Fidiana
Department Of Neurology, Faculty Of Medicine, Universitas Airlangga; Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : AKSONA

Hubungan Antara Rasio H/M pada Stroke Akut dengan Derajad Spastisitas Pascastroke Achmad Firdaus Sani; Yudhi Adrianto; Fadil; Mudjiani Basuki; Fidiana
AKSONA Vol. 1 No. 2 (2021): JULY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.944 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i2.150

Abstract

Pendahuluan: Spastisitas adalah gangguan motorik yang sering dijumpai dan muncul setelah stroke. Spastisitas dapat menyebabkan nyeri dan disabililitas pada bagian tubuh yang mengalaminya. Tujuan: mencari hubungan antara rasio H/M yang diukur dengan elektromiografi dengan derajad spastisitas yang terjadi setelah fase akut stroke. Metode: Penelitian ini adalah studi analisis korelatif observasional, dengan 26 sampel. Pasien diukur rasio H/M pada saat stroke akut dan diukur derajad spastisitasnya dengan menggunakan Modified Ashworth Scale setelah 3 bulan. Hasil yang didapatkan dilakukan analisa statistik dengan menggunakan tes korelatif kategorik dari Spearman. Hasil: Pasien yang mengikuti penelitian ini sebanyak 26 orang. Terdapat perbedaaan antara nilai H/M rasio antara sisi parese dengan sisi sehat dan tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara nilai rasio H/M yang diukur saat fase akut stroke dengan derajad spastisitas yang diukur dengan Modified Ashworth Scale (MAS) setelah 3 bulan (p = 0,06 ; r = 0, 37). Kesimpulan: Rasio H/M pada pasien stroke akut meningkat pada sisi parese dibanding pada sisi sehat, namun peningkatan ini tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan derajad spastisitas pasca stroke yang diukur dengan MAS, sehingga rasio H/M tidak dapat digunakan sebagai prediktor munculnya spastisitas pasca stroke
Hubungan Antara Rasio H/M pada Stroke Akut dengan Derajad Spastisitas Pascastroke Achmad Firdaus Sani; Yudhi Adrianto; Fadil; Mudjiani Basuki; Fidiana
AKSONA Vol. 1 No. 2 (2021): JULY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.944 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i2.150

Abstract

Pendahuluan: Spastisitas adalah gangguan motorik yang sering dijumpai dan muncul setelah stroke. Spastisitas dapat menyebabkan nyeri dan disabililitas pada bagian tubuh yang mengalaminya. Tujuan: mencari hubungan antara rasio H/M yang diukur dengan elektromiografi dengan derajad spastisitas yang terjadi setelah fase akut stroke. Metode: Penelitian ini adalah studi analisis korelatif observasional, dengan 26 sampel. Pasien diukur rasio H/M pada saat stroke akut dan diukur derajad spastisitasnya dengan menggunakan Modified Ashworth Scale setelah 3 bulan. Hasil yang didapatkan dilakukan analisa statistik dengan menggunakan tes korelatif kategorik dari Spearman. Hasil: Pasien yang mengikuti penelitian ini sebanyak 26 orang. Terdapat perbedaaan antara nilai H/M rasio antara sisi parese dengan sisi sehat dan tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara nilai rasio H/M yang diukur saat fase akut stroke dengan derajad spastisitas yang diukur dengan Modified Ashworth Scale (MAS) setelah 3 bulan (p = 0,06 ; r = 0, 37). Kesimpulan: Rasio H/M pada pasien stroke akut meningkat pada sisi parese dibanding pada sisi sehat, namun peningkatan ini tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan derajad spastisitas pasca stroke yang diukur dengan MAS, sehingga rasio H/M tidak dapat digunakan sebagai prediktor munculnya spastisitas pasca stroke
The Effect of Simvastatin on Acute Phase Functional Outcome of Ischemic Stroke Fidiana Fidiana; Paulus Sugianto
AKSONA Vol. 2 No. 1 (2022): JANUARY 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.403 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v2i1.217

Abstract

Introduction: Stroke is one of the leading causes of death and disability worldwide, and especially in Indonesia. Several studies showed the pleiotropic and neuroprotective effect of simvastatin in addition to lowering blood cholesterol levels. Objective: This trial was conducted to investigate if the administration of simvastatin in acute ischemic stroke management can improve functional outcomes. Methods: This randomized, double-blind, placebo-controlled trial of simvastatin was conducted in patients with acute ischemic stroke with an NIHSS score of 4-14. Participants were randomly assigned to receive 40 mg of simvastatin or placebo for seven days. The NIHSS scale was compared on admission day, 4th and 8th day after administration of simvastatin between the two groups. Results: 52 individuals were randomized: 28 to simvastatin and 24 to placebo. There was no significant improvement of functional outcome between the two groups (p > 0.05). Conclusion: Administration of simvastatin had no significant effect on outcome (measured by NIHSS) in patients with acute ischemic stroke.  
Hubungan antara Kadar HBA1C dengan Hasil Sural Radial Amplitude Ratio (SRAR) pada Pasien DM Tipe 1 dengan Neuropati Diabetik Perifer Anny Hanifah; Mudjiani Basuki; Muhammad Faizi
AKSONA Vol. 1 No. 1 (2021): JANUARY 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.887 KB) | DOI: 10.20473/aksona.v1i1.98

Abstract

Pendahuluan: Neuropati diabetik perifer merupakan salah satu komplikasi mikroangiopati pada penderita diabetes mellitus. Manifestasi neuropati diabetik perifer paling banyak adalah polineuropati simetris distal, yang menunjukkan gangguan sensorik, motorik, serta penurunan refleks tendon dengan pola length-dependent. Diabetes Mellitus tipe 1 terbanyak diderita pada penderita usia muda, dimana saraf tepi memiliki amplitudo yang relatif masih tinggi, sehingga penurunan amplitudo yang relatif kecil, masih dianggap normal. Perbandingan amplitudo saraf sural dan radial dapat mendeteksi adanya neuropati subklinis. Penderita diabetes mellitus tipe 1 dengan kadar glukosa darah yang tidak teregulasi dengan baik mempunyai risiko 25.6% terkena neuropati diabetik perifer. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1C dengan kejadian neuropati diabetik perifer pada penderita Diabetes Mellitus tipe 1. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dengan teknik pengambilan subjek penelitian menggunakan consecutive sampling admission yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian dilakukan pengukuran terhadap kadar HbA1C, amplitudo saraf sural dan radial dan dihitung perbandingan diantara keduanya. Hasil: Pada 38 subjek penelitian didapatkan 31 subjek penelitian dengan Sural Radial Amplitude Ratio (SRAR) rendah dan 7 subjek penelitian dengan nilai SRAR normal. Hasil analisis penelitian didapatkan bahwa pada subjek dengan nilai SRAR rendah lebih besar pada kelompok HbA1C tinggi yaitu 26 subjek (83.87%) dibandingkan dengan kelompok HbA1C normal yaitu 5 subjek (16.13%). Perbedaan tersebut bermakna secara statistik dengan p= 0.021, rasio odd 6.933 (IK 95% 1.173-40.981). Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif antara kadar HbA1C dengan kejadian neuropati diabetik perifer pada penderita Diabetes Mellitus Tipe 1.
Description of Stroke Patients with History of Smoking Activities Paulus Sugianto; Fatih Nugraha Abdillah; Isnin Anang Marhana; Fidiana Fidiana
AKSONA Vol. 2 No. 2 (2022): JULY 2022
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.451 KB)

Abstract

Highlight: Smoking raises the risk of cardiovascular disease, which can lead to stroke. A total of 33 stroke patients were selected from 579 samples. The results show some tendencies. The tendency of stroke patients with a history of activity to smoke can be explained for a number of reasons.   ABSTRACT Introduction: Smoking is a habit of Indonesian society and can be found in many places. Smoking increases the risk of cardiovascular problems, which can lead to stroke. Objective: Provides an overview of stroke patients who smoke from January to December 2020. Methods: This retrospective, descriptive research used medical records and extra data from telephone interviews with patients. A non-probability purposive sampling strategy with a total sampling method is used in this investigation. The observed variables include age, gender, number of cigarettes consumed per day, length of smoking history, type of stroke, and comorbidity. Results: The sample consisted of 33 participants chosen among 579 stroke patients. The age range of 56–65 (39.4%) was found to be the most prevalent in the 33 samples, and the sex group was dominated by men (100%). Then, for the smoking habit, the highest number of cigarettes consumed per day was dominated by the group of 9-16 cigarettes per day (45.46%). The group dominates the long smoking history with a smoking history of 30-50 years (42.43%). Ischemic stroke, also known as cerebral infarction, was the most common type (78.79%) among the samples. Of the 33 samples of stroke patients who smoked, 4 (12.12%) experienced comorbidities, including coronary heart disease, diabetes mellitus, and essential thrombocytosis. Conclusion: Several factors describe the tendency of stroke patients with a smoking history.