biology laboratory. The aim of this research was to reduce contaminants and improve yield of plasmid. The result of isolation of pICZA plasmid in Escherichia coli gave the concentration of 3.3 to 3.8 µg/µL with the purity of 1.99.Keywords: Plasmid isolation, pICZ A, Escherichia coli, rapid, alkaline lysis  ABSTRAKPlasmid merupakan molekul DNA ekstrakromosomal yang bereplikasi secara mandiri dan ditemukan dalam sel prokariot dan eukariot. Banyak metode yang digunakan untuk isolasi plasmid, seperti: lisis alkali, lisis dengan pemanasan, penggunaan sesium klorida, dan kromatografi. Kelemahan beberapa metode isolasi DNA adalah waktu isolasi yang lama terutama saat isolasi plasmid dalam jumlah banyak, mahal dan kemurniannya yang rendah. Metode lisis alkali merupakan metode yang sangat umum untuk isolasi plasmid karena mudah dilakukan, relatif murah, dan reprodusibilitas. Metode ini dapat dilakukan dalam 50 menit sampai 1 jam. Pada penelitian ini dikembangkan metode lisis alkali untuk memperoleh plasmid yang sesuai untuk penggunaan di laboratorium biologi molekuler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi jumlah kontaminan dan meningkatkan konsentrasi plasmid. Hasil isolasi plasmid pICZA dalam Escherichia coli mempunyai konsentrasi antara 3,3 sampai 3,8 µg/µL dan kemurniannya 1,99.Kata Kunci: Isolasi plasmid, pICZ A, Escherichia coli, cepat, lisis alkali
OPTIMASI METODE LISIS ALKALI UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI PLASMID Hardianto, Dudi; Indarto, Alfik; Sasongko, Nurtjahjo Dwi
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 2 (2015): December 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.116 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.510

Abstract

Plasmids are extra chromosomal molecules of DNA that replicate autonomously and found in prokaryote and eukaryote cells. There are a number of methods that are used to isolate plasmids, such as alkaline lysis, boiling lysis, using cesium chloride, and chromatography. Amongst the disadvantages in plasmid isolation methods are lengthy time especially when handling a large number of samples, high cost, and low purity. Alkaline lysis is the most popular for plasmid isolation because of its simplicity, relatively low cost, and reproducibility. This method can be accomplished in 50 minutes to one hour. In this research, the alkaline lysis method was developed to obtain suitable plasmid for applications in a molecular biology laboratory. The aim of this research was to reduce contaminants and improve yield of plasmid. The result of isolation of pICZA plasmid in Escherichia coli gave the concentration of 3.3 to 3.8 µg/µL with the purity of 1.99.Keywords: Plasmid isolation, pICZ A, Escherichia coli, rapid, alkaline lysis  ABSTRAKPlasmid merupakan molekul DNA ekstrakromosomal yang bereplikasi secara mandiri dan ditemukan dalam sel prokariot dan eukariot. Banyak metode yang digunakan untuk isolasi plasmid, seperti: lisis alkali, lisis dengan pemanasan, penggunaan sesium klorida, dan kromatografi. Kelemahan beberapa metode isolasi DNA adalah waktu isolasi yang lama terutama saat isolasi plasmid dalam jumlah banyak, mahal dan kemurniannya yang rendah. Metode lisis alkali merupakan metode yang sangat umum untuk isolasi plasmid karena mudah dilakukan, relatif murah, dan reprodusibilitas. Metode ini dapat dilakukan dalam 50 menit sampai 1 jam. Pada penelitian ini dikembangkan metode lisis alkali untuk memperoleh plasmid yang sesuai untuk penggunaan di laboratorium biologi molekuler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi jumlah kontaminan dan meningkatkan konsentrasi plasmid. Hasil isolasi plasmid pICZA dalam Escherichia coli mempunyai konsentrasi antara 3,3 sampai 3,8 µg/µL dan kemurniannya 1,99.Kata Kunci: Isolasi plasmid, pICZ A, Escherichia coli, cepat, lisis alkali
Effects of Soy-Germ Protein on Catalase Activity of Plasma and Erythocyte of Metabolic Syndrome Women HERY WINARSI; SIWI PRAMATAMA MARS WIJAYANTI; NURTJAHJO DWI SASONGKO; AGUS PURWANTO
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 22 No. 1 (2015): January 2015
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.131 KB) | DOI: 10.4308/hjb.22.1.1

Abstract

Oxidative stress always accompany patients with metabolic syndrome (MS). Several researchers reported that soy-protein is able to decrease oxidative stress level. However, there is no report so far about soy-germ protein in relation to its potential to the decrease oxidative stress level of MS patients. The aim of this study was to explore the potential of soy-germ protein on activity of catalase enzyme in blood’s plasma as well as erythrocytes of MS patients. Double-blind randomized clinical trial was used as an experimental study. Thirty respondents were included in this study with MS, normal level blood sugar, low-HDL cholesterol but high in triglyceride, 40-65 years old, Body Mass Index > 25 kg/m2, live in Purwokerto and agreed to sign the informed consent. They were randomly grouped into 3 different groups, 10 each: Group I, was given special milk that contains soy-germ protein and Zn; Group II, soy-germ protein, while Group III was placebo; for two consecutive months. Data were taken from blood samples in 3 different periods i.e. 0, 1, and 2 months after treatment. Two months after treatment, there was an increase from 5.36 to 20.17 IU/mg (P = 0.028) in activity of catalase enzyme in blood’s plasma respondents who consumed milk containing soy-germ protein with or without Zn. A similar trend of catalase activity, but at a lower level, was also noticed in erythrocyte; which increased from 88.31 to 201.11 IU/mg (P = 0.013). The increase in activity of catalase enzyme in blood’s plasma was 2.2 times higher than that in erythrocytes.
OPTIMASI METODE LISIS ALKALI UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI PLASMID Dudi Hardianto; Alfik Indarto; Nurtjahjo Dwi Sasongko
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 2 No. 2 (2015): December 2015
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.116 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.510

Abstract

Plasmids are extra chromosomal molecules of DNA that replicate autonomously and found in prokaryote and eukaryote cells. There are a number of methods that are used to isolate plasmids, such as alkaline lysis, boiling lysis, using cesium chloride, and chromatography. Amongst the disadvantages in plasmid isolation methods are lengthy time especially when handling a large number of samples, high cost, and low purity. Alkaline lysis is the most popular for plasmid isolation because of its simplicity, relatively low cost, and reproducibility. This method can be accomplished in 50 minutes to one hour. In this research, the alkaline lysis method was developed to obtain suitable plasmid for applications in a molecular biology laboratory. The aim of this research was to reduce contaminants and improve yield of plasmid. The result of isolation of pICZA plasmid in Escherichia coli gave the concentration of 3.3 to 3.8 µg/µL with the purity of 1.99.Keywords: Plasmid isolation, pICZ A, Escherichia coli, rapid, alkaline lysis  ABSTRAKPlasmid merupakan molekul DNA ekstrakromosomal yang bereplikasi secara mandiri dan ditemukan dalam sel prokariot dan eukariot. Banyak metode yang digunakan untuk isolasi plasmid, seperti: lisis alkali, lisis dengan pemanasan, penggunaan sesium klorida, dan kromatografi. Kelemahan beberapa metode isolasi DNA adalah waktu isolasi yang lama terutama saat isolasi plasmid dalam jumlah banyak, mahal dan kemurniannya yang rendah. Metode lisis alkali merupakan metode yang sangat umum untuk isolasi plasmid karena mudah dilakukan, relatif murah, dan reprodusibilitas. Metode ini dapat dilakukan dalam 50 menit sampai 1 jam. Pada penelitian ini dikembangkan metode lisis alkali untuk memperoleh plasmid yang sesuai untuk penggunaan di laboratorium biologi molekuler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi jumlah kontaminan dan meningkatkan konsentrasi plasmid. Hasil isolasi plasmid pICZA dalam Escherichia coli mempunyai konsentrasi antara 3,3 sampai 3,8 µg/µL dan kemurniannya 1,99.Kata Kunci: Isolasi plasmid, pICZ A, Escherichia coli, cepat, lisis alkali
Ekstrak Daun Kapulaga Menurunkan Indeks Atherogenik dan Kadar Gula Darah Tikus Diabetes Induksi Alloxan Hery Winarsi; Nurtjahjo Dwi Sasongko; Agus Purwanto; Indah Nuraeni
agriTECH Vol 33, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.667 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9548

Abstract

Cardamom (Amomum Cardomomum) leaves has antioxidant in vitro, which was supported by a high flavonoids and vitamin C contents. It has been reported that antioxidants improved atherogenic index and insulin secretion. The aims of this study were to explore the potential of cardamom leaves extracts as atherogenicity and blood glucose levels controlling in alloxan-induced diabetic rats. The animal experiments were 45 rats (Rattus norvegicus L.) Sprague Dawley strain, male, aged 2-3 months, weighing 210-310 g. After acclimatization for 1 week, rats were fasted overnight and then induced alloxan monohydrate at a dose of 120 mg/kg body weight. One week later, the rats in the test blood glucose levels using the Nesco Multi Check Glucose, Kemel Int’l Corp.  via the lateral tail vein of rats, blood glucose check attached to the equipment, and after 5 seconds glucose levels was read. Atherogenic index was determined by the formula: {( Chol-tot) –HDL}/HDL. Blood samples for analysis of total-cholesterol and chol-HDL taken from the eye vein, after the rat anesthetized using ketamine. Rats with blood glucose levels > 200 mg / dL, were selected as experimental animals, and then divided into 3 groups of 15 each. Group I, fed standard and cardamom leaves extract; Group II, fed standard and glibenclamide, whereas group III, only fed standard for 2 weeks. At the beginning diabetic, their weight dropped from 247.63+28.5 to 220.9+26.6 g (P< 0.05). However, after feeding cardamom leaves extract for 2 weeks their body weight were stable (P>0.05), the blood glucose levels decreased from 199.25+100.5 to 102.88+17 mg/dL (P<0.05), and the atherogenic index decreased from 0.61 to 0.38 (P< 0.05). Based on the result, it could be concluded that cardamom leaves extract is potential as anti-atherogenic, lowers blood glucose levels, and maintain weight loss in diabetic rats.ABSTRAKDaun  kapulaga  (Amomum  Cardomomum) memiliki  potensi antioksidan  in  vitro,  yang  didukung  oleh  tingginya kandungan  flavonoid dan  vitamin  C  di  dalamnya. Senyawa  antioksidan  diketahui  mampu  memperbaiki  indeks atherogenik dan sekresi insulin. Penelitian ini bertujuan untuk eksplorasi potensi ekstrak daun kapulaga sebagai pengendali atherogenisitas dan kadar glukosa darah tikus diabetes hasil induksi alloxan. Sebagai hewan percobaannya digunakan 45 ekor tikus (Rattus norvegicus L.) galur Sprague Dawley, jantan, umur 2-3 bulan, berat badan antara 210-310 g. Setelah dilakukan aklimatisasi selama 1 minggu, tikus dipuasakan semalam, lalu keesokan harinya diinduksi alloxan monohidrat dengan dosis 120 mg/kg berat badan (BB). Satu minggu kemudian, tikus di uji kadar glukosa darahnya menggunakan Nesco Multi Check Glucose, Kemel Int’l Corp. Melalui vena lateralis ekor tikus, darah dicucukkan ke alat check glucose, dan setelah 5 detik kadar glukosanya terbaca. Indeks aterogenik (IA) ditentukan berdasar rumus: (Kolesterol total-HDL)/HDL. Sampel darah untuk analisis kolesterol dan HDL diambil dari vena mata, setelah tikus dianestesi menggunakan ketamin. Tikus dengan kadar glukosa darah > 200 mg/dL, dipilih sebagai hewan percobaan, kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 15 ekor. Kelompok I, diberi pakan standar dan ekstrak daun kapulaga; kelompok II, diberi pakan standar dan glibenklamid; sedangkan kelompok III, hanya diberi pakan standar selama 2 minggu. Saat awal diabetes, berat badannya turun dari 247,63+28,5 menjadi 220,9+26,6 g (P<0,05). Akan tetapi setelah 2 minggu diberi ekstrak daun kapulaga, berat badannya menjadi stabil (P>0.05), kadar glukosa darahnya menurun dari 199,25+100,5 menjadi 102,88+17 mg/dL (P<0.05), dan indeks atherogenik menurun dari 0,61 menjadi 0,38 (P<0.05). Kesimpulannya, ekstrak daun kapulaga berpotensi sebagai antiatherogenik, menurunkan kadar glukosa darah, dan mempertahankan berat badan tikus diabetes.
Profil Mikromorfologi Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) Mutan Akibat Iradiasi Sinar Gamma Cobalt-60 Nur Fitrianto; Siti Samiyarsih; Anisa Rohma; Nurtjahjo Dwi Sasongko
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2020.005.2.1

Abstract

Mutasi fisik menggunakan sinar Cobalt-60 merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam pemuliaan tanaman. Karaktrisasi daun kecipir mutan merupakan bagian dari program pemuliaan tanaman untuk mengetahui keragaman genetik yang berpengaruh dalam peningkatan produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui struktur anatomi daun kecipir polong pendek yang teradiasi sinar Cobalt-60 dengan dosis 75Gy dan lama penyinaran 10 menit, dan mengetahui perbedaan karakter anatomi daun kecipir polong pendek pada tanaman tipe liar dan tanaman yang teradiasi sinar Cobalt-60 dengan dosis 75Gy dan lama penyinaran 10 menit. Metode penelitian menggunakan survey dengan teknik pengambilan sampel secara acak. Sampel daun dibuat preparat mikroskopis dengan membuat preparat segar dan preparat awetan (metode parafin). Variabel yang diamati adalah karakter anatomi daun kecipir, dengan parameter tebal kutikula, tebal epidermis, tebal mesofil, tebal daun, rasio palisade, ukuran stomata (panjang dan lebar) dan jumlah stomata. Metode analisis yang digunakan adalah secara deskriptif untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi daun pada tanaman tipe liar dan tanaman yang termutasi sinar Cobalt-60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur anatomi daun kecipir terdiri dari tiga sistem jaringan, yaitu epidermis, mesofil, dan jaringan vaskuler. Iradiasi sinar Cobalt-60 dengan dosis 75x10 menyebabkan penurunan terhadap tebal epidermis, tebal mesofil, tebal daun dan jumlah stomata per mm2 luas daun. Daun kecipir yang teradiasi memiliki tebal epidermis atas 8,3 µm, epidermis bawah 4,5 µm; tebal mesofil 58; tebal daun 75,5 µm; jumlah stomata atas 4,5 per mm2 daun; stomata bawah 15,5 per mm2.
KEKERABATAN MOLEKULER DARI KULTIVAR BUNGA MATAHARI TEDDY BEAR, SKYSCRAPER, LEOM QUEEN DAN BUNGA MATAHARI MENGGUNAKAN MARKA RAPD Gabriella Ashari Tanudharma; Nurtjahjo Dwi Sasongko; Alice Yuniaty
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.407 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1762

Abstract

Helianthus or sunflower is a genus of plant comprising about 70 species. Common sunflower and other members of Helianthae are cultivated in temperate regions and some tropical regions as food crops for humans, cattle, poultry, and as ornamental plants. The common sunflower is valuable with respect of economic and ornamental point of view. There are many cultivars of sunflower including teddy bear, skyscraper, and lemon queen. Variation among these cultivars has been studied using molecular techniques and the result were used to develop the phylogeny among them. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) is one of molecular techniques that were used for this purpose. The purpose of this study was to contruct the phylogeny of three sunflower cultivars and common sunflower based on RAPD markers. The RAPD primers used in this study were OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPB-2, OPB-4, OPB5, OPB-7, and OPB-11. Data analysis based on molecular data showed that genetic relationship among Lemon Queen, Skyscraper, Teddy Bear and Common sunflower based on RAPD markers shows that the cultivars studied are grouped into three main groups, namely: Group I Lemon Queen and Skyscraper, Group II Teddy Bear, and Group III Common sunflower; the closest kinship is shown between Lemon Queen and Skyscraper.
Pertumbuhan dan kandungan flavonoid bayam merah (Alternanthera amoena Voss) pada media tanam dengan pemberian asam humat dan urea Rezza Adianti; Elly Proklamasiningsih; Nurtjahjo Dwi Sasongko
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.947 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1792

Abstract

Bayam merah (Alternanthera amoena Voss) merupakan tanaman sayur yang mengandung banyak serat, vitamin, mineral serta flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organikasam humat dan anorganik ureaterhadap pertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bayam merah dan mengetahui konsentrasiasam humat dan urea yang paling berpengaruh, serta interaksi keduanya dalam meningkatanpertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bayam merah. Penelitian termasuk eksperimental denganRancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan 4 taraf. Faktor pertama pemberian asam humat konsentrasi 0 (kontrol); 4 g.kg-1; 8 g.kg-1; dan 12 g.kg-1. Faktor kedua berupa pemberian urea dengan taraf konsentrasi 0 (kontrol); 0,4 g.kg-1; 0,6 g.kg-1; dan0,8 g.kg-1;masing masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali.Data dianalisis dengan ANOVA (Analysis of Variance kemudian dilanjutkan dengan uji BNT. Pemberian pupuk urea pada konsentrasi 4 g.kg-1adalah konsentrasi yang paling efektif dalam meningkatkan bobot basah dan bobot kering, namun jika urea yang dikombinasikan dengan asam humat pada semua konsentrasi yang diterapkan tidak menunjukkan adanyaperbedaan yang signifikan untuk semua parameter, yaitu bobot basah, bobot kering serta kandungan flavonoid. Kata kunci: Alternanthera amoena Voss, asam humat, flavonoid, pertumbuhan, urea
Katekin dalam Teh Hijau sebagai Kelator Alami pada Individu Terpapar Plumbum Pembawa Polimorfisme Gena Nitrit Oksida Sintase 3 Hernayanti Hernayanti; Sukarti Moeljopawiro; Ahmad Hamim Sadewa; Nurtjahjo Dwi Sasongko; Hexa Apriliana Hidayah
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 36, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2019.36.2.633

Abstract

Teh hijau merupakan salah satu jenis teh yang  banyak dikenal karena berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit contohnya hipertensi. Daun teh hijau mengandung senyawa polifenol yang dikenal sebagai catechin. Catechin dapat berfungsi sebagai penangkap radikal bebas seperti senyawa singlet oksigen, radikal hidroksil dan peroksinitrit. Berdasarkan sifat tersebut catechin diharapkan dapat mengatasi keracunan logam berat Pb pada individu terpapar Pb. Pengobatan keracunan Pb selama ini menggunakan senyawa kelator kimiawi dimerkaprol, namun dilaporkan pemakaiannya  menimbulkan efek samping berupa naiknya tekanan darah.Tujuan penelitian ini untuk 1) mengetahui efek teh hijau terhadap kadar NO pada individu terpapar Pb pembawa  polimorfisme dan non polimorfisme gena NOS3. 2) mengetahui efek teh hijau terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada individu terpapar Pb pembawa  polimorfisme dan non polimorfisme gena NOS3. Penelitian menggunakan metode survai dengan rancangan kasus kontrol. 30 orang pekerja bengkel mobil di Purwokerto sebagai subyek kasus dan 30 orang subyek kontrol berasal dari desa Pamijen, yang diperkirakan tidak terpolusi Pb. Untuk mengetahui adanya polimorfisme, gena individu ditentukan dengan metode PCR-RFLP. Enzim restriksi MboI untuk  gena NOS3. Parameter yang diukur adalah kadar Pb darah, NO, tekanan darah sistolik dan diastolik. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% dari 30 orang subyek kasus terdeteksi sebagai individu pembawa polimorfisme gena NOS3 dengan genotip GA dan DNA terpotong enzim MboI sepanjang 206 bp, 119 bp dan 87 bp. Sebanyak  60 % subyek kasus terdeteksi sebagai individu non polimorfisme dengan genotip GG, DNA terletak pada 206 bp. Kadar NO setelah pemberian teh hijau mengalami peningkatan baik pada individu pembawa polimorfisme gena NO3 maupun non polimorfisme, sedangkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada kedua kelompok individu mengalami penurunan. Kesimpulan hasil penelitian teh hijau dapat digunakan sebagai kelator alami keracunan Pb.