Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Anemia Defisiensi Besi pada Obesitas : Literature Review: Iron Deficiency Anemia in Obesity: A Literature Review Hastuti, Afiyah; Trini Sudiarti
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 7: July 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i7.5426

Abstract

Secara global terjadi peningkatan kejadian obesitas. Obesitas sendiri merupakan permasalahan gizi yang berdampak terhadap permasalahan kesehatan lainnya. Selain berdampak terhadap penyakit metabolik, obesitas juga disinyalir menginisiasi adanya gangguan kekurangan mikronutrien yaitu anemia defisiensi besi. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut hubungan antara obesitas dengan kejadian anemia defisiensi besi. Studi review ini menggunakan database PubMed Central, ScienceDirect dan Taylor&Francis menggunakan kata kunci “obesity” or “anemia”, “anemia in obesity”. Didapatkan hasil bahwa individu yang obesitas erat dikaitkan dengan kejadian anemia beserta penanda anemia seperti serum besi, MCV, transferrin dan ferritin.
Hubungan Kunjungan Antenatal Care (ANC) dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor Fitratur Rahmah Agustina; Trini Sudiarti; Samnil Astuti Fitri; Riska Rusydi
Journal of Educational Innovation and Public Health Vol. 3 No. 1 (2025): Januari : Journal of Educational Innovation and Public Health
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/innovation.v3i1.3460

Abstract

Children with low birth weight have a higher risk of death in the first month of life, experience growth disorders, developmental delays, lower IQ levels, and increase the risk of developing degenerative diseases in old age. This study aims to determine the relationship between ANC visit and the incidence of LBW in Babakan Madang District, Bogor Regency in 2019. The research design used was cross-sectional. This study used secondary data obtained from the PITTA B umbrella research in 2019. The results showed that 5.8% of children experienced LBW in Babakan Madang District in 2019. The proportion of LBW incidence was greater in mothers who did not had an ANC visit (11.6%) compared to mothers who had an ANC visit. (5.6%). The results of the chi-square analysis showed that there was no significant relationship between ANC visit and the incidence of LBW (p = 0.277). The researcher suggested that the Bogor Regency Health Office be able to improve LBW prevention interventions, such as improving the quality of antenatal care, and educating pregnant women about the importance of antenatal care.
Hubungan Aktivitas Fisik, Asupan Energi, Asupan Protein, Makanan Berisiko Terhadap Prevalensi Kejadian Obesitas pada Usia Dewasa Tingkat Kabupaten/Kota : Correlation between Physical Activity, Energy Intake, Protein Intake, Risky Foods to the Prevalence of Obesity in Adults at the District/City Level Rizqa Dhafiningtia; Trini Sudiarti
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 6 (2023): June 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i6.3451

Abstract

Latar belakang: Transisi gizi merupakan pergeseran pola konsumsi makanan dan pengeluaran kalori yang seiring dengan perubahan demografi, ekonomi dan epidemiologi. Transisi di Indonesia gizi digambarkan dengan peningkatan konsumsi lemak dan gula serta penurunan konsumsi serat serta diikuti dengan rendahnya aktivitas fisik. Tingkat permasalahan obesitas penduduk dewasa di Indonesia pada tahun 2018 merupakan masalah kesehatan masyarakat kategori sedang dengan persentase 20,53% (≥20%). Belum diketahui hubungan antara komponen transisi gizi yang mencakup asupan energi penduduk, asupan protein penduduk, inaktivitas fisik penduduk dan konsumsi makanan berisiko penduduk dengan tingkat permasalahan obesitas wilayah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat permasalahan obesitas di seluruh wilayah kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2018. Selain itu, untuk mengetahui hubungan komponen transisi gizi yang mencakup asupan energi penduduk, asupan protein penduduk, inaktivitas fisik penduduk dan konsumsi makanan berisiko penduduk dengan tingkat permasalahan obesitas wilayah kabupaten/kota. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan jumlah sampel 514 kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2018. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dari laporan Riskesdas tahun 2018 dan olahan data Badan Pusat Statistik tahun 2018. Data dianalisis secara deskriptif dan uji bivariat menggunakan uji kai kuadrat. Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa variabel yang berhubungan dengan tingkat permasalahan obesitas penduduk dewasa di wilayah kabupaten/kota adalah asupan protein penduduk (OR=2,397; 95%CI 1,604-3,580), tingkat inaktivitas fisik penduduk (OR=2,027; 95% 1,281-3,207), konsumsi makanan manis harian penduduk (OR=2,237; 95% 1,118-4,478), dan konsumsi makanan berlemak harian penduduk (OR=1,634; 95% 1,106-2,415). Sementara nilai p >0,05 menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna terhadap kejadian obesitas pada tingkat kabupaten/kota. Hal ini terlihat pada asupan energi penduduk memiliki p= 0,631, proporsi penduduk dengan konsumsi minuman manis p sebesar 0,523, dan proporsi penduduk dengan konsumsi makanan berpenyedap memiliki nilai p sebesar 0,598. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan protein, proporsi penduduk inaktivitas fisik, proporsi penduduk dengan konsumsi makanan manis harian, dan proporsi penduduk dengan konsumsi makanan berlemak terhadap kejadian obesitas pada tingkat kabupaten/kota. Perlu dilakukan sosialisasi atau penyuluhan terkait dengan pentingnya aktivitas fisik, gizi seimbang, konsumsi makanan berisiko dalam jangka panjang untuk mencegah kejadian obesitas pada setiap tingkat kabupaten/kota.
Analisis Hasil Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal di Pos Gizi pada Balita Underweight di Kota Tangerang 2023: Analysis of the Results Giving Local Food in Pos Gizi to Underweight Toddlers in Tangerang City 2023 Dian Rahmawati; Trini Sudiarti; Yuni Pradilla Fitri
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 11 (2023): November 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i11.4184

Abstract

Latar Belakang: Salah satu indikator kesehatan yang dinilai pada Sustainable Development Goals di Indonesia adalah status gizi balita. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia Tahun 2022, diketahui prevalensi stunting di Indonesia menurun 2,8%. Besar penurunan angka tersebut dari 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% pada tahun 2022. Sementara prevalensi underweight di Indonesia meningkat 0,1% , Tahun 2021 sebesar 17%, pada tahun 2022 meningkat menjadi 17,1%. Salah satu upaya pemerintah di Kota Tangerang dalam mengatasi masalah kekurangan gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan Lokal di POS GIZI. Kegiatan ini berlangsung pada periode bulan Mei Tahun 2023. Sasaran dalam pemberian makanan tambahan lokal adalah balita underweight usia 6-59 bulan sebanyak 397 balita yang dipilih secara purposive, tersebar di 37 Puskesmas se-Kota Tangerang. Anggaran pengadaan PMT lokal POS GIZI bersumber dari anggaran Dana Alokasi Khusus Bantuan Operasional Kesehatan Puskesmas Tahun 2023. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hasil pelaksanaan program pos gizi terhadap berat badan dan status gizi balita underweight. Metode: Analisis yang digunakan adalah Uji Statiskik Parametrik dua sampel berpasangan dengan uji Paired T Test. Hasil: Berdasarkan uji Paired T Test menunjukkan bahwa untuk kategori usia balita 12-23 bulan nilai sig 2-tailed sebesar 0,038 (< 0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan (Sig < 0,05) antara Berat Badan balita pada hari pertama dengan Berat Badan balita setelah diberikan PMT selama empat belas hari di Pos Gizi. Hal ini menunjukkan bahwa PMT lokal melalui Pos Gizi dapat menjadi solusi dalam penanganan balita underweight di Wilayah kerja Kota Tangerang.