Pitri Ermawati
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

KARYA FOTOGRAFI DOKUMENTER TOPENG SEKURA DI KECAMATAN BATU BRAK, LAMPUNG BARAT: PEMBUATAN DAN APLIKASINYA Muhammad Medianto Saputra; Pitri Ermawati; Pamungkas Wahyu Setiyanto
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 6, No 2 (2022): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v6i2.7649

Abstract

Artikel ini membahas penciptaan seni fotografi yang bertujuan menampilkan Topeng Sekura yang ada di kecamatan Batu Brak, Lampung Barat: pembuatan dan aplikasinya. Landasan penciptaan pada penciptaan tugas akhir ini yaitu fotografi dokumenter dan foto seri. Topeng Sekura yang terbuat dari bahan kayu pohon kapas pada awalnya digunakan sebagai penutup identitas seseorang pada saat perang saudara antara Kerajaan Sekala Brak melawan empat Maulana yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung. Topeng Sekura dalam perkembangannya digunakan pada saat acara Pesta Sekura Cakak Buah yang diadakan di bulan Syawal untuk merayakan kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Perkembangan Topeng Sekura tidak hanya sebuah topeng saja, tetapi sudah berkembang menjadi buah tangan bagi para wisatawan seperti gantungan kunci dan trofi, serta menjadi sebuah Tari Sekura yang dapat ditampilkan pada acara tertentu di Lampung Barat. Saat ini tersisa dua orang saja yang masih aktif dalam pembuatan Topeng Sekura di Lampung Barat, yaitu Paman Wayak dan Paman Mexsi. Visualisasi karya foto akan mengemukakan Topeng Sekura dari mulai tugu sejarah yang ada di Lampung Barat, proses produksi, perkembangannya saat ini, hingga Pesta Sekura Cakak Buah yang diadakan dibulan Syawal.This article discusses the creation of the art of photography which aims to display the Sekura Mask in Batu Brak sub-district, West Lampung: its creation and application. The basis for the creation of this final project is documentary photography and photo series, to narrate a culture originating from Batu Brak District, West Lampung, namely Topeng Sekura. Various historical and historical values are the background for the existence of the Sekura Mask in Batu Brak District, West Lampung. Sekura masks made of cotton tree wood were originally used as a cover for one’s identity during the civil war between the Sekala Brak Kingdom and four Maulanas from the Pagaruyung Kingdom. The Sekura Mask in its development was used during the Sekura Cakak Buah Sekura event which was held in the month of Shawwal to celebrate victory after fighting against lust in the month of Ramadan. The development of the Sekura Mask is not only a mask, but has developed into souvenirs for tourists such as key chains and trophies, as well as a Sekura Dance that can be displayed at certain events in West Lampung. Currently there are only two people who are still active in making Sekura Masks in West Lampung, namely Uncle Wayak and Uncle Mexsi. The visualization of the photograph will show the Sekura Mask from the historical monument in West Lampung, the production process, its current development, to the Sekura Cakak Buah Festival which is held in the month of Shawwal.
OJEK DIFA BIKE YOGYAKARTA DALAM FOTOGRAFI SERI Eva Anggar Sari; Pamungkas Wahyu Setiyanto; Pitri Ermawati
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 7, No 1 (2023): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v7i1.9049

Abstract

Pelayanan publik di bidang transportasi bagi penyandang difabel masih kurang dapat diakses. Maka, diperlukan inovasi pelayanan publik bagi penyandang difabel berupa sarana transportasi roda tiga yang didesain khusus sesuai kebutuhan difabel dengan tingkat keramahan dan kenyamanan. Penciptaan karya seni fotografi ini terfokus pada ojek Difa Bike yang memberikan layanan mobilitas untuk para difabel dan memberikan informasi tentang ojek difabel yang mandiri sehingga menjadi solusi transportasi tidak hanya terbatas pada penyandang difabel. Penciptaan karya dibuat dalam bentuk fotografi seri untuk menarasikan ojek difabel Difa Bike. Foto seri yang dibuat ialah aktivitas berdasar teori kemandirian intelektual, sosial, emosi, dan ekonomi, dengan menerapkan panduan foto yang menghasilkan rangkaian foto berisi deskripsi berdasarkan tema atau topik tertentu yang sama, yaitu ojek difabel. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, eksplorasi, ekspermentasi, dan perwujudan. Tahap observasi dilakukan secara langsung untuk mengetahui kegiatan Difa Bike, sedangkan tahapan eksplorasi proses membangun hubungan sosial dilakukan kepada pemilik, para anggota, dan keluarga Difa Bike. Setelahnya, tahapan eksperimentasi dilakukan dengan perencanaan konsep yang terdiri dari ide dan teknik pemotretan serta alat dan bahan. Tahap perwujudan karya seni fotografi dilakukan dengan metode foto seri yang hasilnya berupa karya foto seri berupa karya foto yang memvisualkan aktivitas ojek Difa Bike yang mandiri.Difa Bike Yogyakarta Motorcycle-Taxi in Photo Series.  Public services in the field of transportation for persons with disabilities are still inaccessible. Thus, it is necessary to innovate a three-wheeled transportation facility mainly designed for people with disabilities with a sense of friendliness and comfort. The creation of this photographic artwork focuses on Difa Bike motorcycle taxis which provide mobility services for people with disabilities and provide information about independent disabled motorbike taxis so that this becomes a transportation solution that is not only limited to people with disabilities but can be accessed by ordinary people as well. The work was created as a photography series to narrate the Difa Bike motorcycle taxi. The photo series created was an activity based on the theory of intellectual, social, emotional, and economic independence by applying a photo guide that produces a series of photos containing descriptions based on the same theme or topic, namely motorcycle taxis with disabilities. The methods of observation, exploration, experimentation, and manifestations were applied. The observation stage was carried out directly to find out the activities of the Difa Bike. Exploration stages are carried out to build social relations with the owner and members, and families of Difa Bike. After that, the experimentation stage was carried out to concept planning consisting of shooting ideas and techniques as well as tools and materials. The embodiment stage of the photographic artwork carried out using the photo series method. The result of the creation is a series of photo works that visualise the activities of the independent Difa Bike motorcycle taxi.
Media Fotografi Abad ke-19: Daguerreotype, Calotype, dan Collodion Ermawati, Pitri
Rekam Vol 13, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1939

Abstract

Artikel ini bermaksud menjelaskan tiga medium fotografi yang lazim digunakan pada abad-19 yaitu daguerreotype, calotype, dan collodion. Pembahasan ketiga medium tersebut dititikberatkan pada sejarah kemunculan, teknik pembuatan, dan karakteristik imaji. Baik daguerreotype, calotype, maupun collodion memiliki sejumlah karakteristiknya yang khas; juga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Daguerreotype yang ketajaman imajinya sangat memukau itu memiliki kekurangan pada cetakannya yang tidak dapat diperbanyak. Kekurangan tersebut dapat teratasi oleh calotype yang dapat diperbanyak sampai dengan tidak terhingga. Adapun kekurangan calotype yang berdetail tidak tajam, teratasi oleh collodion yang berdetail tajam sekaligus dapat diperbanyak. Lambat laun setelah dipraktikkan oleh masyarakat, disimpulkan bahwa kekurangsempurnaan medium yang muncul lebih awal akhirnya menjadi penyebab berakhirnya masa kejayaan medium tersebut, karena telah hadir medium baru yang bisa mengompensasi kekurangan yang ada. This article explains three kinds of main stream medias in 19th century; they are daguerreotype, calotype, and collodion. The explanation of the three medias is focused on the origin of the medias, the techniques of the medias, and the characteristics of the image made by each medias. There are some characteristics in daguerreotype, calotype, and collodion, each by its own way. There are pros and cons about each process also. Daguerreotype is amazing in sharpness but lack of reproduction ability. Calotype which came later on public could overcome that lackness because of one calotype negative is able to produce unlimited positive images. On the other side, colotype has not enough good detail due to the grain of the paper which is used as the film. Then these kind of problems could be solved by the characteristic of the latest medium called collodion which has sharp details and also could be reproduced. Thus, time by time, one medium superseded one after enother.
Pengaplikasian Fotografi dan Bahasa Inggris Praktis untuk Warga “Kampung Cyber”, RT 36, Taman, Yogyakarta Ermawati, Pitri; Arsita, Adya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4710

Abstract

RT 036, Taman  merupakan sebuah kampoung yang letaknya bersebelahan dengan objek wisata Taman Sari Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Warga kampung ini banyak yang memiliki usaha dagang produk yang bersinergi dengan pariwisata lokal. Mereka menjual barang dagangan tersebut di ruang pajang rumah masing-masing atau melalui media jualan online. Penyuluhan ini bermaksud memberikan pengetahuan fotografi praktis, khususnya pemotretan foto produk tanpa perlu menggunakan piranti fotografi yang canggih dan lengkap, guna meningkatkan kualitas foto produk yang mereka jual di media jualan online. Selain itu, penyuluhan ini juga bermaksud memberikan pengetahuan bahasa Inggris praktis, khususnya yang berkenaan dengan komunikasi warga selaku tour guide dan deskripsi profil usaha serta produk jualan online yang singkat, padat, jelas, dan efektif agar calon konsumen mancanegara mendapatkan panduan informasi tentang produk yang ditawarkan. Penyuluhan dilakukan di kantor Sekretariat RT 036 Taman melalui tatap muka pada 7 April 2017 sampai dengan 6 Mei 2017, yang dimulai dengan pengantar, dilanjutkan dengan presentasi teori, pelaksanaan praktik, dan diakhiri dengan pembahasan hasil. Setelah diberi penyuluhan, peserta memahami bahwa kamera handphone memiliki kemampuan lebih yang dapat menghasilkan foto dengan kualitas lebih baik. Dipadukan dengan peralatan studio mini sederhana, foto produk mereka pun menjadi lebih layak untuk ditampilkan. Selain itu, peserta pun mulai mengerti bahwa untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris, kosa kata-lah yang memegang peranan lebih penting. Dengan demikian, peserta kemudian merasa lebih percaya diri dalam berlatih bahasa Inggris, karena bagi mereka lebih mudah untuk mempelajari dan menghafalkan kosa kata, dibandingkan harus mempelajari grammar. AbstractRT 036, Taman is a kampong located directly aside from Taman Sari Yogyakarta, an international tourist spot. The kampong residents trade in products correlates with local tourism. They sell their merchandises in their own display houses or through online shops. This workshop is meant to give a practical photography knowledge, specializing in product photo without the need to use high tech and complex photography equipment, to improve the quality of the photo products they displayed in online shops. On the other hand, this workshop also aims to give practical English education, more importantly with things related for tour guide conversation needs and to give concise yet clear and effective product description at online shops so that prospective international buyers get the neccessary information from the offered products. This workshop is done on site in RT 036 Secretary office at April 7 to May 6, 2017, that began with an introduction, theory presentation, practice, and ended with results discussion. After workshop, participants understand that phone camera is sufficient to generate a good quality photo. Combined with simple mini studio equipment, their photo product looks more professional to be presented. Not only that, participants are also able to communicate in simple English, with the vocabularies playing the biggest factor. Thus, participants are more confident in practicing their English skill as it is easier for them to memorize vocabulary than to study grammar.
Pengaplikasian Fotografi dan Bahasa Inggris Praktis untuk Warga “Kampung Cyber”, RT 36, Taman, Yogyakarta Ermawati, Pitri; Arsita, Adya
Jurnal Pengabdian Seni Vol 1, No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jas.v1i2.4710

Abstract

RT 036, Taman  merupakan sebuah kampoung yang letaknya bersebelahan dengan objek wisata Taman Sari Yogyakarta yang sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Warga kampung ini banyak yang memiliki usaha dagang produk yang bersinergi dengan pariwisata lokal. Mereka menjual barang dagangan tersebut di ruang pajang rumah masing-masing atau melalui media jualan online. Penyuluhan ini bermaksud memberikan pengetahuan fotografi praktis, khususnya pemotretan foto produk tanpa perlu menggunakan piranti fotografi yang canggih dan lengkap, guna meningkatkan kualitas foto produk yang mereka jual di media jualan online. Selain itu, penyuluhan ini juga bermaksud memberikan pengetahuan bahasa Inggris praktis, khususnya yang berkenaan dengan komunikasi warga selaku tour guide dan deskripsi profil usaha serta produk jualan online yang singkat, padat, jelas, dan efektif agar calon konsumen mancanegara mendapatkan panduan informasi tentang produk yang ditawarkan. Penyuluhan dilakukan di kantor Sekretariat RT 036 Taman melalui tatap muka pada 7 April 2017 sampai dengan 6 Mei 2017, yang dimulai dengan pengantar, dilanjutkan dengan presentasi teori, pelaksanaan praktik, dan diakhiri dengan pembahasan hasil. Setelah diberi penyuluhan, peserta memahami bahwa kamera handphone memiliki kemampuan lebih yang dapat menghasilkan foto dengan kualitas lebih baik. Dipadukan dengan peralatan studio mini sederhana, foto produk mereka pun menjadi lebih layak untuk ditampilkan. Selain itu, peserta pun mulai mengerti bahwa untuk sekedar bisa berkomunikasi dengan lancar dalam bahasa Inggris, kosa kata-lah yang memegang peranan lebih penting. Dengan demikian, peserta kemudian merasa lebih percaya diri dalam berlatih bahasa Inggris, karena bagi mereka lebih mudah untuk mempelajari dan menghafalkan kosa kata, dibandingkan harus mempelajari grammar. AbstractRT 036, Taman is a kampong located directly aside from Taman Sari Yogyakarta, an international tourist spot. The kampong residents trade in products correlates with local tourism. They sell their merchandises in their own display houses or through online shops. This workshop is meant to give a practical photography knowledge, specializing in product photo without the need to use high tech and complex photography equipment, to improve the quality of the photo products they displayed in online shops. On the other hand, this workshop also aims to give practical English education, more importantly with things related for tour guide conversation needs and to give concise yet clear and effective product description at online shops so that prospective international buyers get the neccessary information from the offered products. This workshop is done on site in RT 036 Secretary office at April 7 to May 6, 2017, that began with an introduction, theory presentation, practice, and ended with results discussion. After workshop, participants understand that phone camera is sufficient to generate a good quality photo. Combined with simple mini studio equipment, their photo product looks more professional to be presented. Not only that, participants are also able to communicate in simple English, with the vocabularies playing the biggest factor. Thus, participants are more confident in practicing their English skill as it is easier for them to memorize vocabulary than to study grammar.
DESKRIPSI ETNOGRAFIS KEBIASAAN MENGINANG DI GUNUNGKIDUL DALAM FOTO DOKUMENTER Yahya, Anisa Suryani; Ermawati, Pitri
specta Vol 8, No 1 (2024): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v8i1.12188

Abstract

Deskripsi etnografis mengenai kebiasaan menginang di Dusun Surulanang, Karangduwet, Paliyan, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta bertujuan untuk mendapatkan hasil visual yang sesuai dengan realitas dalam foto dokumenter. Metode etnografi dilakukan secara bertahap dari studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara, dan pembuatan catatan lapangan etnografi. Etnografi dipilih untuk melihat cara hidup masyarakat secara lebih akurat dan lebih sesuai dengan realitas yang ada. Realitas yang dimaksud adalah kebiasaan menginang. Menginang di sini dimaknai sebagai kegiatan mengunyah daun sirih, injet, gambir, serta tembakau sebagai pelengkap untuk menyusur. Mbah Mudi (84 Tahun) dan Mbah Mi (66 Tahun) dipilih untuk mewakili para penginang yang ada, dengan kesenjangan usia yang cukup jauh bisa menjadi pembanding dalam melihat kebiasaan menginang yang tidak berubah dari waktu ke waktu. Pembahasan karya foto dengan deskripsi etnografis menelaah lebih dalam mengenai kebiasaan ini dilihat dari alat dan bahan, penggunaan dalam kehidupan, serta dampak bagi penginang. Ethnography Description of Betel Quid Chewing Habit in Gunungkidul in Documentary Photography. Etnography description about the habit of the betel quid chewing in Surulanang, Karangduwet, Paliyan, Gunungkidul, Special Region of Yogyakarta, aims to obtain visual results that align with reality in documentary photography. The ethnographic methods were carried out in stages, starting with literature review, participatory observation, interviews, and ethnographic field notes. Ethnography was chosen to accurately observe the way of life of the community and to reflect the reality more closely.  Reality is understood as the betel-chewing habit.  This activity is defined as the activity of chewing betel, limestone, gambir, and tobacco as complements for oral cleaning. Mbah Mudi (84 years old) and Mbah Mi (66 years old) were selected to represent the chewers, with significant age gap serving comparison in observing the unchanged habit of betel quid chewing over time. The ethnographic descriptions used to examine further information for the photo reviews, including tools and materials that are used in daily life, and also the impact for the chewers.
FOTO DOKUMENTER DESKRIPTIF UPAYA MEMPERDULIKAN KUCING JALANAN DI JAKARTA OLEH JAKARTA CAT LOVERS Ardiansyah Alam; Pamungkas Wahyu Setiyanto; Pitri Ermawati
Fenomen: Jurnal Fenomena Seni Vol 4, No 1 (2026)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/fenomen.v4i1.13437

Abstract

Komunitas peduli kucing Jakarta Cat Lovers merupakan sebuah komunitas yang berdedikasi untuk meningkatkan kesejahteraan kucing jalanan di Jakarta. Penciptaan foto dokumenter ini bertujuan untuk memvisualisasikan kepedulian Jakarta Cat Lovers terhadap kucing jalanan di Ibu Kota Jakarta. Penciptaan karya ini diwujudkan dengan foto dokumenter deskriptif untuk membantu menyampaikan pesan atau informasi yang ingin disampaikan secara utuh dan detail mengenai kegiatan yang dilakukan Jakarta Cat Lovers. Metode yang digunakan yaitu dengan mengumpulkan data, mengeksplorasi, dan mewujudkannya. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka diterapkan guna mendapatkan data yang akurat. Pada saat mengeksplorasi, dilakukan eksekusi pemotretan dengan menentukan pengambilan foto sesuai dengan ide dan konsep yang telah dirancang. Hasil penciptaan karya ini adalah foto dokumenter deskriptif upaya Jakarta Cat Lovers dalam memperdulikan kucing jalanan di Jakarta. Setiap foto diberi deskripsi yang menyeluruh, mencakup identifikasi individu, objek, lokasi, dan situasi sekitarnya. Dengan pendekatan deskriptif, foto-foto ini diharapkan dapat menyampaikan pesan yang kuat dan autentik, serta mendorong tindakan positif terhadap kesejahteraan kucing jalanan.Descriptive Documentary Photo of Efforts to Care for Stray Cats in Jakarta by Jakarta Cat Lovers. Jakarta Cat Lovers is a community dedicated to improving the welfare of stary cats in Jakarta. The creation of this documentary photo aims to visualize the concern of Jakarta Cat Lovers for stray cats in the capital city of Jakarta. The creation of this work is realized with descriptive documentary photos to help convey the message or information that wants to be conveyed in full and detail about the activities carried out by Jakarta Cat Lovers. The method used is to collect data, explore, and realize it. The data collection used is observation, interviews, and literature studies are applied to obtain accurate data. When exploring, the execution of the photo shoot was carried out by determining the photo taking according to the ideas and concepts that had been designed. The result of the creation of this work is a descriptive documentary photo of Jakarta Cat Lovers' efforts in caring for stray cats in Jakarta. Each photo is given a thorough description, including the identification of the individual, the object, the location, and the surrounding situation. With a descriptive approach, these photos are expected to convey a strong and authentic message, as well as encourage positive action towards the welfare of stray cats.